Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Sunday, November 14, 2010

A New Start (?)






Your Summer Ride is a Beetle Convertible


Fun, funky, and a little bit euro.

You love your summers to be full of style and sun!


Ya ya ya, gue tahu kalau gue sudah berbulan-bulan tidak menulis blog, dan gue tidak punya alasan baik untuk hal itu. Really sorry about that. :-p

Jadi, sudah berapa lama nih? Terakhir menulis post di bulan Februari kemarin dan sekarang sudah bulan November. Berarti 9 bulan lamanya gue sudah tidak menulis post di blog. Ckckck... bener-bener lama ya. Kalau gue cewek pasti udah ada yang nanyain apa kira-kira gue hamil kok 9 bulan nggak ada kabarnya. Untung aja gue cowok. Hahaha...

Nah, mari kita lakukan up-date tentang diri gue sejak bulan Februari itu. Pertama, gue sudah dapat SK sebagai notaris (yay!) dan bulan April kemarin gue juga sudah diambil sumpahnya sebagai Notaris di kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dan, ya, sejak bulan itu gue sudah pasang plang notaris di Gresik. Sayangnya plang itu baru dipasang di depan sebuah gedung pinjaman teman nyokap gue. Hiks... jadi intinya belum bisa dibilang kantor permanen lah. Oh well...

Lalu apa yang gue lakukan antara bulan April sampai sekarang ini, yang mana sudah 5 bulan lamanya? Well... nothing. :-D

Yup, gue tidak melakukan apapun, atau paling tidak gue tidak melakukan sesuatu yang benar-benar konstruktif.

Sejak bulan April itu gue konsentrasi dengan dengan proses penjualan rumah keluarga gue di Jakarta, yang mana prosesnya memakan waktu sampai bulan Agustus baru bisa selesai.

Di antara waktu-waktu itu gue hanya bisa mondar-mandir Jakarta-Gresik demi memenuhi syarat "tidak boleh meninggalkan wilayah tugas selama lebih dari 7 hari berturut-turut". Haeh... Capek men jadi setrikaan mondar-mandir begitu. Tapi, namanya juga bagian dari resiko pekerjaan, mau diapakan lagi?

Lalu setelah proses jual beli rumah selesai di bulan Agustus itu, langkah selanjutnya adalah proses pindahan permanen dari Jakarta ke Surabaya. Ini juga perjuangan panjang yang jujur saja sampai sekarang belum benar-benar selesai (contohnya, KTP gue sekarang masih KTP Jakarta).

Well, proses pindahan itu sendiri makan waktu sekitar 2 bulan dan pada tanggal 7 Oktober 2010 secara resmi gue pindah dari Jakarta ke Surabaya. Yeah! I'm finally back to Surabaya baby!

Jadi, secara de facto gue sekarang adalah warga Surabaya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Hehehe... Secara de jure gue masih warga Jakarta karena KTP gue masih KTP Jakarta dan gue masih belum tahu kapan bisa sempat ke Jakarta untuk mengurus perpindahan KTP itu. (kalau mengingat sifat gue, sepertinya kalau nggak kepepet banget mungkin nggak bakal gue pindah tuh KTP, hahaha...)

Untuk kalian yang tidak familier dengan geografi Provinsi Jawa Timur mungkin bertanya-tanya kenapa kok gue malah tinggal di Surabaya padahal gue adalah notaris Kabupaten Gresik. Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Kabupaten Gresik terletak pas di sebelah Barat Kota Surabaya. Jadi kalau kalian sedang melihat peta Provinsi Jawa Timur, dan kalian menemukan Kota Surabaya di peta itu, silahkan geser mata kalian sedikiiitt ke kiri, dan tadaaa... di situlah letaknya Kabupaten Gresik.

Untuk kalian yang biasa di Jakarta, bayangkan letak Kabupaten Tangerang dari arah Kota Jakarta. Ya, seperti itulah letak Kabupaten Gresik terhadap Kota Surabaya. Terlebih lagi, sejarahnya bilang kalau Kabupaten Gresik itu dulunya disebut sebagai Kabupaten Surabaya. Kemudian antara Kabupaten dan Kota Surabaya itu mengalami pemekaran, dan keduanya memisahkan diri. Supaya tidak membingungkan (mungkin, gue nggak tahu pasti sebabnya apa), Kabupaten Surabaya merubah namanya menjadi Kabupaten Gresik.

Nah untuk waktu sekarang ini gue sedang berkonsentrasi mencari bangunan (gue nggak tahu bakalan ruko, atau kios, atau apaan) yang bisa gue sewa dan gue jadikan kantor permanen gue. Yah, kepengennya sih dapat tempat di pinggir jalan besar. Bangunannya sendiri tidak perlu besar atau luas, yang penting cukup untuk dipakai kerja, tapi yang lebih penting adalah letaknya harus di pinggir jalan besar. Alasannya supaya gue bisa 'nampang' di hadapan khalayak ramai di Gresik.

Alasan utamanya, gue adalah notaris baru. Itu saja sudah merupakan alasan utama kenapa gue harus nampang di pinggir jalan besar. Gue harus meyakinkan bahwa sebanyak mungkin orang harus bisa melihat plang nama gue, dan bisa melihat kantor gue. It's the only way untuk mendapatkan klien karena notaris tidak diperbolehkan mempromosikan diri dengan cara lainnya.

Alasan yang kedua adalah, gue bisa dibilang sebagai orang baru di Gresik dan bahkan di Jawa Timur secara keseluruhan. Di sini banyak notaris-notaris baru lainnya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa Timur asli, atau lulusan Universitas Airlangga, atau sekedar sudah lama tinggal di Gresik, jadi mereka kemungkinan sudah punya kenalan-kenalan di sini yang bisa membantu mereka 'menebar nama'. Sementara gue yang besar dan sekolah di Jakarta adalah seorang newbie di sini dan baru akan memulai membangun jaringan dengan orang-orang di sini.

Yah, dengan kata lain, masih ada BANYAK hal yang harus gue lakukan di sini. Tapi untuk sementara ini, gue harus berkonsentrasi mendapatkan tempat yang bisa gue sewa untuk menjadi kantor gue.

Nah, lalu, ada satu hal lagi yang sebenarnya membuat gue akhirnya memutuskan untuk menulis post kali ini. Hal itu adalah, adik gue punya band. Yeay!

Band dia bernama Flazlite. Jujur aja, gue belum tahu banyak tentang band dia itu, tapi kemarin malam dia ngasih tahu gue tentang account band dia itu di Myspace, dan di account tersebut Flazlite memposting lagu buatan mereka sendiri, jadi buat yang anda-anda sekalian yang pengen iseng-iseng mendengarkan lagunya silahkan langsung klik di bawah ini:

FLAZLITE BAND ON MYSPACE

Judul lagu mereka adalah "Meskipun Waktu", dan sepertinya termasuk jenis lagu ballad. Gue nggak tahu memang mereka aslinya bermaksud membuat lagu itu jadi lagu ballad atau tidak, tapi yang gue tangkep setelah mendengarkan lagu itu adalah, ya, itu adalah sebuah lagu ballad.

Adek gue adalah vokalisnya (namanya Heru) jadi, iya, itu adalah suara dia. Bagus ya? (bertanya begitu sambil tersenyum sadis dan memegang pisau dengan aura mengancam)

Jadi silahkan didengarkan, dan tinggalkan komentar di account mereka. Dengar-dengar mereka masih punya lagu lainnya, dan gue pengen cepetan dengerin lagu mereka yang lain itu. Hehehe...

Terakhir, gue berencana ingin lebih aktif lagi menulis post di blog ini, terutama tentang petualangan-petualangan gue di Surabaya, Gresik, dan bahkan mungkin di wilayah-wilayah lainnya di Jawa Timur ini. Doakan saya! :-D

Saturday, February 06, 2010

Heidelberg, 4 Februari 2010


"Selamat ya, akhirnya SK kamu sudah keluar."

"Thanks."

"Besok kamu ulang tahun kan? Aku ucapin selamat dari sekarang saja ya, aku kuatirnya besok aku tidak sempat telepon."

"Terima kasih Na."

...

"Kamu sepertinya lagi banyak pikiran ya?"

"Kamu tahu?"

"Dari tadi kamu cuma jawab omonganku seadanya. Kamu cuma seperti itu kalau sedang banyak pikiran."

"Hmm..."

"Kamu sudah mulai capek lagi ya?"

"... Iya."

"Mau sampai kapan?"

"Apanya?"

"Kamu seperti ini mau sampai kapan? Dari dulu kamu selalu berusaha melakukan apa yang orang minta dari kamu, padahal kamu sendiri tahu kalau kamu capek melakukan itu semua."

"Sayangnya aku memang seperti ini."

"Aku tahu mein leibe, aku tahu. Tapi kuatir kamu tidak akan kuat kalau seperti ini terus."

"Aku juga tahu itu kok."

"Sayangnya aku juga tidak bisa meminta kamu berhenti bersikap seperti ini."

"Kenapa begitu?"

"Karena hubungan kita bisa bertahan sampai sekarang karena sifatmu yang seperti itu."

"... Iya ya?"

"Iya mein liebe, makanya aku juga berusaha menjalani apa yang kita punya sekarang ini karena kamu yang seperti itu."

"Terima kasih Na."

"Tapi..."

"Kenapa Na?"

"Aku ingin kamu bisa santai kalau kepada aku. Terkadang aku ingin kamu bersikap egois terhadap aku."

...

"Tok? Kamu denger aku kan?"

"Iya aku dengar."

"Kamu ngerti maksud aku kan?"

"Aku ngerti. Tapi sebenarnya aku juga sudah bersikap egois terhadap kamu, baik kamu sadar atau tidak."

"Aku sadar kok Tok."

"Iyakah?"

"Kamu membicarakan tentang penundaan-penundaan selama ini kan?"

"Iya."

"Aku sudah bersama kamu hampir 6 tahun Tok. Meskipun 4 tahun dari 6 tahun itu kita jalani dengan saling berjauhan, tapi aku ngerti garis besar apa yang kamu inginkan. Dan aku rela nunggu sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau sampai puas."

...

"Mein liebe, kamu denger aku kan?"

"Iya, aku denger kok."

"Kenapa kamu kedengaran ragu begitu?"

"Aku takut kalau aku tidak akan bisa puas."

"Nggak apa-apa."

"Bener?"

"Bener. Kamu sudah mau mengikuti keegoisanku selama ini. Aku rasa hanya akan adil kalau aku juga melakukan yang sama untuk kamu."

"Terima kasih Na."

"Nggak apa-apa mein liebe. Lagipula kita masih punya perjanjian kita kan?"

"Selalu. Perjanjian itu tidak akan pernah aku cabut."

" Dengan perjanjian itu, paling tidak kamu bisa fair terhadap aku."

"..."

"Selain itu, mein liebe, kita sudah punya kenangan akan malam itu kan?"

"..."

"Tok, kamu masih disana?"

"Iya, kita akan selalu punya kenangan tentang malam itu."

...

"Ya sudah, kita sudahan dulu ya mein liebe. Besok aku kerja lagi, disini sudah hampir setengah 11."

"Okay."

"Inget, jangan terlalu maksain kalau kamu sudah capek."

"Okay."

"Tschüss. Liebe dich."

*click*

"I love you too."

.........

Sunday, September 06, 2009

Last Night Together


HALOOOO!!! Hahaha... gila, sudah hampir 5 bulan gue nggak nulis blog. Hieh... bener-bener setahun ini sangat tidak memberi kesempatan untuk menulis dengan baik.

Well, tentang foto di atas, sama sekali nggak ada hubungannya sama posting kali ini. Wakaka... Foto itu adalah foto waktu perayaan (very) belated birthday kita ber-4 yang terdiri dari Ibu Tai, Laler Kepo, Lina Welly, n yours truly, hehehe... Kapan ya acara itu? Lupa gue. Wakaka...

Nah sekarang marilah kita masuk ke acara inti. (halah)

Kalau besok semuanya lancar dan tanpa halangan, malam ini adalah malam terakhir gue bersama dengan 2 buah gigi gue karena besok mereka berdua akan dicabut. Hiks...

Yang pertama adalah my 1st upper left molar (geraham kiri atas pertama), dan yang kedua adalah my 3rd lower left molar (geraham kiri bawah ketiga).

Mengenai yang pertama, dia harus dicabut karena dia memang sudah pecah sejak gue SMP dan saat ini yang tertinggal hanyalah akarnya saja. Hieh... Mengapa dia bisa pecah? Well, itu adalah kenangan pertama dan terakhir gue (sampai sejauh ini) berantem sampe tonjok-tonjokan dengan seseorang. Mwahaha... Very-very out of character for me right? Berantem sampe salah satu gigi bisa pecah. Hieh...

Sedangkan yang kedua, yaitu geraham kiri bawah ketiga, yang biasanya dikenal sebagai salah satu dari wisdom teeth, harus dicabut karena sudah bolong dengan sangat parahnya. Hehehe... Tapi emang agak lumrah sih gigi yang satu ini untuk rusak sebelum waktunya karena letaknya yang ada di belakang sekali, sehingga memang sulit untuk dibersihkan dengan baik.

Oh well, mungkin memang sudah waktunya bagi keduanya untuk pergi. Hiks... Sedih juga rasanya bepisah dengan dua buah gigi yang sudah setia menemani gue selama entah berapa belas tahun ini.

Tapi dibandingkan rasa sedih, ada satu rasa lainnya yang lebih terasa sama gue pada saat ini yaitu rasa TAKUUUTT!!! Huweee... Gile men, dicabut satu gigi aja udah bikin keringet dingin, gimana harus dicabut 2? Eeep...

Udah gitu si geraham kiri bawah ketiga itu bukan sekedar dicabut tapi harus di'operasi' kecil.

Aarrrgghhh... mendengar kata operasi aja udah bikin merinding. Membayangkan gusi gue akan disuntik bius, lalu disayat supaya bisa dicabut giginya, dan habis itu dijahit lagi. Weee... Pingsan deh gue. (apa emang mendingan pingsan aja kali ya besok, jadi kan rasanya lagi dibius total, wakaka...)

Well, pokoknya besok gue akan duduk di kursi dokter gigi berwarna hijau itu dan membiarkan seseorang mengobok-obok mulut gue untuk mencabut gigi gue. Hieh... Things I do to avoid further pains...

Entah kenapa, waktu disaranin sama dokter giginya supaya gigi gue dicabut, gue langsung oke aja tanpa mikir. Mungkin sedikit banyak alam bawah sadar gue tahu bahwa ini adalah keputusan yang paling bijaksana dibandingkan kemungkinan menghadapi sakit gigi di masa depan. Hhh...

Yah, gue berharap besok bisa berjalan dengan lancar lah semuanya.

...

......

.........

OMG!!! What have I done!!! But it's too late to back up now. I must go forward! Merdeka!

Sunday, March 15, 2009

Reuni


Reuni... Hmm... entah kenapa, gue nggak pernah bisa ngerasa sreg dengan kata itu.

Orang-orang lain sepertinya bersemangat kalau mendengar bahwa mereka diundang ke sebuah reuni, karena mereka jadi merasa masih diingat oleh teman-teman lamanya. Sementara gue... yah, gue juga merasa senang sih diundang ke sebuah reuni. Siapa sih yang nggak senang ketemu dengan teman-teman lama? Tapi sayangnya pada saat yang sama gue juga merasa jengah dengan kata 'reuni' tersebut.

Mendengar kata itu justru mengingatkan gue pada kenyataan bahwa teman-teman yang dulu bisa kita temui setiap hari, sekarang hampir tidak pernah kita temui lagi. Jangankan untuk bertemu, sekedar untuk menelepon dan mengobrol saja sudah sangat sulit untuk menyisihkan waktunya.

Sedikit banyak jadi agak menyesal, mengapa dulu waktu kita semua masih bersama, kita tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk saling berbagi. Sekarang, waktu kebersamaan itu sudah lewat. Sekarang semuanya sudah menjalani jalan hidupnya masing-masing. Ada yang berkerja di luar negeri, ada yang sibuk dengan keluarga, ada yang melanjutkan pendidikan, dan bahkan ada yang sudah pergi selamanya.

Dulu segala berita baik dan berita duka dapat kita bagi dengan mudahnya, sekarang seolah-olah tiada kalimat selain "apa kabar?" yang pantas terucap sebagai basa-basi yang sudah pasti dijawab dengan "baik-baik saja".

Itulah kenapa gue selalu mengernyit setiap mendengar kata 'reuni'. Mengapa mereka menggunakan kata itu. Dengan memasang label itu, seolah-olah kita semua mengakui bahwa kita semua sudah saling berjauhan. Apakah rasa sedih menjalani perpisahan belum cukup berat sehingga harus diberi label 'reuni' untuk membuat perpisahan kita begitu final?

Hhh...

Gue mengangkat tema ini karena tanggal 13 Maret kemarin dan juga hari ini gue menghadiri acara reuni. Tanggal 13 adalah reuni dengan teman-teman notariat angkatan 2006, sedangkan hari ini adalah reuni teman-teman S1 hukum UnTar angkatan 2001.

Satu reuni saja sudah membuat miris, kali ini gue harus menghadapi 2 reuni dalam waktu yang begitu berdekatan.

Reuni notariat ternyata cukup ramai karena dihadiri oleh hampir 1/2 angkatan gue. Selain itu reuni ini juga dihadiri oleh 2 orang dosen kita selama di notariat. Paling tidak dalam reuni ini kita lebih berkonsentrasi dalam kegiatan berbagi informasi tentang dunia notaris, jadi gue nggak terlalu tenggelam dalam suasana reuni karena berkonsentrasi mendengarkan informasi yang diedarkan.

Tetapi reuni S1 FH UnTar hari ini memang benar-benar reuni. Walaupun hanya dihadiri oleh 12 orang karena koordinasi yang tidak cukup baik, paling tidak reuni ini bisa mengingatkan kita yang hadir pada kenyataan bahwa hampir 8 tahun yang lalu kita semua disatukan oleh UnTar, dan selama 4 tahun selanjutnya kita menghabiskan waktu bersama-sama untuk mengejar gelar SH.

Namun reuni FH UnTar ini benar-benar membuat gue sadar bahwa sudah begitu banyak hal berubah dari antara teman-teman gue.

Berbagi tawa dan sekilas berita di antara kami, tapi tidak lama sudah harus berpisah lagi untuk menjalani perbedaan kami masing-masing.

Masa lalu memang selalu indah untuk diingat-ingat, namun rasa sedih ketika harus kembali ke masa kini untuk menyongsong masa depan... rasanya seperti dibangunkan dengan kasar dari mimpi yang sangat indah.

Hahaha... kelihatannya gue sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik. Hanya hal kecil seperti reuni saja bisa membuat gue melankolis seperti ini.

Paling tidak ada satu hal yang membuat gue bisa bertahan. Gue masih punya sahabat-sahabat yang walaupun sudah tidak bertemu dan berkomunikasi, namun saat bersua tidak akan bertukar "apa kabar" kosong dan basa-basi. "Apa kabar" yang terlontar di antara sahabat adalah "apa kabar" yang tulus, menyuarkan bahwa kami memang masih peduli satu sama lain.

Gue berharap itu tidak akan pernah berubah...

Sunday, February 01, 2009

Heavens... Not A(nother) Wife!


Hhh... sudah tanggal 1 bulan Februari. Berarti entry gue di bulan Januari cuma 1 entry ya?

Bener-bener memang sudah tidak punya waktu luang lagi sepertinya gue ini. Kalau ada waktu, rasanya lebih baik dipakai untuk tidur.

Para istri-istri gue (PS2, PaDus, dan Internet) sudah pada jerit-jerit pada minta diperhatikan nih. Tapi bagaimana ya? Gue lagi terpikat ke lain hati nih...

Awalnya sih cuman fling-fling doang, tapi lama-lama jadi infatuation dan sekarang gue udah bener-bener terpikat.

Sepertinya gue bener-bener bakal nambah istri nih...

Istri yang bernama PEKERJAAN! Mwahahaha...

Gila, gue ketagihan men sama kerjaan notaris! Gila... kok bisa ya? Kadang kalo udah keenakan kerja, waktu rasanya terbang gitu aja. Makan siang, smoking, minum, dll, semuanya lewat. Beneran seperti lagi main PS2, rasanya males banget kerja di-pause dulu terus baru dilanjutin lagi selesai makan siang. Rasanya pengen dibablasin aja semuanya.

Gimana kalo gue sendiri yang jadi notaris ya? Kayanya rumah gue bisa pindah ke kantor nih. Hehehe...

Parahnya lagi, nih istri baru perlahan-lahan mulai naik pangkat nih. Dulu kan dia jadi istri ke-4 (Iye... Edna gue jadiin istri ke-5, hehehe... turun pangkat deh dia), tapi lama-lama nih istri ke-4 mulai bikin gue nggak sempet on-line, dengan kata lain dia menggeser si istri ke-3 gue.

Trus karena lembur-lembur, gue jadi nggak sempet latihan padus, jadilah PEKERJAAN menggeser si istri ke-2.

Terakhir, kamaren gue mau main PS2 gue tersayang (a.k.a istri pertama gue), gue baru nyadar kalo di atas controler PS2 gue terasa ada lapisan debu halus. Itu artinya saking gue keenakan kerja, gue nggak pernah lagi main PS2 dan jadilah tuh debu perlahan-lahan menumpuk di atas controler gue.

NNNNOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!

Gila aja, gue baru mulai ngerasaain kerja notaris bukan sebagai notaris aja udah begini, gimana kalo gue udah jadi notarisnya? Mati gue!!! Masa gue BENERAN kawin sama pekerjaan? Hieh...

Gak kebayang ntar kehidupan sosial gue juga semata-mata demi mendukung pekerjaan, seperti ngelobi-lobi, rapat2 sama klien di cafe2, semua acara nongkrong dilakukan demi pekerjaan. OMG!!! TIDAAAAAKKK!!!

Hieh...

Tapi meskipun sibuk gue masih sempet menemukan sebuah rhyme yang dipakai untuk make a wish kalau kita melihat bintang. Bunyinya seperti ini:

Star light, star bright,
First star I see tonight
I wish I may, I wish I might
Have this wish I wish tonight.

Sangat sederhana, tapi gue suka banget dengernya. Well, paling nggak lebih bagus daripada:

Hickory dickory dock
A mouse ran up the clock
The clock strike one
The mouse ran down
Hickory dickory dock

Hieh... rhyme yang gak jelas maksudnya apa. Hehehe...

Thursday, December 18, 2008

Fidelis


Hahhhhh... seminggu ini banyak banget kegiatan. Capek banget rasanya. Hiks...

Selain capek juga ada beberapa kegiatan lama gue yang jadi agak terbengkalai. Contohnya, sekarang gue jadi nggak tersedia buat ngobrol-ngobrol di tengah malem karena gue sering tidur cepet demi supaya paginya gue bisa bangun.

Hieh... kangen banget sama kehidupan malam (halah... kesannya sering pergi ke klub2 gitu, padahal sih cuman on-line atau nonton TV doang, wakaka...)

Tapi beneran deh, nggak tahu kenapa tapi udah hampir dua bulan ini kok sibuk melulu ya? Rasanya waktu jadi padat kegiatan, padahal gue kan kepinginnya bisa santai-santai. Hehehe...

Yah, nggak apa-apa juga sih. Malah enak juga kok bisa sibuk, daripada cuman bengong doang di rumah.

Gue cuman bingung aja, kok bisa kegiatan sekalinya muncul lansung seabrek-abrek. Untung aja dari semua itu nggak ada yang tumpang tindih.

Kerjaan di kantor notaris juga rasanya bener-bener seperti main game. Kenapa gue bilang gitu? Karena seperti ada level-levelnya gitu. Waktu baru masuk, kerjaan masih rada sedikit n gampang-gampang. Pritil-pritil gitu lah.

Begitu lewat 2 minggu, mulai deh bletok-bletoknya muncul. Kasus yang ribet-ribet entah gimana mulai berdatangan.

Eh, sekarang... udah naik level lagi. Udah nggak cuman kasusnya yang ribet, tapi cara-cara pemecahan kasusnya juga udah mulai beraneka ragam, cara, dan warna (lho?)

Tapi beneran, nggak ada rasa boring, karena tiap hari kerjaan beda-beda melulu. Beneran serasa nonton film seri, tiap seri ada cerita, problem n pemecahan sendiri-sendiri yang heboh-heboh nggak jelas gitu.

Well, enough about work. Sekarang gue pengen bahas sesuatu yang berhubungan dengan judul posting ini.

Fidelis...

Gue nggak ngomongin tentang nama lho. Emang sih ada beberapa orang yang bernama Fidelis, tapi gue nggak berencana buat ngomongin mereka di dalam posting ini.

Yang pengen gue bahas adalah arti kata itu.

Secara harfiah, arti fidelis hampir sama seperti arti "Felisitas", yaitu the faithful (orang yang percaya). Tapi disamping itu, terkadang fidelis juga bisa diartikan sebagai the trustworthy (orang yang dipercaya--untuk memegang rahasia).

Gue lumayan bersyukur karena sejauh ini gue sudah beberapa kali memegang peranan sebagai fidelis. Yaitu memegang rahasia seseorang untuk tidak akan pernah memberitahukan rahasia itu kepada orang lain lagi--selamanya.

Selain itu seorang fidelis juga diharapkan untuk tidak menghakimi orang yang memiliki rahasia itu, walau apapun juga jenis rahasia itu.

Yah, mungkin supaya gampangnya, bayangkan saja pengakuan dosa kepada pastur, tapi tidak pakai ada peniten-nya. Hehehe...

Gue nggak ngomongin kepercayaan dalam konteks profesionalisme lho ya. Kalo gue harus memegang rahasia karena pekerjaan, itu sih lain ceritanya. Karena memang ada beberapa pekerjaan dimana rahasia tidak boleh diumbar sembarangan, seperti dokter, pengacara, psikolog, n tentu saja notaris.

Kalau kepercayaan dalam konteks profesionalisme itu dilanggar, maka sanksinya jelas tidak mungkin hanya dimarahi orang, melainkan sudah bisa sampai dituntut pidana.

Tapi kepercayaan dalam konteks privat, seperti memegang rahasia teman, tidak punya sanksi yang seberat itu kalau dilanggar. Makanya kepercayaan yang diterima seorang fidelis semestinya adalah kepercayaan yang cukup kuat, karena kepercayaan itu tidak didukung oleh dasar atau sanksi yang kuat.

Yang repot adalah, menjadi seorang fidelis mempunyai efek yang cukup tidak enak...

Kalau yang memberikan kepercayaan atas sebuah rahasia adalah seorang teman dekat, biasanya hal itu tidak membawa efek yang tidak enak. Tapi... kalau orang yang baru kenal sebentar dengan gue dan dia sudah memperlakukan sebagai fidelis, biasanya ada efek samping tidak enak yang akan muncul.

Efek itu adalah, orang itu entah mengapa menjadi menjaga jarak dengan gue. Seolah-olah karena gue udah tahu rahasia milik dia, orang itu jadi takut kalau gue akan menggunakan rahasia itu untuk menyakiti/melawan dia.

Dulu gue lumayan sedih kalo ketemu kasus seperti itu. Karena itu kan artinya gue jadi kehilangan seseorang yang berpotensi menjadi teman gue.

Tapi sekarang gue bilang, "Well, it's their loss."

'lembaga' fidelis memang tidak memiliki basis yang resmi, tidak punya sanksi kalau dilanggar, dan juga tidak membawa keuntungan apapun kepada si fidelis. Tapi buat gue, menjadi seorang fidelis adalah sebuah kehormatan, n gue akan menjaga kepercayaan sebagai seorang fidelis dengan sebaik-baiknya.

Kadang, gue juga nggak enak kalau hanya menampung rahasia orang lain. Apalagi kalau rahasia itu relatif 'besar'. Karena sepercaya-percayanya orang itu ke gue, pasti kekhawatiran kalau rahasia itu akan gue gunakan atau bocorkan pasti akan muncul.

Maka dari itu, kalau baru dapat rahasia yang besar seperti itu, biasanya gue akan menyeimbangkan dengan memberitahukan rahasia tentang diri gue kepada orang itu. Kasarnya, tuh orang gue jadiin fidelis gue. Hehehe...

Apalagi kalau orang itu sudah gue anggep sebagai teman dekat, dan dia menjadikan gue sebagai fidelis rahasia yang sangat besar. Sudah pasti gue nggak mau kalau orang itu lalu merasa terancam sama gue karena gue tahu rahasia dia. Maka dari itu, rahasia mereka gue seimbangkan dengan rahasia gue sendiri. Jadinya gue kan nggak bisa seenaknya membocorkan rahasia dia, karena sekarang ada kemungkinan dia akan membalas dengan rahasia gue sendiri.

Beberapa orang yang baca posting ini pasti tersenyum sendiri, karena "YES, I'M TALKING ABOUT YOU!" wakaka...

Yah, untuk sementara ini gue menikmati saja posisi sebagai fidelis. Toh motto gue sebagai fidelis adalah, "received, filed, and forgotten". Jadi tenang saja dan bersyukurlah memiliki fidelis seperti gue yang pikun ini, karena rahasia lo orang aman untuk selamanya, karena gue pikun! Khikhikhi...

(to that particular fidelis colegue, it's nice meeting you again after all this time)

Tuesday, December 09, 2008

Sebentar Lagi...


TAHUN BARU!!!

Hehehe... itulah yang gue maksud dengan sebentar lagi.

Nggak terasa kita cuma tinggal mengarungi 1/18 bagian akhir dari tahun 2008 dan kita sudah memasuki tahun 2009. Oh my...

Sejujurnya gue nggak begitu menikmati tahun baru. Karena tahun baru identik dengan awal, awal identik dengan pagi, dan gue nggak suka pagi, jadi gue nggak suka tahun baru (logika ngaco). Meskipun penjelasannya agak ngaco, tapi gue beneran nggak gitu suka sama tahun baru.

Dibanding pagi, gue jauh lebih suka malam. Dan dengan logika ngaco macam di atas itu, karena gue suka dengan malam, itu artinya gue suka dengan akhir, dan memang gue suka dengan nuansa akhir tahun.

Seperti sekarang ini...

Pertengahan bulan Desember...

Hhh... jadi mellow...

Rasanya baru kemaren masih bulan September, tiba-tiba sudah masuk Oktober, November lewat begitu saja, dan sekarang Desember sedang berlari menuju akhir.

Heh... Time flies...

Buat gue, tahun 2008 adalah tahun yang ekstrim, dan pada saat yang sama adalah tahun yang seimbang. Di tahun ini gue mendapat kebahagiaan dan juga kesedihan yang sama-sama kuat. Benar-benar sesuai untuk karakter aquarius yang tidak mudah terkesan. Jadi tahun ini lumayan berkesan lah buat gue. Hahaha...

Tahun 2009... bagaimana jadinya ya? Kalau untuk perancanaan gue sendiri sih, tahun 2009 akan jadi tahun yang sibuk sekaligus hectic. Tapi itu semua ya tergantung yang di atas sana. Bisa saja kan gue ngerancanain buat sibuk tapi ternyata justru jadi banyak waktu kosong. Hehehe...

Gue cuman berharap tahun 2009 tidak membawa perubahan ekstrim. Gue sudah cukup dapet perubahan-perubahan ekstrim di tahun 2008, jadi gue kepengen tahun 2009 menjadi tahun untuk istirahat (meskipun tetep sibuk).

Hmm... sepertinya gue memang sudah mulai tua.

Dulu gue selalu menyambut perubahan dengan senang hati, tapi sekarang gue malah berharap untuk mendapat stabilitas.

Hahaha... dasar aquarius memang susah untuk puas.

Yah, kita lihat saja lah nantinya bagaimana.

Btw, kalian tahun baruan sudah punya rencana apa? Gue sih seperti biasa, paling tahun baruan dengan keluarga. Seperti gue bilang, gue nggak gitu suka tahun baruan, jadi tahun baru dilewati biasa-biasa saja-pun nggak problem buat gue.

Haduh... lagi nuansa mellow terus nih. Dasar akhir, tahun sering membawa perasaan seperti ini.

Udah lah, entry kali ini segini dulu sebelum gue jadi lebih mellow lagi.

Well, I'll see you when I see you.

Friday, November 28, 2008

So Many Things To Find Out, One Thing To Decide


There would come a time in a person's life when he needs to decide which path he'll take for the rest of his life.

Hhh... gue udah tahu itu sejak lama, tapi gue baru menemukan diri gue di posisi itu sekarang ini.

Yah, emang setiap orang harus mengambil keputusan tentang jalan mana yang akan dia tempuh. Jalan mana yang menurutnya cukup berharga untuk menjadi fokus dedikasi kehidupannya.

Kebanyakan perempuan akan menjadikan anak sebagai fokus kehidupan. Walaupun ada juga yang memilih hal lainnya, karena berbagai alasan. Mulai dari memang perempuan itu sejak awal berniat untuk memfokuskan kehidupannya pada sesuatu selain anak, atau memang dia tidak dikaruniai anak sehingga harus berfokus pada hal lain.

Sayangnya, laki-laki tidak seberuntung itu. Memang sih, banyak laki-laki yang akhirnya memilih keluarga sebagai fokus kehidupan, tapi sayangnya dedikasi seorang laki-laki kepada anak tidak akan pernah menyaingi dedikasi seorang perempuan kepada anaknya, karena laki-laki tidak perlu menghadapi pertempuran seperti halnya peremapuan untuk mendapatkan anak.

Karena itulah laki-laki biasanya memilih objek lain sebagai fokus kehidupan, dedikasi, mimpi, dan bahkan ambisinya. Umumnya yang akan dipilih adalah pekerjaan.

Yah... itu sih konsepnya. Konsepnya memang gampang, tapi pada kenyataannya agak sedikit lebih ruwet dari itu.

Pertanyaannya adalah, pekerjaan apa yang akan dipilih?

Haeh... Gue sekarang ada di titik itu. Sekarang gue udah mulai magang di kantor notaris, yang berarti gue menempuh jalan untuk menjadi notaris. Tapi pada saat yang sama, jalan lain masih saja menggoda gue untuk gue ambil.

Jalan menjadi jaksa sudah tertutup untuk gue, karena ada syarat ukuran badan yang nggak bisa gue penuhi. Selain itu, sebentar lagi awal desember, dan biasanya penerimaan hakim diadakan di bulan Desember. Lalu masih ada juga jalan sebagai advokat yang masih mungkin untuk gue tempuh. Dan tentu saja ada juga jalan sebagai pegawai kantor, baik swasta maupun negeri.

Pilihannya ada banyak, dan gue masih belum bisa memutuskan secara final akan memilih jalan yang mana.

Oh iya, ada juga sih jalan menjadi pengusaha, tapi sayangnya gue nggak tertarik ke arah itu meskipun hal itu juga nggak sepenuhnya gue coret sebagai kemungkinan.

Jujur aja, selama 2 minggu gue magang di kantor notaris, gue semakin tertarik dengan pekerjaan yang satu ini. Entah kenapa pekerjaan satu ini (meskipun maha ribet) sangat menarik untuk gue. Memang nggak banyak drama seperti pekerjaan hakim ataupun advokat, dan juga tidak semapan pekerjaan sebagai pegawai, tapi pekerjaan ini menawarkan hal yang tidak ditawarkan pekerjaan lainnya.

Hal itu adalah, sebagai seorang notaris, kita adalah boss diri kita sendiri. Advokat biasanya jarang berkerja sendiri dan bergabung dengan kantor hukum, di kantor itu biasanya seorang advokat harus tunduk pada sistem kerja kantor hukum itu. Apalagi menjadi hakim dan pegawai negeri pasti punya jadwal yang teratur.

Sebaliknya notaris tidak punya boss. Notaris adalah boss di kantornya sendiri. Kita bisa memilih sendiri kapan akan buka kantor, kapan ingin santai-santai, kapan berkerja dengan cepat, dan kapan akan menunda-nunda. Semua itu ada di tangan notarisnya sendiri. Itu sangat menarik buat gue. Hehehe...

Emang sih, notaris tetap perlu memiliki kedisiplinan yang baik untuk memuaskan klien. Tapi tidak ada yang akan memarahi seorang notaris kalau dia bermalas-malasan. Paling resikonya adalah ditinggalkan klien dan tidak mendapat duit. Huahahaha...

Tapi selain itu, entah kenapa pekerjaan yang satu ini benar-benar menarik buat gue. Ada tantangan-tantangan tersendiri yang baru gue sadari setelah gue mulai kerja di kantor notaris yang entah kenapa justru membuat gue semakin tertarik.

Hhh... gimana ya? Gue pengen memutuskan untuk benar-benar konsentrasi pada jalan seorang notaris, tapi setiap kali gue mau ngambil keputusan bahwa gue akan commit di jalan ini, godaan dari jalan yang lain selalu mengganggu.

Hiks... what should I do? Apa mendingan gue bertapa ke gunung buat minta wangsit ya? (hehehe... mulai ngaco)

Yah, sekarang ini gue memutuskan untuk menjalani jalan yang sudah gue jalani ini saja dulu. Jalan lainnya gue cuekin dulu sampai tiba saatnya gue bisa menemukan alasan bagus untuk ganti jalan. Tapi kalau tidak ada alasan, gue rasa jalan sebagai notaris cukup worthy untuk gue tempuh.

God bless aja lah.

Monday, November 24, 2008

Marketing Melalui Telepon




Your Personality Profile



You are dependable, popular, and observant.
Deep and thoughtful, you are prone to moodiness.
In fact, your emotions tend to influence everything you do.

You are unique, creative, and expressive.
You don't mind waving your freak flag every once and a while.
And lucky for you, most people find your weird ways charming!



Tadi pagi bangun, n setelah kelar mandi langsung nonton TV. Gue nonton berita tentang jam masuk sekolah yang dimajukan jadi jam setengah 7 setiap harinya.

Wew... untung gue bukan anak sekolah lagi. Gak kebayang harus udah ada di sekolah jam setengah 7. Bisa-bisa gue jadi zombie gara-gara ngantuk setiap hari. Hehehe...

Tapi bukan itu yang pengen gue bahas dalam entry hari ini. Yang pengen gue bahas, sesuai dengan judul, adalah marketing yang dilakukan melalui telepon.

Well, gue nggak bisa bilang bahwa gue sepenuhnya keberatan dengan cara marketing seperti itu sih, tapi harus diakui kalau sistem itu bisa dibilang mengganggu orang yang ditelepon (dalam hal ini, gue).

Kejadiannya tadi siang sekitar jam 3. Gue n temen-temen gue lagi kelimpungan karena ternyata ada kesalahan dalam akta yang baru ditandatangani pagi hari tadi. Ada satu ayat yang missing in action.

Dalam akta notaris, kalau ada kesalahan satu huruf saja, kesalahan itu harus diperbaiki di hadapan orang-orang yang minta dibuatkan akta, dan orang-orang itu harus memberikan paraf di bagian yang diperbaiki itu. Kebayang dong hebohnya waktu kita nyadar bahwa ada satu ayat yang menghilang? Udah gitu orang yang berkepentingan sudah pulang pula. Akan amat sangat tidak lucu kalau orang itu disuruh balik lagi untuk paraf bagian yang diperbaiki.

Jadilah kita heboh berusaha memperbaiki akta itu tanpa merubah susunan akta secara keseluruhan dan juga tanpa merusak kekuatan legal akta itu. Haduh, udah persis seperti main puzzle yang super ribet!

Pas kita berempat lagi kebakaran jenggot gitu, tiba-tiba HP gue bunyi. Nomor yang muncul di layar HP adalah nomor yang tidak dikenal. Setelah gue angkat, terdengarlah suara seorang mbak yang bertanya:

"Halo, dengan saudara Dito?"

"Iya."

"Mas Dito, saya dari Fitness A, ingin memberi kabar gembira bahwa anda telah mendapatkan kartu anggota VIP di fitness kami."

DHHHUUUUUAAAAARRRRRR!!!!

Gila... kepala gue udah senut-senut gara-gara akta yang ribet kaya teka-teki, eh sekarang malah ini mbak satu malah nawarin kaya begituan. Kalo bukan gara-gara takut dibilang gak sopan, mungkin udah langsung gue putus tuh telpon.

Akhirnya terpaksalah gue ladenin tuh mbak,

"Memangnya tempat fitness-nya dimana ya Mbak?"

"Kami cabang Fitness A di daerah Gading Mas."

Gile aje... gue kerja di Sentul, rumah gue di Kebayoran, kalo sampe gue harus fitness di Gading, bisa garing krispy di jalan deh gue.

Setelah gue kasih tahu tempat kerja n tempat tinggal gue yang amat sangat jauh dari tempat fitness dia itu, sepertinya dia udah nggak napsu buat mendesak lebih jauh. Bagus lah.

Tapi dia belum mau menyudahi pembicaraan sampe gue merekomendasikan seseorang untuk ditawari membership di tempat fitness-nya.

Akhirnya dengan berat hati, dan dengan sangat TIDAK ikhlas, gue kasih dia nomor telepon Winy The Pooh. Hiks... maafkanlah ex-husband-mu ini wahai Winy. Tapi gue juga punya alasan sih merekomendasikan my loveliness ex-wife itu. Hehehe...

Alasan pertama, Winy The Pooh emang pernah ikut fitness. Siapa tahu aja dia emang punya niat untuk fitness lagi. Alasan kedua, kalaupun dia nggak mau ikut fitness lagi, gue yakin Winy The Pooh bisa lebih piawai untuk menolak tawaran si mbak itu. Wakakaka... (duh, gue beneran ex-husband yang tidak berbakti).

Hhh... gue maklum sih, si mbak itu memang hanya melakukan pekerjaannya, tapi aslinya gue punya 2 pertanyaan buat dia. Pertama, gue pengen tahu dari mana dia dapet nama n nomor telp gue. Bukan apa-apa sih, tapi penasaran aja gimana orang-orang telemarketing itu bisa dapet info-info nomor telepon calon customer.

Kedua, HARUS YA DIA TELPON DI JAM KERJA!!!!???

Menyebalkan... pas kita lagi kebakaran jenggot gitu malah ditelpon untuk membicarakan hal yang nggak penting. Menurut gue, mendingan para telemarketer itu harusnya dikasih jam kerja yang ada di luar jam kerja orang-orang lain. Kalo orang lain lagi kerja, mereka harusnya istirahat, jadi usaha mereka nggak ganggu kerjaan orang. Nah, pas orang lain lagi santai, mereka baru kerja dengan telpon-telpon kesana kemari. Kan enak tuh, orang lain nggak keganggu kerjaannya, sementara mereka juga jadi lebih kecil kemungkinan disembur sama orang yang ditelpon. Hehehe...

Tapi males juga sih ditelepon sama telemarketer pas lagi istirahat gitu...

Hmm... sepertinya memang lebih baik nggak usah ditelepon sama sekali aja kali ya? Hehehe...

Btw, ajaibnya, pas waktu lagi istirahat makan siang, gue n temen-temen ngobrolin tentang fitness-fitness dan juga para telemarketer-nya sambil makan siang. Eh, siangnya gue ditelepon sama telemarketer fitness. Panjang umur banget tuh telemarketer. Wakaka...

Tapi jadi kepikiran... semua temen-temen gue pasti mati ketawa kalo sampe gue ikut fitness kali ya? Huahaha... gue aja pengen ketawa, ngebayangin Burung Hantu Bengkak nan Oversize seperti gue main treadmill. Khikhikhi... udah persis seperti hamster kali ya?

Saturday, November 22, 2008

My First Week On The Notary's Job



Mwahahaha... jadi ikut-ikutan Zenia nih bikin foto seperti ini. Hehehe... Serasa gue ganti nama jadi Dito Kruschev. Wakakaka...

Well, tuh foto cuman buat hiasan aja kok. Gue nggak bakal ngebahas sampai panjang lebar tentang foto itu. Gue kali ini pengen cerita tentang pengalaman minggu pertama gue sebagai asisten notaris.

Hhh... ternyata tugas notaris tuh banyaknya seanjing-anjing! (pardon my language). Beneran gue baru tahu kalau lo kepengen survive kerja notaris, lo harus menjadi makhluk persilangan antara gurita dan amuba. Gurita, karena kerjaan lo nggak bakal bisa kelar kalau tangan lo kurang dari 8, dan amuba karena untuk menghadapi klien dan personil instansi pemerintah yang beraneka ragam itu lo harus bisa menyesuaikan diri dengan baik.

Beneran dulu nggak kebayang kalau kesibukan notaris tuh persis seperti kesibukan para awak kapal laut pas kapalnya baru aja nabrak gunung es. (okay, sedikit hiperbola, tapi kurang lebih seperti itu lah)

Kita yang jadi asisten aja (ada 4 orang) udah mau mati dikejar-kejar dead line kerjaan yang amit-amit jabang bayi banyaknya, notarisnya sendiri sih udah pasti jauh lebih parah. Paling nggak kita sebagai asisten nggak perlu full melayani klien. Kita sih paling pol cuman follow up ke klien tentang pekerjaan yang sudah berjalan. Notaris-nya mah udah hampir KO gara-gara harus negosiasi sampe nggak tahu seperti apa, dan bahkan harus seperti setrikaan yang pergi bolak balik ke sana kemari.

Udah gitu para kliennya rada dodol juga. Mereka kira notaris tuh tukang sihir kali ya? Cuman bilang ALAKAZAM, trus tuh akta langsung jadi gitu? Gila aja. Akta kan harus diketik, diperiksa kelengkapan dokumennya, di-print, dijahit, dicatatkan, dll. Gak mungkin lah 2 jam udah jadi. Tapi mereka sepertinya kepengen kaya pergi ke warung, beli barang, trus pergi lagi. Ya nggak mungkin lah!

Apalagi kalo mereka kepengen bikin perusahaan. Aduh... baru denger aja udah mumet gue. Bukan apa-apa, tapi proses pendirian perusahaan kan nggak bisa cepet-cepet. Tapi tetep aja ada klien yang ngejar-ngejar mulu supaya perusahaannya cepetan selesai. Enak aja, pengen gue sambit pake printer tuh klien-klien seperti itu.

Gue baru seminggu nih kerja di kantor notaris, tapi selama seminggu itu ada dua pikiran yang selalu mengganggu gue. Yang pertama, GUE SUKA KERJAAN NOTARIS! Wakaka... emang sih kayanya capek banget, hectic banget, kacau beliau nggak karuan, tapi ternyata setelah dijalanin kok sepertinya gue suka. Hehehe... Apalagi buat orang yang punya kecenderungan OCD seperti gue, wah kerjaan notaris mah sangat sangat sangat self fulfiling. Banyak banget kerjaan yang sifatnya printil-printil kecil-kecil n harus dilakukan berulang-ulang. Pokoknya kerjaan idaman buat orang-orang OCD.

Mulai dari nge-cap sekian banyak kertas, ngegaris-garisin akta, meriksain ketikan akta di komputer, memastikan ketikan isian blanko akta supaya pas di tempatnya masing-masing, dll. Hieh... baru mikirinnya aja udah bikin tangan gue gatel. Hehehe... (maklum, OCD gue lagi kumat dengan suksesnya)

Tapi sayangnya pikiran gue yang kedua nggak se-positif pikiran gue yang pertama. Pikiran yang kedua itu adalah tentang BETAPA HECTIC-nya KERJAAN NOTARIS! Gila, ngeliatin si ibu notaris wira-wiri, telpon sana telpon sini, bolak-balik kemana-mana, rapat dimana-mana, beresin berbagai macam dokumen yang jumlahnya sebejibun, dan pada saat yang sama juga harus memastikan bahwa kantor dapat berjalan dengan baik. Hhh... sanggup nggak ya gue jadi seperti itu?

Kerja di kantor orang lain aja capeknya setengah mati, ini kerja di kantor sendiri dimana kita menjadi pekerja sekaligus administrator dan management kantor, semua peran itu diborong jadi satu, capeknya seperti apa ya?

Emang sih, segala sesuatu kalau belum dijalani jadi terasa lebih mengerikan daripada sudah dijalani, tapi tetep aja, namanya manusia kan nggak bisa lari dari imajinasi sendiri. Hhh...

Oh well, kita lihat saja lah gimana ke depannya nanti. Apakah gue bener-bener bisa menjadi notaris yang baik, ataukah jalan hidup gue akan berbelok menuju arah yang sama sekali berbeda. Sekarang, hanya Tuhan yang tahu (halah halah... kumat deh sok puitisnya, hehehe)


Sunday, November 16, 2008

Things I Did These Past Few Days




Your Kissing Purity Score:
77% Pure




You've hardly ever been kissed

But the kisses you've given are very missed



Wow... ternyata sudah lama juga gue nggak nulis apa-apa di blog. Sudah hampir sebulan. Hahaha...

Yah, maklumlah. Namanya juga lagi keenakan main PS, jadinya internet hampir terbengkalai. Paling sekali-sekali istirahat main, trus nonton Youtube. Btw, gue lagi berusaha menyelesaikan nonton sitkom 'Yes, Minister' dan 'Yes, Prime Minister'. Cuman tinggal 5 seri lagi nih.

Nonton sitkom itu bikim gue nyadar kalau gue selama ini belajar American English, sedangkan untuk British English hampir nggak pernah gue sentuh. Begitu nonton sitkom itu, gue cuman bisa bengong ngedengerin logat British mereka yang rada ajaib di telinga gue yang terbiasa mendengar logat Amerika.

Kesannya gue tiap hari cuman main PS n nonton Youtube ya? Hehehe... EMANG! Wakaka...

Maklum, pengangguran. Jadilah kegiatan gue ya cuman itu aja. Sengaja, biar nggak ngabisin duit dengan nongkrong-nongkrong di mall. Hehehe...

Tapi ya nggak setiap hari juga sih gue nganggur gitu. Gila aja, kesannya gue udah give up on life kalo gue cuman main n nonton tanpa berusaha cari kegiatan yang berarti.

So, selama gue nggak nulis entry blog, gue udah 2 kali ikut bursa kerja. Yang pertama tanggal 1 November, di kampus UI Depok. Hieh... panas banget men di sana. Selain itu juga full house pula. Terus yang kedua pada hari Jum'at 7 November di Kartini Expo Center. Yang kedua ini juga rame sih, tapi paling nggak ruangannya full AC, jadi nggak terlalu tersiksa juga selama harus antri dan desak-desakan.

Oh iya, bursa kerja yang kedua itu diadakan oleh JobsDB.com, jadi tentu saja penyelenggaraannya seluruhnya computerized. Kita cuman masukin CV lewat JobsDB, trus pada hari H kita dikasih bar-code yang ditempel di tiket masuk punya kita, dan setiap kita melihat perusahaan yang menarik n kita ingin mencoba melamar, perusahaan itu tinggal memindai bar-code yang ada di tiket kita itu, n CV kita sudah langsung masuk ke data base mereka.

Karena ada fasilitas seperti itu, berburu kerjaan di acara itu jadi lebih enjoyable n praktis, karena kita nggak usah bawa hard-copy CV n copy ijazah kita. Hehehe...

Selain cari kerja, gue juga sejak tanggal 6 November kemarin masuk menjadi anggota Seswara Opera Company yang dipimpin oleh tante Katherine. Hhh... sukur banget tuh gue bisa masuk di situ, udah gitu gue dikasih bagian sebagai tenor pula. It's a great thing, tapi yang paling great dari masuknya gue ke situ adalah, gue jadi bisa mendengarkan para penyanyi-penyanyi PaDus yang sudah pada hebat banget bernyanyi tepat di samping gue.

Beneran hebat mereka. Suara mereka menggelegar kemana-mana tanpa ada nuansa berteriak. Pokoknya gabung di kelompok itu bikin gue merasa seperti menonton opera setiap minggu... gratis! Wakaka...

Tapi sedikit banyak gue ngerasa nggak punya harga diri di hadapan mereka. Kenapa? Karena gue cuman modal berani nyanyi kenceng, sementara yang lainnya selain bersuara mantabh, tehnik vokal yang hebat, bisa membaca not balok, dan sense of rythm yang precise, mereka semua bisa main piano. Sementara gue? Seperti gue bilang, gue cuman bisa nyanyi doang, nggak pernah les vokal, nggak bisa baca not balok, sense of rythm yang menyamai metronome rusak, dan gue sama sekali nggak bisa main alat musik.

Pokoknya di situ gue bener-bener jadi anak bawang. Tapi untungnya selama ini mereka semua masih baik sama gue sih, jadi gue nggak bisa mengeluh. Hehehe...

Oh iya, selain itu mulai senin besok gue akan mulai berkerja di kantor notaris yang berada di Sentul. Tempatnya emang jauh dari rumah gue, jadi pasti capek banget menjalaninya, tapi paling nggak gue punya kerjaan lah. Siapa tahu ntar sambil kerja gue bisa cari tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah. Tapi untuk saat ini, paling nggak gue kerja dulu.

So... begitulah rangkuman singkat tentang apa yang gue lakukan selama 3 minggu kemarin gue nggak nulis blog. Oh iya, selain apa yang udah gue tulis di atas, gue juga ikut nonton Musicademia 2008 di Kartini Expo Center (tempat yang sama dengan tempat gue ikut bursa kerja), dan gue juga datang ke beberapa acara perkawinan teman-teman gue yang entah kenapa di bulan November ini jumlah pesta perkawinannya sangat banyak sekali.

Dan terakhir, tadi siang gue ikut workshop kilat di kampus tentang Penanaman Modal Asing. Well, namanya sih workshop, tapi acaranya lebih seperti kuliah biasa. Lagipula workshop itu sepertinya hanya jadi acara sampingan, karena acara aslinya adalah reuni sama teman-teman notariat. Daripada reuni cuman buat seneng2 doang, akhirnya dibuatlah acara workshop itu, jadi acara reuni bisa lebih ada gunanya.

Hmm... ternyata gue nggak sepenuhnya nganggur juga ya? Hehehe... Well, gue cuman berharap for the best aja lah untuk saat ini. Semoga gue bisa menjalani kesibukan-kesibukan gue dengan baik.

Amen!

Sunday, October 26, 2008

Istri Pertama, Kedua, dan Ketiga (-ku)


Waduh, sudah hampir seminggu lebih gue nggak nulis entry blog. Huahahaha... Pasti temen2 gue udah pada bingung kenapa kok bisa-bisanya penghuni dunia maya seperti gue bisa menghilang selama itu.

Well, tentu saja gue punya alasan. Alasan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah karena istri pertama gue menyita perhatian gue. Khikhikhi...

Jangan pada parno dulu. Gue harus menjelaskan, istri pertama gue adalah console game gue, yaitu PS2. Karena dia menuntut perhatian, jadilah internet yang merupakan istri ketiga gue terpaksa gue kacangin dulu. Hehehe...

Oh iya, buat yang penasaran, istri kedua gue adalah Paduan Suara. Hehehe...

Pasti temen-temen Padus gue pada protes, kenapa kok PS2 jadi istri pertama sedangkan Padus menjadi istri kedua. Well, sejarahnya gue memang terlebih dulu jatuh cinta pada game (mulai dari Spica, Sega, PS1, dan sekarang PS2) kalo gue ga salah inget pertama kali gue kepincut adalah waktu gue masih SMP, sedangkan gue jatuh cinta sama Padus setelah gue kuliah. Setelah gue kuliah barulah gue ketagihan sama internet. Makanya urutannya-pun menjadi seperti itu. Hihihihi...

Sedikit banyak gue harus mengakui kalau ketiga hal itu memang sudah seperti istri gue sendiri, karena gue nggak bisa hidup tanpa mereka. Wakaka... Nggak hiperbola lho. Nggak kebayang dunia tanpa ketiganya... Gue mungkin masih bernapas dan memenuhi semua kriteria HIDUP, tapi gue sama sekali tidak akan merasa 'hidup' tanpa ketiganya.

Hieh... kehilangan salah satu aja rasanya udah neraka dunia, gimana kehilangan tiga-tiganya? Bisa-bisa gue langsung masuk catatonic state, cuman bengong, ngiler, tatapan mata kosong, dan tidak pernah bergerak lagi. Hiks...

Nah, sekarang gue akan membahas kenapa istri pertama gue (si PS2 tercinta nan tersayang, manisku, lucuku, permenku, bangsaku, rakyatku, negriku, hidupku, matiku, dsb-ku) bisa menyita perhatian gue selama seminggu lebih ini.

Well, itu karena gue lagi main Suikoden 5.

Hehehe... Gambar depan box game-nya udah gue taruh di atas tuh.

Buat yang nggak pernah main RPG (role playing game) pasti bingung, apa sih yang bikin main RPG membuat orang ketagihan?

Hmm... kalo buat gue sih, alasannya gampang. Karena main RPG rasanya seperti nonton film, dan kita menjadi salah satu tokoh di film itu.

Gimana nggak? Kalo main RPG, kita kan mengendalikan tokoh utamanya, dan mengikuti ceritanya dari awal, mulai dari si tokoh masih bapuk banget (level 1, digetok musuh sekali langsung ko'it), sampe mentok level tertinggi dan melawan boss terakhir supaya bisa menamatkan game itu.

Bener-bener nggak rugi lho beli DVD game. Kalo DVD film kan paling lama juga 4-5 jam, tapi kalo DVD game, sampe 140 jam juga belum tentu kelar tuh game. Nih sekarang gue lagi main Suikoden 5 selama 40 jam, dan setengah cerita aja belum sampe. Hieh...

Apalagi game dari seri Suikoden adalah favorit gue sepanjang masa. Tokohnya segambreng (udah seperti telenovela yang tokohnya suka nambah seenak2 jidat sutradaranya), lagu-lagunya enak, dan yang paling utama adalah: CERITANYA KEREN!!!

Mau apa? Percintaan? ADA! Persahabatan? ADA! Keluarga? ADA! Perang? PASTI! Drama? ADA BANGET! Tragedi? ADA! Penghianatan? DIJAMIN! Sihir? HARUS ADA!

Bayangin semua itu diublek jadi satu, dan kita memainkan tokoh utamanya. Hieh... Harry Potter juga langsung nggak ada sisanya di kepala gue. Hehehe...

Tapi seri Suikoden, mulai dari nomor 1 sampai sekarang nomor 5 bener2 keren2 menurut gue. Semua ceritanya pasti memeras air mata. Mulai dari kematian Gremio di Suikoden 1, kematian Nanami di Suikoden 2, dan kematian Arshtat di Suikoden 5, semuanya menguras air mata. Dari semuanya, yang paling tragis dan bener-bener bikin gue nangis seperti Nobita sampe berember-ember adalah kematian Nanami di Suikoden 2.

Pas dia mati, gue cuman bisa bengong, terkesima! KOK BISA DIA DIBIKIN MATI!!! GAK RELA!!! Kakak gue (baca: tokoh utama) tuh! Dia udah ngikutin gue dari awal sampai hampir selesai game-nya, kok dibikin mati sih!

Gyaaa!!! Rasanya kalo gue beneran ada di dalem game itu, udah bukan gue benyek2 lagi tuh musuh, tapi udah gue gantung terbalik dan dipanggang perlahan-lahan jadi kambing guling!

Pas Gremio mati di Suikoden 1 juga gitu. Dia temen paling setia dari si tokoh utama dan dia matinya karena terjebak di dalam gas chamber. Kenapa dia bisa terjebak di situ? Aslinya tokoh utama dkk semuanya terjebak di dalam sebuah gedung yang perlahan2 diisi gas (yang kalo gak salah berisi sesuatu seperti flesh eating bacteria). Ruangan itu sebenarnya bisa disekat sehingga nggak seluruhny terisi gas, tapi sekat itu hanya bisa diturunkan dari arah dalam. Jadilah si Gremio mengorbankan diri supaya yang lain bisa selamat.

HIEH...!!! Dialog pas detik-detik kematian si Gremio itu bener-bener bikin gue mewek dengan suksesnya.

Gue bener-bener nggak bisa ngebayangin kalo game2 suikoden dibikin jadi film orang beneran, pasti keren. Sayangnya sejauh ini yang dijadiin film cuman Suikoden 3, dan itupun jadi anime, jadi kurang gregetnya.

Jujur aja, dari 5 seri Suikoden, Suikoden 3 adalah yang paling jelek (meskipun dia masih bagus juga sih). Setelah itu baru Suikoden 4, Suikoden 1, Suikoden 5, dan yang terbagus ceritanya adalah Suikoden 2.

Suikoden 5 menurut gue bagus ceritanya. Tentang pangeran dari negeri ke-ratu-an Falena (maksudnya penguasa negeri itu SELALU ratu). Karena dia laki-laki, jadi dia nggak akan pernah bisa menjadi penguasa negeri itu, dan dia selalu dipandang rendah oleh bangsawan negeri itu. Orang2 yang benar sayang sama dia cuman sang ratu, bapaknya (suami si ratu), adiknya (sang putri mahkota), bibinya, dan body guardnya.

Satu hari negeri itu dikudeta oleh salah satu bangsawan sehingga sang ratu dan suaminya mati (Oh... adegan matinya bener-bener bikin gue mewek). Sang putri tertangkap dan dijadikan ratu boneka oleh si bangsawan, sedangkan sang pangeran dilarikan oleh bibinya dan si body-guard.

Dengan bantuan si body guard dan sang bibi, sang pangeran melakukan perlawanan terhadap si bangsawan bangsat itu (sentimen gue sama dia! Dia bikin Arshtat (ratunya) mati), dan pelan-pelan mengumpulkan dukungan dan teman-teman dari seluruh negeri untuk melawan si bangsawan pengkudeta bangsat gundul itu.

Yah, kurang lebih seperti itulah ceritanya. Sekarang gue lagi ditengah2 usaha mengumpulkan teman-teman untuk melawan si bangsawan bangsat itu dan membebaskan si adek (sang putri).

Bener2 suikoden 5 ini tidak mengecewakan (kecuali kostum tokoh utamanya yang agak... tidak umum).

Ngomongin tentang kostum, kayanya developer game ini mengambil tema asia timur untuk latar negeri Falena. Di game ini baju2 tokoh-tokohnya ngambil tema dari Cina, Jepang, dan (sepertinya) Korea. Malahan ada yang Arab juga deh kayanya. Hmm... Dari budaya Eropa juga ada sih, tapi mereka cuman sedikit jumlahnya.

Tentang Korea, gue curiga ada diambil tema dari sana karena... ummm... inget kan baju tradisional cowok korea yang ada pita kecil yang diikat dengan simpul kupu2 di dadanya? Nah, di game ini, para Ksatria-nya juga punya pita yang diikat dengan simpul kupu2, tapi bukan di dada melainkan di punggung, dan ukurannya tidak kecil, melainkan SANGAT BESAR SEKALI!!! Saking besarnya tuh simpul pita, sampe2 tuh pita satu bisa menutupi seluruh punggungnya.

Sukur kalau cuman satu orang yang seperti itu, ini ada 6 orang men! Dan mereka cowok semua pula! Hieh... itulah yang bikin gue langsung inget sama Korea, karena dia satu-satunya kebudayaan asia dimana cowo bisa dengan tenang memakai simpul kupu-kupu tanpa dipelototin orang banyak. Hehehe...

Yah, begitulah ceritanya kenapa gue lama banget tidak menulis entry blog. Harap maklum, namanya Istri kan nggak boleh ditinggal-tinggal. Hehehe...

Doain aja game-nya cepet tamat, jadi gue bisa sering nulis lagi.

SEMANGAT!

Thursday, October 16, 2008

My Wedding

Suikoden II - Gothic Neclord - Kenji Yamamoto

Kemarin-kemarin Ibu Gajah dan Si Landak sudah membahas tentang bagaimana mereka ingin acara pemakaman mereka dilaksanakan. Gue sudah komentar-komentar di dalam blog mereka masing-masing, dan komentar gue udah cukup 'panjang', jadi gue males kalau harus nulis ulang apa yang sudah gue tulis di tempat mereka. Buat yang pengen baca-baca, silahakan ke BLOG IBU GAJAH YANG INI atau BLOG SI LANDAK YANG INI.

Oleh karena itu, sekarang gue ngomongin (bayangan gue tentang) perkawinan gue saja. Hehehe... Ibu Gajah sudah sempat membuat entry dalam blognya yang mengangkat tema mengenai her dream wedding. Di situ gue juga udah sempet komentar, cuman gue nggak ngomongin tentang my dream wedding.

Nah, sekaranglah gue akan membicarakan my wedding dream. Hahahaha...

Pertama-tama, seperti mayoritas cowok lainnya, gue lebih suka kalau acara perkawinan gue tuh yang simple-simple aja. Yah, cukup akad nikah, trus honeymoon, dan langsung kembali ke kehidupan normal. Gak usah pakai heboh-heboh, apalagi pesta-pesta. Ntar malah ribet, ya kan? Mendingan niru si landak aja, habis nikah (yang mana cuman ijab qobul doang), trus pasang pengumuman di koran dan blog bahwa gue udah menikah. Mungkin kirim SMS ke beberapa orang yang penting untuk memberitahukan berita itu.

Tapi... kalau gue melakukan itu, gue bakal dianiaya oleh banyak orang. Calon gue sendiri sih nggak keberatan mau nikah cara apa, yang penting sah agama dan pemerintah (that's why I love her!). Yang pasti keluarga bakal mencak-mencak nggak karuan, dan paling mengerikan adalah menerima kemurkaan temen-temen gue sendiri. *melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Gajah, Ibu Paus, Anjing Langit, Nyamuk, dan Cucut*

Oleh karena itulah, akhirnya gue iseng-iseng mulai membayangkan. Kalau kira-kira gue HARUS bikin acara pernikahan yang cukup besar sehingga harus mengundang orang-orang banyak, akan seperti apakah acara itu jadinya?

WELL...!

Pertama: konsepnya pasti Jawa, secara gue orang Jawa dan calon gue juga orang Jawa (nama bokapnya aja HARYONEGORO, kurang Jawa apalagi coba?) Meskipun, kalo boleh memilih baju yang lain sih, gue udah punya desain sendiri di kepala gue. Bayangin yang cowok pakai bajunya Dumbledore dan yang cewek pakai baju McGonnagall. Hahaha... Ketahuan banget nggak sih kalau gue adalah salah satu fans Harry Potter yang berharap bahwa ada 'sesuatu' di antara Dumbledore dengan McGonnagall.

Kedua: gue maunya tuh acara adalah sekedar ekstensi dari acara Akad Nikah. Maksudnya, antara Akad Nikah dan Resepsi tidak terpisah. Begitu kelar Ijab Qobul langsung nyambung sama acara salam-salaman dan makan-makan. Jadi cukup satu kostum aja, nggak usah ganti-ganti, RIBET!

Ketiga: Gue BERSUKUR gue bukan orang Jogja. Baru ngebayangin baju penganten yang nggak pakai atasan itu aja udah bikin gue masuk angin. Wew... Sebaliknya gue agak mikir juga sih, karena beskap dan kebaya penganten Jawa Timur biasanya dibuat dari BLUDRU dengan warna gelap yang dipasangkan dengan kain jarit. Hhh... judulnya panas deh tuh. Tapi nggak apa-apa lah. Request gue cuman satu, beskap dan kebaya-nya harus berwarna BIRU GELAP. Gue nggak mau merah (sakit mata), hijau (norak), ataupun hitam (bosen). Ungu okelah, tapi tetap harus yang gelap, jangan ungu stabilo! Tapi tetep mikirin bahan bludrunya itu aja udah nggak kebayang gerahnya. Apalagi masih dilapisin satin, wew... tambah tebel deh. Tanpa satin? GATEL!

Keempat: ini yang paling penting! LAGU PROSESI MASUK SEBELUM AKAD NIKAH! Lagunya sudah gue pasang di awal blog ini, jadi silahkan saja di play sambil membaca tulisan berikut ini. Silahkan menit dan detik yang gue tuliskan dicocokkan dengan lagunya.

00:00 - 00:30 = Intro. Memberi kesempatan pada para tamu untuk membuka jalan buat penganten. Sekalian ngasih waktu pager bagus & ayu untuk berdiri di pos masing-masing.

00:30 - 01.10 = Penghulu beserta saksi-saksi memasuki ruangan.

01:10 - 01:21 = Jeda. Memberi waktu pada penghulu dan saksi untuk segera berdiri di posisi masing-masing, kalau mereka belum sampai di meja, bagian ini memberi warning pada mereka bahwa mereka harus berjalan lebih cepat! (yaolo... galak banget)

01:21 - 01.55 = Pengantin cowok (berarti gue ya? Hiks...) memasuki ruangan. Hieh... waktunya cuman 34 detik! Jalannya nggak boleh pelan-pelan tuh.

01:55 - 02:17 = Jeda. Ngasih waktu buat gue untuk berdiri di posisi yang ditentukan, sekaligus warning kalau waktu gue buat jalan sudah hampir habis.

02:17 - 04:23 = Nah sekarang the main event! Masuknya mempelai wanita dengan digandeng oleh bokapnya. Hehehe... Karena kainnya perempuan biasanya lebih ketat, jadi jalannya pasti lebih susah. Makanya gue sediakan waktu yang paling panjang.

Semuanya belum boleh duduk sampai lagu selesai, dan karena yang memimpin upacara adalah penghulu, maka begitu lagu selesai dialah yang mempersilahkan semuanya untuk duduk di tempat masing-masing.

Langsung Ijab Qobul (untuk menghindarkan para tamu dari rasa bosan, nasehat perkawinan diberikan secara privat sebelum acara berlangsung). "Saya terima nikahnya bla... bla... bla..."

Trus sudah deh, langsung dilanjutkan dengan segala acara adat, resepsi, dan makan-makan. Semuanya kembali seperti acara kawinan biasa. Hehehe...

Soal lagu yang harus dinyanyikan selama resepsi, gue juga udah ada beberapa request, yaitu:

1. Save The Last Dance - dinyanyikan oleh Landak
2. It's Hard To Say Goodbye - Dinyanyikan oleh Valen, duet dengan terserah siapa saja.
3. Claire Benediction - Dinyanyikan oleh semua anak PSUT yang hadir

Setelah 3 lagu itu, terserah deh, mau nyanyi apaan juga gue nggak complain. Mau Cucak Rowo kek, Macarena kek, SMS kek, Menghitung Hari kek, Kucing Garong kek, gue nggak keberatan. Toh ini kan pesta, semua orang yang merasa banci panggung silahkan memuaskan hasrat mereka masing-masing.

Karena temen-temen gue kebanyakan NARSIS, jadi sepertinya upaya melarikan diri dari mereka akan agak susah. Hmm... harus mempertimbangkan pemakaian kabut asap. Hehehe...

Well, nggak terlalu aneh kan? Gue cuman melakukan improvisasi di prosesi masuk-nya doang. Lebih dari itu, hampir nggak ada yang gue rubah.

Tapi dengan penyusunan seperti itu, mau nggak mau harus ada Gladi Resik ya? Biar penghulu dan saksi-saksi nggak keteteran pas di hari H-nya. Hihihihi...

Sekarang, yang gue pikirin cuman satu. Emangnya ada ya penghulu yang mau dikerjain seperti itu? Hieh... Harus berburu penghulu yang masih muda nih, biar masih mau diajak aneh-aneh. Kalo yang udah tua mah mana mau?

Yah, begitulah saudara-saudara sekalian pembahasan tentang my dream wedding. Hahaha... Lumayan lah buat ancer-ancer kalau memang sudah dekat waktunya. Sekarang mah gue mau santai-santai aja dulu. Siapa yang mau duluan, monggo... Hehehe...

Monday, October 13, 2008

Ketika Hak Berubah Menjadi Kewajiban

Your Mood Ring is Orange


Stimulating ideas

Daring

Full of desires

Mood Ring Generator

Salah satu perasaan yang paling nggak enak adalah, ketika lo harus melakukan sesuatu yang sebenarnya memang ingin lo lakukan, tapi lalu hal itu berubah menjadi sesuatu yang 'wajib' untuk lo lakukan. Perubahan status sesuatu itu dari sesuatu yang merupakan hak untuk dilakukan lalu berubah menjadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan, membuat perasaan menjadi malas untuk melakukannya.

Yang jadi pertanyaan. Apakah kalau itu terjadi, lo akan tetap melakukan hal itu dengan senang hati?

Gue pribadi mungkin akan tetap melakukannya, tetapi melakukannya dengan senang hati? Mungkin nggak.

Ketika sesuatu berubah dari hak menjadi kewajiban, perubahan itu akan membawa konsekuensi. Yang mana artinya pada saat kita melaksanakan kewajiban itu, kita harus melaksanakannya sebaik mungkin.

Itulah yang membedakan antara hak dan kewajiban. Ketikan kita melaksanakan hak kita, kita hanya punya diri kita sendiri sebagai ukuran. Baik atau buruk, berhasil atau gagal, itu semua tergantung pada ukuran kita sendiri. Nggak perduli pendapat orang, selama kita puas, maka hal itu sudah baik. Itulah hak.

Tetapi kewajiban lain ceritanya. Kita harus melaksanakannya dengan memenuhi segala ukuran yang diharapkan oleh orang lain dari diri kita pada saat kita melaksanakannya.

Dengan perbedaan seperti itu, bagaimana mungkin perasaan yang mengikuti pada saat kita melakukan hal yang merupakan hak dan hal yang merupakan kewajiban bisa sama? Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Hhh... here I go again. Talking nonsense. Sepertinya gue cuman pengen menulis sesuatu saja.

Friday, October 10, 2008

Another One Is Getting Married




In a Past Life...



You Were: A Redhead Executor of Sacrifices.



Where You Lived: Germany.



How You Died: Decapitation.


Besok seorang teman gue, si Cucut, akan menikah dengan pria yang dipilihnya. Banyak hal sudah terjadi sejak gue pertama kenal sama dia sampai dengan saat dia akan menikah sekarang ini.

Beberapa di antara hal-hal itu bisa dibilang tidak menyenangkan, tapi banyak juga di antaranya yang akan digolongkan sebagai kenangan yang sangat menyenangkan.

Pertemanan atara gue dengan Cucut bisa digolongkan sebagai pertemanan yang dibentuk oleh nasib. Gue bilang begitu karena kalau dulu gue ngotot bertahan di kedokteran, atau nekat menunggu penerimaan mahasiswa baru di tahun selanjutnya demi bisa masuk psikologi, maka gue nggak akan masuk fakultas hukum, dimana gue bertemu dengan Rany.

Tapi keikhlasan gue masuk hukum juga belum memenuhi seluruh unsur yang diperlukan untuk bisa kenal dengan Cucut. Satu unsur lainnya adalah keisengan gue untuk tetep ikut ospek di fakultas hukum. Padahal gue sebagai anak lama di Universitas Tarumanagara sudah tahu kalau ospek itu nggak ada gunanya selain sekedar untuk bisa kenalan dengan teman-teman baru.

Sekali lagi, keputusan untuk ikhlas masuk hukum, dan juga ikhlas ikut ospek juga belum cukup untuk kenal dengan Cucut. Unsur yang terakhir adalah seorang temen gue yang bernama Sherli.

Waktu sedang ospek hari pertama, gue bertekat untuk nggak mementingkan gengsi dan mendorong diri gue sendiri untuk berkenalan dengan anak-anak lainnya yang juga ikut ospek. Sebenernya rada gengsi juga sih, karena anak-anak yang lain kan baru tahun itu lulus SMA, sementara gue udah ngerasain jadi mahasiswa selama 3 tahun. Jadi di atas kertas, gue adalah senior mereka. Tapi nggak ada gunanya mentingin gengsi di tengah-tengah ospek. Jadilah gue dengan cueknya kenalan sama anak-anak yang lain.

Entah kenapa gue milih untuk kenalan dengan Sherli. Padahal waktu itu ada banyak anak-anak lain di sekitar gue, tapi gue malah kenalan sama dia.

Seperti cerita yang biasa terjadi, teman selama ospek biasanya berlanjut menjadi teman kuliah. Itu juga yang terjadi antara gue dan Sherli.

Jadi, sejauh ini sudah ada 3 unsur, yaitu masuk hukum (meskipun ada pilihan lain untuk masuk fakultas lain), ikut ospek (meskipun gue nggak wajib ikut), dan berkenalan dengan Sherli (meskipun ada banyak pilihan untuk kenalan dengan orang lain). Setelah ketiganya lengkap, barulah gue bisa berkenalan dengan Cucut.

Hieh... capek nggak sih? Kesannya seperti main game aja. Kita harus ngumpulin berbagai macam unsur, barulah bisa ketemu dengan tokoh yang dituju.

Beberapa minggu setelah kuliah semester 1 di fakultas hukum (kalau nggak salah di minggu ke-2 atau ke-3), barulah gue diperkenalkan kepada Cucut oleh si Sherli.

Kesan pertama gue tentang Cucut adalah: CUNGKRING, KURUS KERING, PECICILAN, N BANYAK CERITA.

Hehehe... jahat deh gue. Tapi memang itulah kesan pertama gue tentang sang Cucut. Tapi siapa yang bakal ngira kalau ternyata dia akan menjadi temen gue selama 7 tahun terakhir ini? Hahaha...

Dan sekarang anak CUNGKRING, KURUS KERING (seperti cangcorang), PECICILAN, N BANYAK CERITA itu telah menjadi seorang wanita yang mempersiapkan perkawinannya. Besok seorang anak perempuan yang gue kenal sebagai anak yang nggak bisa diam, tomboy, n suka nekat itu akan menjadi istri orang.

Siapa tahu dalam beberapa bulan dia juga akan menjadi ibu? Hahaha... Kalau itu sampai terjadi, maka gue pasti bener-bener akan merasa sangat tua sekali.

Yah, semoga saja dia diberi kekuatan agar bisa menjalani posisinya sebagai istri. Yang gue tahu, ntah sampai kapanpun, bahkan nanti kalau kita sudah sama-sama tua, bahkan kalau dua udah punya cicit yang jumlahnya banyak-pun, di mata gue dia akan tetap menjadi temen gue yang CUNGKRING, KURUS KERING (seperti cangcorang), PECICILAN, BANYAK CERITA, TOMBOY, N SUKA NEKAT.

To Cucut: Keep tungtangtingting for ever!

Sunday, September 28, 2008

Facebook dan Kenangan Masa Lalu




Your Hawaiian Name is:



Bane Nahele



Gue baru merasakan kegunaan dari Facebook (yaolo... telat banget ya?). Gue emang udah beberapa bulan punya account di facebook, tapi selama ini ya cuman seneng kirim-kirim virtual gift ke temen-temen gue, mainan sama virtual pet, dll. Selama itu, gue nggak pernah kepikiran buat memperluas jaringan sosial gue.

Sampai...

Dua hari yang lalu tiba-tiba ada friend request dari seseorang yang bernama "YPK Wijaya".

Gue cuman bisa bengong liat nama itu. Nama itu membawa banyak banget memori dari masa lalu gue. Gimana nggak? 12 tahun hidup gue habis di sekolah yang bernama YPK Wijaya, pastilah memori gue udah sebejibun tentang nama itu.

Ternyata, ada seorang alumni YPK Wijaya yang membuat account baru di facebook dengan nama itu. Kelihatannya sih tujuannya untuk mengumpulkan semua alumni YPK Wijaya yang sudah tersebar ke sudut-sudut dunia ini.

Setelah gue approve-pun, gue masih nggak terlalu mengharapkan banyak. Karena toh mau gimana lagi? Gue aja udah lulus dari situ 11 tahun yang lalu, dan gue nggak pernah denger kabar dari temen2 lagi sejak itu. Parahnya lagi, tuh sekolah sudah nggak ada lagi sekarang. Gedung sekolah YPK Wijaya sekarang sudah berubah fungsi menjadi sebuah kampus. Hahaha...

Ternyata, surprise... surprise... besoknya ada seseorang bernama Andreanes yang minta gue add sebagai friend di facebook.

Sekali lagi gue ngerem. Kenapa? Karena Andreanes alias JABON (kepanjangannya tanya aja sama dia sendiri) itu adalah senior gue di SMU YPK Wijaya. Dia setahun di atas gue, dan dia juga senior gue di PasKib (IYE! Gue dulu anggota PasKib! Kenape? Keberatan? Grrr...)

Gue ikut PasKib di SMU sudah persis sama seperti waktu gue jadi anggota PaDus di Universitas. Segalanya gue curahkan untuk PasKib. Pokoknya belajar nggak boleh MENGganggu PasKib. Huahahaha...

Cuman melihat dia saja, rasanya kepala gue langsung diterpa oleh badai memori 3 tahun gue jadi anggota PasKib. Mulai dari dicemplungin ke dalam empang, lari-lari muterin sekolah dengan wajah coreng moreng dengan cat minyak, dijemur dari pagi sampai sore, latihan formasi tiap pulang sekolah sampai maghrib, berdebat tentang formasi yang dibuat, pokoknya semua memori langsung ciung... ciung.... ciung... beterbangan di kepala gue.

Ahhh... jadi kebayang, gimana rasanya jadi orang yang jadi alumni sekolahan yang sampai sekarang masih ada. Pasti enak ya? Tiap pengen nostalgia, tinggal main aja ke sekolah itu. Hahaha...

Gue nggak bisa seperti itu. TK gue waktu masih Nol Kecil sudah digusur sejak lama. Trus sejak TK Nol Besar sampai gue lulus SMU, gue terus sekolah di YPK Wijaya (nggak bosen2 ya?). Sejak YPK Wijaya dirubah jadi kampus, gue dan temen-temen gue jadi nggak punya tempat untuk bernostalgia.

Apa mungkin gue bawa kutukan buat sekolahan yang pernah gue pakai sebagai tempat belajar? Sekolah tempat gue belajar, semua digusur. Mungkin aja kan? Tapi apa bisa ya Universitas Tarumanagara dan Universitas Indonesia digusur? Wakakaka... gak mungkin banget. Kampus2 segede gaban gitu gimana cara ngegusurnya?

Bisa aja sih... kalo Indonesia diinvasi oleh Amerika, dan kampus2 gue semua jadi sasaran rudal dan hancur semuanya. Pasti mau gak mau harus tergusur. Wakakaka... jauh banget ngayalnya.

Hhh... banyak banget kenangan2 gue di sekolah itu. Tapi sayangnya jaman2 itu (1986-1998) belum ada kamera digital, sedangkan kalau pakai kamera biasa, film-nya mahal. Belum lagi kalau harus nyuci film dan nyetak fotonya. Wew... 50.000 ribu aja bisa habis kali (inget! 50.000 tahun 80an dan 90an nilainya sama seperti 450.000-nya jaman sekarang!)

Karena itulah gue sama sekali nggak punya foto-foto kenangan waktu gue SMA. Hiks... Sedihnya jadi orang yang nggak punya kenangan masa lalu (lebay mode - on).

Tapi bener tuh. Gue mungkin cocok jadi agen rahasia, karena gue sedikit banget punya foto kenangan masa lalu. Jadi kalo ada orang yang mau menyelidiki masa lalu gue, pasti rada kesulitan. Hehehe...

Duh... jadi ngelantur kan? Ntar deh, mungkin di postingan selanjutnya gue cerita tentang kenangan-kenangan waktu SMU. Hieh... sudah 11 tahun yang lalu men! I feel so old.

Tapi tunggu... 11 tahun lalu dari sekarang... hmm... berarti gue lulus SMU umur 16 ya? Baru nyadar gue.

Wednesday, September 10, 2008

Pesta Perkawinan

You Are 55% Addicted to Blogthings


You're a Blogthings fiend - addicted but not totally dependent.
So what if you know your personality type by heart?

And while you may feel like Blogthings is crack...
There are people much worse off than you!

How Addicted To Blogthings Are You?


Hari ini (tanggal 10 September 2008), gue perki ke acara perkawinan temen gue. Nama dia Frans dan dia adalah temen seangkatan gue di FH UnTar trus dia juga jadi temen seangkatan gue lagi di Notariat UI.

Gue dateng ke perkawinan dia barengan sama temen gue Nana. Gue jemput dia karena dia udah teler kecapekan habis kerja seharian (hiks... iri gue sama yang udah dapet kerja...)

Kita emang dasarnya anak-anak alim, jadi kita santai aja dateng ke acara resepsi perkawinan itu. Meskipun di dalam hati juga rada-rada bertanya-tanya karena acara perkawinannya itu diadakan di HAILAI ANCOL!

Hieh... dasar emang anak polos... kita anggep acara itu ya seperti acara perkawinan biasa yang paling kita dateng, isi buku tamu, salaman sama penganten yang selalu berdiri di pelaminan, makan-makan prasmanan, ngobrol-ngobrol sama temen-temen yang kita kenal, foto-foto, trus pulang.

Ternyata oh ternyata...

Bagitu dateng udah merasa aneh, karena nggak ada among tamu di pintu depan. Tapi ya sudah lah, siapa tau emang nggak pake among tamu karena pintu depan Hailai itu langsung mengarah ke tangga, jadi nggak ada tempat juga buat para among tamu berdiri.

Trus kita lanjut naik tangga n langsung ketemu meja penerima tamu. NGGAK ADA ORANG! Yang tamu cuman gue n si Nana doang, sementara yang jaga meja juga cuman ada 2 orang.

Sampe situ aja perasaan udah aneh. Karena udah beda banget sama acara kawinan konvensional.

Akhirnya kita cuek aja n nekat masuk ke ruang perkawinan yang luas banget n penuh meja. Okay... sampe sini emang masih beda (kan masih jarang tuh pesta resepsi kawinan pake konsep sitting dinner), tapi paling nggak masih normal lah.

Setelah sempat tengak tengok, celingak celinguk, n bengong sejenak karena ngeliat pelaminan dalam keadaan kosong (pengantennya dan para orang tua nggak ada di pelaminan), akhirnya ada Wedding Organizer (WO) yang ngedeketin kita dan mengarahkan kita ke meja yang masih kosong.

Setelah duduk, barulah gue n temen gue itu menyadari bahwa ada sesuatu yang amat sangat nggak pas buat acara perkawinan. Apakah itu?

Ehm... di panggung yang juga diatur sebagai pelaminan tampak 3 orang wanita sedang bernyanyi-nyanyi (yup... mereka menyanyi di atas pelaminan), dan baju mereka... bener-bener baju KABARET! Pokoknya kalo mereka muncul di film Moulin Rouge, mereka pasti cocok banget. Lha wong bajunya sudah jubah yang menerawang, berbulu-bulu, hiasan rambut yang amat sangat bling-bling, dan baju dalamannya (yup, keliatan kok dalemannya) penuh dengan glitter-glitter dan berbentuk seperti baju renang.

Haiyah... ini resepsi perkawinan apa pertunjukan kabaret?

Trus sukur kalo cuma mereka yang begitu. Selama 1 1/2 jam gue di sana, sepanjang acara isinya dance dan nyanyi-nyanyi seperti konser. Pengantennya cuman naik ke panggung sebentar buat potong kue dan habis itu langsung disambung dengan dance dari kelompok tari SEXY DANCER!

Sukur kalau cuman namanya doang yang sexy, baju mereka juga menyesuaikan dengan namanya saudara-saudara. Gue bener-bener speechless sepanjang acara.

Udah gitu makin malam bajunya makin minim lagi. Kalo pertama-tama mereka masih pake jubah yang menerawang, selanjutnya mereka pakai baju renang, lanjutannya lagi mereka pakai bikini. Semuanya penuh dengan bling-bling dan bulu-bulu. Haeh...

Tariannya dong... Udah persis seperti tarian striptease abis.Gila aja tuh cewe-cewe pada nari-nari sambil ngangkang sana ngangkang sini seperti nggak kenal malu. Tinggal mereka lepasin aja baju mereka satu-satu, jadilah mereka nari striptease.

Apalagi lagu yang mengiringi tarian mereka adalah lagu-lagu dugem yang bass-nya gila-gilaan. Pokoknya udah bener-bener nuansa clubbing, sama sekali bukan nuansa resepsi. Tingga matiin lampu, pasang lampu disko, keluarin bir sebanyak-banyaknya, maka jadilah acara itu berubah menjadi acara clubbing.

Tentang makanan juga begitu. Course-nya banyak banget. Tadi aja gue baru sampe course ke-8 udah jam setengah 10 malam, dan menurut pelayannya masih ada beberapa course lagi. OMG! Mau sampe kapan tuh pesta?

Akhirnya gue n Nana udah cukup merasa kekenyangan (dan bingung ngeliatin tarian-tarian vulgar) membulatkan tekat untuk berjalan menembus lautan manusia dan meja demi bisa ketemu dan salaman sama Frans.

Untungnya bisa ketemu. Setelah itu kita langsung ngacir pulang.

Haiyah... aneh-aneh aja.

Untuk sementara ini, acara pesta resepsi ini adalah pesta resepsi paling ajaib yang pernah gue hadiri. Pokoknya gue tinggal menunggu apakah di masa depan ada acara resepsi yang lebih ajaib dari ini yang akan gue hadiri.

Tuesday, September 09, 2008

Puasa

You are a Believer


You believe in God and your chosen religion.


Whether you're Christian, Muslim, Jewish, or Hindu...


Your convictions are strong and unwavering.


You think your religion is the one true way, for everyone.

What's Your Religious Philosophy?

Hmm... sudah masuk bulan puasa lagi ya? Hehehe... The one special month in a year.

Setiap orang muslim punya cara pandang sendiri-sendiri terhadap bulan puasa. Ada yang memandang sebagai kesempatan untuk beribadah dengan lebih baik dari bulan-bulan lainnya, ada yang menggunakan bulan puasa untuk lebih bisa mengendalikan diri (dan bahkan untuk diet), dan bahkan ada juga yang menganggap bulan puasa sebagai biasa-biasa saja.

Gue termasuk golongan yang suka memandang bulan puasa sebagai bulan untuk mencoba sesuatu yang out of the ordinary, lain dari yang biasanya. Bisa juga kan dilihat dari sisi itu?

Biasa kita makan 3 kali sehari (meskipun gue jarang makan pagi), begitu bulan puasa cuman makan 2 kali sehari, yaitu pas buka dan sahur. Kalau di bulan lain kita bisa dimarahin karena makan malam-malam (orang bilang bisa bikin gendut), tapi di bulan ini kita malah cuman bisa makan di malam hari, bahkan di tengah malam buta.

Kalau biasanya nggak punya alasan sering-sering ke mesjid, sekarang malah setiap malam diwajibkan ke mesjid buat tarawih. Kalau biasanya nggak punya kebiasaan makan tanpa desert, di bulan puasa bisa-bisa serumah demonstrasi kalau nggak ada kolak atau blewah. Hahaha...

Iya kan?

Bulan puasa bukan cuman mengajari kita bagaimana melawan hawa nafsu, tapi juga mengajari kita bagaimana caranya menghadapi perubahan. Hari ini kita masih makan di siang hari, besoknya kita sudah tidak boleh. Sementara begitu puasa selesaipun, perubahan itu juga masih terasa aneh. Biasanya kita nggak boleh makan siang-siang, begitu bulan puasa selesai kita malah harus sarapan dan makan siang. Adaptasi ekstrim kan?

Sebagai manusia kita nggak bisa lari dari perubahan. Perubahan harus dihadapi, dijalani, dan dijadikan bagian dari hidup kita. Itulah salah satu sisi bulan Ramadhan yang bisa gue tangkap, tapi sayangnya nggak pernah dibahas hehehe...

Semoga bulan puasa ini bisa membawa berkah untuk semua yang menjalaninya. Amin...