Showing posts with label teman dan keluarga. Show all posts
Showing posts with label teman dan keluarga. Show all posts

Sunday, November 14, 2010

A New Start (?)






Your Summer Ride is a Beetle Convertible


Fun, funky, and a little bit euro.

You love your summers to be full of style and sun!


Ya ya ya, gue tahu kalau gue sudah berbulan-bulan tidak menulis blog, dan gue tidak punya alasan baik untuk hal itu. Really sorry about that. :-p

Jadi, sudah berapa lama nih? Terakhir menulis post di bulan Februari kemarin dan sekarang sudah bulan November. Berarti 9 bulan lamanya gue sudah tidak menulis post di blog. Ckckck... bener-bener lama ya. Kalau gue cewek pasti udah ada yang nanyain apa kira-kira gue hamil kok 9 bulan nggak ada kabarnya. Untung aja gue cowok. Hahaha...

Nah, mari kita lakukan up-date tentang diri gue sejak bulan Februari itu. Pertama, gue sudah dapat SK sebagai notaris (yay!) dan bulan April kemarin gue juga sudah diambil sumpahnya sebagai Notaris di kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dan, ya, sejak bulan itu gue sudah pasang plang notaris di Gresik. Sayangnya plang itu baru dipasang di depan sebuah gedung pinjaman teman nyokap gue. Hiks... jadi intinya belum bisa dibilang kantor permanen lah. Oh well...

Lalu apa yang gue lakukan antara bulan April sampai sekarang ini, yang mana sudah 5 bulan lamanya? Well... nothing. :-D

Yup, gue tidak melakukan apapun, atau paling tidak gue tidak melakukan sesuatu yang benar-benar konstruktif.

Sejak bulan April itu gue konsentrasi dengan dengan proses penjualan rumah keluarga gue di Jakarta, yang mana prosesnya memakan waktu sampai bulan Agustus baru bisa selesai.

Di antara waktu-waktu itu gue hanya bisa mondar-mandir Jakarta-Gresik demi memenuhi syarat "tidak boleh meninggalkan wilayah tugas selama lebih dari 7 hari berturut-turut". Haeh... Capek men jadi setrikaan mondar-mandir begitu. Tapi, namanya juga bagian dari resiko pekerjaan, mau diapakan lagi?

Lalu setelah proses jual beli rumah selesai di bulan Agustus itu, langkah selanjutnya adalah proses pindahan permanen dari Jakarta ke Surabaya. Ini juga perjuangan panjang yang jujur saja sampai sekarang belum benar-benar selesai (contohnya, KTP gue sekarang masih KTP Jakarta).

Well, proses pindahan itu sendiri makan waktu sekitar 2 bulan dan pada tanggal 7 Oktober 2010 secara resmi gue pindah dari Jakarta ke Surabaya. Yeah! I'm finally back to Surabaya baby!

Jadi, secara de facto gue sekarang adalah warga Surabaya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Hehehe... Secara de jure gue masih warga Jakarta karena KTP gue masih KTP Jakarta dan gue masih belum tahu kapan bisa sempat ke Jakarta untuk mengurus perpindahan KTP itu. (kalau mengingat sifat gue, sepertinya kalau nggak kepepet banget mungkin nggak bakal gue pindah tuh KTP, hahaha...)

Untuk kalian yang tidak familier dengan geografi Provinsi Jawa Timur mungkin bertanya-tanya kenapa kok gue malah tinggal di Surabaya padahal gue adalah notaris Kabupaten Gresik. Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Kabupaten Gresik terletak pas di sebelah Barat Kota Surabaya. Jadi kalau kalian sedang melihat peta Provinsi Jawa Timur, dan kalian menemukan Kota Surabaya di peta itu, silahkan geser mata kalian sedikiiitt ke kiri, dan tadaaa... di situlah letaknya Kabupaten Gresik.

Untuk kalian yang biasa di Jakarta, bayangkan letak Kabupaten Tangerang dari arah Kota Jakarta. Ya, seperti itulah letak Kabupaten Gresik terhadap Kota Surabaya. Terlebih lagi, sejarahnya bilang kalau Kabupaten Gresik itu dulunya disebut sebagai Kabupaten Surabaya. Kemudian antara Kabupaten dan Kota Surabaya itu mengalami pemekaran, dan keduanya memisahkan diri. Supaya tidak membingungkan (mungkin, gue nggak tahu pasti sebabnya apa), Kabupaten Surabaya merubah namanya menjadi Kabupaten Gresik.

Nah untuk waktu sekarang ini gue sedang berkonsentrasi mencari bangunan (gue nggak tahu bakalan ruko, atau kios, atau apaan) yang bisa gue sewa dan gue jadikan kantor permanen gue. Yah, kepengennya sih dapat tempat di pinggir jalan besar. Bangunannya sendiri tidak perlu besar atau luas, yang penting cukup untuk dipakai kerja, tapi yang lebih penting adalah letaknya harus di pinggir jalan besar. Alasannya supaya gue bisa 'nampang' di hadapan khalayak ramai di Gresik.

Alasan utamanya, gue adalah notaris baru. Itu saja sudah merupakan alasan utama kenapa gue harus nampang di pinggir jalan besar. Gue harus meyakinkan bahwa sebanyak mungkin orang harus bisa melihat plang nama gue, dan bisa melihat kantor gue. It's the only way untuk mendapatkan klien karena notaris tidak diperbolehkan mempromosikan diri dengan cara lainnya.

Alasan yang kedua adalah, gue bisa dibilang sebagai orang baru di Gresik dan bahkan di Jawa Timur secara keseluruhan. Di sini banyak notaris-notaris baru lainnya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa Timur asli, atau lulusan Universitas Airlangga, atau sekedar sudah lama tinggal di Gresik, jadi mereka kemungkinan sudah punya kenalan-kenalan di sini yang bisa membantu mereka 'menebar nama'. Sementara gue yang besar dan sekolah di Jakarta adalah seorang newbie di sini dan baru akan memulai membangun jaringan dengan orang-orang di sini.

Yah, dengan kata lain, masih ada BANYAK hal yang harus gue lakukan di sini. Tapi untuk sementara ini, gue harus berkonsentrasi mendapatkan tempat yang bisa gue sewa untuk menjadi kantor gue.

Nah, lalu, ada satu hal lagi yang sebenarnya membuat gue akhirnya memutuskan untuk menulis post kali ini. Hal itu adalah, adik gue punya band. Yeay!

Band dia bernama Flazlite. Jujur aja, gue belum tahu banyak tentang band dia itu, tapi kemarin malam dia ngasih tahu gue tentang account band dia itu di Myspace, dan di account tersebut Flazlite memposting lagu buatan mereka sendiri, jadi buat yang anda-anda sekalian yang pengen iseng-iseng mendengarkan lagunya silahkan langsung klik di bawah ini:

FLAZLITE BAND ON MYSPACE

Judul lagu mereka adalah "Meskipun Waktu", dan sepertinya termasuk jenis lagu ballad. Gue nggak tahu memang mereka aslinya bermaksud membuat lagu itu jadi lagu ballad atau tidak, tapi yang gue tangkep setelah mendengarkan lagu itu adalah, ya, itu adalah sebuah lagu ballad.

Adek gue adalah vokalisnya (namanya Heru) jadi, iya, itu adalah suara dia. Bagus ya? (bertanya begitu sambil tersenyum sadis dan memegang pisau dengan aura mengancam)

Jadi silahkan didengarkan, dan tinggalkan komentar di account mereka. Dengar-dengar mereka masih punya lagu lainnya, dan gue pengen cepetan dengerin lagu mereka yang lain itu. Hehehe...

Terakhir, gue berencana ingin lebih aktif lagi menulis post di blog ini, terutama tentang petualangan-petualangan gue di Surabaya, Gresik, dan bahkan mungkin di wilayah-wilayah lainnya di Jawa Timur ini. Doakan saya! :-D

Friday, May 08, 2009

In Memoriam... Ibu Gajah a.k.a Queen of Piracy a.k.a MenSekJenKom a.k.a Caroline Zenia Ivana Daud



Hari ini gue n temen-temen pada kumpul di Barcode, tempat IbuTai kerja. It's a nice place. A real nice place. Sayang letaknya di Kemang, pusatnya macet Jakarta kalau pas weekend seperti hari ini.

Okay... mari kita mulai pembahasan dari awal.

Hari Rabu kemarin, tiba-tiba Ibu Gajah ngirim SMS yang isinya mengajak semua temen-temen genk (genk kita nih apa sih namanya? Kok kayanya nggak enak juga nyebutnya sebagai Genk Anak PSUT Lama) untuk kumpul-kumpul dalam rangka menyambut kembalinya si Landak dan Sapi yang baru saja ikut Kompetisi PaDus Musica Mundi di Venesia.

Btw, mereka dapat Gold level 4 untuk kategori Chamber Choire dan Gold level 2 untuk kategori Folk Song. Jadi itu tentu saja menjadi alasan tambahan untuk diadakannya acara kumpul-kumpul kali ini. Maksudnya sekalian merayakan.

So... setelah menimbang, mengingat, dan memperhatikan berbagai situasi dan kondisi, gue memutuskan untuk ikut dalam acara kumpul-kumpul hari ini. Keputusan ini benar-benar keputusan detik terakhir karena gue baru mengambil keputusan final jam setengah 6 sore, padahal acaranya mulai jam setengah 8. Hehehe...

Setelah kelar gawe, gue pulang dulu ke rumah buat sekedar setor muka n mandi, trus berangkat lagi sekitar jam setengah 7. Sampai di tujuan sekitar jam 7 lewat 1/4 (Kemang macetnya LAKNAT!)

Di perjalanan itu, gue mendapat berita mengejutkan, yaitu ternyata Ibu Gajah a.k.a Queen of Piracy a.k.a MenSekJenKom ternyata telah gugur dalam melaksanakan tugas kenegaraannya dikarenakan oleh vertigo. Dia terpaksa pulang ke rumahnya dan batal ikut acara kumpul-kumpul kali ini.

Oh... berita yang sangat menyayat hati bagi kami para sahabat-sahabat Ibu Gajah (halah... kumat deh error-nya) Kami akan selalu mengenangmu wahai sahabat. (hoeeeckh...)

Gue jadi orang pertama yang sampai di tujuan, kecuali IbuTai tentunya, karena dia kan memang kerja di situ jadi dia sudah ada di sana dari entah kapan.

Setelah ngoceh-ngoceh sama si Landak by phone karena dia nggak sampai-sampai sambil muter-muter ngeliat berbagai restoran yang ada di tempat lantai 2, akhirnya gue ketemu sama rombongan Laler, Nyamuk, Anjing Langit, dan Sapi yang baru saja sampai ketika gue sedang balik turun ke lantai 1.

Ternyata mereka mau cari makan dulu sebelum ke Barcode. Jadilah gue bersama dengan rombongan itu kembali ke lantai 2. Setelah bingung memutuskan mau makan apa, kita memutuskan untuk ke Burger King.

Waktu lagi pada pesen makanan, ternyata Landak juga sudah sampai dan dia menyusul ke Burger King. Ternyata si Landak protes makan di Burger King karena dia masih bosen makan makanan Eropa (yang mana burger adalah salah satunya), maka diapun menggeret-geret gue ke Hoka Hoka Bento.

Sebelum gue tergeret ke Hoka Hoka Bento, gue dikasih oleh-oleh sama Sapi. Oleh-olehnya kecil tapi very adorable. Hehehe...

Lihat saja sendiri.




Lucu kan, kaya gue. Huahahaha... So bulet... Khikhikhi...

Selain bulat, dia juga sangat imut (sekali lagi, seperti gue. Hoeeeckh...). Ukurannya kecil banget. Sebagai bukti betapa kecilnya dia, lihatlah foto selanjutnya ini.



Yup, yang dipegang oleh si Cucut itu adalah oleh-oleh dari Sapi. Hihihi... lucu ya? Mungkin dia cocoknya dipasang di dashboard mobil kali ya? Hmm... mendingan dikasih nama apa ya si kecil ini?

Hmm... Gue panggil dia Ben.

Thanks to Sapi, koleksi owl figure gue bertambah satu anggota lagi. Thank you Sapi. Hehehe...

Back to story.

Ternyata sesampainya gue n Landak di Hoka Hoka Bento, sang Cucut-pun juga sampai dan dia segera menyusul ke Hoka-Hoka Bento. Waktu kita lagi makan, IbuTai menelepon si Cucut dan setelah tahu kita ada di Hoka Hoka Bento, diapun menyusul ke sana.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, IbuTai pergi untuk menyapa rombongan Laler yang lagi makan di Burger King.

Nggak lama kemudian, gue, Landan, dan Cucut sudah selesai makan, dan kita berkumpul kembali dengan kelompok Laler yang ternyata juga sudah selesai makan dan sedang akan menjemput kita di Hoka Hoka Bento.

Setelah kumpul semua, kitapun menuju ke Barcode.

I have to say, that place is impressive.

Letaknya di atas atap gedung berlantai 3, dan nuansanya open air (untung malam ini cerah).

Kita sempat ngobrol-ngobrol di open terrace Barcode, tetapi kemudian semuanya memutuskan untuk masuk ke Lounge Barcode karena di sana ada AC-nya.

Di situ kita pesan Heineken 2 pitcher. Dari kita semua yang tidak minum hanya si Nyamuk. Anjing Langit, Sapi, dan IbuTai icip-icip sedikit, Laler dan Cucut masing-masing minum 1 gelas, sementara yang minum paling banyak adalah gue dan si Landak. Gue minum 3 gelas, sementara si Landak nggak tahu deh minum berapa gelas.

Hahaha... Jujur aja, gue jadi kangen sama bokap gue. Dulu waktu dia masih ada, gue dan dia sering minum bir berdua sambil ngobrol-ngobrol. Sebenernya kita berdua nggak begitu suka bir, tapi dia bilang tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru.

It really brings back so many memories...

Nah, pas kita lagi di lounge itulah baru bener-bener terasa betapa MATI GAYA-nya kita tanpa kehadiran Ibu Gajah. IbuTai yang langsung memperhatikan itu, sementara kita semua baru nyadar hal itu waktu dia mengatakannya.

Emang bener sih, tanpa si MenSekJenKom (aduh... tuh gelar kok makin ngaco sih?), kita semua jadi sering kehabisan bahan omongan. Si Anjing Langit yang biasanya rame juga jadi sering kehabisan bahan omongan (BAYANGKAN!!!). Terlalu banya silent moment di antara kita selama acara kumpul-kumpul ini. Hieh...

Makanya... diharapkan kepada Ibu Gajah a.k.a MenSekJenKom untuk menjaga kesehatannya pada saat akan ada acara seperti ini.

Parahnya lagi, karena sudah kebiasaan ada Ibu Gajah yang biasa bawa kamera, kita semua nggak ada yang bawa kamera di pertemuan ini. Jadilah untuk kepentingan penulisan blog ini, yang mana juga berfungsi sebagai laporan kepada MenSekJenKom, gue terpaksa pakai kamera HP. Hasilnya adalah foto yang ada di awal post ini. Jadi, harap maklum kalau fotonya blur dan gelap karena HP gue cuman 1MP dan tidak ada blitz-nya pula. Hehehe...

Tapi ini adalah salah satu malam paling menyenangkan yang pernah gue lalui. I'm thankful to God for it.

Kepada Ibu Gajah a.k.a MenSekJenKom: CEPETAN SEHAT YA MBAK!!! Hehehe...

Tuesday, March 24, 2009

Capheeekkk....!


Hieh... hari ini capek. Kaki gue sampe kram saking capeknya. Jadi ketahuan deh kalau gue jarang jalan. Atau jangan-jangan karena gue udah semakin tua ya? (wew... ngaco mode-on)

Hari ini sengaja nggak masuk kantor karena pengen ngurus keanggotaan di organisasi notaris. Paling males jadi anggot notaris di Jakarta Timur! Udah bayarnya paling mahal, gue harus nganterin surat-suratnya ke berbagai tempat pula. Hieh... Kenapa nggak bisa seperti Jakarta Selatan yang bayarnya lebih murah, n pelayanan pendaftarannya dilayani di satu loket ya?

Oh well... nasib orang ber-KTP Jakarta Timur.

Supaya sepanjang gue ngurusin nggak bosen, gue menculik sang landak dari sarangnya, n dia gue geret-geret ke Jakarta Timur. Wakaka... kasihan sekali sang landak yang aslinya penghuni Jakarta Barat. Tapi untungnya dia mau-mau aja sih digeret-geret begitu. Khikhikhi...

Proses pendaftarannya bener-bener nightmare buat gue. Bener-bener nggak mau gue bahas di sini. Ugh... weew...

Nah, setelah semua urusan pendaftaran itu selesai (yang mana sebenernya belum selesai, karena ternyata masih kurang 1 proses lagi, grrr...) akhirnya gue n landak pergi ke Grand Indonesia karena diajak dateng ke sana oleh sang Angela "kupu-kupu ungu" Astri Eka Wahyuni Hadi Soemantri.

AKHIRNYA gue bisa tahu juga wujudnya Grand Indonesia! PUJI TUHAN PENCIPTA SEMESTA ALAM! (hallah... kumat deh errornya)

Tapi emang bener, sejak Grend Indonesia buka, gue belum pernah tahu wujudnya seperti apa tuh tempat. Rada malu-maluin sih, mengingat bahwa gue adalah penghuni lama Jakarta. Hehehe... Tapi apa mau dikata, gue kan penghuni Jakarta Selatan (walaupun ber-KTP Jakarta Timur), jadi gue rada males kalu buat jalan-jalan aja harus ke Jakarta Pusat.

Nah, sampai sana kita makan dulu. Si Landak yang emang udah sering ke sana bertindak sebagai guide. Tapi karena emang gue bukan tipe yang suka wira-wiri nggak jelas, jadilah si landak cuman sukses men-guide gue di foodcourt-nya (kalo nggak salah namanya food lover ya?), dan kita makan berdua di sana sambil nunggu sang kupu-kupu ungu.

Karena masih ada waktu, akhirnya kita ke starbucks. Hieh... it's been so long since the last time I've had one of those americano. Hahaha...

Jadilah kita lanjut menunggu kupu-kupu ungu di sana. Nggak terlalu lama kemudian, akhirnya diapun datang.

Kita ngobrol-ngobrol sebentar, n trus si kupu-kupu ungu bilang kalau dia pengen cari blouse n celana panjang buat acaranya BCA.

Si landak yang memang biasa menjadi fashion advisor-pun segera menyetujui untuk menemani si kupu-kupu ungu mencari baju. Sementara gue yang emang lagi jadi anak hilang ini sih cuman ayok-ayok aja.

Ternyata... hieh... emang sih gue udah lama nggak nemenin cewek belanja, tapi begitu mengikuti mereka berdua, segala bendungan memori tentang betapa capeknya menemani cewek belanja langsung bobol dengan suksesnya. Hhhh...

Okay... ringkasannya begini. Pertama kita ke outlet Mango. Ternyata di sana nggak ketemu yang dicari. Jadi kita pergi ke Forever 21. Di sana, proses pencarian berjalan intensif dan menghasilkan sebuah jaket pendek warna putih.

Setelah dari situ, lanjut ke dalam Seibu untuk mencari celana panjang hitam. Ternyata nggak ketemu. Pencarian diganti sasaran menjadi mencari daleman hitam buat dipasangkan dengan jaket putih yang sudah dibeli. Jadilah pencarian dilanjutkan ke Giordano.

Di Giordano ternyata nggak ketemu daleman yang dicari, tapi di sana sempat megang-megang celana panjang hitam, tapi harganya terlalu mahal.

Okay... perburuan belum berhasil. Perburuan lanjut lagi ke Zara.

Di Zara sempet ketemu daleman hitam yang cukup bagus, tapi setelah dicoba ternyata ukurannya terlalu besar, jadi batal beli deh.

Untung saja kupu-kupu ungu dan landak harus latihan jam 4, jadi perburuan terpaksa ditunda. Hieh... kaki gue udah mulai kram tuh mondar-mandir begitu. Hiks... Nggak kebayang kalau mereka nggak harus latihan hari ini, sepertinya perburua bakalan dilanjutkan sampai gue terpaksa naik trolley kali ya? Hihihi...

Yah, begitulah petualangan hari ini. Petualangan kecil, tapi lumayan lah buat selingan, hehehe...

Btw, kenapa ya perempuan itu kalau sudah tentang belanja sepertinya punya energi yang tidak terbatas? Hieh...

Tapi gue juga ngerasa seperti itu sih kalo lagi belanja mingguan. Hehehe... Carrefour seluas itu bisa gue jelajahi dengan santainya. Khikhikhi... jadi ketahuan banget nggak sih kalo gue ini burung hantu rumah tangga?


Sunday, March 15, 2009

Reuni


Reuni... Hmm... entah kenapa, gue nggak pernah bisa ngerasa sreg dengan kata itu.

Orang-orang lain sepertinya bersemangat kalau mendengar bahwa mereka diundang ke sebuah reuni, karena mereka jadi merasa masih diingat oleh teman-teman lamanya. Sementara gue... yah, gue juga merasa senang sih diundang ke sebuah reuni. Siapa sih yang nggak senang ketemu dengan teman-teman lama? Tapi sayangnya pada saat yang sama gue juga merasa jengah dengan kata 'reuni' tersebut.

Mendengar kata itu justru mengingatkan gue pada kenyataan bahwa teman-teman yang dulu bisa kita temui setiap hari, sekarang hampir tidak pernah kita temui lagi. Jangankan untuk bertemu, sekedar untuk menelepon dan mengobrol saja sudah sangat sulit untuk menyisihkan waktunya.

Sedikit banyak jadi agak menyesal, mengapa dulu waktu kita semua masih bersama, kita tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk saling berbagi. Sekarang, waktu kebersamaan itu sudah lewat. Sekarang semuanya sudah menjalani jalan hidupnya masing-masing. Ada yang berkerja di luar negeri, ada yang sibuk dengan keluarga, ada yang melanjutkan pendidikan, dan bahkan ada yang sudah pergi selamanya.

Dulu segala berita baik dan berita duka dapat kita bagi dengan mudahnya, sekarang seolah-olah tiada kalimat selain "apa kabar?" yang pantas terucap sebagai basa-basi yang sudah pasti dijawab dengan "baik-baik saja".

Itulah kenapa gue selalu mengernyit setiap mendengar kata 'reuni'. Mengapa mereka menggunakan kata itu. Dengan memasang label itu, seolah-olah kita semua mengakui bahwa kita semua sudah saling berjauhan. Apakah rasa sedih menjalani perpisahan belum cukup berat sehingga harus diberi label 'reuni' untuk membuat perpisahan kita begitu final?

Hhh...

Gue mengangkat tema ini karena tanggal 13 Maret kemarin dan juga hari ini gue menghadiri acara reuni. Tanggal 13 adalah reuni dengan teman-teman notariat angkatan 2006, sedangkan hari ini adalah reuni teman-teman S1 hukum UnTar angkatan 2001.

Satu reuni saja sudah membuat miris, kali ini gue harus menghadapi 2 reuni dalam waktu yang begitu berdekatan.

Reuni notariat ternyata cukup ramai karena dihadiri oleh hampir 1/2 angkatan gue. Selain itu reuni ini juga dihadiri oleh 2 orang dosen kita selama di notariat. Paling tidak dalam reuni ini kita lebih berkonsentrasi dalam kegiatan berbagi informasi tentang dunia notaris, jadi gue nggak terlalu tenggelam dalam suasana reuni karena berkonsentrasi mendengarkan informasi yang diedarkan.

Tetapi reuni S1 FH UnTar hari ini memang benar-benar reuni. Walaupun hanya dihadiri oleh 12 orang karena koordinasi yang tidak cukup baik, paling tidak reuni ini bisa mengingatkan kita yang hadir pada kenyataan bahwa hampir 8 tahun yang lalu kita semua disatukan oleh UnTar, dan selama 4 tahun selanjutnya kita menghabiskan waktu bersama-sama untuk mengejar gelar SH.

Namun reuni FH UnTar ini benar-benar membuat gue sadar bahwa sudah begitu banyak hal berubah dari antara teman-teman gue.

Berbagi tawa dan sekilas berita di antara kami, tapi tidak lama sudah harus berpisah lagi untuk menjalani perbedaan kami masing-masing.

Masa lalu memang selalu indah untuk diingat-ingat, namun rasa sedih ketika harus kembali ke masa kini untuk menyongsong masa depan... rasanya seperti dibangunkan dengan kasar dari mimpi yang sangat indah.

Hahaha... kelihatannya gue sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik. Hanya hal kecil seperti reuni saja bisa membuat gue melankolis seperti ini.

Paling tidak ada satu hal yang membuat gue bisa bertahan. Gue masih punya sahabat-sahabat yang walaupun sudah tidak bertemu dan berkomunikasi, namun saat bersua tidak akan bertukar "apa kabar" kosong dan basa-basi. "Apa kabar" yang terlontar di antara sahabat adalah "apa kabar" yang tulus, menyuarkan bahwa kami memang masih peduli satu sama lain.

Gue berharap itu tidak akan pernah berubah...

Monday, December 22, 2008

Full Day


Di postingan kemaren, Anton sempet komen, kenapa belakangan ini gue kok jadi narsis dengan suka pasang-pasang foto-foto gue sendiri di setiap postingan.

Well, ini semua salah ibu gajah yang memperkenalan photofunia ke gue, sementara gue punya sedikit sifat OCD (apakah itu? Silahkan dikonsultasikan kepada wikipedia, hehehe...). Jadilah setiap gue mau bikin entry, pasti gue pasangin foto dari fotofunia. Sama aja seperti dulu biasa pasang hasil quiz dari blogthings, tapi sekarang yang jadi objek adalah photofunia.

Well, apapun yang terjadi, Anton memprotes, Burung Hantu tetap narsis. Mwahahaha...

Kembali ke judul postingan kali ini, hari ini adalah hari terpenuh yang pernah gue jalani. Dari jam 7 pagi sampe jam 1/2 11 malem baru bisa istirahat. Rasanya udah mau hegh...

Emang sih kerjaan di kantor suka angin-anginan. Kalo lagi sepi, ya kita mah jam 4 juga udah pulang. Tapi kalo pas lagi banyak order, ya seperti hari ini, jam 6 udah bisa pulang aja rasanya udah bersyukur.

Saking sibuknya di kantor, sampe-sampe boss gue sendiri ikut ngetik manual di mesin ketik manual. Kenapa sampe begitu? Karena kita semua di kantor harus mengakui bahwa kalau sudah tentang mengetik pakai mesin ketik, maka boss gue adalah pengetik paling cepat di kantor.

Kita semua sih bisa aja ngetik pakai mesin ketik, tapi nggak ada yang bisa ngalahin boss kalau sudah tentang kecepatan dan ketelitian. Jadilah kegiatan mengetik manual di take over sama boss, sementara kita para kroco-kroco justru ribet sama komputer. Hehehe... Dasar kroco-kroco nggak berbakti.

Tapi secepet-cepet boss ngetik, tetep aja kita selesai semua hal yang harus diselesaikan hari ini pada pukul 17.58 WIB. Gile... 2 menit lagi udah jam 6 sore, dan kita baru beres. Hieh...

Padahal hari ini gue udah janji sama Ibu Gajah kalo gue mau nonton Konser Paduan Suara UnTar jam 7 malem.

Jadilah begitu kerjaan selesai, langsung aja ngacir dari Sentul buat balik ke Jakarta. Gila... Dari gerbang tol Sirkuit Sentul sampe ke gerbang tol Jakarta cuman 15 menit. Pokoknya udah gila-gilaan.

Udah gitu gue harus pulang dulu ke rumah buat setor muka ke nenek gue. Kasian juga dia, dari pagi nggak punya temen (kec pembantu), jadi ya gue bela-belain deh setor muka dulu.

Setelah itu baru ngacir lagi UnTar. Berangkat dari rumah jam 7 malem, padahal jadwalnya tuh konser dimulai jam 7! Haiya...

Untung aja acaranya telat mulai, baru mulai sekitar jam 1/2 8 malem. Jadi pas gue sampe di kampus UnTar jam 8, gue baru ketinggalan sekitar 3 lagu. Hieh... Baru kali ini gue nonton konser seperti di kejar-kejar setan.

Sayang, di konser kali ini nggak banyak temen-temen seangkatan yang bisa dateng. Dari semuanya, cuman ada Ibu Gajah, gue, Sumur, BulBul, J'son, Fannie, PeiPei, dan Wenny. Jadi dari se-geng cuman ada gue dan Ibu Gajah doang. Hieh...

Anjing Langit kecapekan kerja jadi staff redaksi koran bahasa Mandarin, Landak pulang kampung ke Cirebon, Ibu Dokter Paus jaga di rumah sakit, Sotong males dateng karena istri tercinta nggak bisa dateng, Laler dan Cucut sibuk kerja, Nyamuk nggak jelas kemana, Beruang Madu lagi nungguin mama-nya yang kena Typhus di RS, sedangkan Ibu Tai yang janjinya mau dateng (meskipun telat) ternyata justru sama sekali nggak dateng.

Hieh...

Emang udah pada sibuk ya sekarang? Hiks...

Sempet denger kalau Beruang Kutub dateng di konser itu, tapi entah kenapa kok gue nggak ketemu sama dia. Oh well...

Tentang konsernya sendiri... Well... Gue cuman punya dua kata, yaitu: rame dan mewah.

Ramenya emang nggak ngalahin ramenya konser2 penyanyi pro, tapi lumayan rame buat ukuran PaDus kampus. Ada kali sekitar 200 - 300 penonton. Tapi maklum juga sih, karena promotor acara konser ini kan Rektor UnTar, jadi pasti rekanan-rekanan dia pada dateng semua.

Mewah, karena ada sistem lighting dan sound system yang sangat bagus, sehingga bener-bener terasa seperti konser profesional, meskipun penyelenggaranya adalah kampus.

Tentang penyanyinya... yah... gimana ya... emang cirinya Astri (pelatih + conductor) membawakan lagu dengan lemah gemulai dan halus, jadi ya itulah cirinya. Lemah gemulai dan halus. Bahkan lagu-lagu yang banyak aksen seperti "For The Glory Of The Lord" jadi nggak begitu terasa aksennya, sedangkan lagu-lagu yang harusnya riang gembira seperti "Frosty The Snowman" jadi sedikit (cuma sedikit) mellow.

Tapi, begitu membawakan lagu-lagu mellow seperti "I'll Be Home For Christmas", wah... mellownya terasa banget. Hehehe...

Penyanyi-penyanyi cewek sama sekali nggak mengecewakan, meskipun gue harus mengakui kalau belum semua personel bisa berdiri sendiri, alias masih tergantung pada beberapa personel yang memang sudah berpengalaman.

Tapi untuk para cowok... terutama tenor... HIEH! Pada kemana tuh suara? Tenornya benar-benar terdengar sayup-sayup di kejauhan! Ketabrak alto aja sudah menghilang dari peredaran. Sementara bass-nya meskipun sudah cukup terdengar, tapi terkadang goyah. Jadinya gimana ya? Bass itu kan fondasi buat suara-suara lain, kalau dia goyang yang lain juga langsung gempa. Tapi untung saja goyangnya agak jarang, jadi yah bisa dibilang cuman fluke doang kok.

Tetep... para tenor... harus dibantai!!! Hieh... latihan keluarin suara dengan lebih ganas ya, para tenor.

Untuk para cowok, ada lagi kelemahannya. Yaitu nggak ada warna suara bariton. Jadi begitu di bagian yang mayoritas not tinggi, semua cowok suaranya masuk warna tenor (ringan banget), dan begitu masuk bagian yang mayoritas not rendah, langsung warna bass-nya gelap banget. Jadi nggak ada warna tengahnya. Yang ada cuman warna putih dan hitam, tanpa ada gradasi warna abu-abu. Terlalu kontras.

Tapi overall... dari skala 10, gue kasih nilai 7 deh. Dari nilai bulat 10 dikurangin 1 poin karena tenornya lemah, dikurangin 1 poin lagi karena bass-nya terkadang suka goyah, dan berkurang 1 poin lagi karena para perempuan-nya masih ada yang belum bisa independen.

Apart from that... konsernya bagus kok. Hehehe...

Ah iya, ada satu kritik lagi. Jubahnya harus putih ya? Duh... nggak pas aja ngeliatnya. Tapi nggak terlalu ngaruh kok, tenang aja. Hehehe...

Kelar konser, gue langsung pulang. Sampe rumah udah jam 10 malem, langsung makan malem dan sebelum tidur nulis entry ini dulu. Hieh... capek sodara-sodara.

Oh well... gue mau ke pulau kapuk dulu ye. Besok masih harus masuk kerja pagi-pagi lagi nih. Buh bye...

Saturday, December 06, 2008

Going To A Party, Stag


Hieh... hari ini gue dateng ke pesta perkawinan adik kelas gue di SMA. Gue dateng bukan karena gue kenal sama dia, tapi karena kakak dia dulu sekelas dengan gue dan kakaknya itu dateng ke rumah gue buat nganterin undangan. Jadi nggak enak lah kalo gue sampe nggak dateng.

Lagipula dia juga bilangnya kalo dia ngundang banyak temen-temen seangkatan gue yang dia undang, jadi sekalian reuni lah judulnya.

Tapi apa daya, ternyata yang bisa dateng dari angkatan gue cuman gue doang. Temen se-geng gue pada nggak bisa dateng, karena yang satu baru operasi cesar anak ke-3 jadi dia belum bisa pergi, yang satu kerja sampe jam 4 di grogol padahal acaranya di kemayoran cuman sampe jam 5, yang satunya ada di Amrik, dan yang terakhir ikut ujian penerimaan CPNS Departemen Agama.

Sementara temen seangkatan gue yang lain pada nggak tahu tuh kemana semua. Grr...

Jadilah dari geng gue cuman gue sendiri yang dateng. Hiks...

Tapi nggak apa-apa juga sih. Gue orangnya juga nggak problem, mau dateng rame-rame nggak apa, mau dateng sendiri juga nggak apa-apa. Hehehe...

Yang bikin gue rada mikir adalah, di pesta itu gue nggak kenal siapa-siapa kecuali temen gue yang ngundang itu. Sementara dia, sebagai kakak pengantin, bertugas sebagai among tamu. Jadi nggak mungkin juga dia gue ajakin ngobrol.

Hieh...

Jadilah gue bener-bener Stag. Alias bener-bener sendirian. Dateng sendirian, sendirian selama pesta, dan pulang sendirian.

Satu-satunya kegiatan gue adalah membrutali makanan pesta. Hehehe... Lumayan...

Bahkan waktu foto bersama pun, gue ngedompleng aja sama adek-adek kelas gue (yang mana gue nggak kenal semua), dan langsung menggunakan jurus Ibu Gajah, yaitu Narsis Forever! Wakaka...

Dalam keadaan apapun, kalau di hadapan kamera harus tersenyum semanis-manisnya (meskipun hasilnya amit-amit).

Hmm... ini bener-bener pengalaman pertama buat gue, pergi ke pesta dalam keadaan Stag sepenuhnya. Selama pesta itu berlangsung, gue sama sekali nggak ngomong apapun, karena emang nggak punya pasangan buat ngomong. Gak lucu kan kalo gue ngomong sendiri. Apa kata dunia kalo burung hantu oversize seperti gue ngomong sendiri? Yang ada gue langsung dikirim ke penangkaran hewan langka kan repot jadinya.

Kalo lagi begini nih, baru kepikiran sisi negatif dari keadaan nggak punya pasangan, secara pasangan gue ada di ujung dunia yang berbeda dengan gue. Hiks... Jadi mellow...

Ahh... well... jalanin saja lah ya? Toh, paling nggak gue bisa puas makan makanan pesta (meskipun sempet keget juga menemukan gado-gado di sana). Hehehe...

Sunday, November 16, 2008

Things I Did These Past Few Days




Your Kissing Purity Score:
77% Pure




You've hardly ever been kissed

But the kisses you've given are very missed



Wow... ternyata sudah lama juga gue nggak nulis apa-apa di blog. Sudah hampir sebulan. Hahaha...

Yah, maklumlah. Namanya juga lagi keenakan main PS, jadinya internet hampir terbengkalai. Paling sekali-sekali istirahat main, trus nonton Youtube. Btw, gue lagi berusaha menyelesaikan nonton sitkom 'Yes, Minister' dan 'Yes, Prime Minister'. Cuman tinggal 5 seri lagi nih.

Nonton sitkom itu bikim gue nyadar kalau gue selama ini belajar American English, sedangkan untuk British English hampir nggak pernah gue sentuh. Begitu nonton sitkom itu, gue cuman bisa bengong ngedengerin logat British mereka yang rada ajaib di telinga gue yang terbiasa mendengar logat Amerika.

Kesannya gue tiap hari cuman main PS n nonton Youtube ya? Hehehe... EMANG! Wakaka...

Maklum, pengangguran. Jadilah kegiatan gue ya cuman itu aja. Sengaja, biar nggak ngabisin duit dengan nongkrong-nongkrong di mall. Hehehe...

Tapi ya nggak setiap hari juga sih gue nganggur gitu. Gila aja, kesannya gue udah give up on life kalo gue cuman main n nonton tanpa berusaha cari kegiatan yang berarti.

So, selama gue nggak nulis entry blog, gue udah 2 kali ikut bursa kerja. Yang pertama tanggal 1 November, di kampus UI Depok. Hieh... panas banget men di sana. Selain itu juga full house pula. Terus yang kedua pada hari Jum'at 7 November di Kartini Expo Center. Yang kedua ini juga rame sih, tapi paling nggak ruangannya full AC, jadi nggak terlalu tersiksa juga selama harus antri dan desak-desakan.

Oh iya, bursa kerja yang kedua itu diadakan oleh JobsDB.com, jadi tentu saja penyelenggaraannya seluruhnya computerized. Kita cuman masukin CV lewat JobsDB, trus pada hari H kita dikasih bar-code yang ditempel di tiket masuk punya kita, dan setiap kita melihat perusahaan yang menarik n kita ingin mencoba melamar, perusahaan itu tinggal memindai bar-code yang ada di tiket kita itu, n CV kita sudah langsung masuk ke data base mereka.

Karena ada fasilitas seperti itu, berburu kerjaan di acara itu jadi lebih enjoyable n praktis, karena kita nggak usah bawa hard-copy CV n copy ijazah kita. Hehehe...

Selain cari kerja, gue juga sejak tanggal 6 November kemarin masuk menjadi anggota Seswara Opera Company yang dipimpin oleh tante Katherine. Hhh... sukur banget tuh gue bisa masuk di situ, udah gitu gue dikasih bagian sebagai tenor pula. It's a great thing, tapi yang paling great dari masuknya gue ke situ adalah, gue jadi bisa mendengarkan para penyanyi-penyanyi PaDus yang sudah pada hebat banget bernyanyi tepat di samping gue.

Beneran hebat mereka. Suara mereka menggelegar kemana-mana tanpa ada nuansa berteriak. Pokoknya gabung di kelompok itu bikin gue merasa seperti menonton opera setiap minggu... gratis! Wakaka...

Tapi sedikit banyak gue ngerasa nggak punya harga diri di hadapan mereka. Kenapa? Karena gue cuman modal berani nyanyi kenceng, sementara yang lainnya selain bersuara mantabh, tehnik vokal yang hebat, bisa membaca not balok, dan sense of rythm yang precise, mereka semua bisa main piano. Sementara gue? Seperti gue bilang, gue cuman bisa nyanyi doang, nggak pernah les vokal, nggak bisa baca not balok, sense of rythm yang menyamai metronome rusak, dan gue sama sekali nggak bisa main alat musik.

Pokoknya di situ gue bener-bener jadi anak bawang. Tapi untungnya selama ini mereka semua masih baik sama gue sih, jadi gue nggak bisa mengeluh. Hehehe...

Oh iya, selain itu mulai senin besok gue akan mulai berkerja di kantor notaris yang berada di Sentul. Tempatnya emang jauh dari rumah gue, jadi pasti capek banget menjalaninya, tapi paling nggak gue punya kerjaan lah. Siapa tahu ntar sambil kerja gue bisa cari tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah. Tapi untuk saat ini, paling nggak gue kerja dulu.

So... begitulah rangkuman singkat tentang apa yang gue lakukan selama 3 minggu kemarin gue nggak nulis blog. Oh iya, selain apa yang udah gue tulis di atas, gue juga ikut nonton Musicademia 2008 di Kartini Expo Center (tempat yang sama dengan tempat gue ikut bursa kerja), dan gue juga datang ke beberapa acara perkawinan teman-teman gue yang entah kenapa di bulan November ini jumlah pesta perkawinannya sangat banyak sekali.

Dan terakhir, tadi siang gue ikut workshop kilat di kampus tentang Penanaman Modal Asing. Well, namanya sih workshop, tapi acaranya lebih seperti kuliah biasa. Lagipula workshop itu sepertinya hanya jadi acara sampingan, karena acara aslinya adalah reuni sama teman-teman notariat. Daripada reuni cuman buat seneng2 doang, akhirnya dibuatlah acara workshop itu, jadi acara reuni bisa lebih ada gunanya.

Hmm... ternyata gue nggak sepenuhnya nganggur juga ya? Hehehe... Well, gue cuman berharap for the best aja lah untuk saat ini. Semoga gue bisa menjalani kesibukan-kesibukan gue dengan baik.

Amen!

Thursday, October 16, 2008

My Wedding

Suikoden II - Gothic Neclord - Kenji Yamamoto

Kemarin-kemarin Ibu Gajah dan Si Landak sudah membahas tentang bagaimana mereka ingin acara pemakaman mereka dilaksanakan. Gue sudah komentar-komentar di dalam blog mereka masing-masing, dan komentar gue udah cukup 'panjang', jadi gue males kalau harus nulis ulang apa yang sudah gue tulis di tempat mereka. Buat yang pengen baca-baca, silahakan ke BLOG IBU GAJAH YANG INI atau BLOG SI LANDAK YANG INI.

Oleh karena itu, sekarang gue ngomongin (bayangan gue tentang) perkawinan gue saja. Hehehe... Ibu Gajah sudah sempat membuat entry dalam blognya yang mengangkat tema mengenai her dream wedding. Di situ gue juga udah sempet komentar, cuman gue nggak ngomongin tentang my dream wedding.

Nah, sekaranglah gue akan membicarakan my wedding dream. Hahahaha...

Pertama-tama, seperti mayoritas cowok lainnya, gue lebih suka kalau acara perkawinan gue tuh yang simple-simple aja. Yah, cukup akad nikah, trus honeymoon, dan langsung kembali ke kehidupan normal. Gak usah pakai heboh-heboh, apalagi pesta-pesta. Ntar malah ribet, ya kan? Mendingan niru si landak aja, habis nikah (yang mana cuman ijab qobul doang), trus pasang pengumuman di koran dan blog bahwa gue udah menikah. Mungkin kirim SMS ke beberapa orang yang penting untuk memberitahukan berita itu.

Tapi... kalau gue melakukan itu, gue bakal dianiaya oleh banyak orang. Calon gue sendiri sih nggak keberatan mau nikah cara apa, yang penting sah agama dan pemerintah (that's why I love her!). Yang pasti keluarga bakal mencak-mencak nggak karuan, dan paling mengerikan adalah menerima kemurkaan temen-temen gue sendiri. *melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Gajah, Ibu Paus, Anjing Langit, Nyamuk, dan Cucut*

Oleh karena itulah, akhirnya gue iseng-iseng mulai membayangkan. Kalau kira-kira gue HARUS bikin acara pernikahan yang cukup besar sehingga harus mengundang orang-orang banyak, akan seperti apakah acara itu jadinya?

WELL...!

Pertama: konsepnya pasti Jawa, secara gue orang Jawa dan calon gue juga orang Jawa (nama bokapnya aja HARYONEGORO, kurang Jawa apalagi coba?) Meskipun, kalo boleh memilih baju yang lain sih, gue udah punya desain sendiri di kepala gue. Bayangin yang cowok pakai bajunya Dumbledore dan yang cewek pakai baju McGonnagall. Hahaha... Ketahuan banget nggak sih kalau gue adalah salah satu fans Harry Potter yang berharap bahwa ada 'sesuatu' di antara Dumbledore dengan McGonnagall.

Kedua: gue maunya tuh acara adalah sekedar ekstensi dari acara Akad Nikah. Maksudnya, antara Akad Nikah dan Resepsi tidak terpisah. Begitu kelar Ijab Qobul langsung nyambung sama acara salam-salaman dan makan-makan. Jadi cukup satu kostum aja, nggak usah ganti-ganti, RIBET!

Ketiga: Gue BERSUKUR gue bukan orang Jogja. Baru ngebayangin baju penganten yang nggak pakai atasan itu aja udah bikin gue masuk angin. Wew... Sebaliknya gue agak mikir juga sih, karena beskap dan kebaya penganten Jawa Timur biasanya dibuat dari BLUDRU dengan warna gelap yang dipasangkan dengan kain jarit. Hhh... judulnya panas deh tuh. Tapi nggak apa-apa lah. Request gue cuman satu, beskap dan kebaya-nya harus berwarna BIRU GELAP. Gue nggak mau merah (sakit mata), hijau (norak), ataupun hitam (bosen). Ungu okelah, tapi tetap harus yang gelap, jangan ungu stabilo! Tapi tetep mikirin bahan bludrunya itu aja udah nggak kebayang gerahnya. Apalagi masih dilapisin satin, wew... tambah tebel deh. Tanpa satin? GATEL!

Keempat: ini yang paling penting! LAGU PROSESI MASUK SEBELUM AKAD NIKAH! Lagunya sudah gue pasang di awal blog ini, jadi silahkan saja di play sambil membaca tulisan berikut ini. Silahkan menit dan detik yang gue tuliskan dicocokkan dengan lagunya.

00:00 - 00:30 = Intro. Memberi kesempatan pada para tamu untuk membuka jalan buat penganten. Sekalian ngasih waktu pager bagus & ayu untuk berdiri di pos masing-masing.

00:30 - 01.10 = Penghulu beserta saksi-saksi memasuki ruangan.

01:10 - 01:21 = Jeda. Memberi waktu pada penghulu dan saksi untuk segera berdiri di posisi masing-masing, kalau mereka belum sampai di meja, bagian ini memberi warning pada mereka bahwa mereka harus berjalan lebih cepat! (yaolo... galak banget)

01:21 - 01.55 = Pengantin cowok (berarti gue ya? Hiks...) memasuki ruangan. Hieh... waktunya cuman 34 detik! Jalannya nggak boleh pelan-pelan tuh.

01:55 - 02:17 = Jeda. Ngasih waktu buat gue untuk berdiri di posisi yang ditentukan, sekaligus warning kalau waktu gue buat jalan sudah hampir habis.

02:17 - 04:23 = Nah sekarang the main event! Masuknya mempelai wanita dengan digandeng oleh bokapnya. Hehehe... Karena kainnya perempuan biasanya lebih ketat, jadi jalannya pasti lebih susah. Makanya gue sediakan waktu yang paling panjang.

Semuanya belum boleh duduk sampai lagu selesai, dan karena yang memimpin upacara adalah penghulu, maka begitu lagu selesai dialah yang mempersilahkan semuanya untuk duduk di tempat masing-masing.

Langsung Ijab Qobul (untuk menghindarkan para tamu dari rasa bosan, nasehat perkawinan diberikan secara privat sebelum acara berlangsung). "Saya terima nikahnya bla... bla... bla..."

Trus sudah deh, langsung dilanjutkan dengan segala acara adat, resepsi, dan makan-makan. Semuanya kembali seperti acara kawinan biasa. Hehehe...

Soal lagu yang harus dinyanyikan selama resepsi, gue juga udah ada beberapa request, yaitu:

1. Save The Last Dance - dinyanyikan oleh Landak
2. It's Hard To Say Goodbye - Dinyanyikan oleh Valen, duet dengan terserah siapa saja.
3. Claire Benediction - Dinyanyikan oleh semua anak PSUT yang hadir

Setelah 3 lagu itu, terserah deh, mau nyanyi apaan juga gue nggak complain. Mau Cucak Rowo kek, Macarena kek, SMS kek, Menghitung Hari kek, Kucing Garong kek, gue nggak keberatan. Toh ini kan pesta, semua orang yang merasa banci panggung silahkan memuaskan hasrat mereka masing-masing.

Karena temen-temen gue kebanyakan NARSIS, jadi sepertinya upaya melarikan diri dari mereka akan agak susah. Hmm... harus mempertimbangkan pemakaian kabut asap. Hehehe...

Well, nggak terlalu aneh kan? Gue cuman melakukan improvisasi di prosesi masuk-nya doang. Lebih dari itu, hampir nggak ada yang gue rubah.

Tapi dengan penyusunan seperti itu, mau nggak mau harus ada Gladi Resik ya? Biar penghulu dan saksi-saksi nggak keteteran pas di hari H-nya. Hihihihi...

Sekarang, yang gue pikirin cuman satu. Emangnya ada ya penghulu yang mau dikerjain seperti itu? Hieh... Harus berburu penghulu yang masih muda nih, biar masih mau diajak aneh-aneh. Kalo yang udah tua mah mana mau?

Yah, begitulah saudara-saudara sekalian pembahasan tentang my dream wedding. Hahaha... Lumayan lah buat ancer-ancer kalau memang sudah dekat waktunya. Sekarang mah gue mau santai-santai aja dulu. Siapa yang mau duluan, monggo... Hehehe...

Sunday, October 12, 2008

Another One FINALLY Married


Kemarin, hari Sabtu tanggal 11 Oktober 2008, Cucut akhirnya menikah.

Huweee... huwee... huweee... HUWEEE...!!! (tangisan terharu) - Apa coba?

Yah, pokoknya begitulah. Dia telah sukses menjadi istri orang.

Gue berangkat ke gedung perkawinannya (gue selalu susah mengingat2 nama tempat, jadi gue lupa nama gedungnya. Yang gue inget cuman tuh gedungnya ada di sebelah UKI) bersama-sama dengan Astri dan Donny yang menjemput gue di rumah sekitar jam 7 pagi.

Kita sampai di gedung sekitar jam 8.15. Ternyata kita sudah terlambat untuk mengikuti acara akad nikah. Hmmm... sepertinya Cucut emang sengaja nyuruh penghulunya cepet-cepet melangsungkan Ijab Qobul karena gue pernah bilang ke dia kalo gue mau ngegangguin Ijab Qobul-nya dengan berteriak "NGGAK SAH!", sehingga Ijab Qobul terpaksa diulang. Khikhikhi...

Tapi ternyata tanpa gangguan dari gue-pun, Ijab Qobul si Cucut memang mengalami pengulangan karena suaminya lupa menyebutkan mas kawin-nya.

Hieh... Padahal gue cuman bercanda doang pas ngancem dia, tapi ternyata memang terjadi. Oh well, nggak apa-apa. Yang penting pas di pengulangannya udah langsung bener.

Gue masuk ke gedung pas mereka sudah mulai acara sungkem ke orang tua. Berarti detik itu gue melihat Cucut sang 'istri orang'. Sudah tidak ada lagi si Cucut yang biasanya. Sedih juga sih, karena gue nggak bisa ngeliat dia di detik-detik terakhirnya sebagai lajang. Hiks...

Well, setelah acara akad nikah dan sungkem2 dan juga adat2 lainnya, disusul dengan acara sawer. Hehehe... Anak kecil langsung pada kumpul2 buat rebutan duit yang disebar.

Oh iya, pas acara akad nikah sampai dengan acara sawer, Cucut pakai kebaya putih. Kebaya kuning seperti yang ada di foto di atas adalah kebaya yang dipakai di acara resepsi.

Setelah sawer, semuanya langsung siap-siap ganti baju. Semua temen-temen Cucut diminta jadi pager ayu n pager bagus (Ibu Gajah sempet salah nyebut Pager Bagus sebagai PAGAR BETIS! Hieh... PENGHINAAN!!!), jadilah mereka semua harus ganti baju karena acara resepsi sudah akan dimulai jam 11.

Nggak terburu2 sih, karena acara sawer selesai jam 9. Jadinya masih ada waktu 2 jam buat dandan. Tapi biasa, para bidadari2 itu kan perlu THE WHOLE ETERNITY cuman buat dandan. Tapi dandan-nya mereka nggak sia-sia, karena semuanya kelihatan cantik-cantik. Drooolll... Hehehe... (nyebut... nyebut... si Ibu Paus udah istri orang... wakakaka...)

Oh iya, sekarang mari kita meng-absen siapa saja yang hadir. Pertama adalah Ibu Gajah sang penanggung jawab publikasi, BuTai, Ibu Paus, Nyamuk, Sapi, Kupu-Kupu Ungu, dan Anjing Langit. Mereka semua berperan sebagai Pager Ayu.

Para cowok yang datang adalah Laler, Landak, Sotong, Donny, dan gue sang Burung Hantu. Landak dan Laler berperan sebagai Pager Bagus. Donny juga seharusnya menjadi Pager Bagus, tapi sayang beskap-nya nggak muat, jadi dia berubah peran menjadi penggembira. Gue dan Sotong berperan sebagai Among Tamu, tapi karena ternyata posisi ini tidak terlalu berfungsi, jadilah Sotong berubah peran menjadi penggembira juga, sementara gue jadi self annointed seksi dokumentasi yang sok sibuk motretin segala hal.

Sedangkan setelah acara berlangsung, teman-teman lainnya dari Paduan Suara yang hadir adalah Chiky, Doggy, Anak Monyet, Bulbul, Ria, Dukun, Sisi. Dari fakultas hukum diwakili oleh Lebah, Nyonyo (beserta calon suami), dan Desi (beserta calon suami).

Yah, lumayan rame lah. Hehehe... Sayangnya Beruang Madu nggak bisa hadir karena dia harus bantuin belanja persediaan salon mama-nya.

Makannya lumayan banyak n enak-enak (dasarnya gue, makanan juga harus dibahas). Sayangnya gue nggak bisa makan banyak, karena dari awal acara gue sibuk foto-foto melulu, jadinya pas gue mau mulai makan, segala makanan sudah pada habis. Hiks... KEMBALIKAN KAMBING GULING DAN DIMSUM GUE!!!

Tapi paling nggak gue masih bisa makan prasmanan sih, jadinya lumayan terhibur. Hehehe...

Sekali lagi, gue harus mengakui hebatnya para cewek-cewek. Mereka pakai sepatu hak tinggi dan harus tungtangtingting sepanjang acara. Gue sih nggak kebayang gimana rasanya tuh kaki mereka. Gue yang cuman pakai sepatu biasa aja udah pegel banget, apalagi mereka. Wew...

Tapi enaknya jadi perempuan juga harus gue akui. Nggak peduli penampilan mereka sehari-hari seperti apa, tapi kalau sudah dipoles pasti jadinya cakep banget. Contohnya ya si Cucut sendiri. Sehari-hari tomboy nggak jelas, tapi begitu jadi penganten langsung berubah jadi SEMOK abizzz.

Hieh... dasar cewek-cewek. Coba kalo para cowok, kita mah harus fitness kaya orang gila dulu, baru bisa dapet penampilan yang diharapkan (itupun kalau beruntung). Mereka cuman tinggal sret... sret... sumpel sana sumpel sini... langsung jadi (meskipun prosesnya butuh waktu lumayan sih, hehehe).

Oh iya, Anjing Langit pakai kebaya yang beda sendiri dibanding cewek-cewek lainnya. Yang lain pakai kebaya jawa brokat merah, sementara dia sendiri pake kebaya Bali warna merah marun. Kesannya dia jadi duta besar dari Bali di pesta kerajaan Sunda. Wakakaka...

Ada satu lagi duta besar nyasar. Si Ria, yang emang keturunan Papua sehingga kulitnya hitam, datang memakai kebaya hitam (oh God... she looks HOT in kebaya!), jadi kesannya seperti ada duta besar Papua. Wakakaka...

Sebenernya ada banyak kejadian lucu sih di acara itu, tapi yang paling gue inget adalah yang ini. Sebagai catatan, Ibu Paus adalah istri (bener-bener istri) si Sotong. Nah, pas acara resepsi sudah selesai, Ibu Paus sambil ngelipet kebayanya nanya ke Laler yang berdiri di deket gue "Sotong dimana?".

Dengan wajah polos dan nada biasa, si Laler ngejawab, "Lagi di ruang ganti, bantuin cewek-cewek ganti baju."

Ibu Paus cuman mengangguk2 sambil tetep konsen ngelipet kebayanya. Sampai kemudian jawaban si Laler perlahan-lahan mengendap di kepalanya, dan dia baru menyadari betapa ERROR-nya jawaban Laler itu. Dia langsung nengok ke arah Laler yang bales ngeliat ke arah Ibu Paus dengan cengiran lebar. Sementara gue udah sibuk ketawa.

Untung aja ternyata si Sotong lagi mojok sambil mendinginkan diri di depan AC, jadi bisa langsung kelihatan. Coba kalo nggak. Bisa-bisa ruang ganti langsung di bikin porak poranda oleh amukan Ikan Paus dari neraka. Kikikik...

Yah, setelah semua beres, gue bersama-sama dengan Astri dan Donny pamit pulang duluan, sementara yang lainnya denger-denger sih jalan-jalan dulu ke Plaza Semanggi.

Sampai rumah sudah hampir jam 4, dan gue langsung tidur dengan suksesnya. Pertama karena JAKARTA PANAS (sampai-sampai gue merasa meleleh di dalam jas gue), dan kedua karena gue emang lagi flu dan obat flu kan emang ada obat tidurnya, jadilah gue tewas sampai jam 9. Hehehe...

Begitu bangun langsung upload foto-foto acara pernikahan. Ibu Gajah sempet nelpon n kita ngobrol sekitar sejam, trus gue ngelanjutin tidur lagi deh. Hehehe...

Nah, begitulah ringkasa kejadian kemarin. Benar-benar salah satu hari yang gue harapkan untuk tidak akan pernah gue lupakan. Pertama karena ini adalah hari perkawinan Cucut, dan yang kedua karena ini adalah salah satu hari langka dimana temen-temen Paduan Suara Universitas Tarumanagara bisa berkumpul bersama.

Ahhh... Good memories...

Oh iya, buat yang pengen ngeliat hasil jepretan gue kemaren (ada 104 lembar men!), silahkan klik di sini.

Friday, October 10, 2008

Another One Is Getting Married




In a Past Life...



You Were: A Redhead Executor of Sacrifices.



Where You Lived: Germany.



How You Died: Decapitation.


Besok seorang teman gue, si Cucut, akan menikah dengan pria yang dipilihnya. Banyak hal sudah terjadi sejak gue pertama kenal sama dia sampai dengan saat dia akan menikah sekarang ini.

Beberapa di antara hal-hal itu bisa dibilang tidak menyenangkan, tapi banyak juga di antaranya yang akan digolongkan sebagai kenangan yang sangat menyenangkan.

Pertemanan atara gue dengan Cucut bisa digolongkan sebagai pertemanan yang dibentuk oleh nasib. Gue bilang begitu karena kalau dulu gue ngotot bertahan di kedokteran, atau nekat menunggu penerimaan mahasiswa baru di tahun selanjutnya demi bisa masuk psikologi, maka gue nggak akan masuk fakultas hukum, dimana gue bertemu dengan Rany.

Tapi keikhlasan gue masuk hukum juga belum memenuhi seluruh unsur yang diperlukan untuk bisa kenal dengan Cucut. Satu unsur lainnya adalah keisengan gue untuk tetep ikut ospek di fakultas hukum. Padahal gue sebagai anak lama di Universitas Tarumanagara sudah tahu kalau ospek itu nggak ada gunanya selain sekedar untuk bisa kenalan dengan teman-teman baru.

Sekali lagi, keputusan untuk ikhlas masuk hukum, dan juga ikhlas ikut ospek juga belum cukup untuk kenal dengan Cucut. Unsur yang terakhir adalah seorang temen gue yang bernama Sherli.

Waktu sedang ospek hari pertama, gue bertekat untuk nggak mementingkan gengsi dan mendorong diri gue sendiri untuk berkenalan dengan anak-anak lainnya yang juga ikut ospek. Sebenernya rada gengsi juga sih, karena anak-anak yang lain kan baru tahun itu lulus SMA, sementara gue udah ngerasain jadi mahasiswa selama 3 tahun. Jadi di atas kertas, gue adalah senior mereka. Tapi nggak ada gunanya mentingin gengsi di tengah-tengah ospek. Jadilah gue dengan cueknya kenalan sama anak-anak yang lain.

Entah kenapa gue milih untuk kenalan dengan Sherli. Padahal waktu itu ada banyak anak-anak lain di sekitar gue, tapi gue malah kenalan sama dia.

Seperti cerita yang biasa terjadi, teman selama ospek biasanya berlanjut menjadi teman kuliah. Itu juga yang terjadi antara gue dan Sherli.

Jadi, sejauh ini sudah ada 3 unsur, yaitu masuk hukum (meskipun ada pilihan lain untuk masuk fakultas lain), ikut ospek (meskipun gue nggak wajib ikut), dan berkenalan dengan Sherli (meskipun ada banyak pilihan untuk kenalan dengan orang lain). Setelah ketiganya lengkap, barulah gue bisa berkenalan dengan Cucut.

Hieh... capek nggak sih? Kesannya seperti main game aja. Kita harus ngumpulin berbagai macam unsur, barulah bisa ketemu dengan tokoh yang dituju.

Beberapa minggu setelah kuliah semester 1 di fakultas hukum (kalau nggak salah di minggu ke-2 atau ke-3), barulah gue diperkenalkan kepada Cucut oleh si Sherli.

Kesan pertama gue tentang Cucut adalah: CUNGKRING, KURUS KERING, PECICILAN, N BANYAK CERITA.

Hehehe... jahat deh gue. Tapi memang itulah kesan pertama gue tentang sang Cucut. Tapi siapa yang bakal ngira kalau ternyata dia akan menjadi temen gue selama 7 tahun terakhir ini? Hahaha...

Dan sekarang anak CUNGKRING, KURUS KERING (seperti cangcorang), PECICILAN, N BANYAK CERITA itu telah menjadi seorang wanita yang mempersiapkan perkawinannya. Besok seorang anak perempuan yang gue kenal sebagai anak yang nggak bisa diam, tomboy, n suka nekat itu akan menjadi istri orang.

Siapa tahu dalam beberapa bulan dia juga akan menjadi ibu? Hahaha... Kalau itu sampai terjadi, maka gue pasti bener-bener akan merasa sangat tua sekali.

Yah, semoga saja dia diberi kekuatan agar bisa menjalani posisinya sebagai istri. Yang gue tahu, ntah sampai kapanpun, bahkan nanti kalau kita sudah sama-sama tua, bahkan kalau dua udah punya cicit yang jumlahnya banyak-pun, di mata gue dia akan tetap menjadi temen gue yang CUNGKRING, KURUS KERING (seperti cangcorang), PECICILAN, BANYAK CERITA, TOMBOY, N SUKA NEKAT.

To Cucut: Keep tungtangtingting for ever!

Thursday, October 09, 2008

Gathering With Friends at PIM & SenCi






Kemarin (8-10-2008), gue n temen-temen PaDus UnTar mengadakan acara nongkrong bersama. Memang tidak full team sih, tapi setidaknya jadi bisa bertemu dengan teman-teman yang kemarin-kemarin itu rasanya susah sekali untuk bertemu karena mereka sibuk sekali.


Di foto di atas, mulai dari kiri adalah Landak dan Ibu Gajah, yang mana gue masih sering bisa ketemu. Tetapi tiga orang selanjutnya agak susah karena mereka sering sibuk. Mulai dari Doggy a.k.a Chico yang sedang dalam masah pemulihan setelah sempat sakit sampai kurus kering (hehehe…), Beruang Madu yang sibuk jadi ibu guru sekaligus kuliah S2, dan si Anak Babi a.k.a. Piglet a.k.a Ngik yang baru saja berhenti berkerja karena ingin berkonsentrasi kuliah S2 sekaligus memang ingin ganti pekerjaan yang lebih sesuai dengan ilmu yang dimilikinya (dia anak psikologi tapi kemarin malah kerja di hotel sebagai Cashier).

Sebenarnya masih ada satu lagi, yaitu si Domba, tapi sayangnya dia terlambat datang dan lupa difoto pula, jadinya dia tidak bisa ikut dipajang di sini.

Cerita-cerita tentang apa saja yang terjadi dalam gathering kemarin (yang mana agak-agak biadab) sudah ditulis dengan cukup lengkap oleh Ibu Gajah di dalam blognya. Silahkan saja membaca ulasannya di BLOG IBU GAJAH.

Oh iya... sebenernya ini cuman pikiran ngaco aja sih... tapi coba lihat foto yang paling atas deh. Kesannya mereka semua lagi rapat, tapi trus ada Photo Op dan mereka menyempatkan diri untuk nyengir sebentar (kecuali si Doggy yang kelihatannya lagi menikmati minumannya itu). Wakakaka...

Sunday, September 28, 2008

Facebook dan Kenangan Masa Lalu




Your Hawaiian Name is:



Bane Nahele



Gue baru merasakan kegunaan dari Facebook (yaolo... telat banget ya?). Gue emang udah beberapa bulan punya account di facebook, tapi selama ini ya cuman seneng kirim-kirim virtual gift ke temen-temen gue, mainan sama virtual pet, dll. Selama itu, gue nggak pernah kepikiran buat memperluas jaringan sosial gue.

Sampai...

Dua hari yang lalu tiba-tiba ada friend request dari seseorang yang bernama "YPK Wijaya".

Gue cuman bisa bengong liat nama itu. Nama itu membawa banyak banget memori dari masa lalu gue. Gimana nggak? 12 tahun hidup gue habis di sekolah yang bernama YPK Wijaya, pastilah memori gue udah sebejibun tentang nama itu.

Ternyata, ada seorang alumni YPK Wijaya yang membuat account baru di facebook dengan nama itu. Kelihatannya sih tujuannya untuk mengumpulkan semua alumni YPK Wijaya yang sudah tersebar ke sudut-sudut dunia ini.

Setelah gue approve-pun, gue masih nggak terlalu mengharapkan banyak. Karena toh mau gimana lagi? Gue aja udah lulus dari situ 11 tahun yang lalu, dan gue nggak pernah denger kabar dari temen2 lagi sejak itu. Parahnya lagi, tuh sekolah sudah nggak ada lagi sekarang. Gedung sekolah YPK Wijaya sekarang sudah berubah fungsi menjadi sebuah kampus. Hahaha...

Ternyata, surprise... surprise... besoknya ada seseorang bernama Andreanes yang minta gue add sebagai friend di facebook.

Sekali lagi gue ngerem. Kenapa? Karena Andreanes alias JABON (kepanjangannya tanya aja sama dia sendiri) itu adalah senior gue di SMU YPK Wijaya. Dia setahun di atas gue, dan dia juga senior gue di PasKib (IYE! Gue dulu anggota PasKib! Kenape? Keberatan? Grrr...)

Gue ikut PasKib di SMU sudah persis sama seperti waktu gue jadi anggota PaDus di Universitas. Segalanya gue curahkan untuk PasKib. Pokoknya belajar nggak boleh MENGganggu PasKib. Huahahaha...

Cuman melihat dia saja, rasanya kepala gue langsung diterpa oleh badai memori 3 tahun gue jadi anggota PasKib. Mulai dari dicemplungin ke dalam empang, lari-lari muterin sekolah dengan wajah coreng moreng dengan cat minyak, dijemur dari pagi sampai sore, latihan formasi tiap pulang sekolah sampai maghrib, berdebat tentang formasi yang dibuat, pokoknya semua memori langsung ciung... ciung.... ciung... beterbangan di kepala gue.

Ahhh... jadi kebayang, gimana rasanya jadi orang yang jadi alumni sekolahan yang sampai sekarang masih ada. Pasti enak ya? Tiap pengen nostalgia, tinggal main aja ke sekolah itu. Hahaha...

Gue nggak bisa seperti itu. TK gue waktu masih Nol Kecil sudah digusur sejak lama. Trus sejak TK Nol Besar sampai gue lulus SMU, gue terus sekolah di YPK Wijaya (nggak bosen2 ya?). Sejak YPK Wijaya dirubah jadi kampus, gue dan temen-temen gue jadi nggak punya tempat untuk bernostalgia.

Apa mungkin gue bawa kutukan buat sekolahan yang pernah gue pakai sebagai tempat belajar? Sekolah tempat gue belajar, semua digusur. Mungkin aja kan? Tapi apa bisa ya Universitas Tarumanagara dan Universitas Indonesia digusur? Wakakaka... gak mungkin banget. Kampus2 segede gaban gitu gimana cara ngegusurnya?

Bisa aja sih... kalo Indonesia diinvasi oleh Amerika, dan kampus2 gue semua jadi sasaran rudal dan hancur semuanya. Pasti mau gak mau harus tergusur. Wakakaka... jauh banget ngayalnya.

Hhh... banyak banget kenangan2 gue di sekolah itu. Tapi sayangnya jaman2 itu (1986-1998) belum ada kamera digital, sedangkan kalau pakai kamera biasa, film-nya mahal. Belum lagi kalau harus nyuci film dan nyetak fotonya. Wew... 50.000 ribu aja bisa habis kali (inget! 50.000 tahun 80an dan 90an nilainya sama seperti 450.000-nya jaman sekarang!)

Karena itulah gue sama sekali nggak punya foto-foto kenangan waktu gue SMA. Hiks... Sedihnya jadi orang yang nggak punya kenangan masa lalu (lebay mode - on).

Tapi bener tuh. Gue mungkin cocok jadi agen rahasia, karena gue sedikit banget punya foto kenangan masa lalu. Jadi kalo ada orang yang mau menyelidiki masa lalu gue, pasti rada kesulitan. Hehehe...

Duh... jadi ngelantur kan? Ntar deh, mungkin di postingan selanjutnya gue cerita tentang kenangan-kenangan waktu SMU. Hieh... sudah 11 tahun yang lalu men! I feel so old.

Tapi tunggu... 11 tahun lalu dari sekarang... hmm... berarti gue lulus SMU umur 16 ya? Baru nyadar gue.

Wednesday, September 10, 2008

Pesta Perkawinan

You Are 55% Addicted to Blogthings


You're a Blogthings fiend - addicted but not totally dependent.
So what if you know your personality type by heart?

And while you may feel like Blogthings is crack...
There are people much worse off than you!

How Addicted To Blogthings Are You?


Hari ini (tanggal 10 September 2008), gue perki ke acara perkawinan temen gue. Nama dia Frans dan dia adalah temen seangkatan gue di FH UnTar trus dia juga jadi temen seangkatan gue lagi di Notariat UI.

Gue dateng ke perkawinan dia barengan sama temen gue Nana. Gue jemput dia karena dia udah teler kecapekan habis kerja seharian (hiks... iri gue sama yang udah dapet kerja...)

Kita emang dasarnya anak-anak alim, jadi kita santai aja dateng ke acara resepsi perkawinan itu. Meskipun di dalam hati juga rada-rada bertanya-tanya karena acara perkawinannya itu diadakan di HAILAI ANCOL!

Hieh... dasar emang anak polos... kita anggep acara itu ya seperti acara perkawinan biasa yang paling kita dateng, isi buku tamu, salaman sama penganten yang selalu berdiri di pelaminan, makan-makan prasmanan, ngobrol-ngobrol sama temen-temen yang kita kenal, foto-foto, trus pulang.

Ternyata oh ternyata...

Bagitu dateng udah merasa aneh, karena nggak ada among tamu di pintu depan. Tapi ya sudah lah, siapa tau emang nggak pake among tamu karena pintu depan Hailai itu langsung mengarah ke tangga, jadi nggak ada tempat juga buat para among tamu berdiri.

Trus kita lanjut naik tangga n langsung ketemu meja penerima tamu. NGGAK ADA ORANG! Yang tamu cuman gue n si Nana doang, sementara yang jaga meja juga cuman ada 2 orang.

Sampe situ aja perasaan udah aneh. Karena udah beda banget sama acara kawinan konvensional.

Akhirnya kita cuek aja n nekat masuk ke ruang perkawinan yang luas banget n penuh meja. Okay... sampe sini emang masih beda (kan masih jarang tuh pesta resepsi kawinan pake konsep sitting dinner), tapi paling nggak masih normal lah.

Setelah sempat tengak tengok, celingak celinguk, n bengong sejenak karena ngeliat pelaminan dalam keadaan kosong (pengantennya dan para orang tua nggak ada di pelaminan), akhirnya ada Wedding Organizer (WO) yang ngedeketin kita dan mengarahkan kita ke meja yang masih kosong.

Setelah duduk, barulah gue n temen gue itu menyadari bahwa ada sesuatu yang amat sangat nggak pas buat acara perkawinan. Apakah itu?

Ehm... di panggung yang juga diatur sebagai pelaminan tampak 3 orang wanita sedang bernyanyi-nyanyi (yup... mereka menyanyi di atas pelaminan), dan baju mereka... bener-bener baju KABARET! Pokoknya kalo mereka muncul di film Moulin Rouge, mereka pasti cocok banget. Lha wong bajunya sudah jubah yang menerawang, berbulu-bulu, hiasan rambut yang amat sangat bling-bling, dan baju dalamannya (yup, keliatan kok dalemannya) penuh dengan glitter-glitter dan berbentuk seperti baju renang.

Haiyah... ini resepsi perkawinan apa pertunjukan kabaret?

Trus sukur kalo cuma mereka yang begitu. Selama 1 1/2 jam gue di sana, sepanjang acara isinya dance dan nyanyi-nyanyi seperti konser. Pengantennya cuman naik ke panggung sebentar buat potong kue dan habis itu langsung disambung dengan dance dari kelompok tari SEXY DANCER!

Sukur kalau cuman namanya doang yang sexy, baju mereka juga menyesuaikan dengan namanya saudara-saudara. Gue bener-bener speechless sepanjang acara.

Udah gitu makin malam bajunya makin minim lagi. Kalo pertama-tama mereka masih pake jubah yang menerawang, selanjutnya mereka pakai baju renang, lanjutannya lagi mereka pakai bikini. Semuanya penuh dengan bling-bling dan bulu-bulu. Haeh...

Tariannya dong... Udah persis seperti tarian striptease abis.Gila aja tuh cewe-cewe pada nari-nari sambil ngangkang sana ngangkang sini seperti nggak kenal malu. Tinggal mereka lepasin aja baju mereka satu-satu, jadilah mereka nari striptease.

Apalagi lagu yang mengiringi tarian mereka adalah lagu-lagu dugem yang bass-nya gila-gilaan. Pokoknya udah bener-bener nuansa clubbing, sama sekali bukan nuansa resepsi. Tingga matiin lampu, pasang lampu disko, keluarin bir sebanyak-banyaknya, maka jadilah acara itu berubah menjadi acara clubbing.

Tentang makanan juga begitu. Course-nya banyak banget. Tadi aja gue baru sampe course ke-8 udah jam setengah 10 malam, dan menurut pelayannya masih ada beberapa course lagi. OMG! Mau sampe kapan tuh pesta?

Akhirnya gue n Nana udah cukup merasa kekenyangan (dan bingung ngeliatin tarian-tarian vulgar) membulatkan tekat untuk berjalan menembus lautan manusia dan meja demi bisa ketemu dan salaman sama Frans.

Untungnya bisa ketemu. Setelah itu kita langsung ngacir pulang.

Haiyah... aneh-aneh aja.

Untuk sementara ini, acara pesta resepsi ini adalah pesta resepsi paling ajaib yang pernah gue hadiri. Pokoknya gue tinggal menunggu apakah di masa depan ada acara resepsi yang lebih ajaib dari ini yang akan gue hadiri.

Wednesday, August 27, 2008

Papa

.

Gue udah menunda-nunda menuliskan entry ini. Mungkin karena di dalam hati gue belum bisa benar-benar menerima kenyataan kalau bokap gue sudah nggak ada di dunia ini lagi.

Bokap gue, yang biasa gue panggil Papa, meninggal tanggal 16 Agustus 2008 karena serangan jantung mendadak. Sebelumnya bokap sama sekali nggak punya keluhan mengenai jantung. Penyakitnya yang agak parah cuman penyakit gula dan itupun sudah dapat dikendalikan dengan obat-obatan.

Tapi memang kelahiran dan kematian adalah hak prerogatif Allah SWT, ternyata bokap malah pergi karena penyakit yang nggak pernah dimilikinya. Dia pergi tanpa keluhan apapun, hanya merasa lemah dan berkeringat dingin. Ketika sudah duduk di dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit, ternyata dia langsung meninggal sesaat setelah memasang seat belt.

Dari gue masih bayi, gue hidup dengan kakek dan nenek pihak nyokap yang tinggal di Jakarta, sementara bokap dan nyokap gue tinggal di Surabaya. Karena itulah, waktu yang gue habiskan di rumah orang tua gue sendiri bisa dihitung dengan jari. Dulu pernah iseng-iseng gue hitung, kalau ditotal seluruh waktu yang gue habiskan serumah dengan orang tua gue sendiri seluruhnya tidak mencapai 2 tahun.

Gue serumah dengan orang tua gue paling cuman 2 atau 3 minggu setiap tahunnya, yaitu pada saat liburan kenaikan kelas. 3 minggu dikali 27 tahun, totalnya 71 minggu. Setahun berisi 52 minggu, jadi seluruhnya hanya 1 tahun 4 bulan dan 3 minggu.

1 tahun 4 bulan dan 3 minggu adalah total waktu yang gue bisa habiskan dengan bokap gue. Sangat pendek sekali.

Gue sejak kecil sudah pasrah bahwa gue punya tugas menemani kakek dan nenek gue di Jakarta. Pikiran itu adalah satu-satunya hal yang membuat gue selalu berusaha ikhlas saat liburan gue di Surabaya selesai dan gue harus kembali ke Jakarta.

Kebencian gue dengan pagi hari mungkin berawal dari sini. Setiap gue harus kembali ke Jakarta, gue pasti pakai pesawat pagi, yang artinya harus bangun subuh dan siap-siap untuk berangkat. Setiap kali gue bertemu dengan pagi, memori gue selalu memainkan kembali memori tentang betapa sakitnya perasaan gue sebagai seorang anak kecil yang harus menghadapi perjalanan pulang ke Jakarta, dipisahkan dari orang tua gue sendiri selama setahun penuh sebelum akhirnya dapat bertemu lagi dengan mereka.

Mungkin karena sering dipisahkan secara paksa begitu, gue selalu memperlakukan setiap perpisahan gue dengan orang tua gue sebagai perpisahan yang terakhir. Ciuman dan pelukan terakhir sebelum naik pesawat gue anggap sebagai ciuman dan pelukan terakhir dari orang tua gue.

Setiap detik bersama adalah detik yang berharga, mungkin itulah yang membuat gue bisa kuat menerima kabar mendadak bahwa bokap gue sudah meninggal.

Tapi...

Gue kepengen bisa menangis...

Gue nggak bisa nangis...

Proses acceptance gue berhenti di awal tanpa pernah dimulai. Gue nggak merasakan kemarahan, kecamasan, menawar-nawar, kesedihan, dan penerimaan. Semua berhenti, dan tidak dimulai sampai sekarang.

Kosong...

Bokap gue adalah cermin diri gue. Gue mungkin jarang serumah dengan dia, dia nggak pernah mendidik gue (pendidikan gue dapat dari kakek gue), tapi entah kenapa sifat gue adalah sifat bokap gue.

Arachnophobia, doyan begadang, demen lagu klasik, pembawaan tenang dan humoris, tidak bisa marah, logis, nggak bisa hidup lepas dari komputer, kecenderungan psikoafektif (meski tidak sepenuhnya), ketertarikan kepada ilmu forensik (meskipun akhirnya nggak ada di antara kita berdua yang mendalami ilmu itu), itu semua adalah ciri-ciri gue, dan ternyata itu semua adalah ciri-ciri bokap gue.

Memang genetika nggak bisa dipungkiri. Dia nggak pernah mendidik gue, gue nggak pernah meniru dia, tapi entah bagaimana gue bisa punya sifat seperti dia.

Tapi sekarang bokap sudah nggak ada. Sekarang setiap kali gue menemukan sisi baru dalam diri gue sendiri, gue cuman bisa bertanya-tanya sendiri apakah sisi itu juga ada pada bokap gue.

Dengan meninggalnya bokap gue, ada satu mimpi gue yang nggak akan bisa terpenuhi lagi. Yaitu mimpi bahwa suatu hari nanti gue bisa tinggal serumah dengan dia, berbagi kegemaran kami bersama-sama tanpa harus khawatir akan terpisahkan oleh jarak.

Sekarang dia sudah tidak ada. Gue cuman punya kenangan saat gue di Surabaya, di tengah malam menjelang subuh, dia main komputer di ruang kerjanya sementara gue main PS di kamar adek gue. Tiba-tiba dia melongok ke kamar tempat gue berada sambil bilang "Tok, kita makan es krim sambil rokok-an yuk."

Kalimat itu terus bergema di kepala gue sekarang, dan gue bersukur kepada Tuhan bahwa gue nggak pernah menolak ajakannya itu.

Tapi sekarang Papa sudah pergi. Nggak ada lagi orang yang mau ngajak gue merokok bareng sambil makan es krim di tengah malam.

Ajakannya itu sangat berarti buat gue, karena itu artinya dia mau menerima gue apa adanya, yaitu anaknya yang gendut, suka makan es krim dan suka merokok. Dia nggak pernah mencela gue karena hal-hal itu. Gue nggak pernah bisa menemukan orang seperti itu selain dia. Nggak akan pernah...

Selain itu gue juga bersukur kepada Tuhan bahwa bokap pergi setelah gue lulus. Meskipun gue belum wisuda, tapi paling nggak dia tahu kalau gue sudah lulus jadi dia bisa bangga dan lega.

Goodbye Dad... It's been a pleasure being your son. I hope we'll still be father and son in the next world.

Wednesday, July 30, 2008

Hantu di Sekolah

Tadi siang sampe sore gue kumpul2 sama Winy the Pooh, Landak, n Polar Bear. (Jangan kaget kalo semua temen-temen gue punya adalah binatang karena kita semua memang termasuk kingsom animalia, hehehe...)

Gue sih kepengennya bisa ketemu dari jam 10 (pas Citraland baru buka) jadi kita bisa nongkrong lebih lama, tapi karena Winy the Pooh ada acara dulu siang itu, makanya kita baru bisa kumpul setelah jam 2. Yang diundang sama Winy the Pooh ke acara kumpul2 itu adalah gue, Landak, Polar Bear, Ox, Ibu Gajah, dan Anak Babi, tapi ternyata yang bisa dateng cuman gue, Landak, n Polar Bear.

Yah, nggak apa-apa lah, yang penting kan bisa pada kumpul-kumpul n melepas kangen karena emang kita semua sibuknya udah setengah hidup, jadi mau telpon-telponan buat ngerumpi aja udah susah banget. Polar Bear kerja di kantor akuntan n tiap hari pulangnya bisa setelah menjelang subuh, sementara Winy the Pooh yang seorang guru juga pasti sibuk sama sekolahannya. Gue sih udah bersyukur banget kita bisa kumpul meskipun hanya ber-4.

Yang pertama dateng adalah Landak karena kos dia memang di deket CL, dia sampai sekitar jam 1 n dia menunggu di A Club Cafe karena di cafe itu ada free wi-fi jadi dia bisa on-line sambil nunggu yang lain pada dateng. Yang kedua adalah gue yang dateng sekitar jam 2.

Begitu sampe, gue langsung beberekan laper ke Landak, karena emang gue belom sarapan jadinya jam 2 siang udah kelaparan. Hehehe... Tapi kita nggak bisa langsung cari makan karena 2 hal. Pertama karena Winy the Pooh belum dateng, sebenernya sih nggak apa-apa kalo makan duluan, cuman makan rame-rame kan lebih enak. Sebab kedua adalah karena Landak lagi down-load MP3, jadi terpaksalah gue meratapi nasib gue yang kelaparan ini sambil nunggu dia selesai down load.

Setelah selesai down load, pas Winy the Pooh juga sudah mulai cari parkir, jadi gue n Landak langsung ke Pizza Hut buat pesen tempat. Pas lagi nunggu tempat, Winy the Pooh ternyata sudah muncul. Langsunglah mereka berdua heboh ngomongin kuliah, karena memang mereka lagi kuliah S2 psikologi di UnTar, jadi omongan mereka memang nyambung.

Gak lama kita udah dapet meja, pesen-pesen makan (yang mana gue pesen banyak banget karena lagi kalap), n ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sampe akhirnya makanan pada dateng. Kita udah pada hampir selesai makan, barulah Polar Bear dateng. Kita kira dia mau pesen makanan juga, tapi ternyata dia sudah makan di luar, jadi kita berempat cuman ngobrol-ngobrol doang.

Setelah selesai makan, kita keluar dari Pizza Hut n jalan menuju Batik Keris yang ada di lantai 2 CL karena gue pengen beli bingkisan untuk dosen pembimbing gue (nggak apa-apa kan ngasi bingkisan gitu? Toh gue udah lulus juga, jadi ga bisa dibilang nyogok kan ya?) Setelah mencari-cari (yang mana Landak jadi korban karena dia yang terpaksa nyoba-nyobain baju batik. Gak mungkin gue yang nyoba kan? Yang ada bajunya kegedean kalo dikasi ke dosen gue) akhirnya gue menentukan pilihan kemeja batik yang mau dibeli.

Selesai belanja batik, seperti umumnya cewek, Winy the Pooh ngajakin ngeliat sepatu-sepatu dulu (what is it between women and shoes?). Setelah puas liat-liat sepatu, kita kembali ke habitat alami kita bersama, yaitu Starbucks CL.

Disinilah cerita horror dimulai. Ini cerita tentang kelas yang diajar oleh Winy the Pooh. Dia mengajar kelas 2 SD, n selama 2 minggu dia mulai mengajar kelas itu sering terjadi ke anehan-keanehan di kelasnya.

Menurut ceritanya, sering sekali benda-benda yang kecil-kecil seperti tutup botol minum, pensil, penghapus, dll tiba-tiba menghilang dan muncul di tempat lain di kelas itu. Saking parahnya, tutup botol yang sedang digenggam oleh salah satu murid Winy the Pooh bisa menghilang begitu saja n muncul di meja atau tas murid yang lainnya.

Kalau hanya terjadi beberapa kali dan setiap kali hanya terjadi pada satu orang yang berbeda-beda sih masih kemungkinan karena ada anak yang iseng. Tapi semakin lama kejadian ini semakin sering terjadi dan sekalinya terjadi langsung terjadi pada beberapa murid yang selalu berbeda-beda. Pokoknya bener-bener acak n gak ada polanya sama sekali.

Perkiraan awal bahwa pelakunya adalah salah satu murid semakin lama semakin berubah menjadi perkiraan bahwa pelakunya adalah bukan makhluk dari dunia ini. Karena kejadian ini semakin meresahkan guru-guru (murid-murid sih seneng aja, mereka malah ngirain kejadian-kejadian itu sebagai sihir atau sulap, dasar anak kecil), maka pimpinan sekolah memutuskan untuk memanggil pendeta untuk melakukan penyucian dan pengusiran.

Tapi bukannya mengusir, si pendeta itu malah menyampaikan pesan bahwa si makhluk yang mengganggu itu meminta disediakan kursi untuk ia duduki (yaolo... manusia males sekolah, lha ini makhluk lain kok malah pengen ikut sekolah). Tapi akhirnya tetep diadakan upacara pengusiran sih.

Ternyata usaha itu tidak mempan, karena besoknya kejadian itu berulang lagi, dan bahkan sekali kejadian bisa dibilang lebih parah karena suatu pagi seorang guru menemukan sebuah kursi diletakkan di tengah-tengah ruang kelas, padahal setiap malam janitor sekolah itu pasti membereskan kursi-kursi murid dan disusun di pinggir kelas. Jadilah para guru-guru kembali resah karena munculnya keanehan-keanehan di kelas itu sehingga rencananya beberapa hari lagi akan diadakan upacara pengusiran roh lagi.

Gue udah nggak ngerti mo ngomong apa mendengar cerita itu. Kok bisa-bisanya ada hantu di ruang kelas anak SD ya? Hihihi... aneh-aneh aja.

Selama nongkrong di Starbucks CL kita cuman membicarakan hal itu doang. Nggak horror-horror banget sih, karena makhluk itu nggak pernah menunjukkan diri. Tapi menurut Winy the Pooh, keisengan makhluk itu sudah mulai mengganggu, dan juga sekarang para guru-guru cuman bisa menunggu waktunya salah satu murid akan menyadari kalau yang mereka hadapi bukanlah sulap atau sihir seperti yang ada di cerita Harry Potter, tapi yang mereka hadapi adalah hantu.

Kalau murid-murid itu sadar n trus cerita ke ortu mereka, yang ada bisa-bisa semua murid-murid itu dipindahin sekolah semua sama orang tua masing-masing ya kan?

Tapi paling nggak makhluk itu masih baik lah menurut gue. Dia cuman iseng doang menukar-nukar tempat disimpannya benda-benda kecil-kecil. Coba dia jahat, yang ada sekolah Winy the Pooh masuk berita karena terjadi kesurupan massal seperti yang sering terjadi pada sekolah-sekolah lain di tahun-tahun kemarin.

Hhh... jangan sampe deh kejadian seperti itu. Horror banget sodara-sodara.

Saturday, July 19, 2008

The Time When I Was Speechless...

Kemaren malem gue pergi ke FX untuk menghadiri undangan dari si Ibu Gajah yang telah mengundang kami, teman-temannya selama di PaDus UnTar, untuk mengadakan acara kumpul-kumpul rutin.

Well, gue bilang rutin karena emang si Ibu Gajah menginginkan agara acara kumpul-kumpul ini diadakan rutin sebulan sekali, tapi kita hidup di dunia yang tidak sempurna , jadi acara kumpul-kumpul kita itu sering kali terlewati beberapa bulan baru bisa terjadi lagi. Itupun yang hadir seringnya nggak lengkap. Well, mau gimana? Namanya juga udah pada sibuk semua, Ibu Paus jadi Dokter, Laler kerja kantoran, Cucut ribet sama bengkel, Sapi ribet sama freelance-nya dia, Landak ribet dengan kehidupan sosialnya (haduh, kalo acara harian dia ditulis di agenda, kayanya tuh agenda bisa langsung full dalam waktu seminggu), Tai ribet sama kerjaan dia di hotel, Anjing Langit ada di Bali, Nyamuk ribet sama keponakan-keponakannya, dan gue sibuk... gue sibuk apa ya? Sibuk jadi Burung Hantu? Hehehe...

Yah meskipun ternyata tidak rutin, yang hadir tidak lengkap, tapi paling nggak kan acaranya tetap berjalan. The show must go on!

Gue nggak akan membahas tentang acaranya. Gue yakin si Ibu Gajah mungkin lebih baik dalam menjelaskan acara itu karena dia bawa kamera, jadi postingan dia tentang acara kemarin pasti bisa lebih lengkap dengan foto-fotonya.

Jadi gue serahkan tanggung jawab menceritakan acara kemarin kepada sang Ibu Gajah, the baroness of narcism and incessant photography. Kenapa dia cuman gue kasih gelar baroness? Karena diantara teman-teman lainnya, dia bukan yang paling parah narsis-nya dan doyan fotografi-nya, jadi nggak adil kalo dia dinobatkan jadi queen. Hehehe...

Yang kepengen gue bahas adalah kejadian setelah acara kumpul-kumpul itu selesai.

Setelah selesai makan-makan, ngobrol-ngobrol, n merayakan ulang tahun Cucut (lengkap dengan lilin yang tidak bisa mati), akhirnya acara kumpul-kumpul yang cuman berlangsung 2 jam kurang itupun berakhir.

Gue udah harus pulang, sementara Sapi dan Laler berkeras ingin nyoba main plorotan (apa sih bahasa Indonesia yang baik untuk istilah 'plorotan'?) yang ada FX yang tingginya dua puluh sekian meter yang dimulai dari lantai 7 dan berkahir di lantai 1.

Well, kita berpisah di lift, karena gue mau langsung ke loby sementara mereka semua mau ke bawah lagi untuk mengurus penukaran bon makan tadi menjadi tiket main plorotan itu tadi.

Jadilah gue sendirian di loby menunggu supir gue. Hiks... dunia serasa sunyi dan sepi dalam kesendirian (halah...).

Sebenernya gue nggak sendirian sih. Ada juga orang-orang lainnya yang juga nunggu mobil. Tapi gue kan nggak kenal, jadilah gue cuman diem aja nunggu mobil gue sambil menikmati angin malam (sayangnya angin malam Jakarta, jadi aromanya aroma knalpot, hegh... )

Pas lagi enak-enak bengong gitu, tiba-tiba di sudut mata gue, gue menangkap gerakan-gerakan aneh dari sepasang manusia yang agak tidak umum ditemui di sebuah loby mall.

Pasangan cowok cewek itu terdiri dari ras yang berbeda (tanpa ada maksud untuk main ras ya), yang cowok orang bule, sedangkan yang cewek orang pribumi.

Yang menarik perhatian gue adalah, mereka berdua sedang berpelukan, seolah-olah mereka sedang sedih karena akan berpisah. Pokoknya nuansa yang ada di mereka adalah nuansa airport. Tau kan nuansa airport? Nuansa yang penuh dengan perpisahan, jadi lo mau peluk-pelukan kek, mau cium-ciuman kek, hal itu udah biasa di airport.

Lha ini nuansa itu kok malah ada di loby mall?

Jangan bilang mereka sedih karena sudah waktunya pulang, jadi mereka seding karena harus berpisah dengan mall itu dan tidak bisa nongkrong n belanja lagi... sampe keesokan harinya. Kalo bener gitu sih, berarti mereka berdua emang maniak mall.

Tapi trus di kepala gue muncul teori lain. Mungkin yang cowok udah harus pulang ke negaranya lagi, jadi mereka harus berpisah makanya mereka sedih dan berpelukan.

Omong-omong, jangan bayangin mereka berpelukan cuman sebentar ya. Kalo cuman bentar, ngapain juga gue perhatiin? Mereka pelukan lama banget men, makanya gue sampe bingung sendiri.

Mereka terus berpelukan sementara gue udah mulai ngerasa nggak nyaman, karena ini kan tempat umum, dan gue bener-bener nggak menyarankan siapapun untuk berpelukan selama itu di depan umum, apalagi di loby mall.

Gimana kalo Ibu Gajah ngeliat? Yang ada langsung dibikin novel tuh. Apalagi kalo si Sapi yang ngeliat, dia bisa langsung berubah jadi fotografer keliling yang motret-motretin pasangan itu. Hahaha...

Tapi pikiran gue belum sempat selesai meregistrasikan pandangan peluk-pelukan itu, tiba-tiba gue mendengar suara-suara yang agak-agak aneh untuk terdengar di setting loby mall seperti itu.

Suara-suara apakah itu?

Suara mendesah-desah...

Hihihi...

Gue langsung nengok. Kalo tadi gue nengok ke kiri gara-gara pasangan berpelukan itu (yang mana masih aja mereka berpelukan), sekarang gue nengok ke kanan untuk menemukan pasangan yang sepertinya sedang... aduh... gimana ya ngomongnya...

Kalo kata ini gue tulis, bisa-bisa gue disensor lagi... tapi udah lah cuek aja.

Pasangan di sebelah kanan gue itu sedang horny...

Udah? Puas? Lanjut...

Kenapa gue bisa bilang begitu?

Karena pasangan cowok cewek yang kedua itu sambil nunggu mobil, mereka berangkulan, berpelukan, saling menggerayangi, dan tindakan-tindakan lainnya yang benar-benar menunjukkan kalo mereka berdua udah nggak sabar untuk cepetan balik ke kamar tidur mereka n melakukan... yah... melakukan 'itu' lah...

Bahkan yang cewek udah sempat mencium-ciumi leher yang cowok, sampe si cowok itu merem melek sendiri n mendesah-desah gak jelas.

Pokoknya detik itu gue bener-bener nggak tahu harus bereaksi gimana. Mau ngeliatin, nggak sopan. Mau nggak ngeliatin, tapi keliatan. Gimana dong?

Yah gue cuman pasrah aja lah. Diam dan menunggu mobil gue (yang nggak dateng-dateng grrr... )

Nah, sambil menunggu dengan perasaan serba salah itu, gue baru menyadari sesuatu hal lain yang aneh juga.

Dari semua orang yang ada loby tersebut pada saat itu, cuman gue yang kelihatannya nggak nyaman dengan dua pasangan itu (terutaman pasangan yang kedua sih...).

Orang-orang lain di loby itu semuanya bersikap biasa aja men! Yang sendirian juga ya cuman diem aja, nggak celingak-celinguk kaya gue. Yang punya temen juga ngobrol biasa aja sama temennya.

Gue sampe bingung sendiri.

Ini gue yang kelewat kuno, atau orang-orang lain yang emang udah pada bejad jadinya ada adegan-adegan seperti itu mereka semua cuman biasa aja.

Gue menganggap diri gue sebagai seseorang yang liberal (atau paling nggak gue berusaha untuk begitu), tapi ternyata gue masih cukup konservatif untuk bingung sendiri ketika ada orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan di tempat umum.

Well, gue nggak akan melanggar hak mereka. Menurut prinsip gue, mereka berhak untuk melakukan apapun yang ingin mereka lakukan, dimanapun mereka ingin melakukannya, selama nggak mengganggu privasi gue sendiri.

Jadilah gue cuman bisa menahan supaya muka gue nggak merah menyala karena suara desahan-desahan tuh cowok cewek masih terdengar meskipun gue berusaha untuk mencueki mereka. Hhh...

Untungnya mobil gue akhirnya dateng, n gue langsung buru-buru masuk untuk ngacir dari tempat itu.

Ampun deh, ini Indonesia yang seharusnya masih kolot, tapi ternyata udah ada tempat dimana orang bisa seenaknya gitu. Gimana di negara yang udah bebas banget seperti Belanda ya? Well, waktu gue jalan-jalan ke Belanda emang gue nemuin sih sex shop gitu, n waktu itu gue juga nggak sengaja ikut naik ferry yang ternyata ada pertunjukan kabaret topless-nya. Tapi seinget gue, gue nggak nemuin orang saling ber... ber... ber... argh! Ber 'itu' di depan umum lah pokoknya.

Sampe sekarang gue cuman bisa menghela napas tiap inget-inget kejadian kemaren. Hhh... gue nggak berani ngebayangin gimana jadinya 20 tahun lagi ya?Jangan-jangan udah lebih bebas lagi. Oh no...