Showing posts with label masa lalu. Show all posts
Showing posts with label masa lalu. Show all posts

Sunday, March 15, 2009

Reuni


Reuni... Hmm... entah kenapa, gue nggak pernah bisa ngerasa sreg dengan kata itu.

Orang-orang lain sepertinya bersemangat kalau mendengar bahwa mereka diundang ke sebuah reuni, karena mereka jadi merasa masih diingat oleh teman-teman lamanya. Sementara gue... yah, gue juga merasa senang sih diundang ke sebuah reuni. Siapa sih yang nggak senang ketemu dengan teman-teman lama? Tapi sayangnya pada saat yang sama gue juga merasa jengah dengan kata 'reuni' tersebut.

Mendengar kata itu justru mengingatkan gue pada kenyataan bahwa teman-teman yang dulu bisa kita temui setiap hari, sekarang hampir tidak pernah kita temui lagi. Jangankan untuk bertemu, sekedar untuk menelepon dan mengobrol saja sudah sangat sulit untuk menyisihkan waktunya.

Sedikit banyak jadi agak menyesal, mengapa dulu waktu kita semua masih bersama, kita tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk saling berbagi. Sekarang, waktu kebersamaan itu sudah lewat. Sekarang semuanya sudah menjalani jalan hidupnya masing-masing. Ada yang berkerja di luar negeri, ada yang sibuk dengan keluarga, ada yang melanjutkan pendidikan, dan bahkan ada yang sudah pergi selamanya.

Dulu segala berita baik dan berita duka dapat kita bagi dengan mudahnya, sekarang seolah-olah tiada kalimat selain "apa kabar?" yang pantas terucap sebagai basa-basi yang sudah pasti dijawab dengan "baik-baik saja".

Itulah kenapa gue selalu mengernyit setiap mendengar kata 'reuni'. Mengapa mereka menggunakan kata itu. Dengan memasang label itu, seolah-olah kita semua mengakui bahwa kita semua sudah saling berjauhan. Apakah rasa sedih menjalani perpisahan belum cukup berat sehingga harus diberi label 'reuni' untuk membuat perpisahan kita begitu final?

Hhh...

Gue mengangkat tema ini karena tanggal 13 Maret kemarin dan juga hari ini gue menghadiri acara reuni. Tanggal 13 adalah reuni dengan teman-teman notariat angkatan 2006, sedangkan hari ini adalah reuni teman-teman S1 hukum UnTar angkatan 2001.

Satu reuni saja sudah membuat miris, kali ini gue harus menghadapi 2 reuni dalam waktu yang begitu berdekatan.

Reuni notariat ternyata cukup ramai karena dihadiri oleh hampir 1/2 angkatan gue. Selain itu reuni ini juga dihadiri oleh 2 orang dosen kita selama di notariat. Paling tidak dalam reuni ini kita lebih berkonsentrasi dalam kegiatan berbagi informasi tentang dunia notaris, jadi gue nggak terlalu tenggelam dalam suasana reuni karena berkonsentrasi mendengarkan informasi yang diedarkan.

Tetapi reuni S1 FH UnTar hari ini memang benar-benar reuni. Walaupun hanya dihadiri oleh 12 orang karena koordinasi yang tidak cukup baik, paling tidak reuni ini bisa mengingatkan kita yang hadir pada kenyataan bahwa hampir 8 tahun yang lalu kita semua disatukan oleh UnTar, dan selama 4 tahun selanjutnya kita menghabiskan waktu bersama-sama untuk mengejar gelar SH.

Namun reuni FH UnTar ini benar-benar membuat gue sadar bahwa sudah begitu banyak hal berubah dari antara teman-teman gue.

Berbagi tawa dan sekilas berita di antara kami, tapi tidak lama sudah harus berpisah lagi untuk menjalani perbedaan kami masing-masing.

Masa lalu memang selalu indah untuk diingat-ingat, namun rasa sedih ketika harus kembali ke masa kini untuk menyongsong masa depan... rasanya seperti dibangunkan dengan kasar dari mimpi yang sangat indah.

Hahaha... kelihatannya gue sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik. Hanya hal kecil seperti reuni saja bisa membuat gue melankolis seperti ini.

Paling tidak ada satu hal yang membuat gue bisa bertahan. Gue masih punya sahabat-sahabat yang walaupun sudah tidak bertemu dan berkomunikasi, namun saat bersua tidak akan bertukar "apa kabar" kosong dan basa-basi. "Apa kabar" yang terlontar di antara sahabat adalah "apa kabar" yang tulus, menyuarkan bahwa kami memang masih peduli satu sama lain.

Gue berharap itu tidak akan pernah berubah...

Sunday, September 28, 2008

Facebook dan Kenangan Masa Lalu




Your Hawaiian Name is:



Bane Nahele



Gue baru merasakan kegunaan dari Facebook (yaolo... telat banget ya?). Gue emang udah beberapa bulan punya account di facebook, tapi selama ini ya cuman seneng kirim-kirim virtual gift ke temen-temen gue, mainan sama virtual pet, dll. Selama itu, gue nggak pernah kepikiran buat memperluas jaringan sosial gue.

Sampai...

Dua hari yang lalu tiba-tiba ada friend request dari seseorang yang bernama "YPK Wijaya".

Gue cuman bisa bengong liat nama itu. Nama itu membawa banyak banget memori dari masa lalu gue. Gimana nggak? 12 tahun hidup gue habis di sekolah yang bernama YPK Wijaya, pastilah memori gue udah sebejibun tentang nama itu.

Ternyata, ada seorang alumni YPK Wijaya yang membuat account baru di facebook dengan nama itu. Kelihatannya sih tujuannya untuk mengumpulkan semua alumni YPK Wijaya yang sudah tersebar ke sudut-sudut dunia ini.

Setelah gue approve-pun, gue masih nggak terlalu mengharapkan banyak. Karena toh mau gimana lagi? Gue aja udah lulus dari situ 11 tahun yang lalu, dan gue nggak pernah denger kabar dari temen2 lagi sejak itu. Parahnya lagi, tuh sekolah sudah nggak ada lagi sekarang. Gedung sekolah YPK Wijaya sekarang sudah berubah fungsi menjadi sebuah kampus. Hahaha...

Ternyata, surprise... surprise... besoknya ada seseorang bernama Andreanes yang minta gue add sebagai friend di facebook.

Sekali lagi gue ngerem. Kenapa? Karena Andreanes alias JABON (kepanjangannya tanya aja sama dia sendiri) itu adalah senior gue di SMU YPK Wijaya. Dia setahun di atas gue, dan dia juga senior gue di PasKib (IYE! Gue dulu anggota PasKib! Kenape? Keberatan? Grrr...)

Gue ikut PasKib di SMU sudah persis sama seperti waktu gue jadi anggota PaDus di Universitas. Segalanya gue curahkan untuk PasKib. Pokoknya belajar nggak boleh MENGganggu PasKib. Huahahaha...

Cuman melihat dia saja, rasanya kepala gue langsung diterpa oleh badai memori 3 tahun gue jadi anggota PasKib. Mulai dari dicemplungin ke dalam empang, lari-lari muterin sekolah dengan wajah coreng moreng dengan cat minyak, dijemur dari pagi sampai sore, latihan formasi tiap pulang sekolah sampai maghrib, berdebat tentang formasi yang dibuat, pokoknya semua memori langsung ciung... ciung.... ciung... beterbangan di kepala gue.

Ahhh... jadi kebayang, gimana rasanya jadi orang yang jadi alumni sekolahan yang sampai sekarang masih ada. Pasti enak ya? Tiap pengen nostalgia, tinggal main aja ke sekolah itu. Hahaha...

Gue nggak bisa seperti itu. TK gue waktu masih Nol Kecil sudah digusur sejak lama. Trus sejak TK Nol Besar sampai gue lulus SMU, gue terus sekolah di YPK Wijaya (nggak bosen2 ya?). Sejak YPK Wijaya dirubah jadi kampus, gue dan temen-temen gue jadi nggak punya tempat untuk bernostalgia.

Apa mungkin gue bawa kutukan buat sekolahan yang pernah gue pakai sebagai tempat belajar? Sekolah tempat gue belajar, semua digusur. Mungkin aja kan? Tapi apa bisa ya Universitas Tarumanagara dan Universitas Indonesia digusur? Wakakaka... gak mungkin banget. Kampus2 segede gaban gitu gimana cara ngegusurnya?

Bisa aja sih... kalo Indonesia diinvasi oleh Amerika, dan kampus2 gue semua jadi sasaran rudal dan hancur semuanya. Pasti mau gak mau harus tergusur. Wakakaka... jauh banget ngayalnya.

Hhh... banyak banget kenangan2 gue di sekolah itu. Tapi sayangnya jaman2 itu (1986-1998) belum ada kamera digital, sedangkan kalau pakai kamera biasa, film-nya mahal. Belum lagi kalau harus nyuci film dan nyetak fotonya. Wew... 50.000 ribu aja bisa habis kali (inget! 50.000 tahun 80an dan 90an nilainya sama seperti 450.000-nya jaman sekarang!)

Karena itulah gue sama sekali nggak punya foto-foto kenangan waktu gue SMA. Hiks... Sedihnya jadi orang yang nggak punya kenangan masa lalu (lebay mode - on).

Tapi bener tuh. Gue mungkin cocok jadi agen rahasia, karena gue sedikit banget punya foto kenangan masa lalu. Jadi kalo ada orang yang mau menyelidiki masa lalu gue, pasti rada kesulitan. Hehehe...

Duh... jadi ngelantur kan? Ntar deh, mungkin di postingan selanjutnya gue cerita tentang kenangan-kenangan waktu SMU. Hieh... sudah 11 tahun yang lalu men! I feel so old.

Tapi tunggu... 11 tahun lalu dari sekarang... hmm... berarti gue lulus SMU umur 16 ya? Baru nyadar gue.

Thursday, September 04, 2008

DAI SENTAI GOGGLE V



Meskipun gue lebih suka sama kartun-kartun Disney, tapi sebagai anak cowok gue nggak bisa sepenuhnya lepas dari pesona film-film super sentai. Hehehe...

Dan dari semua film super sentai, favorit gue sepanjang masa adalah Dai Sentai Goggle V. Huahahahaha...

Nih film adalah produksi tahun 1982, jadi kalau dari saat ini sudah 26 tahun yang lalu, tapi emang dasarnya favorit, nih film nggak bisa lepas dari kepala gue.

Jaman sekarang sih film seperti ini sudah banyak banget. Lihat aja seri-seri film Power Ranger yang sekarang sudah entah berapa banyak serinya sampe gue bingung sendiri ngikutinnya, dan akhirnya gue nyerah sama sekali untuk ngikutin.

Ceritanya emang sederhana banget sih. Mereka satu kelompok berusaha menyelamatkan dunia dari kelompok penjahat yang bernama Deathdark. Just as simple as that.

Mungkin sekilas film-film jenis ini nggak mendidik, tapi gue sebagai salah satu 'korban' dari film seri ini bisa menarik pelajaran moral sederhana darinya. Yaitu bahwa kita harus belajar untuk berkerja dalam satu tim.

Memang sih ada keadaan-keadaan di mana kita harus mengerjakan sesuatu sendirian, tapi kita juga harus bisa berkerja sebagai satu tim kalau memang keadaan menuntut untuk demikian. Mungkin ini hal remeh, tapi untuk anak-anak kecil yang cenderung masih egosentris, egoistik, dan hanya mementingkan diri sendiri, mempunyai role model yang menunjukkan bahwa berkerja sebagai tim untuk mencapai tujuan bersama adalah sesuatu yang berguna.

Gue bilang begitu karena dalam kehidupan sehari-hari kita jarang banget bisa mengekspose anak-anak kepada suatu keadaan dimana para orang dewasa berkerja bersama untuk mencapai sebuah tujuan. Kalaupun ada, pasti anak kecil sudah keburu bosen duluan selama mereka menonton para orang dewasa menjalani proses berkerja sama. Ya kan?

Jadi kesimpulannya, kalau punya anak kecil suruhlah mereka nonton film-film seperti ini. Huahahaha... (ketahuan deh ada udang di balik bakwan, hehehe...)

Tapi emang film ini sangat sangat sangat membuat ketagihan. Dan parahnya, banyak juga fans dari kaum hawa. Udah sering banget gue denger temen-temen gue yang cewe bilang kalau mereka waktu masih kecil punya cita-cita pengen jadi Goggle Pink.

Kalau inget-inget itu gue pasti senyum-senyum sendiri. How innocent were we to believe that such things really does exist?

Waktu dulu gue nonton film ini, yang gue kepengenin cuman satu, yaitu gelang punya mereka. Karena gelang itu selain bisa membuat mereka berubah wujud juga berfungsi sebagai komunikator (seperti hand phone jaman sekarang). Dulu rasanya mimpi banget bisa punya barang seperti itu.

Tapi anak-anak jaman sekarang udah nggak perlu mimpi lagi, karena mereka baru masuk SD aja udah dibawain Hand Phone sama orang tuanya. Hhh...

Just a thought, para goggle v itu pasti menderita kalau mereka ada di jaman sekarang. Kenapa? Karena operator cell phone jaman sekarang suka rese, signalnya lemah banget dan sering putus.

Goggle Red: "Black, Blue, Yellow, Pink, bantuin gue dong. Gue diserang monster nih."
Goggle Black: "Apaan? Gak kedengeran gue."
Goggle Blue: "Duh, kok putus-putus gini sih?"
Goggle Yellow: "(operator) Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi."
Goggle Pink: "Ntar dulu ya, temen gue udah call waiting nih dari tadi."

Goggle Red: "AAAARGH!!!" *crot* (dibunuh sama monsternya)

Kasian gak sih? Hehehe...

Btw, buat yang kangen sama lagu theme song-nya Goggle V, udah gue posting di sini.

Thursday, July 03, 2008

Flashback

Phew… kemaren nggak posting gara-gara keenakan baca Taiko. Lumayan tebel juga tuh buku. Sekarang aja gue belum sampe ¼ buku. Hegh…

Penulisnya Eiji Yoshikawa di tahun 1967. Plot ceritanya sih dari sejarah jaman dibentuknya ke-Shogun-an Tokugawa (abad 17 gitu deh). Tapi dia nulis dengan gaya bahasa yang enak. Jadi gue bacanya juga nggak sampe beler. Malahan lumayan seru karena gue udah lumayan kenal sama karakter-karakternya (maklum… gue suka main Samurai Warriors)

Sedikit banyak jadi ngayal, punya temen-temen yang sifatnya seperti Hideyoshi Toyotomi, Nobunaga Oda, n Iyeyasu Tokugawa. Lucu kali ya ada orang-orang yang sifatnya seperti mereka tapi hidupnya di jaman sekarang. Hihihi… Bentar-bentar bilang pengen seppuku (bunuh diri untuk mempertanggungjawabkan kesalahan).

So… hari ini gue dianggurin lagi. Udah usaha nelpon asisten dosen pembimbing gue, tapi setelah berhasil nyambung sama dia, jawabnya malah ‘ntar dikabarin lagi’. Bener-bener rasanya seperti orang mau ngelamar kerjaan.

Akhirnya untuk menghibur diri, gue jalan-jalan sendirian ke PIM. Sempet kepikiran pengan katarsis dengan menyerbu Hanamasa, tapi setelah gue pikir-pikir lagi, akhirnya nggak jadi. Kasihan sama Hanamasa-nya kalo sampe bangkrut cuman gara-gara gue doang.

Jadilah gue mencoba mempraktekkan katarsis gue yang baru, yaitu memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di PIM. (yeah… gue nyadar kok kalo itu aneh banget, tapi mau gimana lagi? Namanya juga katarsis)

Ternyata manusia di PIM banyak juga ya? Udah gitu banyak yang aneh-aneh lagi. (termasuk gue sendiri, hahaha…)

Tapi memang bulan-bulan sekarang ini adalah bulan-bulan paling gawat buat para calon notaris. Nggak heran kalo mahasiswa notariat banyak yang hampir gila. Bener-bener gila, sampe-sampe kalo ada dokter jiwa berkunjung ke fakultas hukum, pasti dia langsung ngerasa betah banget karena banyak anak notariat gila yang pada berseliweran.

Sepertinya teori gue itu ada benernya. Karena fakultas hukum letaknya bersebelahan pas dengan fakultas psikologi. Jadi kalo ada anak psikologi yang perlu bahan observasi, mereka tinggal main ke fakultas hukum, dan mereka dijamin pasti dapet segala jenis neurosis dan psikosis yang ada di buku Psikologi Abnormal. Hehehe…

Semua orang yang baca blog gue pasti langsung menuduh kalo gue menulis dengan gaya hiperbola (melebih-lebihkan), tapi gue nyatakan dengan sejujur-jujurnya, dan dengan penuh bela sungkawa, semua yang gue tulis adalah benar dengan sebenar-benarnya. Tanya aja sama temen-temen gue di notariat, mereka pasti awalnya malu buat mengakui, tapi di dalam hati mereka pasti mengakui kalo pernah merasakan bagaimana rasanya jadi orang gila selama 2 tahun.

Kalaupun ada yang dengan sepenuh hati membantah, harap dimaklumi, itu artinya jiwa mereka masih terguncang jadi punya kecenderungan masochist (suka disiksa-siksa), atau lebih parah lagi, bisa aja jiwa mereka memang sudah terkena trauma sebegitu hebatnya sampe-sampe sudah nggak bisa sembuh lagi. Huahahaha… (sambil lari karena takut digebukin anak notariat satu angkatan).

Mulai dari ujian penerimaan aja kita sudah dibikin gila.

Waktu ujian penerimaan, gue baru untuk yang ke-4 kalinya menjejakkan kaki ke kampus itu. Kalo gak salah, yang pertama kali adalah untuk daftar seminar waktu gue masih SMA (n dengan suksesnya nyasar di fakultas tehnik pertambangan, nasib…), trus yang kedua kali adalah waktu nemenin tante gue di acara wisuda sepupu-sepupu gue, yang ketiga adalah waktu cewek gue wisuda, n yang keempat kalinya itu adalah waktu gue ikut ujian penerimaan itu.

Ujian penerimaan diadain di Balairung yang amit-amit jabang bayi gedhe buanget. Emang nggak segede JCC yang lebih amit-amit lagi gedenya, tapi tetep tuh balairung satu emang gede banget.

Tuh balairung terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 yang luas seperti 4 lapangan basket digabung jadi satu, sedangkan yang lantai dua adalah balkon yang mengelilingi 3 sisi balairung seperti kursi penonton di istora senayan.

Gue bener-bener amaze waktu masuk ke balairung. Seluruh lantai 1 penuh sama kursi yang disiapin buat ujian, sedangkan lantai 2 yang emang berbentuk undak-undakan seperti kursi penonton bioskop juga seluruhnya dipakai buat ujian. Singkat kata, ujian hari itu bener-bener full house.

Gue yang cuman lulusan universitas kecil di tengah kota Jakarta (jangan pada protes!!!), cuman bisa terbengong-bengong ngeliat ruang ujian dengan skala seperti itu. Gimana nggak bengong? Lha wong mereka semua kan ujian buat ikut ujian masuk S2. Kalo buat ujian S1 sih oke lah kalo banyak yang ujian, lah ini ujian S2 kok ramenya seperti pameran elektronik di JCC.

Hal kedua yang muncul di kepala gue adalah serem. Serem karena gue baru nyadar kalo saingan gue ternyata jumlahnya segambreng-gambreng gitu. Meskipun gue nyoba masuk notariat UI seperti iseng-iseng berhadiah, tapi kalo dihadapkan pada persaingan seperti itu pasti keringet dingin langsung keluar juga.

Tapi ada mbak-mbak yang duduknya di kursi sebelah gue bilang, “Ini kan campuran dari semua S2 yang ada mas. Jadi nggak heran kalo jumlah peserta ujiannya banyak, karena jurusan S2 di sini kan banyak.”

Denger begitu, gue mulai agak tenang.

Tapi terus perhatian gue teralihkan sama 5 buah kursi yang ada di tengah balairung. Kursi2 itu menarik perhatian gue karena jarak ke-5 kursi itu dari kursi2 lainnya agak jauh. Seolah-olah ke-5 kursi itu adalah kursi yang disediakan khusus untuk orang-orang tertentu.

Di depan ke-5 kursi itu berdiri plang kayu yang tulisannya “kriminologi”.

Otak gue langsung muter sendiri… Kalo deduksi (chieh… deduksi… howeeekk…) gue bener, jangan2 yang berminat masuk kriminologi cuman 5 orang?

Ngeliat itu gue jadi mikir lagi. Kenapa 5 kursi itu kelihatan mencolok banget? Jawabannya adalah karena kursi-kursi lainnya yang ada di lantai 1 itu semua jaraknya sama, kecuali dengan 5 kursi itu.

Pikiran parno gue mulai jalan lagi…

Jangan-jangan…

Ternyata bener sodara-sodara… sebagian besar dari semua peserta ujian di lantai 1 hari itu adalah peserta ujian masuk Notariat! Pantes aja kursi-kursi lainnya di lantai 1 itu deket-deket banget, kecuali 5 kursi kriminologi itu.

Gue mulai keringet dingin lagi. Ruangan segede itu paling nggak muat berapa ratus orang? Gue harus ngelawan mereka semua gitu? Matilah… Langsung pesimis deh gue… Gila aja… gue masuk FH UnTar hanya karena belas kasihan dekan, gimana gue bisa masuk ke notariat UI? Tahu gini gue mending nyoba masuk Magister Hukum aja, karena ternyata yang ikut ujian MH cuman sedikit, jadi kemungkinan diterimanya lebih besar.

Hiksss…

Tapi gue berusaha optimis lagi. Paling nggak gue cuman ngelawan semua yang ada di lantai 1. Pikir gue, yang di lantai 2 kan pengen masuk jurusan lain. Jadi sebaiknya gue bersyukur bahwa saingan gue nggak sebejibun gila jumlahnya.

Ternyata…

Sekali lagi gue salah.

Pas lagi menebar pandangan, di sisi kiri balairung gue ngeliat ada plang-plang kayu yang tersebar di balkon lantai 2. Ada yang tulisannya ‘tehnik sipil’, ‘tehnik mesin’, ‘tehnik informatika’, dll.

Hmm… berarti teori gue bener. Yang ujian di lantai 2 adalah orang-orang yang mau masuk jurusan lain. Oh well… lumayan lah.

Tapi saat gue nengok ke sisi kanan, rasanya darah yang ada di otak gue langsung mengalir ke kaki karena plang-plang yang ada di balkon lantai dua sebelah kanan adalah ‘notariat’, ‘notariat’, ‘notariat’, ‘notariat’, dan lagi-lagi ‘notariat’.

Dengan panik, gue langsung nengok buat ngeliat balkon yang ada di barisan belakang. Plang Notariat juga masih ada di sana!

ALAMAKJANN!!!!

Kalo bukan karena nyawa gue udah lari dari tadi, mungkin gue udah mati di detik itu kali. Gue harus ujian ngelawan ¾ balairung yang gedenya seanjing-anjing itu? Bener-bener mental gue langsung drop ke titik paling rendah, malahan jangan-jangan udah langsung jeblok ke titik minus kali.

Udah gitu semuanya rapi-rapi, wangi-wangi, kinclong-kinclong. Bener-bener tampang intelek semua deh satu ruangan. Bahkan temen-temen gue yang dateng dari universitas yang sama dengan gue juga orang-orang yang gue tahu IPK-nya setinggi langit kalo dibandingin IPK gue, dan tidak seperti gue (yang bener-bener sudah seperti makhluk gembel bin ancur persilangan antara Gajah India dengan Burung Hantu yang udah ikut terapi modivikasi genetik agar berwujud ikan paus biru yang bengkak karena disengat lebah raksasa dari konstalasi bintang Nebulon 5), mereka semua juga berpenampilan seperti orang kantoran.

Pokoknya dari satu balairung itu, gue paling sadar diri bahwa penampilan gue bener-bener bikin ilfil. Gimana nggak? Gue cuman pake kaos polo, jeans, n sepatu kets, gimana mau menyakinkan? Bener-bener keliatan kalo gue nggak niat ikut ujian.

The bottom line is: harga diri gue pada detik itu adalah minus seminus-minusnya. Bener-bener bilangan minus tak terhingga dikalikan dengan bilangan positif tak terhingga.

Penampilan minus, otak minus, tindak tanduk minus (bahkan sudah mendekati titik memelas saking minusnya), kepercayaan diri minus. Pokoknya MINUS!!!!

Tapi yah sudah lah. Toh gue ikut ujian itu cuman buat pengalaman. Kapan lagi gue bisa ngerasain ujian di universitas segede ini? Hehehe…

Begitu gue ngerubah pola pikir, dunia jadi lebih cerah. Bener-bener seperti nggak ada beban. Saat itulah gue bisa mengerti perasaan orang-orang yang punya bipolar disorder. Sedetik depresi, di detik selanjutnya bisa langsung ketawa riang gembira. Hihihi… pokoknya gila abis.

Well, meskipun udah bertekat buat menghadapi ujian masuk itu seperti main game, seperti umumnya gue main game, sedikit banyak gue jadi rada serius juga ngerjain ujiannya.

Ujian pertama dan kedua adalah bahasa Indonesia n bahasa Inggris. Biasa lah, baca bacaan sepanjang jalan kenangan, trus ngejawab pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan tadi. Yah, masih sama seperti ujian SMA dulu lah.

Tapi begitu masuk ujian ketiga, yaitu Tes Potensi Akademik (yang kurang lebih mirip sama tes IQ), gue mulai ketawa-ketawa sendiri, persis seperti orang gila beneran.

Gimana mau nggak ketawa kalo tuh ujian soalnya lucu-lucu? Masa ada soal yang berhubungan dengan lebah. Kurang lebih soalnya begini: lebah jenis A menghasilkan banyak madu tapi kurang manis dengan sengatan biasa, lebah jenis B menghasilkan sedikit madu yang manis dan sengatannya biasa, lebah jenis C menghasilkan banyak madu manis tapi sengatannya sangat beracun, dan lebah jenis D menghasilkan banyak sekali madu yang sayangnya berkualitas rendah tapi sengatannya tidak berbahaya. Kalau kita jadi peternak lebah, persilangan lebah mana yang paling menguntungkan?

Gue udah cekikikan sendiri baca tuh soal. Mana pernah gue ngebayangin kalo mau belajar jadi notaris harus ngerti soal lebah? Huahahaha… Selain itu ada juga soal yang tentang pinguin (yup, pinguin, burung lucu nggak bisa terbang yang biasanya tinggal di daerah dingin), ada juga yang tentang gema suara hewan-hewan gunung, dan soal-soal lain yang bener-bener bikin gue ketawa sendiri.

Herannya kok orang lain pada nggak ketawa ya? Jangan-jangan nih soal khusus buat gue yang berwujud seperti burung hantu, makanya dikasi soal yang isinya tentang binatang. Hwehwehwe…

Yah, akhirnya ujian hari pertama selesai, dan gue pulang dengan perasaan seperti orang gila karena ketawa sendiri tiap inget soal yang aneh-aneh itu.

Besoknya ujian hari kedua adalah ujian yang berhubungan dengan ilmu hukum. Barulah di hari itu gue bisa ngeliat seberapa banyak sebenernya orang-orang ikut ujian masuk notariat, karena ujian hari itu udah dipisah dari ujian jurusan lainnya. Dan ternyata perhitungan gue nggak meleset, jumlahnya emang banyak banget.

Oh well, tapi gue udah nggak perduli. Tetep dengan semangat iseng-iseng berhadiah, gue menjalani ujian hari kedua (meskipun tetep agak deg deg serr juga sih gara-gara balairung yang segede gaban itu).
Belakangan gue baru tahu sebabnya kenapa penerimaan notariat bisa banyak begitu. Lha waong di Indonesia cuman ada beberapa kampus yang nyediain program notariat, jadi nggak heran lah kalo semua yang pengen jadi notaris jadi pada ngejublek di satu tempat gitu.

Hhh… gak terasa, itu semua terjadi hampir 2 tahun yang lalu. Saat itu gue ada di awal kehidupan gue di notariat, dan sekarang gue ada di tahap akhir kehidupan gue kuliah di notariat.

Dengan ditemani segelas kopi dan buku yang baru gue beli di gramedia, pikiran gue melayang ke waktu itu, dan sensasi yang gue rasakan di hari itu kembali gue rasakan lagi di saat ini.

Time really does fly…

Friday, June 20, 2008

Linear Thinker VS Non-Linear Thinker

Gue nggak pernah nganggep diri gue sendiri sebagai orang yang Non-Linear Thinker. Secara, gue bukan indigo-child juga gitu loh, kemungkinannya berapa banding berapa sih gue ini termasuk non-linear thinker?

Selain itu, gue juga lebih sering mengambil jalan keluar yang emang wajar buat diambil seseorang pada saat sedang menghadapi suatu permasalahan. Tapi terkadang gue bisa ngambil suatu jalan yang orang lain pasti bingung ngeliatnya.

Contoh yang paling bikin gue suka ketawa sendiri kalo inget-inget adalah waktu gue lagi mainan sama sepupu gue yang masih anak TK gitu. Karena gue nggak ahli mainan sama anak kecil, jadi gue cuman ambil buku pelajaran dia di sekolah, n tuh buku gue pake buat jadi bahan iseng-iseng sama sepupu gue itu. Pikir gue, buku pelajaran anak TK gitu loh, apa susahnya sih?

Pas gue lihat halaman pertama, ada gambar bebek yang guedheee banget (hampir penuh satu halaman) n di bawah gambar itu ada garis tebel panjang yang sepertinya buat dipake menulis sesuatu.

Gue dengan santainya nunjuk ke gambar itu sambil bilang “bebek”.

Sepupu gue cuman diem ngeliatin tuh gambar sampe lamaaaaaa banget.

Gue bingung dong. Lha wong itu ada di halaman pertama buku punya dia, n cuman bebek pula, masa dia nggak ngenalin gambar bebek? Kalo tuh ada gambarnya trafo, oke lah dia nggak tahu, orang gue juga nggak tahu wujudnya trafo seperti apa hihihi…

Akhirnya gue ulang lagi ngomong sambil nunjuk tuh gambar, “bebek”

Sepupu gue masih diem sambil ngeliatin tuh gambar. Dari cara dia ngeliatin, gue tahu dia lagi konsen sekonsen-konsennya, berusaha ngerti maksud gue nunjuk gambar itu sambil tereak2 “bebek” kaya orang kesurupan arwahnya Walt Disney.

Gue ulang lagi untuk ketiga kalinya sambil udah mulai parno, jangan-jangan sepupu gue ini punya dysleksia (gak bisa mengenali lambang n simbol) pokoknya otak gue uda masuk mode parno bin ngaco abis. Gue tau orang yang punya dysleksia kesulitan buat mengenali lambang n simbol, tapi gue nggak ngira kalo sampe mereka nggak bisa mengenali gambar yang jelas-jelas gambar bebek.

Trus gue b’tereak ke tante gue yang kebetulan lewat di deketnya kita, “Tante, ini si dedek emang belum tahu gambar bebek ya? Kok aku tunjukin gambar bebek cuman diem aja?”

Tante gue trus ngedeketin kita, n begitu dia liat tuh buku dia langsung b’tereak balik, “Yaolo Dit, anak gue lo ajarin apaan? Itu kan buku yang ngajarin berhitung. Bukan buku mengenal binatang.”

Gue cengo’ dengan suksesnya. Berhitung? Berhitung dari mana kok bisa berhitung?

Akhirnya gue buka halaman selanjut-selanjutnya, n bener aja, ada gambar 3 ekor gajah, 2 ekor sapi, 5 buah apel, dll, tapi nggak ada keterangan atau perintah yang menyatakan kalo garis di bawah gambar-gambar itu harus diisi dengan JUMLAH BENDA dan bukan NAMA BENDA!!!!

Yang goblok yang mana sih? Gue apa yang nyetak buku?

Pantes aja sepupu gue bengong pas gue nunjuk tuh gambar sambil tereak “bebek… bebek…”. Lha wong dia diajarinnya sama gurunya harus ngejawab “satu” kalo liat gambar itu.

Duh… pusing gue. Udah gitu gue diketawain sama tante gue lagi. Dia bilang semua orang juga tahu kalo tuh buku adalah buku berhitung, bukan buku mengenal binatang.

TAHU DARI HONG KONG!!!! LHA WONG GA ADA KETERANGANNYA!!!!!!

Tante gue cuman jawab, “Makanya jangan suka mikir aneh-aneh, jadinya hal yang sederhana malah kelihatan ribet. Dasar Non-Linear Thinker.”

Gue cengo’ lagi…

Dapet gelar aneh lagi d gue. Hiks…

Tapi gue harus mengakui sih, kalo gue dihadapkan pada satu keadaan/fakta, pasti di kepala gue nggak pernah muncul CUMA satu teori, pasti segala macem kemungkinan langsung tuing… tuing… tuing… muncul di kepala gue sampe gue bingung sendiri, kemungkinan mana yang mau gue pakai untuk menghadapi keadaan itu.

Kalo udah gitu, gue coba pake sudut pandang orang lain n gue coba mengambil keputusan dengan mengkira-kira, gimana orang lain itu akan menghadapi permasalahan itu. Jadi kalo gue mau jujur, gue nggak pernah ngambil keputusan yang bener-bener sesuai dengan standar normal gue, tapi justru standar orang lain. Karena gue takut kalo gue pake standar gue sendiri, bisa-bisa orang lain cuman cengo’ ngeliatin gue.

Gue nyadar kalo pola pikir gue aneh, tapi emangnya pola pikir gue bener-bener seaneh itu ya?

HIKS…

PS: Dosen gue mengundurkan janji buat bimbingan, jadi hari ini gak jadi bimbingan. AAARRRGGGGGGHHHH!!!! I hate waiting…

Thursday, June 19, 2008

Learn To Be Lonely (2)

Menyambung entry kemaren. Gue sepertinya nggak boleh, atau belum boleh hidup sendirian deh. Bukan apa-apa, tapi gue kadang-kadang bisa terhanyut (halah bahasanya… terhanyut… cuih…) dalam kesendirian.

Kalo lagi di hari-hari yang ada kegiatan, seperti kuliah kek atau apa kek, gue mungkin masih bisa memaksakan diri untuk melepaskan diri dari nikmatnya sendirian, tapi kalo udah lagi liburan terus ditinggal sendirian di rumah…

Hmm… Sepertinya begitu orang rumah gue pada pulang, mereka bakal menemukan seekor burung hantu dalam keadaan mati tidak terurus. Hwehehehe…

Beneran, gue kalo udah sendirian di rumah, nggak ada rencana apapun yang memaksa gue buat keluar rumah, sepertinya gue bener-bener berubah jadi outcast.

Waktu lebaran 3 tahun lalu, gue kaya begitu tuh. Karena lagi mau nyusun skripsi, gue akhirnya nggak pulang kampung ke Surabaya. Sementara semua orang rumah gue pada pulang kampung semua.

Jadilah sekitar seminggu itu gue otomatis nggak keluar rumah. Hahaha…

Sukur kalo nggak keluar rumah dan masih mengurus diri. Yang ada gue sama sekali tidak melakukan apapun yang bisa didefinisikan sebagai ‘mengurus diri sendiri’.

Selama hari-hari itu gue cuman ngejogrok di depan TV n komputer. Pagi bangun langsung ngerjain skripsi, nonton TV, main PS, browsing internet, trus lanjut ngerjain skripsi lagi, nonton TV, main PS, browsing internet, dan terus seperti itu selama 7 hari.

Tidur? Makan? Minum? Mandi? Sudah lupa tuh Gwahahaha… (amat_sangat_jorok_sekali.com).

Mungkin minum masih sih. Jadi pola yang gue sebutin di atas itu cuman keganggu sama waktu gue harus keluar kamar buat ngisi botol minum. Selain itu, gue tetep nggak keluar kamar. Hehehe…

Tapi beneran waktu itu gue beneran hampir nggak makan sama sekali. Pertama karena gue lupa, n kedua karena lagi lebaran, jadinya juga susah mau belanja makanan. Kan pasar pada tutup semua.

Untung ada om gue, yang kebetulan juga nggak bisa mudik, iseng nelpon ke rumah gue.

Om gue: Tok, sudah makan belum?
Gue: Belum.
Om gue: Ada makanan nggak di rumah?
Gue: Ada sih.
Om gue: Kok belum makan?
Gue: Lupa. Hehehe...
Om Gue: …

Mungkin dia nggak percaya kalo dirumah masih ada makanan, padahal gue nggak makan murni karena lupa. Gue pikir dia nggak percaya sama gue, karena sejam kemudian dia dateng seperti pasukan SAR yang hendak memberikan bantuan pangan ke daerah yang baru aja kena bencana. Segala makanan khas lebaran dia bawa semua ke rumah, mulai dari gule, ketupat, opor, dll, pokoknya tuh makanan bhuanyakkk banget dia jublekin semua ke rumah gue, n dia suruh gue ngabisin.

Gila aja, bisa-bisa kelar lebaran nih burung hantu satu kagak bisa terbang lagi gara-gara keberatan badan. Hiks…

Tapi lumayan banget lho dapet bantuan pangan gitu. Selama 5 hari nggak ada orang di rumah itu gue cuman makan makanan bawaan om gue itu. Itupun setelah semua orang rumah udah pada pulangpun masih ada sisa dikit. Hehehe…

Begitu orang rumah udah balik, komentar mereka ke gue cuman satu: CUKUR!!!

Maklum, selama beberapa hari itu gue sama sekali nggak ngaca, jadi gue rada nggak sadar gitu kalo jenggot n kumis gue udah kemana-mana. Hehehe…

Mereka bilang penampilan gue udah bener-bener kaya seniman ketinggalan kereta gitu. Baju lecek nggak karuan (pas kaos gue yang sobek2 gitu), rambut awut-awutan, jenggotan n kumisan, belum lagi bau rokok yang nyengat banget (ya iya lah, gue kan berhari-hari nggak keluar kamar pasti ngebul di dalem kamar.) Pokoknya udah bener-bener ancur… cur… cur… Kalo gue hidup sendiri, pasti pola hidup sehat udah bener-bener jauh banget dari kehidupan gue.

Gue beneran nggak bisa ngebayangin kalo gue hidup di Amerika yang biasanya begitu kelar kuliah langsung hidup sendiri, kayanya penampilan gue bisa langsung jadi gembel abis kali ya?

Ini masih serumah sama orang lain aja gue males ngurus diri sendiri, gimana kalo hidup sendiri? Mungkin anak terlantar aja masih lebih terawat daripada gue. Hehehe…

Hhh… harus introspeksi diri deh gue. Kalo di masa depan gue harus hidup sendiri, itu artinya gue harus bener-bener Learn To Be Lonely, dalam artian tetap tahu ukuran normal manusia n MAU MENGURUS DIRI SENDIRI MESKIPUN NGGAK DISURUH ORANG.

Hwahahahaha…

Kayanya kok entry hari ini isinya ngomongin hal-hal jorok ya? Eugh…

Sadar… sadar… sadar… harus lebih rajin mengurus diri. (Hmm… masih ada besok kan? Ya udah besok aja ah… Hehehe)

PS: Adek gue aja udah belajar rutin mengurusi diri sendiri padahal dia baru jd mahasiswa, lah kakaknya ini kok malah kaya gembel. Hiks…

Sunday, June 15, 2008

It’s the friends you can call up at 4 a.m. that matter (Marlene Dietrich)

Buat gue, ini bener banget. Lha gue kan burung hantu, emang jam edar gue adalah diatas jam 7 malam. Tapi berhubung gue males keluar rumah, jadilah gue lebih banyak bergaul lewat telpon.

Jadi inget dulu waktu jamannya pulsa HP belum murah, pasti telpon rumah yang jadi korban. Tinggal waktunya bayar tagihan telpon siap2 diceramahin panjang lebar sama nyokap karena tagihan telpon mbledug ga karuan. Huahahaha…

Tapi gue nggak pernah ngelupain temen-temen gue yang bisa gue telpon jam-jam subuh gitu. Bener-bener nggak ada orang yang bisa ngalahin temen2 seperti ini.

Ya iya dong. Jam-jam subuh gitu kan waktunya orang lagi sibuk tidur. Waktu yang pas lagi privat-privatnya. Bener2 waktu dimana orang seharusnya nggak boleh dan gak bisa diganggu, tapi berhubung gue makhluk malam, jadilah gue selalu ngegangguin temen2 gue pas jam-jam segitu. Hehehe… Tapi herannya mereka dengan pasrah mau aja ngeladenin gue.

Udah banyak temen gue yang jadi korban gue karena gue ajak ngobrol ngalur ngidul lewat telpon. Mulai dari si Bobby (dia lagi… mau gimana lagi? Dia temen gue dari SD), trus Amel (temen gue SMA), Dinda (temen gue di FK), trus si Cucut, Laler, Anjin Langit, Ibu Gajah, dan si Landak. Itu tuh temen2 gue yang udah sampe bego gue ajak telpon subuh2.

Seringnya sih yang diomongin sama sekali nggak penting. Kalo lagi niat nulis, pasti Ibu Gajah yang gue udak-udak, kalo lagi pengen ngobrol yang ngayal2 n penuh dengan konspirasi pasti si Laler yang gue teror, kalo lagi perlu info lagu n film, yang jadi sasaran pasti si Landak, n kalo masalah lainnya dibahas kalo gue lagi telpon sama Cucut, sementara Anjing Langit adalah temen jerit-jerit gila kalo udah malem.

Wah, pokoknya habislah mereka kalo udah telpon gue. Gue yakin sebelum ngangkat telpon dari gue, mereka pasti sambil bakar hio dulu, berdoa pada dewa bumi supaya gue disadarkan dan dibuat insaf supaya gak telpon lama-lama.

Emang sih, kalo gue telpon juga nggak sampe kelewatan sampe berhari-hari gitu lah, emang gue manusia super yang gak perlu istirahat apa? Paling begitu kedengeran adzan subuh langsung udahan telponnya. Karena itu tandanya gue harus kembali ke sarang gue (kesannya kaya hantu banget gak sih, takut sama adzan subuh. Hehehe…)

Tapi yang parah adalah, besoknya gue bisa gitu lagi. Kebayang gak sih telpon-telponan dari jam 9 malem sampe jam 4 subuh selama seminggu berturut-turut? Hehehe… bisa-bisa kuping bengkak tuh.

Udah banyak pengalaman yang terjadi pas kita lagi telpon2an gitu. Yang paling parah sih waktu telpon sama Cucut, pas dia lagi nemenin adeknya boker. Mwahahaha…

Jangan-jangan gue fetish telpon kali ya? Hihihi… Fetish kaki aja udah aneh, lha ini fetish kok telpon.

Tapi gue bukan maniak telpon juga sih. Kalo siang sih gue kaya nggak kenal sama yang namanya telpon, tapi kalo udah malem rasanya gatel banget ngeliat telpon nganggur.

Setelah S2 juga gitu. Sampe-sampe si Nana yang selalu tidur jam 9 sebelum kenal sama gue, begitu udah gue setan2in sekarang jadi kemajuan n bisa gue ajak begadang sampe jam 12. Rekor dia adalah waktu kita mau ujian hukum pajak, telpon sama sekali nggak dimatiin dari jam 7 sore bablas sampe jam 6 pagi besoknya (thanks to CDMA). Itupun akhirnya dimatiin karena masing-masing harus mandi n siap-siap buat berangkat ke kampus. Huahuahua… Jadilah begitu selesai ujian langsung tewas bersama.

Sama Wira juga gitu. Nih orang satu emang sepertinya juga jago begadang, jadilah klop kita berdua. Apalagi kalo udah ngomongin kampus, kalo gak inget bumi tetap berputar bisa-bisa kita berdua nggak berhenti telpon2an.

Tapi mungkin itulah the magic of telephone kali ya? Rasanya kalo ngobrol lewat telpon pasti waktu bisa lewat gitu aja. Tapi nggak juga, karena ngobrol face to face juga gue kuat berjam-jam kok. Jadi emang guenya aja yang doyan ngobrol.

Hemm… itu artinya gue emang bener anak nyokap gue (ya iya lah, anak siapa lagi coba?). Karena nyokap gue juga doyan ngobrol. Tapi dia mah levelnya udah maha dewa kali ya, karena saking doyannya ngobrol pernah dia ngajak ngobrol tukang sapu jalanan, tukang parkir, dan tukang-tukang lainnya sampe berjam-jam. Pokoknya dia sih udah master-nya ngobrol. Hehehe…

Pokoknya kalo udah ditangkep nyokap, tuh tukang-tukang udah kaya lalat yang kena sarang laba-laba, nggak mungkin lepas. Hwehehehe… (dasar anak durhaka, nymain nyokap sama laba-laba, hihihi…)

Bokap juga gitu, n kakek gue juga gitu. Nenek gue agak-agak, tapi nggak separah yang lain, dia masih milih-milih siapa yang diajak ngobrol.

Anehnya, sodara-sodara gue nggak ada yang kaya gue. Adek gue bisa ngobrol lama sama pacarnya, tapi sama pacar gitu lho ya nggak heran kalo lama, tapi selain itu mah dia lebih milih diem. Sementara sepupu2 gue juga nggak gitu suka ngobrol. Apa jangan2 gen ngobrol pada tumplek ke gue semua, jadi mereka gak kebagian kali ya? Tapi efeknya adalah, gen pinter nggak muat di memori gue, karena udah penuh sama gen cerewet. Jadilah gue orang gendut nan cerewet yang sering bego. Hehehe… (Hiks… jadi inget pernah ranking 27 dari 30 anak waktu kelas 3 SD)

Selain itu, sepertinya aura ngobrol emang beredar di sekeliling gue, karena gue sering banget jadi tempat curhat orang-orang yang nggak gue kenal. Pernah tuh lagi bengong di kampus, tiba-tiba temen seangkatan gue duduk di samping gue terus langsung bla bla bla curhat tentang cewenya yang selingkuh. Gue sih tetep pasang tampang lempeng, tapi dalam hati kebakaran jenggot karena meskipun gue tahu dia temen seangkatan gue n sering sekelas juga tapi gue nggak tahu nama dia.

Kan gak lucu begitu dia selesai cerita terus dia nanya “Jadi menurut lo gimana Dit?” n gue dengan begonya menjulurkan tangan sambil ngomong, “Kenalin gue Dito, nama lo siapa?”

Yang ada gue dikempesin sama dia. Hiks…

Pernah juga lagi menyendiri di kantin kampus, tiba-tiba ada anak, yang gue tahu kalo dia juga kuliah di kampus gue, tapi dia bukan anak hukum n juga kita nggak pernah kenalan, tiba-tiba duduk di meja gue dan dengan nada bete cerita tentang dosennya yang semena-mena. Dari omongan dia, barulah gue tahu kalo dia anak desain, tapi FOR GOD’S SAKE, WHO ARE YOU?

Tolong kalo mau curhat paling ga ada basa-basinya dulu kenapa sih. Sekedar “Eh, lagi nunggu siapa?” atau sejenis itu kek. Jangan main dar der dor aja dong. Emang lo kira gue psikolog kaki lima yang dia bisa langsung duduk, curhat, n ditinggal?

Tapi paling nggak mereka masih anak kampus gue lah, jadi masih lumayan normal meskipun udah aneh kalo menurut ukuran gue. Yang paling ajaib adalah, pegawai negeri yang lagi nunggu kendaraan bareng sama gue di pinggir jalan bisa tiba-tiba curhat tentang istrinya yang cerewet. Udah gitu dia curhat hampir 2 jam pulak, matilah… Masyarakat… Pak, kalo mau curhat tuh ya mbok lihat-lihat. Apa dia takut kalo curhat sama orang yang dia kenal trus takut diaduin ke istrinya kali ya? Tapi ya punya belas kasihan sama gue kek. Dia sampe pamer-pamerin foto istrinya ke gue lagi, ampun deh.

Yang paling unforgetable adalah waktu gue lagi pengen menyendiri di Starbucks CL. Lagi enak-enak bengong gitu tiba-tiba ada bapak umur 60-an duduk di meja gue. Gue bingung dong, lha wong Starbucks-nya lagi sepi n banyak tempat kosong, kenapa dia duduk di meja gue?

Langsung deh dia ngomong ngalor ngidul gak karuan. Mulai dari cuaca lah, kriminal lah, politik lah, apaannya lah, pokoknya semua dibahas. Gue sebagai pengobrol profesional ya nggak mau kalah, langsung gue keluarin semua jurus-jurus ngobrol gue, tapi ternyata level dia agak rendah, karena begitu gue ngomongin politik luar negri langsung klepek2 gak bisa bales. Gwahahaha… Kasian deh lo pak, makanya kalo milih korban liat-liat dulu dong.

Mungkin dia suka debat kali ya? Karena temen2nya udah pada sibuk ngemong cucu, jadi dia kekurangan lawan debat. Udah tua gitu, jadi gak heran kalo dia gak bisa chatting (gue juga gak bisa, hehehe… --- terdengar halleluyah dari temen-temen gue --- kurang adjharrrr)

Tapi kenapa dia milih gue sih? Selain gue kan ada juga bapak-bapak lain yang lagi bengong sendirian di Starbucks CL waktu itu. KENAPA DIA PILIH GUE?

Begitu sadar kalo dia gak bisa menang debat lawan gue (hmph… rasain), dia banting setir n ngaku-ngaku kalo dia peramal n sok-sok ngeramal gue. Gue yakin temen-temen gue yang baca ini pasti langsung nyengir selebar-lebarnya sampe bibir melintang dari kuping ke kuping (Kok nyeremin ya?). Gimana mau nggak nyengir, lha wong gue sendiri peramal! Wakakakaka… Kasian dech lo pak, kena skak mat lagi. Hihihi…

Udah gitu dia ngeramalnya ngaco lagi. Dia bilang kalo gue pernah tinggal di deket rumah dia di Pondok Labu, padahal gue dari kecil nggak pernah pindah rumah. Trus dia nebak kalo gue punya kakak, yang mana sangat-sangat salah karena gue anak tertua. Dan ramalan-ramalan lainnya.

Duh, susah deh kalo udah ngaco gitu. Yang ada gue dengan cueknya berdiri sambil pamit, tapi pas sebelum gue pergi gue sempet bisikin ke dia “Hati-hati kalau di kamar mandi” dengan nada semisterius mungkin.

Udah ngomong gitu, langsung aja gue ngeloyor pergi. Parno, parno deh tuh bapak. Hehehe… Lagian, nantangin kok guru besar perngobrolan, udah gitu level dia gak tinggi-tinggi banget lagi. Capek banget ngelayaninnya. Mending juga gue dengerin radio daripada ngobrol salah kaprah gitu.

Tapi pinter ngobrol juga ada untungnya sih. Mulai dari di cap supel (selama gak kelewatan aja, bisa-bisa di cap cerewet), sampe lumayan gape kalo disuruh presentasi. Thanks God, syaraf malu gue bisa diputus sambung sewaktu-waktu, jadi kalo harus presentasi bisa casciscus dengan cueknya.

Pernah tuh waktu ngambil mata kuliah perbandingan hukum administrasi negara kita dikasih tugas kelompok suruh bikin makalah. Gue sekelompok sama anak-anak pinter gitu, jadi gue berbahagia karena gue cuman tinggal leha-leha sambil mencambuki temen-temen sekelompok gue buat bikin itu tugas (slave driver mode – on).

Tapi ternyata… MEREKA SEMUA PADA KENA DEMAM PANGGUNG WAKTU PRESENTASI! Dan MEREKA NYURUH GUE PRESENTASI!!!!!

Gue udah menimbang-nimbang buat pura-pura kena serangan jantung aja waktu itu. Orang makalah yang mereka buat levelnya udah seanjing-anjing, sementara otak gue cuman selevel amuba, gimana gue mau presentasi coba?

Akhirnya otak gue tercinta ini gue paksa menyerap semua yang mereka tulis di makalah yang tebalnya 60 halaman itu (DASAR KUTU BUKU NGGAK TAHU DIRI!!!) hanya dalam waktu 10 menit pas tuh dosen lagi terima telpon.

Terpaksalah urat malu gue digunting dengan cepat, n gue mulai ngomong tentang perbandingan hukum administrasi negara di Amerika, Inggris, Perancis, dan Indonesia. Bener-bener deh waktu itu rasanya udah pengen gue sambitin pake nuklir tuh temen-temen sekelompok gue.

Setelah sesi tanya jawab juga gitu. Mereka cuman mau mikirin jawabannya, tapi gue yang harus ngomong. GAK SANTUUUUNNNNN!!!!

Tapi, Praise The Lord, presentasi gue dikasih A. Hwehwehwehwe… Senang riang gembira deh gue, dan temen-temen gue pun ga jadi mati ketiban burung hantu bengkak.

Yang gue belum pernah coba dari seni ngomong cuman pidato. Tapi… nggak deh, males juga cuap-cuap sendiri gitu. Hehehe…

Nah… begitulah cerita gue selama malang melintang di dunia perngobrolan. Terima kasih kepada temen2 yang udah mau nemenin gue ngobrol sampe subuh. I love you all.

So, kapan kita bisa telpon-telponan lagi?

Temen-temen gue: Tidaaaaaaakkkk!!!!!! (Menjerit sambil lari tunggang langgang menyelamatkan diri)

Wednesday, June 11, 2008

Tentang Bohong

Kalian bisa nggak bohong dengan wajah selurus-lurusnya, padahal kalian sadar n tahu kalo orang yang sedang kalian bohongin itu kemungkinan besar tahu kalo kalian bohong sama dia?

Gue sih gak bisa. Kalo gue mau bohong, gue harus yakin betul 100% kalo orang yang lagi gue bohongin itu nggak tahu kalo dia lagi gue bohongin. Ya iya lah, apa gunanya kita bohong kalo kita tahu tuh orang yang kita bohongin udah tahu kebenarannya?

Apalagi kayanya kalo gue bohong, wajah gue nih kaya dipasangin plang tanda segede gaban yang tulisannya "LAGI BOHONG. JANGAN PERCAYA!". Itulah sebabnya gue sama sekali tidak ahli dalam hal ngerjain orang. Tiap kali diajak sekongkol buat ngerjain seseorang, gue pasti lebih milih sembunyi sambil nonton, karena kalo gue ikut-ikutan pasti semua drama bakal kebongkar n tuh orang nyadar kalo lagi dikerjain.

Jadi inget waktu SMA. Gue udah kelas 2 waktu itu, n biasa di jaman itu kan masih ada ospek, jadilah kita anak2 kelas 2 banting tulang buat ngerjain anak2 yang seragam SMA-nya itu masih bau pabrik tekstil. Hwehehe...

Tapi apa daya, gue nggak bisa berakting galak. Mungkin kalo lagi marah gue bisa galak, tapi kalo harus pura2 galak buat ngerjain orang... Demi langit, bumi, dan seluruh isinya, gue lebih baik disuruh bikin Hitler insaf deh daripada disuruh akting galak. Yang ada gue baru gebrak meja sekali udah keburu nyengir kuda selebar-lebarnya gara2 geli sendiri.

Akhirnya karena gue nggak bisa galak, temen2 gue bilang gini, "Udah Dit, mending lo duduk aja di pinggir lapangan sambil ngerokok. Tugas lo pokoknya jangan senyum2 tebar pesona, okeh?"

Gue dengan polosnya cuman manggut2 doang. Lha wong disuruh nongkrong di bawah naungan pohon akasia, sementara yang lain pada panas2an di lapangan masa gue kaga mau? Ya pasti mau lah.

Tetapi... ternyata oh ternyata... Setelah beberapa jam gue nongkrong dengan setia di pinggir lapangan itu sambil ngeliatin temen2 lagi sok2 galak ke anak baru, gue ngeliat ada temen gue, si Theo, yang lagi marah-marah sama seorang anak baru. Anak yang dimarah2in itu ternyata anak cewek pulak.

Tetap setia dengan tugas gue yang cuman disuruh nongkrong ini, gue cuman bisa ngeliatin Theo marah2 sama tuh anak.

Tiba2 Theo nunjuk2 ke arah gue sambil lanjut marah2. Karena jauh, gue ga bisa denger apa yang dia bilang ke tuh anak.

Setelah itu, tuh anak jalan pelan2 ke arah gue. Gue liatin aja dia jalan ngedeketin gue. Gue mah cuek aja.

Begitu udah deket, dia bilang gini, "Kak Dito, saya mo ngomong sesuatu."

Gue tanya dong, "Mo ngomong apa?"

Tuh anak, yang belakangan gue tahu namanya Elsa, diem aja selama hampir semenit.

Gue bingung, tadi bilangnya mau ngomong, kok sekarang jadi diem. Kalo mau ngikutin napsu GR gue, jangan2 nih anak mau menyatakan cinta sama gue. Hehehe... Kalo iya sih, lumayan. Secara si Elsa ini anaknya lumayan manis juga meskipun tingginya di atas rata2 buat ukuran anak cewek. hehehe... (Pikiran ngeres deh gue... =p)

Akhirnya gue semangatin dia. "Ayo ngomong dong. Tadi katanya mau ngomong."

Si Elsa itu tiba2 ngomong dengan suara yang lumayan keras, sampe orang2 di sekitar kita jadi pada merhatiin kita berdua. Tapi yang bikin gue kaget bukan kerasnya dia ngomong, tapi isi omongannya. Dia bilang, "KAK DITO UDAH GENDUT, ITEM, JELEK, IDUP LAGI!"

Onde mande... gue kaget kaga karuan. Kenapa nih anak jadi marah2 sama gue? Hiks... ga jadi GR deh gue. =(

Tapi apa yang terjadi selanjutnya bikin gue panik, karena si Elsa itu tiba-tiba nangis.

Huweeee.... mati deh gue. Mimpi apa gue semalem? Kok bisa2nya gue dimaki2 anak orang trus tuh anak nangis di depan gue. Ntar kalo nyokapnya minta pertanggungjawaban gue gimana?

Ternyata, setelah diklarifikasi, itu semua adalah kerjaan si Theo. Kan biasa tuh diwaktu ospek, para senior ngasi tugas yang aneh2 ke juniornya. Nah si Theo ngasi tugas ke Elsa buat ngomong begitu ke gue.

Kurang adjharrrr....

Pokoknya si Theo harus merasakan gimana rasanya ketiban burung hantu bengkak yang jatuh dari surga langit ke-7. Grrr...

Tapi kejutannya belum selesai sampe di situ. Karena pas gue tanya ke Elsa, kenapa kok setelah ngomong kayak begitu ke gue, justru dia nangis sendiri. Dia jawab dengan polosnya, "Kak Dito keliatan galak."

Makjan... Gue, si burung hantu surgawi ini dibilang galak sama dia. Gak salah mbak?

Ternyata temen2 gue juga menganggap begitu. Makanya mereka nyuruh gue duduk di pinggir lapangan, diem aja sambil ngerokok. Ternyata gue dipake buat nakut2in anak baru. Temen2 gue itu bilang kalo gue itu senior tergendut, tersadis, dan tergalak dari angkatan kita, n kalo mereka berani ngelawan senior2 lain, mereka akan dikirim untuk menghadapi gue.

Sekali lagi. Kurang adjharrr...

Kayanya gue nggak boleh ngelamun di depan umum, karena ternyata muka gue minus senyuman, hasilnya adalah menyeramkan. Rumus yang sangat tidak menyenangkan buat gue.

Hiks...

Teman Dari Masa Lalu

Sebenernya ini entry yang udah gue ketik 23 April 2008, tapi gue baru inget buat posting sekarang. Hehehe... Harap maklum, orang tua, jadi udah mulai pikun.

So, here goes.

Hari ini gue ketemu sama temen gue yang udah gue kenal sejak SD.

Sebenernya gue sebelumnya udah ketemu sama dia beberapa bulan yang lalu, tapi waktu itu kita lebih konsen sama bisnis, jadi gue gak sempat nostalgia sama dia.

Hari ini pun kita juga ketemu buat ngomongin bisnis, tapi ini adalah pertama kalinya kita ketemu tanpa ada pihak lain. Kalau ada orang lain dan kita berdua bernostalgia kan rasanya gak enak karena pihak lain itu nggak ngerti apa yang lagi kita omongin.

Well, jadilah kita berdua bernostalgia berdua. Ngomongin hal-hal yang pernah kita lakui berdua dari sejak kita berdua pertama kenal sampai akhirnya kita berpisah setelah SMA.

Satu hal yang gue perhatikan adalah, hal-hal yang biasa gue lakukan sewaktu gue masih SD, SMP, n SMA rasanya sangat luar biasa setelah gue umur segini.

Apa yang gue lakukan di usia 17 rasanya luar biasa saat gue mengingatnya lagi setelah gue 27 tahun sekarang ini.

Setiap memori-memori lama itu kita bahas, cuman satu pikiran yang melayang-layang di kepala gue. "It was so not me!!!"

Beneran. Gue tahu kalau memori gue nggak menipu gue. Gue bener-bener melakukan hal itu, tapi entah kenapa kesadaran gue yang ada sekarang ini rasanya menolak untuk menerima kalau karakter gue mampu melakukan hal-hal yang gue lakukan waktu SD, SMP, dan SMA.

Gue nggak tahu apa orang lain juga merasa seperti itu, tapi selama gue ngobrol sama temen gue itu, gue terus berusaha menekan pikiran itu terus menerus.

Kaya orang bego aja...

Well, itu hal pertama yang ada di pikiran gue.

Hal kedua adalah... "I had it easy."

Kenapa gue bilang begitu?

Well, begini. Gue dan dia sudah berpisah selama 10 tahun, dan selama 10 tahun itu dia sudah menjalani jauh lebih banyak hal dibanding gue. Gue masih begini-begini aja. Still not married to any woman, enjoying my singlelity (if that's even a word), doing things that I want without having to worry about anyone else.

Sementara dia sudah nikah, punya anak, cerai, dan menikah lagi.

Good God...

Dua orang yang dipertemukan dan menjalin persahabatan selama 11 tahun, menjalani kehidupan yang nyaris sama selama 11 tahun itu, kemudian dipisahkan dan dipertemukan kembali setelah 10 tahun, dan ketika kehidupan 2 orang itu diperbandingkan, perbedaannya benar-benar bumi dan langit.

Hahaha... (tawa ironis)

Gue merasa kalau gue sudah menjalani banyak hal selama 10 tahun kita berpisah, tapi ternyata gue belum melakukan apa-apa dibanding dia.

Sementara dari sudut pandang dia, gue sangat sukses menahan diri dan mengendalikan nafsu dan keinginan selama masa remaja gue jadi gue bisa menjalani kehidupan dengan lebih damai.

Well, that's right. We're both right.

Kita nggak bisa melihat rencana Tuhan sebelum kita menjalaninya.

Hikmah yang gue ambil dari pertemuan kita tadi adalah "Kita boleh aja berencana untuk masa depan, tapi lebih baik berkonsentrasi dengan masa kini dan meyakinkan bahwa kesalahan masa lalu tidak terulang lagi."

Ya tho?