Friday, August 23, 2013
Ujian PPAT
Sebenernya ada sih beberapa hal yang pengen gue posting di sini, tapi kadang hal-hal itu sebegitu panjang dan lebar sampai-sampai gue sendiri males buat menyusunnya jadi satu postingan, sementara kalau dipisah-pisah malah gue jadi males buat ngelanjutinnya nanti.
Intinya sih satu: gue orangnya males. Wkwkwk…
Well, mending gue ngebahas hal ‘besar’ yang gue jalani belakangan ini aja kali ya? Sebenernya ini bukan cerita baru juga sih, karena gue ngejalanin ini udah hampir 5 bulan yang lalu. Alasan utama gue nggak mau membahas tentang hal ini adalah karena kemarin-kemarin hasilnya belum jelas. Tapi akhirnya beberapa minggu lalu hasilnya sudah diumumkan, jadi gue sudah lebih berani untuk menceritakan hal ini.
So, tema cerita gue adalah: UJIAN PPAT
Jeng jeng jeng… *musik dramatis*
Akhirnya setelah menanti dan menunggu dalam kegalauan (hallah!) gue bisa juga ikutan tuh ujian PPAT. Terakhir kali ujian ini diadakan pas tahun 2009, dan saat itu usia gue baru 28 tahun. Karena usia yang masih belum 30 tahun itulah makanya gue nggak bisa ikut ujian PPAT waktu itu. Gondok sih, karena udah gemes pengen cepetan ujian (biar gak kepikiran lagi) tapi ternyata belum boleh ikutan.
Karena gak ada pilihan lain, ya akhirnya gue cuman bisa menunggu sambil konsentrasi saja dengan berkerja sebagai Notaris. Hadeuh… jadi notaris tanpa jadi PPAT rasanya beneran pincang, tapi mau bagaimana lagi? Dijalani saja lah. Cuman kadang-kadang gak enak sama calon klien yang dateng ke kantor membawa berkas-berkas tanah untuk dijual-beli, dihibahkan, di-inbreng, atau diapakan saja. Karena gue belum PPAT setiap ada orang dateng begitu mau gak mau ya gue harus merujuk mereka ke teman Notaris lain yang sudah punya PPAT.
Gue bukan masalahin rejeki yang lepas atau gimana (gue penganut “kalo rejeki udah jodoh ya gak bakal kemana-mana” hehehe…) tapi gue kasihan sama calon kliennya. Coba deh taruh diri kita di posisi mereka. Mereka udah pilih-pilih notaris, mikir-mikir kapan bisa mampir ke notaris itu, siap-siapin berkas yang mungkin diperluin, dan bahkan mungkin sudah janjian dengan keluarga atau orang lain yang mau dibawa bareng ke kantor notaris itu. Eh, begitu masuk ke kantor notarisnya, ternyata si notaris belum PPAT jadi gak bisa bantu selain merujuk ke notaris lainnya.
Kesannya baru mulai aja kok udah dapet kekecewaan. Keadaan seperti itu kan malah bisa bikin ilfil, karena sebuah proses kok sudah dimulai dengan sesuatu yang diluar perhitungan.
Oh well…
Tapi nggak apa-apa. Moga-moga sebentar lagi gue nggak usah lagi memberi jawaban “Maaf Pak/Bu, saya belum PPAT jadi belum bisa membantu Bapak/Ibu. Mungkin Bapak/Ibu mau saya rujukkan saja ke rekanan saya yang sudah PPAT?”
Nah, balik ke tema utama, yaitu tentang Ujian PPAT.
Gue daftar ujian PPAT sudah dari November tahun kemarin, dan ujiannya sendiri diadakan bulan April tahun ini.
Langkah pertama setelah tahu kalau akan diadakan ujian PPAT adalah gue langsung kelimpungan buat cari temen bareng karena ujiannya diadakan di Sleman, Jogjakarta. Males banget kalau sampai harus menjelajahi Jogja sendirian. Belum lagi kalau sampai harus kesasar-sasar sendirian. Whadaw… Selain itu kalau ada temen bareng kan lumayan bisa diajak belajar bareng biar gak garing, dan kalau ada sesuatu yang gue gak tahu kan jadinya bisa tanya-tanya dia. Hehehe…
Tapi gue juga males kalau harus join sama temen-temen yang kelompoknya besar, secara gue udah pengalaman kalau kelompoknya terlalu besar begitu yang ada bukannya bisa belajar, yang ada malah ngerumpi dan ngobrol ngalor-ngidul. Haduh… bisa hancur mina dah hasil ujian gue kalau malah ngerumpi dan bukannya belajar. Masa nanti pas ujian gue jawab pertanyaannya malah dengan hasil rumpian gue sama temen-temen? Yang ada pegawai Badan Pertanahan yang koreksi kertas ujian gue ngira kalau gue udah edan. Wkwkwk…
Untungnya temen magang gue dulu, si Ochie, malah duluan ngajakin gue bareng untuk ujian. Dan dia juga gak mau join sama teman-teman yang kelompoknya besar dengan alasan yang sama seperti alasan gue. Ya bagus lah, akhirnya kita putusin kalau kelompok kita ini bakal hanya berdua, gue dan dia, saja. Paling kalau nanti-nanti nambah satu orang boleh lah.
Masalahnya adalah… Ochie itu cewek. Gue sih seneng-seneng aja punya temen bareng, tapi temen bareng kan lebih enak kalau bisa nyewa kamar hotel berbarengan. Hitung-hitung menghemat biaya hotel kan. Lha ini gue cowok, barengnya sama anak cewek, masa mau sekamar? Apalagi si Ochie udah menikah juga, jadi dia itu istri orang, saudara-saudara. Apa lah nanti kata dunia? Yuk mari skandal. Hehehe…
Gue sih udah pasrah aja dah. Yang penting kan punya temen barengan yang bisa diajak belajar. Apalagi gue dan Ochie dulu magang bareng, jadi kurang lebih kita udah ngerti sifat n pembawaan masing-masing.
Ternyata, saudara-saudara, dia nelpon gue n bilang kalau nanti di Jogja lebih baik kita sekamar aja demi penghematan biaya. Gue udah bingung mau jawabnya gimana. Kalau gue pribadi sih orangnya cuek, dia mau sekamar sama gue ya nggak apa-apa. Tapi suami dia gimana? Kalau suaminya tahu belakangan bahwa istrinya sekamar sama gue apa nggak keluar tanduknya tuh suami?
Eh gak tahunya tiba-tiba suaminya gantian ngomong ke gue, minta supaya gue sekamar sama istrinya, itung-itung sekalian ngejagain istrinya.
Gue gak tahu harus bereaksi gimana lagi selain: GUBRAK!
Wakakaka…
Oh well, kalau suaminya saja udah percaya sama gue, ya sudah lah, mau gimana lagi? Paling kalau ditanya sama orang lain ya kita ngaku sepupuan aja lah ya. Xixixi… Sepupu ketemu tua.
Enaknya buat gue, si Ochie ini penganut faham "gerak cepat". Dia langsung nyari-nyari hotel yang lumayan murah n gak terlalu jauh dari tempat penyelenggaraan ujian. Jadinya gue cuman tinggal oke-oke saja sama hotel hasil temuan dia. Hehehe…
Setelah menunggu dan mempersiapkan berbagai bahan belajar yang punya hubungan dengan ilmu pertanahan (yang banyaknya naudzubilah amit-amit jabang bayi lanang wedok ketok kayu berkali-kali), akhirnya hari H ujian pun tiba.
Jeng jeng jeng… *musik dramatis lagi*
Ujiannya terbagi jadi 2 hari. Ujian hari pertama sih bahannya lumayan gak terlalu menyiksa jiwa raga, karena yang diuji hanya teori-teori tentang hukum pertanahan, pendaftaran tanah, kantor pertanahan, dan teori-teori lainnya.
Yang bikin bete adalah fakta bahwa gue ujian di ruangan yang biasa dipakai jadi kantin di Sekolah Tinggi Pertanahan (sekolah itu memang biasa dipakai jadi tempat ujian PPAT). Ruangannya sih besar, tapi untuk memaksimalkan kapasitas ruangan itu, semua meja makan disingkirkan dan yang tersedia hanya kursi yang diatur berderet-deret. Ada kali tuh seribu orang duduk berjejer-jejer di situ. Cuman saja, ya begitu, TIDAK ADA MEJA! Hiks! Terpaksalah gue ujian berjam-jam dibantu dengan papan bantu menulis. Pegel saudara-saudara, harus ujian sambil megangin papan begitu. Tangan kiri megangin papan, sementara tangan kanan gak berhenti menulis.
Sebenernya tempat ujiannya tidak hanya di tempat kantin itu saja sih. Gedung-gedung lain di Sekolah Tinggi Pertanahan itu yang biasa dipakai untuk perkuliahan semuanya dipakai untuk ujian, tapi karena yang ikut ujian banyak banget akhirnya ya terpaksa kantin juga dipakai untuk ujian. Kalau gak salah inget sih yang ikut ujian PPAT tahun 2013 ini ada 2750 orang. Hweh…
Pas ujian hari pertama selesai, badan udah pegel semua karena kan duduk berjam-jam, nunduk menulis sambil memegangi papan. Tapi kita belum bisa istirahat karena besoknya masih ada ujian lagi.
Ujian hari kedua lebih parah lagi, karena salah satu bahan ujiannya adalah ujian praktek pembuatan akta.
Hadeuh… Neraka jahanam bener dah tuh…
Kenapa gue bilang neraka jahanam? Karena begini:
Buat orang yang tidak/belum mengerti tentang akta PPAT, perlu diketahui adalah sampai dengan tahun ini para PPAT membuat akta dengan cara menggunakan blanko.
Apakah blanko itu? Blanko itu adalah akta kosongan yang mirip seperti formulir, jadi PPAT yang ingin membuat akta hanya tinggal mengisi bagian-bagian blanko yang masih kosong dan sudah disediakan itu.
Nah, ternyata tahun ini Badan Pertanahan membuat kebijakan baru bahwa PPAT tidak lagi membuat akta dengan menggunakan blanko, dan sebagai gantinya para PPAT membuat akta dengan mengetik sendiri aktanya dari awal sampai akhir (sama seperti akta notaris).
Yang bikin gue kelimpungan adalah, contoh-contoh soal ujian pembuatan akta dari tahun-tahun sebelumnya selalu menggunakan blanko, jadi biasanya yang dibuat rumit dalam soalnya adalah tentang para kliennya, jadi orang-orang yang diuji bakal dibuat mumet tentang bagaimana menuliskan identitas para klien dengan jelas, tapi karena menggunakan blanko, mereka tidak perlu mumet soal isi (pasal-pasal) aktanya.
Ternyata tahun ini ujiannya menggunakan style yang berbeda, yaitu ujian pembuatan akta tidak lagi menggunakan blanko.
Pas gue menerima soal ujiannya, dan gue menyadari bahwa di soal-soal ujian itu tidak disediakan blanko, gue langsung panik berat.
Gimana gak panik kalau selama ini gue hanya mempelajari tentang bagaimana mengisi blanko akta, sementara ternyata ujiannya menyuruh gue membuat akta itu dari awal sampai akhir termasuk pasal-pasalnya.
Bener aja, yang kaget gak cuman gue. Semua peserta ujian pada cuman bisa terkesima karena mereka juga baru sadar kalau mereka harus menulis ulang akta-akta PPAT yang biasanya sudah saklek pakemnnya karena sudah berupa blanko.
Tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah duduk di ruang ujian, jadi ya kita gak punya pilihan lain selain terjun bebas dan mencoba membuat akta-akta yang diminta sebaik mungkin mengandalkan memori kita yang terbatas ini. Hiks…
Begitu ujian hari kedua itu selesai, badan rasanya udah gak karuan. Pegel, capek, kaku, pusing, laper, bete, semua diublek jadi satu.
Di hari kedua itu gue dan Ochie pisah jalan. Dia sudah janjian sama temen-temen dia yang lain yang kebetulan ada di Jogja buat jalan-jalan. Dia nawarin gue buat gabung sih, tapi gue nolak karena gue beneran udah capek banget rasanya. Jadilah gue melewati malam terakhir gue di Jogja dalam rangka ujian PPAT itu dalam kesendirian yang syahdu (pret… dung… chuih…) whakhakha…
Yang bikin gue bete adalah, di malam terakhir itu saking capeknya, kaki gue akhirnya kram dengan suksesnya. Hiks… Karena cuman tinggal sendirian di kamar hotel ya gue cuman bisa meringis sambil melafalkan segala sumpah serapah yang gue tahu.
Well, itu adalah cerita ringkasan petualangan gue ikut ujian PPAT di Jogjakarta. Orang lain mah ke Jogja buat wisata, gue ke sana kok kayanya malah buat menjalani penyiksaan. Hieh!
Tapi nggak apa-apa. Kalau nggak seperti itu kan malah nggak ada kenangannya. Hehehe…
Sukur alhamdulilah, bulan Juli kemarin hasil ujiannya sudah keluar dan gue ternyata lulus buat jadi PPAT dengan wilayah kerja Kabupaten Gresik, sesuai dengan wilayah kedudukan gue sebagai Notaris.
Sujud sukur dah gue. Bener-bener speechless, karena gue menjalani tuh ujian dengan segala kekurangan gue sebagai Burung Hantu Oversize begini, tapi ya ternyata bisa lulus juga. Kayanya kalau gue nggak lulus bisa nangis bombay dah gue, secara bener-bener tersiksa kalau harus menjalani ujian yang bikin capek seperti itu.
Gue bener-bener bersukur, karena ujian PPAT terkenal bukan ujian yang sifatnya formalitas doang. Dengan kata lain, di ujian PPAT ini kalau nilainya kurang ya gak bakal lulus. Tahun ini saja yang tidak lulus cukup banyak (soal berapa yang gak lulus, gue gak ngomong dah, pokoknya banyak).
Oh well, sekarang tinggal mikirin rencana kapan ke Jakarta buat menyetor berkas-berkas permohonan pengangkatan sebagai PPAT. Hehehe…
Oh, satu hal yang gue lupa cerita. Buat ujian PPAT itu, semua peserta diwajibkan pakai kemeja putih dan celana/rok hitam. Sebenernya nggak apa-apa sih, cuman saja mau ujian jadi PPAT kok rasanya malah seperti jadi Sales Promotion Girl/Boy yang masih dalam masa percobaan gara-gara pakai baju hitam-putih begitu. Hahaha…
So, begitulah cerita gue tentang ujian PPAT yang gue ikuti kemarin itu. Semoga yang baca bisa dapet bayangan tentang apa saja yang harus dihadapi kalau ingin menjalani ujian PPAT.
Sunday, November 14, 2010
A New Start (?)
| Your Summer Ride is a Beetle Convertible |
Fun, funky, and a little bit euro. You love your summers to be full of style and sun! |
Ya ya ya, gue tahu kalau gue sudah berbulan-bulan tidak menulis blog, dan gue tidak punya alasan baik untuk hal itu. Really sorry about that. :-p
Jadi, sudah berapa lama nih? Terakhir menulis post di bulan Februari kemarin dan sekarang sudah bulan November. Berarti 9 bulan lamanya gue sudah tidak menulis post di blog. Ckckck... bener-bener lama ya. Kalau gue cewek pasti udah ada yang nanyain apa kira-kira gue hamil kok 9 bulan nggak ada kabarnya. Untung aja gue cowok. Hahaha...
Nah, mari kita lakukan up-date tentang diri gue sejak bulan Februari itu. Pertama, gue sudah dapat SK sebagai notaris (yay!) dan bulan April kemarin gue juga sudah diambil sumpahnya sebagai Notaris di kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Dan, ya, sejak bulan itu gue sudah pasang plang notaris di Gresik. Sayangnya plang itu baru dipasang di depan sebuah gedung pinjaman teman nyokap gue. Hiks... jadi intinya belum bisa dibilang kantor permanen lah. Oh well...
Lalu apa yang gue lakukan antara bulan April sampai sekarang ini, yang mana sudah 5 bulan lamanya? Well... nothing. :-D
Yup, gue tidak melakukan apapun, atau paling tidak gue tidak melakukan sesuatu yang benar-benar konstruktif.
Sejak bulan April itu gue konsentrasi dengan dengan proses penjualan rumah keluarga gue di Jakarta, yang mana prosesnya memakan waktu sampai bulan Agustus baru bisa selesai.
Di antara waktu-waktu itu gue hanya bisa mondar-mandir Jakarta-Gresik demi memenuhi syarat "tidak boleh meninggalkan wilayah tugas selama lebih dari 7 hari berturut-turut". Haeh... Capek men jadi setrikaan mondar-mandir begitu. Tapi, namanya juga bagian dari resiko pekerjaan, mau diapakan lagi?
Lalu setelah proses jual beli rumah selesai di bulan Agustus itu, langkah selanjutnya adalah proses pindahan permanen dari Jakarta ke Surabaya. Ini juga perjuangan panjang yang jujur saja sampai sekarang belum benar-benar selesai (contohnya, KTP gue sekarang masih KTP Jakarta).
Well, proses pindahan itu sendiri makan waktu sekitar 2 bulan dan pada tanggal 7 Oktober 2010 secara resmi gue pindah dari Jakarta ke Surabaya. Yeah! I'm finally back to Surabaya baby!
Jadi, secara de facto gue sekarang adalah warga Surabaya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Hehehe... Secara de jure gue masih warga Jakarta karena KTP gue masih KTP Jakarta dan gue masih belum tahu kapan bisa sempat ke Jakarta untuk mengurus perpindahan KTP itu. (kalau mengingat sifat gue, sepertinya kalau nggak kepepet banget mungkin nggak bakal gue pindah tuh KTP, hahaha...)
Untuk kalian yang tidak familier dengan geografi Provinsi Jawa Timur mungkin bertanya-tanya kenapa kok gue malah tinggal di Surabaya padahal gue adalah notaris Kabupaten Gresik. Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Kabupaten Gresik terletak pas di sebelah Barat Kota Surabaya. Jadi kalau kalian sedang melihat peta Provinsi Jawa Timur, dan kalian menemukan Kota Surabaya di peta itu, silahkan geser mata kalian sedikiiitt ke kiri, dan tadaaa... di situlah letaknya Kabupaten Gresik.
Untuk kalian yang biasa di Jakarta, bayangkan letak Kabupaten Tangerang dari arah Kota Jakarta. Ya, seperti itulah letak Kabupaten Gresik terhadap Kota Surabaya. Terlebih lagi, sejarahnya bilang kalau Kabupaten Gresik itu dulunya disebut sebagai Kabupaten Surabaya. Kemudian antara Kabupaten dan Kota Surabaya itu mengalami pemekaran, dan keduanya memisahkan diri. Supaya tidak membingungkan (mungkin, gue nggak tahu pasti sebabnya apa), Kabupaten Surabaya merubah namanya menjadi Kabupaten Gresik.
Nah untuk waktu sekarang ini gue sedang berkonsentrasi mencari bangunan (gue nggak tahu bakalan ruko, atau kios, atau apaan) yang bisa gue sewa dan gue jadikan kantor permanen gue. Yah, kepengennya sih dapat tempat di pinggir jalan besar. Bangunannya sendiri tidak perlu besar atau luas, yang penting cukup untuk dipakai kerja, tapi yang lebih penting adalah letaknya harus di pinggir jalan besar. Alasannya supaya gue bisa 'nampang' di hadapan khalayak ramai di Gresik.
Alasan utamanya, gue adalah notaris baru. Itu saja sudah merupakan alasan utama kenapa gue harus nampang di pinggir jalan besar. Gue harus meyakinkan bahwa sebanyak mungkin orang harus bisa melihat plang nama gue, dan bisa melihat kantor gue. It's the only way untuk mendapatkan klien karena notaris tidak diperbolehkan mempromosikan diri dengan cara lainnya.
Alasan yang kedua adalah, gue bisa dibilang sebagai orang baru di Gresik dan bahkan di Jawa Timur secara keseluruhan. Di sini banyak notaris-notaris baru lainnya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa Timur asli, atau lulusan Universitas Airlangga, atau sekedar sudah lama tinggal di Gresik, jadi mereka kemungkinan sudah punya kenalan-kenalan di sini yang bisa membantu mereka 'menebar nama'. Sementara gue yang besar dan sekolah di Jakarta adalah seorang newbie di sini dan baru akan memulai membangun jaringan dengan orang-orang di sini.
Yah, dengan kata lain, masih ada BANYAK hal yang harus gue lakukan di sini. Tapi untuk sementara ini, gue harus berkonsentrasi mendapatkan tempat yang bisa gue sewa untuk menjadi kantor gue.
Nah, lalu, ada satu hal lagi yang sebenarnya membuat gue akhirnya memutuskan untuk menulis post kali ini. Hal itu adalah, adik gue punya band. Yeay!
Band dia bernama Flazlite. Jujur aja, gue belum tahu banyak tentang band dia itu, tapi kemarin malam dia ngasih tahu gue tentang account band dia itu di Myspace, dan di account tersebut Flazlite memposting lagu buatan mereka sendiri, jadi buat yang anda-anda sekalian yang pengen iseng-iseng mendengarkan lagunya silahkan langsung klik di bawah ini:
Judul lagu mereka adalah "Meskipun Waktu", dan sepertinya termasuk jenis lagu ballad. Gue nggak tahu memang mereka aslinya bermaksud membuat lagu itu jadi lagu ballad atau tidak, tapi yang gue tangkep setelah mendengarkan lagu itu adalah, ya, itu adalah sebuah lagu ballad.
Adek gue adalah vokalisnya (namanya Heru) jadi, iya, itu adalah suara dia. Bagus ya? (bertanya begitu sambil tersenyum sadis dan memegang pisau dengan aura mengancam)
Jadi silahkan didengarkan, dan tinggalkan komentar di account mereka. Dengar-dengar mereka masih punya lagu lainnya, dan gue pengen cepetan dengerin lagu mereka yang lain itu. Hehehe...
Terakhir, gue berencana ingin lebih aktif lagi menulis post di blog ini, terutama tentang petualangan-petualangan gue di Surabaya, Gresik, dan bahkan mungkin di wilayah-wilayah lainnya di Jawa Timur ini. Doakan saya! :-D
Saturday, February 06, 2010
Heidelberg, 4 Februari 2010

"Selamat ya, akhirnya SK kamu sudah keluar."
"Thanks."
"Besok kamu ulang tahun kan? Aku ucapin selamat dari sekarang saja ya, aku kuatirnya besok aku tidak sempat telepon."
"Terima kasih Na."
...
"Kamu sepertinya lagi banyak pikiran ya?"
"Kamu tahu?"
"Dari tadi kamu cuma jawab omonganku seadanya. Kamu cuma seperti itu kalau sedang banyak pikiran."
"Hmm..."
"Kamu sudah mulai capek lagi ya?"
"... Iya."
"Mau sampai kapan?"
"Apanya?"
"Kamu seperti ini mau sampai kapan? Dari dulu kamu selalu berusaha melakukan apa yang orang minta dari kamu, padahal kamu sendiri tahu kalau kamu capek melakukan itu semua."
"Sayangnya aku memang seperti ini."
"Aku tahu mein leibe, aku tahu. Tapi kuatir kamu tidak akan kuat kalau seperti ini terus."
"Aku juga tahu itu kok."
"Sayangnya aku juga tidak bisa meminta kamu berhenti bersikap seperti ini."
"Kenapa begitu?"
"Karena hubungan kita bisa bertahan sampai sekarang karena sifatmu yang seperti itu."
"... Iya ya?"
"Iya mein liebe, makanya aku juga berusaha menjalani apa yang kita punya sekarang ini karena kamu yang seperti itu."
"Terima kasih Na."
"Tapi..."
"Kenapa Na?"
"Aku ingin kamu bisa santai kalau kepada aku. Terkadang aku ingin kamu bersikap egois terhadap aku."
...
"Tok? Kamu denger aku kan?"
"Iya aku dengar."
"Kamu ngerti maksud aku kan?"
"Aku ngerti. Tapi sebenarnya aku juga sudah bersikap egois terhadap kamu, baik kamu sadar atau tidak."
"Aku sadar kok Tok."
"Iyakah?"
"Kamu membicarakan tentang penundaan-penundaan selama ini kan?"
"Iya."
"Aku sudah bersama kamu hampir 6 tahun Tok. Meskipun 4 tahun dari 6 tahun itu kita jalani dengan saling berjauhan, tapi aku ngerti garis besar apa yang kamu inginkan. Dan aku rela nunggu sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau sampai puas."
...
"Mein liebe, kamu denger aku kan?"
"Iya, aku denger kok."
"Kenapa kamu kedengaran ragu begitu?"
"Aku takut kalau aku tidak akan bisa puas."
"Nggak apa-apa."
"Bener?"
"Bener. Kamu sudah mau mengikuti keegoisanku selama ini. Aku rasa hanya akan adil kalau aku juga melakukan yang sama untuk kamu."
"Terima kasih Na."
"Nggak apa-apa mein liebe. Lagipula kita masih punya perjanjian kita kan?"
"Selalu. Perjanjian itu tidak akan pernah aku cabut."
" Dengan perjanjian itu, paling tidak kamu bisa fair terhadap aku."
"..."
"Selain itu, mein liebe, kita sudah punya kenangan akan malam itu kan?"
"..."
"Tok, kamu masih disana?"
"Iya, kita akan selalu punya kenangan tentang malam itu."
...
"Ya sudah, kita sudahan dulu ya mein liebe. Besok aku kerja lagi, disini sudah hampir setengah 11."
"Okay."
"Inget, jangan terlalu maksain kalau kamu sudah capek."
"Okay."
"Tschüss. Liebe dich."
*click*
"I love you too."
.........
Sunday, December 27, 2009
Breakfast
Entah sudah berapa minggu yang lalu, gue ketemuan sama si Landak di PI. Nothing special sih, cuman ketemuan buat nongkrong, ngobrol, n makan. Hehehe...
Selama di sana kita memutuskan buat makan di Pancious. Gue sendiri belum pernah makan disana, Landak yang udah pernah, n dia cukup merekomendasikan Pancious, resto yang spesialisasinya adalah pancake. Katanya lumayan enak. Gue, yang pada dasarnya adalah omnivora, jadinya ya setuju-setuju aja. Hehehe...
Gue lupa nama makanan yang gue pesen waktu itu, yang pasti gue pesen sesuatu yang berasal dari makanan breakfast. Setelah datang, gue lihat emang nggak terlalu ajaib lah makanannya. Sayang aja porsinya kurang banyak buat gue. Wakakaka... Emang sih pancake-nya bisa ditambah, tapi kan lauknya nggak bisa. Ya sama aja bohong lah menurut gue.
So, pesanan gue adalah seperti yang ada di foto di atas itu. Biasa aja kan? Pancake 2, sosis goreng, scrambled egg, n sepotong smoked beef. Tapi yang bikin gue bingung adalah sesuatu yang ada di atas smoked beef-nya. Sesuatu berwarna kuning berminyak gitu. Apakah itu?
Ternyata sepotong nanas yang digoreng. Haish... ada-ada aja. Tapi ya sudah lah. Meskipun agak tidak umum, tapi masih acceptable kok. Jadi ya gue makan aja. Lumayan, meskipun aneh makan sesuatu yang seharusnya asam-asam segar kok kali ini jadi asam-asam gurih. Khikhikhi...
Kelar gue makan tuh potongan nanas, tiba-tiba si Landak menaruh potongan nanas yang dia punya ke piring gue. Weks... ternyata dia milih menu yang sama seperti gue tapi dia nggak mau makan nanasnya. Jadilah gue yang disuruh makan tuh potongan nanas goreng. Hieh... Foto dibawah ini adalah foto piringnya si Landak yang menunjukkan menu yang sama seperti punya gue, minus nanas goreng. Wew...
.
Selanjutnya adalah hari Kamis tanggal 24 kemarin. Hehehe... Gue lagi ke Tangerang Selatan. Trus disana gue menemukan McDonald, jadilah gue berhenti buat sarapan dulu karena gue pagi-pagi udah disana. Dari luar sih nggak ada yang menunjukkan kalau McD yang ini berbeda dengan McD yang lain.
Begitu masuk, barulah terasa ada bedanya. Kalau McD lain kan dominan warna merah n kuning. Kursi-kursi tamunya juga biasanya dibuat dari besi yang sandarannya berupa besi melengkun berwarna kuning itu kan. Nah kalau di McD yang ini, temanya tuh minimalis. Kursi-kursinya berwana putih berbentuk seperti kursi berlengan, sementara mejanya berwarna metalik.
Setelah gue ke counter-nya buat pesan makanan, gue sempet bingun karena semua makanannya kok berbeda dengan yang biasa ada di McD. Biasanya di atas counter, di belakang mas2 n mbak2 kasir kan ada display yang menunjukkan menu-menu yang ditawarkan, biasanya berupa PaHe n paket-pake lainnya yang isinya adalah burger, atau ayam goreng, disertai dengan french fries n minuman cola gitu. Nah yang ini beda, karena yang ditawarkan adalah menu McMuffin, dan dari berbagai penjelasan yang ada di display itu, ternyata yang tersedia adalah menu-menu sarapan.
Huiks? Belum pernah tuh nyobain McMuffin. Akhirnya gue pilih Egg McMuffin, n yang gue dapatkan adalah seperti di foto dibawah ini.
Lumayan kok rasanya. Yang bener-bener beda cuman rotinya (muffin) n kehadiran telur ceplok yang ada di dalam McMuffin itu, tapi secara keseluruhan sih nggak jauh beda sama burger yang biasanya ada di McD. Trus itu benda yang terbungkus kertas dengan lambang McD itu adalah kentang yang digoreng. Seperti kroket gitu cuman kentangnya nggak sampai jadi puree (bubur), jadi kentangnya masih agak kasar gitu.
Well, pergi ke Kota TangSel malah menemukan McD yang agak beda dari biasanya. Hehehe... Satu hal yang masih gue pikirin sampai sekarang adalah, itu display yang menunjukkan berbagai menu sarapan apakah akan dipajang sepanjang hari atau kalau sudah siang bakal diganti dengan display yang biasa ya? Hmm...
Lanjut lagi kemarin tanggal 26 Desember. Sayang yang kali ini gue lupa foto-foto. Hiks... Oh well.
Kemaren itu seharusnya gue janjian ketemu sama Ibu Gajah di Plaza Indonesia buat berkolaborasi, tapi sayangnya si Ibu Gajah lagi sakit batuk, n terpaksa membatalkan janjian.
Well, gue pikir daripada garing dirumah mending jalan-jalan dong. Jadilah gue coba untuk menculik Winy The Pooh, dan ternyata dia mau diculik. Gyaaa... senangnya. Kangen juga gue sama Pooh yang satu itu, karena terakhir ketemu sama dia adalah sekitar 2 hari setelah lebaran, yang mana sudah beberapa bulan yang lalu.
Seperti biasa semua dimulai di Starbucks. Hehehe... Dari situ kita makan di Pancious (yup, gue craving pancious), trus lanjut jalan-jalan bentar di Aksara (wew... semuanya mahal-mahal disana), trus lanjut mencoba makan di Pizze e Birra yang letaknya di dekat Pancious.
Gue sih suka di Pizza e Birra itu, karena pizza-nya tipis, n jenis-jenis pizza-nya aneh-aneh. Gue nyobain Wasabi-wasabi, yang sesuai dengan namanya, adalah Pizza dengan wasabi. Wakaka... Serasa makan sushi rasa Pizza.
Sayangnya gue n si Pooh keenakan ngobrol sampe lupa mau foto-foto. Huhuhu...
Kelar makan, kita turun n mampir ke Body Shop karena Pooh mau cari kado natal. Dari sana, ternyata di depan Body Shop itu ada stand yang jualan kaos-kaos batita, n si Pooh mampir sebentar buat beli hadiah untuk anak temannya.
Setelah itu kita kembali ke Starbucks. Wakakaka... Dimulai dari Starbuck, diakhiri dengan Starbucks. Khikhikhi...
Well, begitulah petualangan kuliner gue. Hehehe... Selanjutnya mau kemana ya? Hmm...
Sunday, September 06, 2009
Last Night Together

HALOOOO!!! Hahaha... gila, sudah hampir 5 bulan gue nggak nulis blog. Hieh... bener-bener setahun ini sangat tidak memberi kesempatan untuk menulis dengan baik.
Well, tentang foto di atas, sama sekali nggak ada hubungannya sama posting kali ini. Wakaka... Foto itu adalah foto waktu perayaan (very) belated birthday kita ber-4 yang terdiri dari Ibu Tai, Laler Kepo, Lina Welly, n yours truly, hehehe... Kapan ya acara itu? Lupa gue. Wakaka...
Nah sekarang marilah kita masuk ke acara inti. (halah)
Kalau besok semuanya lancar dan tanpa halangan, malam ini adalah malam terakhir gue bersama dengan 2 buah gigi gue karena besok mereka berdua akan dicabut. Hiks...
Yang pertama adalah my 1st upper left molar (geraham kiri atas pertama), dan yang kedua adalah my 3rd lower left molar (geraham kiri bawah ketiga).
Mengenai yang pertama, dia harus dicabut karena dia memang sudah pecah sejak gue SMP dan saat ini yang tertinggal hanyalah akarnya saja. Hieh... Mengapa dia bisa pecah? Well, itu adalah kenangan pertama dan terakhir gue (sampai sejauh ini) berantem sampe tonjok-tonjokan dengan seseorang. Mwahaha... Very-very out of character for me right? Berantem sampe salah satu gigi bisa pecah. Hieh...
Sedangkan yang kedua, yaitu geraham kiri bawah ketiga, yang biasanya dikenal sebagai salah satu dari wisdom teeth, harus dicabut karena sudah bolong dengan sangat parahnya. Hehehe... Tapi emang agak lumrah sih gigi yang satu ini untuk rusak sebelum waktunya karena letaknya yang ada di belakang sekali, sehingga memang sulit untuk dibersihkan dengan baik.
Oh well, mungkin memang sudah waktunya bagi keduanya untuk pergi. Hiks... Sedih juga rasanya bepisah dengan dua buah gigi yang sudah setia menemani gue selama entah berapa belas tahun ini.
Tapi dibandingkan rasa sedih, ada satu rasa lainnya yang lebih terasa sama gue pada saat ini yaitu rasa TAKUUUTT!!! Huweee... Gile men, dicabut satu gigi aja udah bikin keringet dingin, gimana harus dicabut 2? Eeep...
Udah gitu si geraham kiri bawah ketiga itu bukan sekedar dicabut tapi harus di'operasi' kecil.
Aarrrgghhh... mendengar kata operasi aja udah bikin merinding. Membayangkan gusi gue akan disuntik bius, lalu disayat supaya bisa dicabut giginya, dan habis itu dijahit lagi. Weee... Pingsan deh gue. (apa emang mendingan pingsan aja kali ya besok, jadi kan rasanya lagi dibius total, wakaka...)
Well, pokoknya besok gue akan duduk di kursi dokter gigi berwarna hijau itu dan membiarkan seseorang mengobok-obok mulut gue untuk mencabut gigi gue. Hieh... Things I do to avoid further pains...
Entah kenapa, waktu disaranin sama dokter giginya supaya gigi gue dicabut, gue langsung oke aja tanpa mikir. Mungkin sedikit banyak alam bawah sadar gue tahu bahwa ini adalah keputusan yang paling bijaksana dibandingkan kemungkinan menghadapi sakit gigi di masa depan. Hhh...
Yah, gue berharap besok bisa berjalan dengan lancar lah semuanya.
...
......
.........
OMG!!! What have I done!!! But it's too late to back up now. I must go forward! Merdeka!
Friday, May 08, 2009
In Memoriam... Ibu Gajah a.k.a Queen of Piracy a.k.a MenSekJenKom a.k.a Caroline Zenia Ivana Daud
Okay... mari kita mulai pembahasan dari awal.
Hari Rabu kemarin, tiba-tiba Ibu Gajah ngirim SMS yang isinya mengajak semua temen-temen genk (genk kita nih apa sih namanya? Kok kayanya nggak enak juga nyebutnya sebagai Genk Anak PSUT Lama) untuk kumpul-kumpul dalam rangka menyambut kembalinya si Landak dan Sapi yang baru saja ikut Kompetisi PaDus Musica Mundi di Venesia.
Btw, mereka dapat Gold level 4 untuk kategori Chamber Choire dan Gold level 2 untuk kategori Folk Song. Jadi itu tentu saja menjadi alasan tambahan untuk diadakannya acara kumpul-kumpul kali ini. Maksudnya sekalian merayakan.
So... setelah menimbang, mengingat, dan memperhatikan berbagai situasi dan kondisi, gue memutuskan untuk ikut dalam acara kumpul-kumpul hari ini. Keputusan ini benar-benar keputusan detik terakhir karena gue baru mengambil keputusan final jam setengah 6 sore, padahal acaranya mulai jam setengah 8. Hehehe...
Setelah kelar gawe, gue pulang dulu ke rumah buat sekedar setor muka n mandi, trus berangkat lagi sekitar jam setengah 7. Sampai di tujuan sekitar jam 7 lewat 1/4 (Kemang macetnya LAKNAT!)
Di perjalanan itu, gue mendapat berita mengejutkan, yaitu ternyata Ibu Gajah a.k.a Queen of Piracy a.k.a MenSekJenKom ternyata telah gugur dalam melaksanakan tugas kenegaraannya dikarenakan oleh vertigo. Dia terpaksa pulang ke rumahnya dan batal ikut acara kumpul-kumpul kali ini.
Oh... berita yang sangat menyayat hati bagi kami para sahabat-sahabat Ibu Gajah (halah... kumat deh error-nya) Kami akan selalu mengenangmu wahai sahabat. (hoeeeckh...)
Gue jadi orang pertama yang sampai di tujuan, kecuali IbuTai tentunya, karena dia kan memang kerja di situ jadi dia sudah ada di sana dari entah kapan.
Setelah ngoceh-ngoceh sama si Landak by phone karena dia nggak sampai-sampai sambil muter-muter ngeliat berbagai restoran yang ada di tempat lantai 2, akhirnya gue ketemu sama rombongan Laler, Nyamuk, Anjing Langit, dan Sapi yang baru saja sampai ketika gue sedang balik turun ke lantai 1.
Ternyata mereka mau cari makan dulu sebelum ke Barcode. Jadilah gue bersama dengan rombongan itu kembali ke lantai 2. Setelah bingung memutuskan mau makan apa, kita memutuskan untuk ke Burger King.
Waktu lagi pada pesen makanan, ternyata Landak juga sudah sampai dan dia menyusul ke Burger King. Ternyata si Landak protes makan di Burger King karena dia masih bosen makan makanan Eropa (yang mana burger adalah salah satunya), maka diapun menggeret-geret gue ke Hoka Hoka Bento.
Sebelum gue tergeret ke Hoka Hoka Bento, gue dikasih oleh-oleh sama Sapi. Oleh-olehnya kecil tapi very adorable. Hehehe...
Lihat saja sendiri.
Lucu kan, kaya gue. Huahahaha... So bulet... Khikhikhi...
Selain bulat, dia juga sangat imut (sekali lagi, seperti gue. Hoeeeckh...). Ukurannya kecil banget. Sebagai bukti betapa kecilnya dia, lihatlah foto selanjutnya ini.
Yup, yang dipegang oleh si Cucut itu adalah oleh-oleh dari Sapi. Hihihi... lucu ya? Mungkin dia cocoknya dipasang di dashboard mobil kali ya? Hmm... mendingan dikasih nama apa ya si kecil ini?
Hmm... Gue panggil dia Ben.
Thanks to Sapi, koleksi owl figure gue bertambah satu anggota lagi. Thank you Sapi. Hehehe...
Back to story.
Ternyata sesampainya gue n Landak di Hoka Hoka Bento, sang Cucut-pun juga sampai dan dia segera menyusul ke Hoka-Hoka Bento. Waktu kita lagi makan, IbuTai menelepon si Cucut dan setelah tahu kita ada di Hoka Hoka Bento, diapun menyusul ke sana.
Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, IbuTai pergi untuk menyapa rombongan Laler yang lagi makan di Burger King.
Nggak lama kemudian, gue, Landan, dan Cucut sudah selesai makan, dan kita berkumpul kembali dengan kelompok Laler yang ternyata juga sudah selesai makan dan sedang akan menjemput kita di Hoka Hoka Bento.
Setelah kumpul semua, kitapun menuju ke Barcode.
I have to say, that place is impressive.
Letaknya di atas atap gedung berlantai 3, dan nuansanya open air (untung malam ini cerah).
Kita sempat ngobrol-ngobrol di open terrace Barcode, tetapi kemudian semuanya memutuskan untuk masuk ke Lounge Barcode karena di sana ada AC-nya.
Di situ kita pesan Heineken 2 pitcher. Dari kita semua yang tidak minum hanya si Nyamuk. Anjing Langit, Sapi, dan IbuTai icip-icip sedikit, Laler dan Cucut masing-masing minum 1 gelas, sementara yang minum paling banyak adalah gue dan si Landak. Gue minum 3 gelas, sementara si Landak nggak tahu deh minum berapa gelas.
Hahaha... Jujur aja, gue jadi kangen sama bokap gue. Dulu waktu dia masih ada, gue dan dia sering minum bir berdua sambil ngobrol-ngobrol. Sebenernya kita berdua nggak begitu suka bir, tapi dia bilang tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru.
It really brings back so many memories...
Nah, pas kita lagi di lounge itulah baru bener-bener terasa betapa MATI GAYA-nya kita tanpa kehadiran Ibu Gajah. IbuTai yang langsung memperhatikan itu, sementara kita semua baru nyadar hal itu waktu dia mengatakannya.
Emang bener sih, tanpa si MenSekJenKom (aduh... tuh gelar kok makin ngaco sih?), kita semua jadi sering kehabisan bahan omongan. Si Anjing Langit yang biasanya rame juga jadi sering kehabisan bahan omongan (BAYANGKAN!!!). Terlalu banya silent moment di antara kita selama acara kumpul-kumpul ini. Hieh...
Makanya... diharapkan kepada Ibu Gajah a.k.a MenSekJenKom untuk menjaga kesehatannya pada saat akan ada acara seperti ini.
Parahnya lagi, karena sudah kebiasaan ada Ibu Gajah yang biasa bawa kamera, kita semua nggak ada yang bawa kamera di pertemuan ini. Jadilah untuk kepentingan penulisan blog ini, yang mana juga berfungsi sebagai laporan kepada MenSekJenKom, gue terpaksa pakai kamera HP. Hasilnya adalah foto yang ada di awal post ini. Jadi, harap maklum kalau fotonya blur dan gelap karena HP gue cuman 1MP dan tidak ada blitz-nya pula. Hehehe...
Tapi ini adalah salah satu malam paling menyenangkan yang pernah gue lalui. I'm thankful to God for it.
Kepada Ibu Gajah a.k.a MenSekJenKom: CEPETAN SEHAT YA MBAK!!! Hehehe...
Tuesday, March 24, 2009
Capheeekkk....!

Hari ini sengaja nggak masuk kantor karena pengen ngurus keanggotaan di organisasi notaris. Paling males jadi anggot notaris di Jakarta Timur! Udah bayarnya paling mahal, gue harus nganterin surat-suratnya ke berbagai tempat pula. Hieh... Kenapa nggak bisa seperti Jakarta Selatan yang bayarnya lebih murah, n pelayanan pendaftarannya dilayani di satu loket ya?
Oh well... nasib orang ber-KTP Jakarta Timur.
Supaya sepanjang gue ngurusin nggak bosen, gue menculik sang landak dari sarangnya, n dia gue geret-geret ke Jakarta Timur. Wakaka... kasihan sekali sang landak yang aslinya penghuni Jakarta Barat. Tapi untungnya dia mau-mau aja sih digeret-geret begitu. Khikhikhi...
Proses pendaftarannya bener-bener nightmare buat gue. Bener-bener nggak mau gue bahas di sini. Ugh... weew...
Nah, setelah semua urusan pendaftaran itu selesai (yang mana sebenernya belum selesai, karena ternyata masih kurang 1 proses lagi, grrr...) akhirnya gue n landak pergi ke Grand Indonesia karena diajak dateng ke sana oleh sang Angela "kupu-kupu ungu" Astri Eka Wahyuni Hadi Soemantri.
AKHIRNYA gue bisa tahu juga wujudnya Grand Indonesia! PUJI TUHAN PENCIPTA SEMESTA ALAM! (hallah... kumat deh errornya)
Tapi emang bener, sejak Grend Indonesia buka, gue belum pernah tahu wujudnya seperti apa tuh tempat. Rada malu-maluin sih, mengingat bahwa gue adalah penghuni lama Jakarta. Hehehe... Tapi apa mau dikata, gue kan penghuni Jakarta Selatan (walaupun ber-KTP Jakarta Timur), jadi gue rada males kalu buat jalan-jalan aja harus ke Jakarta Pusat.
Nah, sampai sana kita makan dulu. Si Landak yang emang udah sering ke sana bertindak sebagai guide. Tapi karena emang gue bukan tipe yang suka wira-wiri nggak jelas, jadilah si landak cuman sukses men-guide gue di foodcourt-nya (kalo nggak salah namanya food lover ya?), dan kita makan berdua di sana sambil nunggu sang kupu-kupu ungu.
Karena masih ada waktu, akhirnya kita ke starbucks. Hieh... it's been so long since the last time I've had one of those americano. Hahaha...
Jadilah kita lanjut menunggu kupu-kupu ungu di sana. Nggak terlalu lama kemudian, akhirnya diapun datang.
Kita ngobrol-ngobrol sebentar, n trus si kupu-kupu ungu bilang kalau dia pengen cari blouse n celana panjang buat acaranya BCA.
Si landak yang memang biasa menjadi fashion advisor-pun segera menyetujui untuk menemani si kupu-kupu ungu mencari baju. Sementara gue yang emang lagi jadi anak hilang ini sih cuman ayok-ayok aja.
Ternyata... hieh... emang sih gue udah lama nggak nemenin cewek belanja, tapi begitu mengikuti mereka berdua, segala bendungan memori tentang betapa capeknya menemani cewek belanja langsung bobol dengan suksesnya. Hhhh...
Okay... ringkasannya begini. Pertama kita ke outlet Mango. Ternyata di sana nggak ketemu yang dicari. Jadi kita pergi ke Forever 21. Di sana, proses pencarian berjalan intensif dan menghasilkan sebuah jaket pendek warna putih.
Setelah dari situ, lanjut ke dalam Seibu untuk mencari celana panjang hitam. Ternyata nggak ketemu. Pencarian diganti sasaran menjadi mencari daleman hitam buat dipasangkan dengan jaket putih yang sudah dibeli. Jadilah pencarian dilanjutkan ke Giordano.
Di Giordano ternyata nggak ketemu daleman yang dicari, tapi di sana sempat megang-megang celana panjang hitam, tapi harganya terlalu mahal.
Okay... perburuan belum berhasil. Perburuan lanjut lagi ke Zara.
Di Zara sempet ketemu daleman hitam yang cukup bagus, tapi setelah dicoba ternyata ukurannya terlalu besar, jadi batal beli deh.
Untung saja kupu-kupu ungu dan landak harus latihan jam 4, jadi perburuan terpaksa ditunda. Hieh... kaki gue udah mulai kram tuh mondar-mandir begitu. Hiks... Nggak kebayang kalau mereka nggak harus latihan hari ini, sepertinya perburua bakalan dilanjutkan sampai gue terpaksa naik trolley kali ya? Hihihi...
Yah, begitulah petualangan hari ini. Petualangan kecil, tapi lumayan lah buat selingan, hehehe...
Btw, kenapa ya perempuan itu kalau sudah tentang belanja sepertinya punya energi yang tidak terbatas? Hieh...
Tapi gue juga ngerasa seperti itu sih kalo lagi belanja mingguan. Hehehe... Carrefour seluas itu bisa gue jelajahi dengan santainya. Khikhikhi... jadi ketahuan banget nggak sih kalo gue ini burung hantu rumah tangga?
Sunday, March 15, 2009
Reuni

Orang-orang lain sepertinya bersemangat kalau mendengar bahwa mereka diundang ke sebuah reuni, karena mereka jadi merasa masih diingat oleh teman-teman lamanya. Sementara gue... yah, gue juga merasa senang sih diundang ke sebuah reuni. Siapa sih yang nggak senang ketemu dengan teman-teman lama? Tapi sayangnya pada saat yang sama gue juga merasa jengah dengan kata 'reuni' tersebut.
Mendengar kata itu justru mengingatkan gue pada kenyataan bahwa teman-teman yang dulu bisa kita temui setiap hari, sekarang hampir tidak pernah kita temui lagi. Jangankan untuk bertemu, sekedar untuk menelepon dan mengobrol saja sudah sangat sulit untuk menyisihkan waktunya.
Sedikit banyak jadi agak menyesal, mengapa dulu waktu kita semua masih bersama, kita tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk saling berbagi. Sekarang, waktu kebersamaan itu sudah lewat. Sekarang semuanya sudah menjalani jalan hidupnya masing-masing. Ada yang berkerja di luar negeri, ada yang sibuk dengan keluarga, ada yang melanjutkan pendidikan, dan bahkan ada yang sudah pergi selamanya.
Dulu segala berita baik dan berita duka dapat kita bagi dengan mudahnya, sekarang seolah-olah tiada kalimat selain "apa kabar?" yang pantas terucap sebagai basa-basi yang sudah pasti dijawab dengan "baik-baik saja".
Itulah kenapa gue selalu mengernyit setiap mendengar kata 'reuni'. Mengapa mereka menggunakan kata itu. Dengan memasang label itu, seolah-olah kita semua mengakui bahwa kita semua sudah saling berjauhan. Apakah rasa sedih menjalani perpisahan belum cukup berat sehingga harus diberi label 'reuni' untuk membuat perpisahan kita begitu final?
Hhh...
Gue mengangkat tema ini karena tanggal 13 Maret kemarin dan juga hari ini gue menghadiri acara reuni. Tanggal 13 adalah reuni dengan teman-teman notariat angkatan 2006, sedangkan hari ini adalah reuni teman-teman S1 hukum UnTar angkatan 2001.
Satu reuni saja sudah membuat miris, kali ini gue harus menghadapi 2 reuni dalam waktu yang begitu berdekatan.
Reuni notariat ternyata cukup ramai karena dihadiri oleh hampir 1/2 angkatan gue. Selain itu reuni ini juga dihadiri oleh 2 orang dosen kita selama di notariat. Paling tidak dalam reuni ini kita lebih berkonsentrasi dalam kegiatan berbagi informasi tentang dunia notaris, jadi gue nggak terlalu tenggelam dalam suasana reuni karena berkonsentrasi mendengarkan informasi yang diedarkan.
Tetapi reuni S1 FH UnTar hari ini memang benar-benar reuni. Walaupun hanya dihadiri oleh 12 orang karena koordinasi yang tidak cukup baik, paling tidak reuni ini bisa mengingatkan kita yang hadir pada kenyataan bahwa hampir 8 tahun yang lalu kita semua disatukan oleh UnTar, dan selama 4 tahun selanjutnya kita menghabiskan waktu bersama-sama untuk mengejar gelar SH.
Namun reuni FH UnTar ini benar-benar membuat gue sadar bahwa sudah begitu banyak hal berubah dari antara teman-teman gue.
Berbagi tawa dan sekilas berita di antara kami, tapi tidak lama sudah harus berpisah lagi untuk menjalani perbedaan kami masing-masing.
Masa lalu memang selalu indah untuk diingat-ingat, namun rasa sedih ketika harus kembali ke masa kini untuk menyongsong masa depan... rasanya seperti dibangunkan dengan kasar dari mimpi yang sangat indah.
Hahaha... kelihatannya gue sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik. Hanya hal kecil seperti reuni saja bisa membuat gue melankolis seperti ini.
Paling tidak ada satu hal yang membuat gue bisa bertahan. Gue masih punya sahabat-sahabat yang walaupun sudah tidak bertemu dan berkomunikasi, namun saat bersua tidak akan bertukar "apa kabar" kosong dan basa-basi. "Apa kabar" yang terlontar di antara sahabat adalah "apa kabar" yang tulus, menyuarkan bahwa kami memang masih peduli satu sama lain.
Gue berharap itu tidak akan pernah berubah...
Sunday, February 01, 2009
Heavens... Not A(nother) Wife!

Bener-bener memang sudah tidak punya waktu luang lagi sepertinya gue ini. Kalau ada waktu, rasanya lebih baik dipakai untuk tidur.
Para istri-istri gue (PS2, PaDus, dan Internet) sudah pada jerit-jerit pada minta diperhatikan nih. Tapi bagaimana ya? Gue lagi terpikat ke lain hati nih...
Awalnya sih cuman fling-fling doang, tapi lama-lama jadi infatuation dan sekarang gue udah bener-bener terpikat.
Sepertinya gue bener-bener bakal nambah istri nih...
Istri yang bernama PEKERJAAN! Mwahahaha...
Gila, gue ketagihan men sama kerjaan notaris! Gila... kok bisa ya? Kadang kalo udah keenakan kerja, waktu rasanya terbang gitu aja. Makan siang, smoking, minum, dll, semuanya lewat. Beneran seperti lagi main PS2, rasanya males banget kerja di-pause dulu terus baru dilanjutin lagi selesai makan siang. Rasanya pengen dibablasin aja semuanya.
Gimana kalo gue sendiri yang jadi notaris ya? Kayanya rumah gue bisa pindah ke kantor nih. Hehehe...
Parahnya lagi, nih istri baru perlahan-lahan mulai naik pangkat nih. Dulu kan dia jadi istri ke-4 (Iye... Edna gue jadiin istri ke-5, hehehe... turun pangkat deh dia), tapi lama-lama nih istri ke-4 mulai bikin gue nggak sempet on-line, dengan kata lain dia menggeser si istri ke-3 gue.
Trus karena lembur-lembur, gue jadi nggak sempet latihan padus, jadilah PEKERJAAN menggeser si istri ke-2.
Terakhir, kamaren gue mau main PS2 gue tersayang (a.k.a istri pertama gue), gue baru nyadar kalo di atas controler PS2 gue terasa ada lapisan debu halus. Itu artinya saking gue keenakan kerja, gue nggak pernah lagi main PS2 dan jadilah tuh debu perlahan-lahan menumpuk di atas controler gue.
NNNNOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!
Gila aja, gue baru mulai ngerasaain kerja notaris bukan sebagai notaris aja udah begini, gimana kalo gue udah jadi notarisnya? Mati gue!!! Masa gue BENERAN kawin sama pekerjaan? Hieh...
Gak kebayang ntar kehidupan sosial gue juga semata-mata demi mendukung pekerjaan, seperti ngelobi-lobi, rapat2 sama klien di cafe2, semua acara nongkrong dilakukan demi pekerjaan. OMG!!! TIDAAAAAKKK!!!
Hieh...
Tapi meskipun sibuk gue masih sempet menemukan sebuah rhyme yang dipakai untuk make a wish kalau kita melihat bintang. Bunyinya seperti ini:
Star light, star bright,
First star I see tonight
I wish I may, I wish I might
Have this wish I wish tonight.
Sangat sederhana, tapi gue suka banget dengernya. Well, paling nggak lebih bagus daripada:
Hickory dickory dock
A mouse ran up the clock
The clock strike one
The mouse ran down
Hickory dickory dock
Hieh... rhyme yang gak jelas maksudnya apa. Hehehe...
Monday, December 22, 2008
Full Day

Well, ini semua salah ibu gajah yang memperkenalan photofunia ke gue, sementara gue punya sedikit sifat OCD (apakah itu? Silahkan dikonsultasikan kepada wikipedia, hehehe...). Jadilah setiap gue mau bikin entry, pasti gue pasangin foto dari fotofunia. Sama aja seperti dulu biasa pasang hasil quiz dari blogthings, tapi sekarang yang jadi objek adalah photofunia.
Well, apapun yang terjadi, Anton memprotes, Burung Hantu tetap narsis. Mwahahaha...
Kembali ke judul postingan kali ini, hari ini adalah hari terpenuh yang pernah gue jalani. Dari jam 7 pagi sampe jam 1/2 11 malem baru bisa istirahat. Rasanya udah mau hegh...
Emang sih kerjaan di kantor suka angin-anginan. Kalo lagi sepi, ya kita mah jam 4 juga udah pulang. Tapi kalo pas lagi banyak order, ya seperti hari ini, jam 6 udah bisa pulang aja rasanya udah bersyukur.
Saking sibuknya di kantor, sampe-sampe boss gue sendiri ikut ngetik manual di mesin ketik manual. Kenapa sampe begitu? Karena kita semua di kantor harus mengakui bahwa kalau sudah tentang mengetik pakai mesin ketik, maka boss gue adalah pengetik paling cepat di kantor.
Kita semua sih bisa aja ngetik pakai mesin ketik, tapi nggak ada yang bisa ngalahin boss kalau sudah tentang kecepatan dan ketelitian. Jadilah kegiatan mengetik manual di take over sama boss, sementara kita para kroco-kroco justru ribet sama komputer. Hehehe... Dasar kroco-kroco nggak berbakti.
Tapi secepet-cepet boss ngetik, tetep aja kita selesai semua hal yang harus diselesaikan hari ini pada pukul 17.58 WIB. Gile... 2 menit lagi udah jam 6 sore, dan kita baru beres. Hieh...
Padahal hari ini gue udah janji sama Ibu Gajah kalo gue mau nonton Konser Paduan Suara UnTar jam 7 malem.
Jadilah begitu kerjaan selesai, langsung aja ngacir dari Sentul buat balik ke Jakarta. Gila... Dari gerbang tol Sirkuit Sentul sampe ke gerbang tol Jakarta cuman 15 menit. Pokoknya udah gila-gilaan.
Udah gitu gue harus pulang dulu ke rumah buat setor muka ke nenek gue. Kasian juga dia, dari pagi nggak punya temen (kec pembantu), jadi ya gue bela-belain deh setor muka dulu.
Setelah itu baru ngacir lagi UnTar. Berangkat dari rumah jam 7 malem, padahal jadwalnya tuh konser dimulai jam 7! Haiya...
Untung aja acaranya telat mulai, baru mulai sekitar jam 1/2 8 malem. Jadi pas gue sampe di kampus UnTar jam 8, gue baru ketinggalan sekitar 3 lagu. Hieh... Baru kali ini gue nonton konser seperti di kejar-kejar setan.
Sayang, di konser kali ini nggak banyak temen-temen seangkatan yang bisa dateng. Dari semuanya, cuman ada Ibu Gajah, gue, Sumur, BulBul, J'son, Fannie, PeiPei, dan Wenny. Jadi dari se-geng cuman ada gue dan Ibu Gajah doang. Hieh...
Anjing Langit kecapekan kerja jadi staff redaksi koran bahasa Mandarin, Landak pulang kampung ke Cirebon, Ibu Dokter Paus jaga di rumah sakit, Sotong males dateng karena istri tercinta nggak bisa dateng, Laler dan Cucut sibuk kerja, Nyamuk nggak jelas kemana, Beruang Madu lagi nungguin mama-nya yang kena Typhus di RS, sedangkan Ibu Tai yang janjinya mau dateng (meskipun telat) ternyata justru sama sekali nggak dateng.
Hieh...
Emang udah pada sibuk ya sekarang? Hiks...
Sempet denger kalau Beruang Kutub dateng di konser itu, tapi entah kenapa kok gue nggak ketemu sama dia. Oh well...
Tentang konsernya sendiri... Well... Gue cuman punya dua kata, yaitu: rame dan mewah.
Ramenya emang nggak ngalahin ramenya konser2 penyanyi pro, tapi lumayan rame buat ukuran PaDus kampus. Ada kali sekitar 200 - 300 penonton. Tapi maklum juga sih, karena promotor acara konser ini kan Rektor UnTar, jadi pasti rekanan-rekanan dia pada dateng semua.
Mewah, karena ada sistem lighting dan sound system yang sangat bagus, sehingga bener-bener terasa seperti konser profesional, meskipun penyelenggaranya adalah kampus.
Tentang penyanyinya... yah... gimana ya... emang cirinya Astri (pelatih + conductor) membawakan lagu dengan lemah gemulai dan halus, jadi ya itulah cirinya. Lemah gemulai dan halus. Bahkan lagu-lagu yang banyak aksen seperti "For The Glory Of The Lord" jadi nggak begitu terasa aksennya, sedangkan lagu-lagu yang harusnya riang gembira seperti "Frosty The Snowman" jadi sedikit (cuma sedikit) mellow.
Tapi, begitu membawakan lagu-lagu mellow seperti "I'll Be Home For Christmas", wah... mellownya terasa banget. Hehehe...
Penyanyi-penyanyi cewek sama sekali nggak mengecewakan, meskipun gue harus mengakui kalau belum semua personel bisa berdiri sendiri, alias masih tergantung pada beberapa personel yang memang sudah berpengalaman.
Tapi untuk para cowok... terutama tenor... HIEH! Pada kemana tuh suara? Tenornya benar-benar terdengar sayup-sayup di kejauhan! Ketabrak alto aja sudah menghilang dari peredaran. Sementara bass-nya meskipun sudah cukup terdengar, tapi terkadang goyah. Jadinya gimana ya? Bass itu kan fondasi buat suara-suara lain, kalau dia goyang yang lain juga langsung gempa. Tapi untung saja goyangnya agak jarang, jadi yah bisa dibilang cuman fluke doang kok.
Tetep... para tenor... harus dibantai!!! Hieh... latihan keluarin suara dengan lebih ganas ya, para tenor.
Untuk para cowok, ada lagi kelemahannya. Yaitu nggak ada warna suara bariton. Jadi begitu di bagian yang mayoritas not tinggi, semua cowok suaranya masuk warna tenor (ringan banget), dan begitu masuk bagian yang mayoritas not rendah, langsung warna bass-nya gelap banget. Jadi nggak ada warna tengahnya. Yang ada cuman warna putih dan hitam, tanpa ada gradasi warna abu-abu. Terlalu kontras.
Tapi overall... dari skala 10, gue kasih nilai 7 deh. Dari nilai bulat 10 dikurangin 1 poin karena tenornya lemah, dikurangin 1 poin lagi karena bass-nya terkadang suka goyah, dan berkurang 1 poin lagi karena para perempuan-nya masih ada yang belum bisa independen.
Apart from that... konsernya bagus kok. Hehehe...
Ah iya, ada satu kritik lagi. Jubahnya harus putih ya? Duh... nggak pas aja ngeliatnya. Tapi nggak terlalu ngaruh kok, tenang aja. Hehehe...
Kelar konser, gue langsung pulang. Sampe rumah udah jam 10 malem, langsung makan malem dan sebelum tidur nulis entry ini dulu. Hieh... capek sodara-sodara.
Oh well... gue mau ke pulau kapuk dulu ye. Besok masih harus masuk kerja pagi-pagi lagi nih. Buh bye...
Saturday, December 06, 2008
Going To A Party, Stag

Lagipula dia juga bilangnya kalo dia ngundang banyak temen-temen seangkatan gue yang dia undang, jadi sekalian reuni lah judulnya.
Tapi apa daya, ternyata yang bisa dateng dari angkatan gue cuman gue doang. Temen se-geng gue pada nggak bisa dateng, karena yang satu baru operasi cesar anak ke-3 jadi dia belum bisa pergi, yang satu kerja sampe jam 4 di grogol padahal acaranya di kemayoran cuman sampe jam 5, yang satunya ada di Amrik, dan yang terakhir ikut ujian penerimaan CPNS Departemen Agama.
Sementara temen seangkatan gue yang lain pada nggak tahu tuh kemana semua. Grr...
Jadilah dari geng gue cuman gue sendiri yang dateng. Hiks...
Tapi nggak apa-apa juga sih. Gue orangnya juga nggak problem, mau dateng rame-rame nggak apa, mau dateng sendiri juga nggak apa-apa. Hehehe...
Yang bikin gue rada mikir adalah, di pesta itu gue nggak kenal siapa-siapa kecuali temen gue yang ngundang itu. Sementara dia, sebagai kakak pengantin, bertugas sebagai among tamu. Jadi nggak mungkin juga dia gue ajakin ngobrol.
Hieh...
Jadilah gue bener-bener Stag. Alias bener-bener sendirian. Dateng sendirian, sendirian selama pesta, dan pulang sendirian.
Satu-satunya kegiatan gue adalah membrutali makanan pesta. Hehehe... Lumayan...
Bahkan waktu foto bersama pun, gue ngedompleng aja sama adek-adek kelas gue (yang mana gue nggak kenal semua), dan langsung menggunakan jurus Ibu Gajah, yaitu Narsis Forever! Wakaka...
Dalam keadaan apapun, kalau di hadapan kamera harus tersenyum semanis-manisnya (meskipun hasilnya amit-amit).
Hmm... ini bener-bener pengalaman pertama buat gue, pergi ke pesta dalam keadaan Stag sepenuhnya. Selama pesta itu berlangsung, gue sama sekali nggak ngomong apapun, karena emang nggak punya pasangan buat ngomong. Gak lucu kan kalo gue ngomong sendiri. Apa kata dunia kalo burung hantu oversize seperti gue ngomong sendiri? Yang ada gue langsung dikirim ke penangkaran hewan langka kan repot jadinya.
Kalo lagi begini nih, baru kepikiran sisi negatif dari keadaan nggak punya pasangan, secara pasangan gue ada di ujung dunia yang berbeda dengan gue. Hiks... Jadi mellow...
Ahh... well... jalanin saja lah ya? Toh, paling nggak gue bisa puas makan makanan pesta (meskipun sempet keget juga menemukan gado-gado di sana). Hehehe...
Friday, November 28, 2008
So Many Things To Find Out, One Thing To Decide

Hhh... gue udah tahu itu sejak lama, tapi gue baru menemukan diri gue di posisi itu sekarang ini.
Yah, emang setiap orang harus mengambil keputusan tentang jalan mana yang akan dia tempuh. Jalan mana yang menurutnya cukup berharga untuk menjadi fokus dedikasi kehidupannya.
Kebanyakan perempuan akan menjadikan anak sebagai fokus kehidupan. Walaupun ada juga yang memilih hal lainnya, karena berbagai alasan. Mulai dari memang perempuan itu sejak awal berniat untuk memfokuskan kehidupannya pada sesuatu selain anak, atau memang dia tidak dikaruniai anak sehingga harus berfokus pada hal lain.
Sayangnya, laki-laki tidak seberuntung itu. Memang sih, banyak laki-laki yang akhirnya memilih keluarga sebagai fokus kehidupan, tapi sayangnya dedikasi seorang laki-laki kepada anak tidak akan pernah menyaingi dedikasi seorang perempuan kepada anaknya, karena laki-laki tidak perlu menghadapi pertempuran seperti halnya peremapuan untuk mendapatkan anak.
Karena itulah laki-laki biasanya memilih objek lain sebagai fokus kehidupan, dedikasi, mimpi, dan bahkan ambisinya. Umumnya yang akan dipilih adalah pekerjaan.
Yah... itu sih konsepnya. Konsepnya memang gampang, tapi pada kenyataannya agak sedikit lebih ruwet dari itu.
Pertanyaannya adalah, pekerjaan apa yang akan dipilih?
Haeh... Gue sekarang ada di titik itu. Sekarang gue udah mulai magang di kantor notaris, yang berarti gue menempuh jalan untuk menjadi notaris. Tapi pada saat yang sama, jalan lain masih saja menggoda gue untuk gue ambil.
Jalan menjadi jaksa sudah tertutup untuk gue, karena ada syarat ukuran badan yang nggak bisa gue penuhi. Selain itu, sebentar lagi awal desember, dan biasanya penerimaan hakim diadakan di bulan Desember. Lalu masih ada juga jalan sebagai advokat yang masih mungkin untuk gue tempuh. Dan tentu saja ada juga jalan sebagai pegawai kantor, baik swasta maupun negeri.
Pilihannya ada banyak, dan gue masih belum bisa memutuskan secara final akan memilih jalan yang mana.
Oh iya, ada juga sih jalan menjadi pengusaha, tapi sayangnya gue nggak tertarik ke arah itu meskipun hal itu juga nggak sepenuhnya gue coret sebagai kemungkinan.
Jujur aja, selama 2 minggu gue magang di kantor notaris, gue semakin tertarik dengan pekerjaan yang satu ini. Entah kenapa pekerjaan satu ini (meskipun maha ribet) sangat menarik untuk gue. Memang nggak banyak drama seperti pekerjaan hakim ataupun advokat, dan juga tidak semapan pekerjaan sebagai pegawai, tapi pekerjaan ini menawarkan hal yang tidak ditawarkan pekerjaan lainnya.
Hal itu adalah, sebagai seorang notaris, kita adalah boss diri kita sendiri. Advokat biasanya jarang berkerja sendiri dan bergabung dengan kantor hukum, di kantor itu biasanya seorang advokat harus tunduk pada sistem kerja kantor hukum itu. Apalagi menjadi hakim dan pegawai negeri pasti punya jadwal yang teratur.
Sebaliknya notaris tidak punya boss. Notaris adalah boss di kantornya sendiri. Kita bisa memilih sendiri kapan akan buka kantor, kapan ingin santai-santai, kapan berkerja dengan cepat, dan kapan akan menunda-nunda. Semua itu ada di tangan notarisnya sendiri. Itu sangat menarik buat gue. Hehehe...
Emang sih, notaris tetap perlu memiliki kedisiplinan yang baik untuk memuaskan klien. Tapi tidak ada yang akan memarahi seorang notaris kalau dia bermalas-malasan. Paling resikonya adalah ditinggalkan klien dan tidak mendapat duit. Huahahaha...
Tapi selain itu, entah kenapa pekerjaan yang satu ini benar-benar menarik buat gue. Ada tantangan-tantangan tersendiri yang baru gue sadari setelah gue mulai kerja di kantor notaris yang entah kenapa justru membuat gue semakin tertarik.
Hhh... gimana ya? Gue pengen memutuskan untuk benar-benar konsentrasi pada jalan seorang notaris, tapi setiap kali gue mau ngambil keputusan bahwa gue akan commit di jalan ini, godaan dari jalan yang lain selalu mengganggu.
Hiks... what should I do? Apa mendingan gue bertapa ke gunung buat minta wangsit ya? (hehehe... mulai ngaco)
Yah, sekarang ini gue memutuskan untuk menjalani jalan yang sudah gue jalani ini saja dulu. Jalan lainnya gue cuekin dulu sampai tiba saatnya gue bisa menemukan alasan bagus untuk ganti jalan. Tapi kalau tidak ada alasan, gue rasa jalan sebagai notaris cukup worthy untuk gue tempuh.
God bless aja lah.
Monday, November 24, 2008
Marketing Melalui Telepon
Your Personality Profile |
You are dependable, popular, and observant. Deep and thoughtful, you are prone to moodiness. In fact, your emotions tend to influence everything you do. You are unique, creative, and expressive. You don't mind waving your freak flag every once and a while. And lucky for you, most people find your weird ways charming! |
Wew... untung gue bukan anak sekolah lagi. Gak kebayang harus udah ada di sekolah jam setengah 7. Bisa-bisa gue jadi zombie gara-gara ngantuk setiap hari. Hehehe...
Tapi bukan itu yang pengen gue bahas dalam entry hari ini. Yang pengen gue bahas, sesuai dengan judul, adalah marketing yang dilakukan melalui telepon.
Well, gue nggak bisa bilang bahwa gue sepenuhnya keberatan dengan cara marketing seperti itu sih, tapi harus diakui kalau sistem itu bisa dibilang mengganggu orang yang ditelepon (dalam hal ini, gue).
Kejadiannya tadi siang sekitar jam 3. Gue n temen-temen gue lagi kelimpungan karena ternyata ada kesalahan dalam akta yang baru ditandatangani pagi hari tadi. Ada satu ayat yang missing in action.
Dalam akta notaris, kalau ada kesalahan satu huruf saja, kesalahan itu harus diperbaiki di hadapan orang-orang yang minta dibuatkan akta, dan orang-orang itu harus memberikan paraf di bagian yang diperbaiki itu. Kebayang dong hebohnya waktu kita nyadar bahwa ada satu ayat yang menghilang? Udah gitu orang yang berkepentingan sudah pulang pula. Akan amat sangat tidak lucu kalau orang itu disuruh balik lagi untuk paraf bagian yang diperbaiki.
Jadilah kita heboh berusaha memperbaiki akta itu tanpa merubah susunan akta secara keseluruhan dan juga tanpa merusak kekuatan legal akta itu. Haduh, udah persis seperti main puzzle yang super ribet!
Pas kita berempat lagi kebakaran jenggot gitu, tiba-tiba HP gue bunyi. Nomor yang muncul di layar HP adalah nomor yang tidak dikenal. Setelah gue angkat, terdengarlah suara seorang mbak yang bertanya:
"Halo, dengan saudara Dito?"
"Iya."
"Mas Dito, saya dari Fitness A, ingin memberi kabar gembira bahwa anda telah mendapatkan kartu anggota VIP di fitness kami."
DHHHUUUUUAAAAARRRRRR!!!!
Gila... kepala gue udah senut-senut gara-gara akta yang ribet kaya teka-teki, eh sekarang malah ini mbak satu malah nawarin kaya begituan. Kalo bukan gara-gara takut dibilang gak sopan, mungkin udah langsung gue putus tuh telpon.
Akhirnya terpaksalah gue ladenin tuh mbak,
"Memangnya tempat fitness-nya dimana ya Mbak?"
"Kami cabang Fitness A di daerah Gading Mas."
Gile aje... gue kerja di Sentul, rumah gue di Kebayoran, kalo sampe gue harus fitness di Gading, bisa garing krispy di jalan deh gue.
Setelah gue kasih tahu tempat kerja n tempat tinggal gue yang amat sangat jauh dari tempat fitness dia itu, sepertinya dia udah nggak napsu buat mendesak lebih jauh. Bagus lah.
Tapi dia belum mau menyudahi pembicaraan sampe gue merekomendasikan seseorang untuk ditawari membership di tempat fitness-nya.
Akhirnya dengan berat hati, dan dengan sangat TIDAK ikhlas, gue kasih dia nomor telepon Winy The Pooh. Hiks... maafkanlah ex-husband-mu ini wahai Winy. Tapi gue juga punya alasan sih merekomendasikan my loveliness ex-wife itu. Hehehe...
Alasan pertama, Winy The Pooh emang pernah ikut fitness. Siapa tahu aja dia emang punya niat untuk fitness lagi. Alasan kedua, kalaupun dia nggak mau ikut fitness lagi, gue yakin Winy The Pooh bisa lebih piawai untuk menolak tawaran si mbak itu. Wakakaka... (duh, gue beneran ex-husband yang tidak berbakti).
Hhh... gue maklum sih, si mbak itu memang hanya melakukan pekerjaannya, tapi aslinya gue punya 2 pertanyaan buat dia. Pertama, gue pengen tahu dari mana dia dapet nama n nomor telp gue. Bukan apa-apa sih, tapi penasaran aja gimana orang-orang telemarketing itu bisa dapet info-info nomor telepon calon customer.
Kedua, HARUS YA DIA TELPON DI JAM KERJA!!!!???
Menyebalkan... pas kita lagi kebakaran jenggot gitu malah ditelpon untuk membicarakan hal yang nggak penting. Menurut gue, mendingan para telemarketer itu harusnya dikasih jam kerja yang ada di luar jam kerja orang-orang lain. Kalo orang lain lagi kerja, mereka harusnya istirahat, jadi usaha mereka nggak ganggu kerjaan orang. Nah, pas orang lain lagi santai, mereka baru kerja dengan telpon-telpon kesana kemari. Kan enak tuh, orang lain nggak keganggu kerjaannya, sementara mereka juga jadi lebih kecil kemungkinan disembur sama orang yang ditelpon. Hehehe...
Tapi males juga sih ditelepon sama telemarketer pas lagi istirahat gitu...
Hmm... sepertinya memang lebih baik nggak usah ditelepon sama sekali aja kali ya? Hehehe...
Btw, ajaibnya, pas waktu lagi istirahat makan siang, gue n temen-temen ngobrolin tentang fitness-fitness dan juga para telemarketer-nya sambil makan siang. Eh, siangnya gue ditelepon sama telemarketer fitness. Panjang umur banget tuh telemarketer. Wakaka...
Tapi jadi kepikiran... semua temen-temen gue pasti mati ketawa kalo sampe gue ikut fitness kali ya? Huahaha... gue aja pengen ketawa, ngebayangin Burung Hantu Bengkak nan Oversize seperti gue main treadmill. Khikhikhi... udah persis seperti hamster kali ya?
Saturday, November 22, 2008
My First Week On The Notary's Job

Well, tuh foto cuman buat hiasan aja kok. Gue nggak bakal ngebahas sampai panjang lebar tentang foto itu. Gue kali ini pengen cerita tentang pengalaman minggu pertama gue sebagai asisten notaris.
Hhh... ternyata tugas notaris tuh banyaknya seanjing-anjing! (pardon my language). Beneran gue baru tahu kalau lo kepengen survive kerja notaris, lo harus menjadi makhluk persilangan antara gurita dan amuba. Gurita, karena kerjaan lo nggak bakal bisa kelar kalau tangan lo kurang dari 8, dan amuba karena untuk menghadapi klien dan personil instansi pemerintah yang beraneka ragam itu lo harus bisa menyesuaikan diri dengan baik.
Beneran dulu nggak kebayang kalau kesibukan notaris tuh persis seperti kesibukan para awak kapal laut pas kapalnya baru aja nabrak gunung es. (okay, sedikit hiperbola, tapi kurang lebih seperti itu lah)
Kita yang jadi asisten aja (ada 4 orang) udah mau mati dikejar-kejar dead line kerjaan yang amit-amit jabang bayi banyaknya, notarisnya sendiri sih udah pasti jauh lebih parah. Paling nggak kita sebagai asisten nggak perlu full melayani klien. Kita sih paling pol cuman follow up ke klien tentang pekerjaan yang sudah berjalan. Notaris-nya mah udah hampir KO gara-gara harus negosiasi sampe nggak tahu seperti apa, dan bahkan harus seperti setrikaan yang pergi bolak balik ke sana kemari.
Udah gitu para kliennya rada dodol juga. Mereka kira notaris tuh tukang sihir kali ya? Cuman bilang ALAKAZAM, trus tuh akta langsung jadi gitu? Gila aja. Akta kan harus diketik, diperiksa kelengkapan dokumennya, di-print, dijahit, dicatatkan, dll. Gak mungkin lah 2 jam udah jadi. Tapi mereka sepertinya kepengen kaya pergi ke warung, beli barang, trus pergi lagi. Ya nggak mungkin lah!
Apalagi kalo mereka kepengen bikin perusahaan. Aduh... baru denger aja udah mumet gue. Bukan apa-apa, tapi proses pendirian perusahaan kan nggak bisa cepet-cepet. Tapi tetep aja ada klien yang ngejar-ngejar mulu supaya perusahaannya cepetan selesai. Enak aja, pengen gue sambit pake printer tuh klien-klien seperti itu.
Gue baru seminggu nih kerja di kantor notaris, tapi selama seminggu itu ada dua pikiran yang selalu mengganggu gue. Yang pertama, GUE SUKA KERJAAN NOTARIS! Wakaka... emang sih kayanya capek banget, hectic banget, kacau beliau nggak karuan, tapi ternyata setelah dijalanin kok sepertinya gue suka. Hehehe... Apalagi buat orang yang punya kecenderungan OCD seperti gue, wah kerjaan notaris mah sangat sangat sangat self fulfiling. Banyak banget kerjaan yang sifatnya printil-printil kecil-kecil n harus dilakukan berulang-ulang. Pokoknya kerjaan idaman buat orang-orang OCD.
Mulai dari nge-cap sekian banyak kertas, ngegaris-garisin akta, meriksain ketikan akta di komputer, memastikan ketikan isian blanko akta supaya pas di tempatnya masing-masing, dll. Hieh... baru mikirinnya aja udah bikin tangan gue gatel. Hehehe... (maklum, OCD gue lagi kumat dengan suksesnya)
Tapi sayangnya pikiran gue yang kedua nggak se-positif pikiran gue yang pertama. Pikiran yang kedua itu adalah tentang BETAPA HECTIC-nya KERJAAN NOTARIS! Gila, ngeliatin si ibu notaris wira-wiri, telpon sana telpon sini, bolak-balik kemana-mana, rapat dimana-mana, beresin berbagai macam dokumen yang jumlahnya sebejibun, dan pada saat yang sama juga harus memastikan bahwa kantor dapat berjalan dengan baik. Hhh... sanggup nggak ya gue jadi seperti itu?
Kerja di kantor orang lain aja capeknya setengah mati, ini kerja di kantor sendiri dimana kita menjadi pekerja sekaligus administrator dan management kantor, semua peran itu diborong jadi satu, capeknya seperti apa ya?
Emang sih, segala sesuatu kalau belum dijalani jadi terasa lebih mengerikan daripada sudah dijalani, tapi tetep aja, namanya manusia kan nggak bisa lari dari imajinasi sendiri. Hhh...
Oh well, kita lihat saja lah gimana ke depannya nanti. Apakah gue bener-bener bisa menjadi notaris yang baik, ataukah jalan hidup gue akan berbelok menuju arah yang sama sekali berbeda. Sekarang, hanya Tuhan yang tahu (halah halah... kumat deh sok puitisnya, hehehe)
Sunday, November 16, 2008
Things I Did These Past Few Days
Your Kissing Purity Score: 77% Pure |
You've hardly ever been kissed But the kisses you've given are very missed |
Yah, maklumlah. Namanya juga lagi keenakan main PS, jadinya internet hampir terbengkalai. Paling sekali-sekali istirahat main, trus nonton Youtube. Btw, gue lagi berusaha menyelesaikan nonton sitkom 'Yes, Minister' dan 'Yes, Prime Minister'. Cuman tinggal 5 seri lagi nih.
Nonton sitkom itu bikim gue nyadar kalau gue selama ini belajar American English, sedangkan untuk British English hampir nggak pernah gue sentuh. Begitu nonton sitkom itu, gue cuman bisa bengong ngedengerin logat British mereka yang rada ajaib di telinga gue yang terbiasa mendengar logat Amerika.
Kesannya gue tiap hari cuman main PS n nonton Youtube ya? Hehehe... EMANG! Wakaka...
Maklum, pengangguran. Jadilah kegiatan gue ya cuman itu aja. Sengaja, biar nggak ngabisin duit dengan nongkrong-nongkrong di mall. Hehehe...
Tapi ya nggak setiap hari juga sih gue nganggur gitu. Gila aja, kesannya gue udah give up on life kalo gue cuman main n nonton tanpa berusaha cari kegiatan yang berarti.
So, selama gue nggak nulis entry blog, gue udah 2 kali ikut bursa kerja. Yang pertama tanggal 1 November, di kampus UI Depok. Hieh... panas banget men di sana. Selain itu juga full house pula. Terus yang kedua pada hari Jum'at 7 November di Kartini Expo Center. Yang kedua ini juga rame sih, tapi paling nggak ruangannya full AC, jadi nggak terlalu tersiksa juga selama harus antri dan desak-desakan.
Oh iya, bursa kerja yang kedua itu diadakan oleh JobsDB.com, jadi tentu saja penyelenggaraannya seluruhnya computerized. Kita cuman masukin CV lewat JobsDB, trus pada hari H kita dikasih bar-code yang ditempel di tiket masuk punya kita, dan setiap kita melihat perusahaan yang menarik n kita ingin mencoba melamar, perusahaan itu tinggal memindai bar-code yang ada di tiket kita itu, n CV kita sudah langsung masuk ke data base mereka.
Karena ada fasilitas seperti itu, berburu kerjaan di acara itu jadi lebih enjoyable n praktis, karena kita nggak usah bawa hard-copy CV n copy ijazah kita. Hehehe...
Selain cari kerja, gue juga sejak tanggal 6 November kemarin masuk menjadi anggota Seswara Opera Company yang dipimpin oleh tante Katherine. Hhh... sukur banget tuh gue bisa masuk di situ, udah gitu gue dikasih bagian sebagai tenor pula. It's a great thing, tapi yang paling great dari masuknya gue ke situ adalah, gue jadi bisa mendengarkan para penyanyi-penyanyi PaDus yang sudah pada hebat banget bernyanyi tepat di samping gue.
Beneran hebat mereka. Suara mereka menggelegar kemana-mana tanpa ada nuansa berteriak. Pokoknya gabung di kelompok itu bikin gue merasa seperti menonton opera setiap minggu... gratis! Wakaka...
Tapi sedikit banyak gue ngerasa nggak punya harga diri di hadapan mereka. Kenapa? Karena gue cuman modal berani nyanyi kenceng, sementara yang lainnya selain bersuara mantabh, tehnik vokal yang hebat, bisa membaca not balok, dan sense of rythm yang precise, mereka semua bisa main piano. Sementara gue? Seperti gue bilang, gue cuman bisa nyanyi doang, nggak pernah les vokal, nggak bisa baca not balok, sense of rythm yang menyamai metronome rusak, dan gue sama sekali nggak bisa main alat musik.
Pokoknya di situ gue bener-bener jadi anak bawang. Tapi untungnya selama ini mereka semua masih baik sama gue sih, jadi gue nggak bisa mengeluh. Hehehe...
Oh iya, selain itu mulai senin besok gue akan mulai berkerja di kantor notaris yang berada di Sentul. Tempatnya emang jauh dari rumah gue, jadi pasti capek banget menjalaninya, tapi paling nggak gue punya kerjaan lah. Siapa tahu ntar sambil kerja gue bisa cari tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah. Tapi untuk saat ini, paling nggak gue kerja dulu.
So... begitulah rangkuman singkat tentang apa yang gue lakukan selama 3 minggu kemarin gue nggak nulis blog. Oh iya, selain apa yang udah gue tulis di atas, gue juga ikut nonton Musicademia 2008 di Kartini Expo Center (tempat yang sama dengan tempat gue ikut bursa kerja), dan gue juga datang ke beberapa acara perkawinan teman-teman gue yang entah kenapa di bulan November ini jumlah pesta perkawinannya sangat banyak sekali.
Dan terakhir, tadi siang gue ikut workshop kilat di kampus tentang Penanaman Modal Asing. Well, namanya sih workshop, tapi acaranya lebih seperti kuliah biasa. Lagipula workshop itu sepertinya hanya jadi acara sampingan, karena acara aslinya adalah reuni sama teman-teman notariat. Daripada reuni cuman buat seneng2 doang, akhirnya dibuatlah acara workshop itu, jadi acara reuni bisa lebih ada gunanya.
Hmm... ternyata gue nggak sepenuhnya nganggur juga ya? Hehehe... Well, gue cuman berharap for the best aja lah untuk saat ini. Semoga gue bisa menjalani kesibukan-kesibukan gue dengan baik.
Amen!
