Showing posts with label on the news. Show all posts
Showing posts with label on the news. Show all posts

Thursday, December 11, 2008

Guru-Guru Abusive


Tadi pagi nonton berita tentang kasus penganiayaan murid oleh gurunya di Gorontalo. Waktu gue denger head line seperti itu, gue langsung kebayang kalau penganiayaan yang dimaksud ya penganiayaan seperti biasa. Maksudnya ya satu lawab satu, seorang guru menganiaya seorang murid. Entah dijotos kek, ditendang kek, digantung kebalik kek, pokoknya intinya gue kebayang korbannya cuman satu orang.

Ternyata kejadian itu terekam di kamera HP (jaman sekarang apaan sih yang nggak direkam di HP? Kayanya segalanya udah direkam) dan pas gue nonton, gue lumayan bengong. Karena ternyata yang di-abuse itu nggak satu murid, tapi banyak murid! Udah gitu kejadiannya di sekolahan pula.

Jadi kayanya sih penganiayaan itu dilakukan dalam rangka menghukum anak-anak cowok sekelas (karena gue nggak liat ada murid cewek yang ikut di-abuse).

Dan yang bikin gue bengong lagi... yang dinyatakan sebagai penganiayaan itu adalah begini. Anak-anak disuruh baris jadi satu saf, trus maju satu-satu buat ditabok mukanya sama gurunya (katanya sih guru matematika, bapak-bapak gitu).

Bisa ya penganiayaan digilir gitu? Nyebutnya apaan tuh? Penganiayaan massal? Kayanya gak cocok deh, karena jadinya kedengeran seperti Pengeroyokan massal. Jadi kesannya satu orang dianiaya rame-rame. Jadi nyebutnya apaan dong? Masa DIANIAYAAN MASSAL? Waduh... Belum pernah denger tuh awalan di- digabung sama akhiran -an.

Oh well... gue sebut aja TERANIAYA BERJAMAAH. Khikhikhi... (lo kira sembahyang, bisa dibilang berjamaah gitu?)

Tapi yang gue pengen tahu lagi, emangnya ditabok/digampar/digeplak begitu udah termasuk penganiayaan ya? Kayanya waktu gue SD dulu hukuman dari guru-guru gue masih lebih parah daripada itu deh. Masa baru ditabok aja udah penganiayaan sih? Apalagi kalo dalam tema pendisiplinan ya. Kalo tanpa alasan sih, tuh guru namanya minta ditabok balik.

Emang sih jaman sekarang masyarakat sudah menganggap bahwa hukuman badaniah sudah tidak dapat diterima seperti jaman dahoeloe kala. Tapi masalahnya, alternatifnya apaan?

Kalau bukan hukuman badan trus mau hukuman apa? Hukuman psikologis gitu? Bukannya itu lebih parah ya? Ntar kalo efeknya tuh anak-anak berubah jadi paranoid/phobic/dll, kan malah tambah repot.

Atau mau hukuman berupa tugas? Disuruh bersihin kamar mandi sekolah gitu? Waduh... emangnya bisa mempan ya? Secara di rumah masing-masing tuh anak-anak pasti pernah ngerjain tugas-tugas kaya begitu.

Masa mau hukuman ekonomis, alias denda? Lo kira jalanan, ngelanggar dikit, disemprit polisi, trus bayar denda gitu? Bisa aja sih, tapi itu sih hukuman lebih kena ke orang tua daripada... ke ... anak...

WAH...!!!

Gue setuju sama denda! Biarin aja orang tua yang kena imbasnya. Kan ntar mereka yang marah-marah ke anaknya, jadi guru nggak usah takut dibilang abusive. Hehehe... Lagipula, kalo anaknya nakal, kan artinya orang tuanya yang nggak bener ngedidik-nya, biar aja mereka kerasa batunya. (kesannya gue kontra banget sama orang tua ya? khikhikhi...)

Haduh... pusing juga ya, padahal cuman mikirin tentang hukuman buat anak sekolah doang. Lha wong guru udah dilarang untuk memukul, tapi nggak dikasih alternatif untuk menghukum, jadinya gimana? Masa cuman dikasih tahu "Kamu jangan begitu, itu namanya nakal" sambil kepala muridnya dielus-elus. MANA MEMPAN?!

Yang ada malah tuh guru dikira melakukan pelecehan seksual dengan mengelus-elus muridnya. Hieh... repot lagi.

Apa mau pake ruang detensi seperti di penjara guantanamo? Murinya dimasukin ruangan kosong yang atap, lantai, dan temboknya berwarna putih. Dikasih lampu penerang yang kuat yang warnanya juga putih dan berbunyi 'ngggggggggggggggggggggggg' (suara lampu neon kalo baru dinyalain) trus-terusan.

Dijamin efektif sih. Ruang detensi seperti itu sudah terbukti bikin psychological breakdown, tapi nggak sampe trauma. Dijamin kapok! Tapi... hmm... sepertinya ada efek samping yang gue lupa apaan dari terapi ini. Tapi apa ya? Oh well, gue lupa. Hehehe...

Satu lagi yang gue pengen tahu. Tuh guru emangnya nggak ngerasa ya kalo dia direkam gitu? Rekamannya lumayan jelas lho. Jadi udah pasti tuh HP diangkat lumayan tinggi waktu dipake buat ngerekam. Tuh guru cuman tinggal ngelirik ke kanan, nggak usah nengok, cuku ngelirik aja, dia pasti udah bisa liat tuh HP. Tapi kok bisa-bisanya dia nggak nyadar ya?

Jangan2 emang dia sengaja minta direkam, trus tuh rekaman rencananya mau dipake buat kenang-kenangan kalo ntar dia uda pensiun. "Ini lho, dulu saya pernah nabokin anak-anak cowok sekelas. Keren ya saya?" wew... psikopat.

Tapi gue setuju dengan adanya penghukuman. Untuk usaha pendisiplinan memang nggak bisa dihindari penggunaan dari sebuah sistem penghukuman. It's just common sense.

Yang jadi pertanyaan, mau pakai sistem penghukuman yang bagaimana? Untuk dunia pendidikan harus dicari sistem penghukuman yang efektif (menimbulkan rasa kapok pada murid), tapi tidak menakibatkan kerusakan fisik/mental.

Nah... ayo, para psikolog, carilah jalan yang terbaik! Kalian dididik untuk itu bukan? Kita2 yang dari dunia hukum mah cuman kenal hukuman denda, kurungan, tutupan, penjara, dan hukuman mati. Yang mana jenis-jenis hukuman itu nggak cocok buat dunia pendidikan.

Ngomongin soal hukuman... gue baru nyelesein baca komik Rurouni Kenshin (Samurai X). Konyolnya, gue udah pernah baca tuh komik sampe kelar, tapi baru sekarang gue nyadar kalo tema tuh komik adalah atonement (penebusan dosa). Khikhikhi... telat banget ya gue? Maklum, tuh komik ceritanya rada meluas kemana-mana, jadinya tema utamanya rada gampang kelupaan. Hehehe...

Oh well, kita liat lah ntar gimana perkembangan tuh kasus guru abusive itu. Apakah akan menghilang atau akan berkembang seperti kasus STPDN/IPDN.

Btw, emang bener ya korban penganiayaan Ananda Mikola itu disodomi pake sendok sama si Ananda? Kok horor banget sih dengernya? Sekarang pake sendok, ntar tambahin garpu, pisau, piring, meja, kursi, dll, tinggal tambah roti, mentega, n nasi goreng udah siap tuh buat sarapan. Wakakaka... :))

Thursday, August 07, 2008

Kudeta di Mauritania

Wikipedia, 7 Agustus 2008

"President Sidi Ould Cheikh Abdallahi of Mauritania is deposed in a military coup d'état."

Hhh... heran. Kenapa lagi banyak kudeta ya belakangan ini? Baru tahun kemaren ada berita kalo Thailand dikudeta, eh sekarang Mauritania juga ada kudeta. Kadang kalo denger berita seperti ini perasaan gue jadi enggak enak banget karena ngebayangin kemaren pas gue lagi enak-enak tidur ternyata di belahan dunia sana lagi ada kejadian seperti ini. Jadi bener-bener terasa kalo gue sebagai manusia emang nggak bisa tahu segalanya.

Kenapa ya negara-negara di Afrika kok sepertinya agak-agak beresiko tinggi untuk kena kudeta? Gue lumayan bersukur di Indonesia (yang katanya amburadul ini) cuman pernah terjadi 1 kali kudeta (yang resmi diakui) yaitu waktu G30S-PKI. Setelah itu paling juga waktu Gus Dur dicopot sebagai presiden, tapi itu juga nggak bisa dibilang kudeta juga sih karena yang mau nyopot adalah parlemen, jadi mau gimana juga.

Udah gitu seringkali yang melakukan kudeta adalah pihak militer. Ini gimana sih? Bukannya seharusnya militer itu justru yang melindungi dan menjaga pemerintahan yang sah ya? Kok sering kali malah mereka sih yang bikin kudeta? Haduh... jadi kebalik-balik deh semua

Mungkin emang Indonesia udah yang paling bener kali ya? Kita kan suka tuh punya presiden mantan Jendral, jadinya militer juga nggak enak kalo mau kudeta, lha wong yang dikudeta temen sendiri manalah mereka tega. Kalaupun tega juga ada rasa nggak enak-nya juga kali. Masa tentara makan tentara, hehehe...

Yah, mudah-mudahan aja ini nggak menular ke negara-negara lain. Terutama jangan sampe menular ke Indonesia lah. Toh menurut gue Indonesia juga udah nggak jelek-jelek amat kok, jadi jangan pake dikudeta-kudeta deh. Amit-amit...

Btw, Mauritania tuh ternyata gede juga lho. Kurang lebih 1/2 ukurannya Indonesia. Tapi kalo Indonesia ada laut di tengah-tengahnya, Mauritania tanah semua. Jadi yah kurang lebih ukuran tanahnya sama kali ya? Itu lebih bikin gue miris lagi. Negara segede itu kok bisa-bisanya dikudeta. Hhh...

Saturday, August 02, 2008

China's Internet Liberated

Wikipedia August 2nd 2008, 12.45 PM

"The International Olympic Committee and Chinese organizers announce that all Internet Restrictions have been lifted for media covering the Beijing Games."

When I read this news, the first thing that crosses my mind was "there's Internet Restriction in China?". Wow... I never know that. I thought that since China has been developing rapidly these past years that it only natural for them to have an unrestricted internet access there.

Well, Indonesia don't have one as far as I know, and I always thought that Indonesia is quite conservative. Seeing that news made me re-think about Indonesia. I guess this country is quite liberal when it comes to information.

It's not that we can't put restrictions (remember the case of the movie "fitna" that was banned from Indonesia's internet publications), but it's just that our supposedly conservative views still respects certain boundaries of it's people's rights. As long an information does not have the potencials to become a source of mass conflict, the government deemed it unnecessary for them to regulate it.

I guess it's true. Indonesia does getting better than some other countries when it comes to some civil rights. Well, I can't say that it's perfect already, but it's not bad.

It gives me the shivers just imagining not being able to access all things that the internet has to offer. It'll be worst nightmare. For instance, only being able to access local news, can't post in blogs, cant join any forum, can't watch movies at youtube, can't download music, and ultimately can not freely read wikipedia. I think I'll die drowned in my own pool of tears when that happens to Indonesia.

Anyway, kudos to the People's Republic of China's people. Welcome to the all access internet. Hahaha...