Friday, August 23, 2013

Ujian PPAT

Sudah lama banget gue gak bikin entry di blog ini. Well, alasan utamanya karena sambungan internet gue yang amat sangat minimalis jadi bikin gue males on-line, dan alasan kedua adalah gue juga bingung mau bikin entry tentang apa. Hehehe…

Sebenernya ada sih beberapa hal yang pengen gue posting di sini, tapi kadang hal-hal itu sebegitu panjang dan lebar sampai-sampai gue sendiri males buat menyusunnya jadi satu postingan, sementara kalau dipisah-pisah malah gue jadi males buat ngelanjutinnya nanti.

Intinya sih satu: gue orangnya males. Wkwkwk…

Well, mending gue ngebahas hal ‘besar’ yang gue jalani belakangan ini aja kali ya? Sebenernya ini bukan cerita baru juga sih, karena gue ngejalanin ini udah hampir 5 bulan yang lalu. Alasan utama gue nggak mau membahas tentang hal ini adalah karena kemarin-kemarin hasilnya belum jelas. Tapi akhirnya beberapa minggu lalu hasilnya sudah diumumkan, jadi gue sudah lebih berani untuk menceritakan hal ini.

So, tema cerita gue adalah: UJIAN PPAT

Jeng jeng jeng… *musik dramatis*

Akhirnya setelah menanti dan menunggu dalam kegalauan (hallah!) gue bisa juga ikutan tuh ujian PPAT. Terakhir kali ujian ini diadakan pas tahun 2009, dan saat itu usia gue baru 28 tahun. Karena usia yang masih belum 30 tahun itulah makanya gue nggak bisa ikut ujian PPAT waktu itu. Gondok sih, karena udah gemes pengen cepetan ujian (biar gak kepikiran lagi) tapi ternyata belum boleh ikutan.

Karena gak ada pilihan lain, ya akhirnya gue cuman bisa menunggu sambil konsentrasi saja dengan berkerja sebagai Notaris. Hadeuh… jadi notaris tanpa jadi PPAT rasanya beneran pincang, tapi mau bagaimana lagi? Dijalani saja lah. Cuman kadang-kadang gak enak sama calon klien yang dateng ke kantor membawa berkas-berkas tanah untuk dijual-beli, dihibahkan, di-inbreng, atau diapakan saja. Karena gue belum PPAT setiap ada orang dateng begitu mau gak mau ya gue harus merujuk mereka ke teman Notaris lain yang sudah punya PPAT.

Gue bukan masalahin rejeki yang lepas atau gimana (gue penganut “kalo rejeki udah jodoh ya gak bakal kemana-mana” hehehe…) tapi gue kasihan sama calon kliennya. Coba deh taruh diri kita di posisi mereka. Mereka udah pilih-pilih notaris, mikir-mikir kapan bisa mampir ke notaris itu, siap-siapin berkas yang mungkin diperluin, dan bahkan mungkin sudah janjian dengan keluarga atau orang lain yang mau dibawa bareng ke kantor notaris itu. Eh, begitu masuk ke kantor notarisnya, ternyata si notaris belum PPAT jadi gak bisa bantu selain merujuk ke notaris lainnya.

Kesannya baru mulai aja kok udah dapet kekecewaan. Keadaan seperti itu kan malah bisa bikin ilfil, karena sebuah proses kok sudah dimulai dengan sesuatu yang diluar perhitungan.

Oh well…

Tapi nggak apa-apa. Moga-moga sebentar lagi gue nggak usah lagi memberi jawaban “Maaf Pak/Bu, saya belum PPAT jadi belum bisa membantu Bapak/Ibu. Mungkin Bapak/Ibu mau saya rujukkan saja ke rekanan saya yang sudah PPAT?”

Nah, balik ke tema utama, yaitu tentang Ujian PPAT.

Gue daftar ujian PPAT sudah dari November tahun kemarin, dan ujiannya sendiri diadakan bulan April tahun ini.

Langkah pertama setelah tahu kalau akan diadakan ujian PPAT adalah gue langsung kelimpungan buat cari temen bareng karena ujiannya diadakan di Sleman, Jogjakarta. Males banget kalau sampai harus menjelajahi Jogja sendirian. Belum lagi kalau sampai harus kesasar-sasar sendirian. Whadaw… Selain itu kalau ada temen bareng kan lumayan bisa diajak belajar bareng biar gak garing, dan kalau ada sesuatu yang gue gak tahu kan jadinya bisa tanya-tanya dia. Hehehe…

Tapi gue juga males kalau harus join sama temen-temen yang kelompoknya besar, secara gue udah pengalaman kalau kelompoknya terlalu besar begitu yang ada bukannya bisa belajar, yang ada malah ngerumpi dan ngobrol ngalor-ngidul. Haduh… bisa hancur mina dah hasil ujian gue kalau malah ngerumpi dan bukannya belajar. Masa nanti pas ujian gue jawab pertanyaannya malah dengan hasil rumpian gue sama temen-temen? Yang ada pegawai Badan Pertanahan yang koreksi kertas ujian gue ngira kalau gue udah edan. Wkwkwk…

Untungnya temen magang gue dulu, si Ochie, malah duluan ngajakin gue bareng untuk ujian. Dan dia juga gak mau join sama teman-teman yang kelompoknya besar dengan alasan yang sama seperti alasan gue. Ya bagus lah, akhirnya kita putusin kalau kelompok kita ini bakal hanya berdua, gue dan dia, saja. Paling kalau nanti-nanti nambah satu orang boleh lah.

Masalahnya adalah… Ochie itu cewek. Gue sih seneng-seneng aja punya temen bareng, tapi temen bareng kan lebih enak kalau bisa nyewa kamar hotel berbarengan. Hitung-hitung menghemat biaya hotel kan. Lha ini gue cowok, barengnya sama anak cewek, masa mau sekamar? Apalagi si Ochie udah menikah juga, jadi dia itu istri orang, saudara-saudara. Apa lah nanti kata dunia? Yuk mari skandal. Hehehe…

Gue sih udah pasrah aja dah. Yang penting kan punya temen barengan yang bisa diajak belajar. Apalagi gue dan Ochie dulu magang bareng, jadi kurang lebih kita udah ngerti sifat n pembawaan masing-masing.

Ternyata, saudara-saudara, dia nelpon gue n bilang kalau nanti di Jogja lebih baik kita sekamar aja demi penghematan biaya. Gue udah bingung mau jawabnya gimana. Kalau gue pribadi sih orangnya cuek, dia mau sekamar sama gue ya nggak apa-apa. Tapi suami dia gimana? Kalau suaminya tahu belakangan bahwa istrinya sekamar sama gue apa nggak keluar tanduknya tuh suami?

Eh gak tahunya tiba-tiba suaminya gantian ngomong ke gue, minta supaya gue sekamar sama istrinya, itung-itung sekalian ngejagain istrinya.

Gue gak tahu harus bereaksi gimana lagi selain: GUBRAK!

Wakakaka…

Oh well, kalau suaminya saja udah percaya sama gue, ya sudah lah, mau gimana lagi? Paling kalau ditanya sama orang lain ya kita ngaku sepupuan aja lah ya. Xixixi… Sepupu ketemu tua.

Enaknya buat gue, si Ochie ini penganut faham "gerak cepat". Dia langsung nyari-nyari hotel yang lumayan murah n gak terlalu jauh dari tempat penyelenggaraan ujian. Jadinya gue cuman tinggal oke-oke saja sama hotel hasil temuan dia. Hehehe…

Setelah menunggu dan mempersiapkan berbagai bahan belajar yang punya hubungan dengan ilmu pertanahan (yang banyaknya naudzubilah amit-amit jabang bayi lanang wedok ketok kayu berkali-kali), akhirnya hari H ujian pun tiba.

Jeng jeng jeng… *musik dramatis lagi*

Ujiannya terbagi jadi 2 hari. Ujian hari pertama sih bahannya lumayan gak terlalu menyiksa jiwa raga, karena yang diuji hanya teori-teori tentang hukum pertanahan, pendaftaran tanah, kantor pertanahan, dan teori-teori lainnya.

Yang bikin bete adalah fakta bahwa gue ujian di ruangan yang biasa dipakai jadi kantin di Sekolah Tinggi Pertanahan (sekolah itu memang biasa dipakai jadi tempat ujian PPAT). Ruangannya sih besar, tapi untuk memaksimalkan kapasitas ruangan itu, semua meja makan disingkirkan dan yang tersedia hanya kursi yang diatur berderet-deret. Ada kali tuh seribu orang duduk berjejer-jejer di situ. Cuman saja, ya begitu, TIDAK ADA MEJA! Hiks! Terpaksalah gue ujian berjam-jam dibantu dengan papan bantu menulis. Pegel saudara-saudara, harus ujian sambil megangin papan begitu. Tangan kiri megangin papan, sementara tangan kanan gak berhenti menulis.

Sebenernya tempat ujiannya tidak hanya di tempat kantin itu saja sih. Gedung-gedung lain di Sekolah Tinggi Pertanahan itu yang biasa dipakai untuk perkuliahan semuanya dipakai untuk ujian, tapi karena yang ikut ujian banyak banget akhirnya ya terpaksa kantin juga dipakai untuk ujian. Kalau gak salah inget sih yang ikut ujian PPAT tahun 2013 ini ada 2750 orang. Hweh…

Pas ujian hari pertama selesai, badan udah pegel semua karena kan duduk berjam-jam, nunduk menulis sambil memegangi papan. Tapi kita belum bisa istirahat karena besoknya masih ada ujian lagi.

Ujian hari kedua lebih parah lagi, karena salah satu bahan ujiannya adalah ujian praktek pembuatan akta.

Hadeuh… Neraka jahanam bener dah tuh…

Kenapa gue bilang neraka jahanam? Karena begini:

Buat orang yang tidak/belum mengerti tentang akta PPAT, perlu diketahui adalah sampai dengan tahun ini para PPAT membuat akta dengan cara menggunakan blanko.

Apakah blanko itu? Blanko itu adalah akta kosongan yang mirip seperti formulir, jadi PPAT yang ingin membuat akta hanya tinggal mengisi bagian-bagian blanko yang masih kosong dan sudah disediakan itu.

Nah, ternyata tahun ini Badan Pertanahan membuat kebijakan baru bahwa PPAT tidak lagi membuat akta dengan menggunakan blanko, dan sebagai gantinya para PPAT membuat akta dengan mengetik sendiri aktanya dari awal sampai akhir (sama seperti akta notaris).

Yang bikin gue kelimpungan adalah, contoh-contoh soal ujian pembuatan akta dari tahun-tahun sebelumnya selalu menggunakan blanko, jadi biasanya yang dibuat rumit dalam soalnya adalah tentang para kliennya, jadi orang-orang yang diuji bakal dibuat mumet tentang bagaimana menuliskan identitas para klien dengan jelas, tapi karena menggunakan blanko, mereka tidak perlu mumet soal isi (pasal-pasal) aktanya.

Ternyata tahun ini ujiannya menggunakan style yang berbeda, yaitu ujian pembuatan akta tidak lagi menggunakan blanko.

Pas gue menerima soal ujiannya, dan gue menyadari bahwa di soal-soal ujian itu tidak disediakan blanko, gue langsung panik berat.

Gimana gak panik kalau selama ini gue hanya mempelajari tentang bagaimana mengisi blanko akta, sementara ternyata ujiannya menyuruh gue membuat akta itu dari awal sampai akhir termasuk pasal-pasalnya.

Bener aja, yang kaget gak cuman gue. Semua peserta ujian pada cuman bisa terkesima karena mereka juga baru sadar kalau mereka harus menulis ulang akta-akta PPAT yang biasanya sudah saklek pakemnnya karena sudah berupa blanko.

Tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah duduk di ruang ujian, jadi ya kita gak punya pilihan lain selain terjun bebas dan mencoba membuat akta-akta yang diminta sebaik mungkin mengandalkan memori kita yang terbatas ini. Hiks…

Begitu ujian hari kedua itu selesai, badan rasanya udah gak karuan. Pegel, capek, kaku, pusing, laper, bete, semua diublek jadi satu.

Di hari kedua itu gue dan Ochie pisah jalan. Dia sudah janjian sama temen-temen dia yang lain yang kebetulan ada di Jogja buat jalan-jalan. Dia nawarin gue buat gabung sih, tapi gue nolak karena gue beneran udah capek banget rasanya. Jadilah gue melewati malam terakhir gue di Jogja dalam rangka ujian PPAT itu dalam kesendirian yang syahdu (pret… dung… chuih…) whakhakha…

Yang bikin gue bete adalah, di malam terakhir itu saking capeknya, kaki gue akhirnya kram dengan suksesnya. Hiks… Karena cuman tinggal sendirian di kamar hotel ya gue cuman bisa meringis sambil melafalkan segala sumpah serapah yang gue tahu.

Well, itu adalah cerita ringkasan petualangan gue ikut ujian PPAT di Jogjakarta. Orang lain mah ke Jogja buat wisata, gue ke sana kok kayanya malah buat menjalani penyiksaan. Hieh!

Tapi nggak apa-apa. Kalau nggak seperti itu kan malah nggak ada kenangannya. Hehehe…

Sukur alhamdulilah, bulan Juli kemarin hasil ujiannya sudah keluar dan gue ternyata lulus buat jadi PPAT dengan wilayah kerja Kabupaten Gresik, sesuai dengan wilayah kedudukan gue sebagai Notaris.

Sujud sukur dah gue. Bener-bener speechless, karena gue menjalani tuh ujian dengan segala kekurangan gue sebagai Burung Hantu Oversize begini, tapi ya ternyata bisa lulus juga. Kayanya kalau gue nggak lulus bisa nangis bombay dah gue, secara bener-bener tersiksa kalau harus menjalani ujian yang bikin capek seperti itu.

Gue bener-bener bersukur, karena ujian PPAT terkenal bukan ujian yang sifatnya formalitas doang. Dengan kata lain, di ujian PPAT ini kalau nilainya kurang ya gak bakal lulus. Tahun ini saja yang tidak lulus cukup banyak (soal berapa yang gak lulus, gue gak ngomong dah, pokoknya banyak).

Oh well, sekarang tinggal mikirin rencana kapan ke Jakarta buat menyetor berkas-berkas permohonan pengangkatan sebagai PPAT. Hehehe…

Oh, satu hal yang gue lupa cerita. Buat ujian PPAT itu, semua peserta diwajibkan pakai kemeja putih dan celana/rok hitam. Sebenernya nggak apa-apa sih, cuman saja mau ujian jadi PPAT kok rasanya malah seperti jadi Sales Promotion Girl/Boy yang masih dalam masa percobaan gara-gara pakai baju hitam-putih begitu. Hahaha…

So, begitulah cerita gue tentang ujian PPAT yang gue ikuti kemarin itu. Semoga yang baca bisa dapet bayangan tentang apa saja yang harus dihadapi kalau ingin menjalani ujian PPAT.

Monday, December 31, 2012

Hestia's Goodbye

This is a Percy Jackson and The Olympians fanfiction short story that I wrote and posted at fanfiction.net under my pseudonym, Christopher McNair. You can check out the original post at http://www.fanfiction.net/s/8664940/1/Hestia-s-Goodbye.
The reason I posted the story here, is because I like to tinker with they design of the post, and also put a picture on in, something that we can't do in Fanfiction.net
The disclaimer is as usual, none of the Percy Jackson and The Olympians characters are mine, because they are all belong to Rick Riordan, while the Greek gods belong to Greek people and culture.
Hope, you'll enjoy reading it. (^_^)

Hestia's Goodbye


Hestia was alone, poking and rearranging the firewood on the hearth at the middle of the throne room in Olympus.
She'd been doing this duty for aeons, and somehow she never got tired of doing it.
With her wooden poker still in her hand, she turned her head to look at the twelfth throne in the room – Dyonisus's throne – that used to be her throne.
She smiled a little, remembering the last time she stood up from that throne to let Dyonisus took it.
She loved her nephew, all of her nephews and nieces, whether they're titans, gods, demigods, or even monsters. In fact she loved each and every single one member of her family, including her father – Cronus – who swallowed her and her siblings when they were still babies.
All of her siblings hated their father for doing something like that, but Hestia couldn't bring herself to really hate Cronus. Somehow she was able to see things from his perspective, and she understood his fears.
Who wouldn't be scared, knowing that someday your own son would overthrow and even kill you?
Cronus's action was an overkill, Hestia knew that, but she also knew that it's understandable.
She turn her attention back to her duty – taking care of the hearth.
Hestia always enjoyed her existence. Her fully peaceful existence.
Again, she smiled a little when she remembered how some members of the 12 Olympians looked at her with pity, as if her existence were too pitiful from their point of view. Her brothers – Poseidon, and Zeus – and Ares are the most obvious.
Athena, not so much. She looked at Hestia with an air of questioning. Such is Athena's nature, always questioning to find out the reason and logic of all things, and she seemed unable to comprehend Hestia's decisions in her existence.
Aphrodite, Apollo, Artemis, Hephaestus, and Dyonisus are too focused on themselves, so Hestia rarely got any attention from them. Except maybe Aphrodite, who – literally – is Hestia's aunt. Sometimes she spend a few minutes talking to Hestia, keeping Hestia company while she's doing her duty taking care of the hearth.
Hermes – Hestia chuckled a little – are too busy to pay any attention to her. The other gods are working him too much.
Only her sisters – Hera and Demeter – could pretty much understood Hestia.
Especially Hera.
Hera's the goddess of family, while Hestia's the goddess of home and hearth, so their role in human lives are usually intertwined. But, personality speaking, Hera is the exact opposite of Hestia.
If Hestia is the embodiment of acceptance and tolerance, then Hera's the embodiment of unshakable principle and rebellious female spirit.
But, if there's one thing that Hestia and Hera will always agree on, is that they will sacrifice anything and everything for their family. In fact, the only reason Hera didn't step down instead of Hestia – when there was the question who should step down to give place for Dyonisus – it was because they both knew that Hera is the one who should stay in power to keep their family intact, because Hera is the one able to don the mask of "the stern mother" while Hestia only able to play the role of "the loving – though a bit melancholy – aunt".
But Hestia's smile faded a little when she remembered the decision that she'd taken today.
Hestia saw a warm light appeared behind her and a woman's voice said, "How are you, sister?"
Hestia stopped poking at the hearth, stood up and turned, "Hail, Hera, Queen of The Gods."
Hera smiled at that. Hestia always hailed her with sincerity, while others – including her own children – often used that hailing with undiluted sarcasm.
"How are you, Hera?" asked Hestia. "I hope you don't work yourself too hard."
"Thank you, sis." Hera answered awkwardly. "I tried not to overwork myself, but you know how families goes these days."
Usually nobody ever asked how's Hera doing. Part of it is because she is the 'mother' figure so she's the one who's supposed to ask that question to everyone, and the other part was because most beings just doesn't like her so much that they wanted to know how Hera was doing. This, of course, does not apply to Hestia – Hera's oldest sister.
"Yes." Hestia replied. "It's also true for homes."
They're both quiet for a moment before Hera asked "How about if we sit down and talk for a bit, like the old days."
Hestia smiled and nodded. Spending their younger years in their father's stomach was not an endearing experience, but somehow it gave them time to spend together as siblings. Something that they can't really have after they took over the world.
The two sisters chatted a bit for a few minutes, sharing stories – and gossip – about the other gods. They didn't need coffee, or tea, or cakes, or cookies to share. Just the fact that they're both there, spending time talking about trivial things and enjoying each other's company is more than enough for them. They didn't even need chairs, because they're sitting on the floor right next to the hearth, just like when they sat on their father's stomach's floor when they were young, playing together to pass the time.
Finally, Hera asked, "It's very rare for you to summon me here alone, is there something you want to tell me, sis?"
Hestia's smile – which had been on her face for their whole conversation thus far – faltered and vanished completely when she nodded.
"So..." Hera urged. "What is it, sis?"
Hestia strengthened her resolve and stared Hera in the eyes.
"It's time for me to go, Hera."
Hera blinked her eyes a few times, seemed unable to take in what Hestia just said.
"Go... where, sis?"
"It's time for me to join Pan."
Hera's heart skipped a beat. "What...?"
"As you know yourself," Hestia started, not giving Hera the chance to finish. "Family values are faltering these days, and you have to exert you power to just simply to keep it in existence."
Hera opened her mouth to start, but Hestia continued, "but by doing that, you – we – have made humans thinks that 'home' is only where their family resides. They become unable to find a home in other places, except in the midst of their family.
"Humans used to need me, because in the past they were forced to live apart from their families for unbelievably long stretches of time, so they're forced to make their own homes without the presence of family.
"But now, with traveling and communications are as easy as nowadays, it's very easy for humans to think family is always identical with home. Home is no longer where the heart is, but where family is – whether you like your family or not."
"Yes, but..." Hera found it difficult to speak, because it's very rare for Hestia to speak as much as this.
"Those who choose to live with animals are branded as weird people, and those who enjoyed their home in solitude are called antisocial, and those who choose not to marry just because they don't want to are looked down upon and most times even automatically branded as homosexuals.
"Can't you see, Hera? Since you have to exert your powers to defend family values, the value of home are no longer able to be varied. Family IS home, there's no other choice of 'home' for present humans."
Hera closed her mouth, finding truth in what Hestia said.
"So..., yes. Since family is now the root of 'home', it seems my existence is no longer required." Hestia concluded.
"But, sis, it doesn't mean that you have to va... to tread the same road as Pan!"
"What other choice is there for me, Hera? The warmth of home is my essence, and yet the concept of a place where someone can be oneself without fear of judgment and ridicule no longer exists outside of family settings."
Hestia scooted over to Hera's side, touched Hera's shaking shoulder and said, "Humans do not need two patron goddesses for family, Hera. I have to go."
Unconsciously Hera shook her head slowly. She knew that what Hestia postulated is correct. They didn't have any choice. In this day and age Hera must continue to exert her full power to promote family values, but by doing so she'd erased the possibility for the acceptance of different concepts of home.
Hestia tapped Hera's shoulder softly, and Hera turned to look at her eldest sister.
A thin smile came to Hestia's lips and and she gave a soft kiss on Hera's cheek. "Give my love to the others, and please, keep my love in your heart."
After that, Hestia stood up and turned toward the twin gigantic golden doors of the Olympian throne room. The door slowly – reluctantly – opened for her for the last time.
Hestia already walked with light steps towards the door when Hera came to her senses and stood up.
She can't let her sister vanish just like that. She couldn't, she wouldn't let it to be so. She is the queen of the gods, there must be something she can do to prevent Hestia from vanishing.
But it's to late.
Hestia already stepped on the border of the door and a blinding light emanated from her body with such powerful force that Hera had to use her power simply so that she won't be swept away.
Slowly the light died out, and the golden doors swung shut with deafening sound.
Olympus shook with Hera's anguished cry.

Thursday, November 18, 2010

Le Roi Danse


Note: Okay, gue tahu seharusnya gue menulis tentang kehidupan gue di Surabaya, tapi jujur saja hampir tidak ada hal luar biasa yang patut untuk diceritakan sampai dengan saat ini. Jadi daripada blog ini menganggur, akhirnya gue memutuskan untuk menulis entry ini. Semoga saja nanti-nantinya ada hal-hal menyenangkan yang bisa gue tulis mengenai kehidupan baru gue di Surabaya.

Film ini berjudul La Roi Danse (Sang Raja Sedang Menari). Film ini adalah film berbasa Perancis buatan tahun 2000 oleh seorang sutradara Belgia bernama Gerard Corbiau.

Cerita film ini berfokus pada kehidupan dan hubungan dua orang tokoh utamanya. Tokoh yang pertama adalah seorang komposer musik Baroque bernama Jean Baptiste Lully (1632-1687),


yang dimainkan oleh Boris Terral.

Lalu penokohan yang kedua adalah Raja Louis XIV (1638-1715),

yang dimainkan oleh Benoit Magimel.


Gue nggak begitu tahu mengenai seberapa tepatnya film ini menceritakan sejarah kehidupan dan hubungan kedua tokoh itu. Biasanya gue agak terganggu dengan film-film dokumenter yang terlalu melenceng dari sejarah sebenarnya, namun untuk kali ini gue bersedia untuk menutup mata terhadap ketidaktepatan yang mungkin ada. Sebabnya adalah, musiknya amat sangat bagus sekali!

Sebelum menonton film ini gue sama sekali tidak tahu apa-apa tentang komposer yang bernama Jean Baptiste Lully, tapi begitu selesai menonton film ini, gue langsung termehek-mehek dengan komposer yang satu itu.

Perlu diperhatikan bahwa pada setting waktu yang ada di film itu, Perancis menganut selera musik yang berbeda dengan Italia. Itali cenderung kepada opera, sedangkan Perancis lebih cenderung menyukai lagu-lagu yang mengiringi tarian dan balet.

Kebetulan, raja Louis XIV suka menari. Ingat, dia bukan suka MENONTON tarian, tapi dia suka MENARI. Lully, yang kelahiran Florence (bagian dari Itali), adalah seorang komposer dengan ciri-ciri musik yang dinamis sehingga lagu-lagu buatannya memang cocok untuk menari.

Klop kan?

Karena kecocokan itulah Lully kemudian menjadi komposer favorit Louis. Lully sendiri merasa ia telah menemukan 'kanvas' yang tepat dalam diri Louis. Jadilah Lully sering membuat komposisi-komposisi lagu yang sengaja dibuat khusus untuk mengiringi tarian Louis.

Karena sering berkreasi dalam musik dan tari bersama-sama, hubungan Raja-Komposer itu menjadi dekat, bahkan Lully menjadi salah satu dari sedikit orang yang dianggap oleh Louis sebagai teman.

Dari kedekatan itu juga Lully jadi bisa memperhatikan dan menyaksikan secara langsung perkembangan Louis dari yang hanya merupakan seorang anak kecil yang diangkat menjadi raja 'boneka' oleh ibu dan menteri-menterinya, sampai Louis menjadi raja yang sebenarnya.

Itulah yang menjadi tema inti film ini, kehidupan raja Louis XIV dilihat dari mata seorang komposer istana.

Tapi untuk gue pribadi, itu tidak penting. Kalau sekedar ingin mengetahui sejarah asli kehidupan Louis dan Lully, gue bisa cari-cari website yang membahas tentang itu.

Yang membuat gue termehek-mehek berat dengan film ini adalah musiknya. Lagu-lagu yang dikedepankan dalam film ini tentu saja lagu-lagu yang dibuat oleh Lully, dan hampir semuanya benar-benar membuat gue terpesona.

Contohnya adalah "Te Deum" yang ada di video ini (lagunya dimulai di menit 2:41).



Yang ditampilkan di video itu memang bukan Te Deum yang lengkap. Itu hanya pembukaannya saja. Setelah itu seharusnya mulai masuk solo Tenor, disusul Bariton, dll sampai akhirnya paduan suara lengkap (panjang lagu itu aslinya 6 menit sendiri).

Selain lagu-lagunya, ada faktor lain yang membuat gue terpesona dengan film ini.

Kostumnya.

Walaupun ada beberapa kostum yang jujur saja terlalu tacky untuk selera gue, tapi gue harus mengakui bagian wardrobe film ini sudah berkerja dengan sangat baik.

So, untuk anda yang suka lagu-lagu baroque, atau film dokumenter (walaupun tidak benar-benar akurat), atau kostum-kostum eropa jaman abad ke-17, atau sekedar ingin melatih kemampuan bahasa Perancis, silahkan saja menonton film ini. Hehehe...

(Arrrrggghhh.... akhirnya gak tahan juga buat menulis ketidak tepatan film ini. Ada bagian dimana Louis ceritanya lagi sakit parah, dan demi mempertahankan keberlangsungan kerajaan dan dinasti, ibu Louis meminta Luois untuk menunjuk sepupu Louis sebagai pewaris tahta. Aslinya Louis punya adik laki-laki bernama Phillipe, jadi dia tidak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menggantikan dirinya kalau dia sampai meninggal sebelum sempat punya anak. Oke lah, harus gue akui kalau adik Louis adalah seorang gay, tapi fakta itu tidak pernah menghalangi siapapun untuk naik jadi raja sebelumnya (atau di masa-masa sesudahmya). Kalau penasaran adik Louis itu seperti apa, monggo dilihat sendiri



Okay, his bow tie really made him looks oh so fabulous. Tapi sekali lagi, tidak ada alasan apapun yang bisa membuat Phillipe dilupakan begitu saja dalam sebuah film yang membahas tentang kehidupan Louis.)

Sunday, November 14, 2010

A New Start (?)






Your Summer Ride is a Beetle Convertible


Fun, funky, and a little bit euro.

You love your summers to be full of style and sun!


Ya ya ya, gue tahu kalau gue sudah berbulan-bulan tidak menulis blog, dan gue tidak punya alasan baik untuk hal itu. Really sorry about that. :-p

Jadi, sudah berapa lama nih? Terakhir menulis post di bulan Februari kemarin dan sekarang sudah bulan November. Berarti 9 bulan lamanya gue sudah tidak menulis post di blog. Ckckck... bener-bener lama ya. Kalau gue cewek pasti udah ada yang nanyain apa kira-kira gue hamil kok 9 bulan nggak ada kabarnya. Untung aja gue cowok. Hahaha...

Nah, mari kita lakukan up-date tentang diri gue sejak bulan Februari itu. Pertama, gue sudah dapat SK sebagai notaris (yay!) dan bulan April kemarin gue juga sudah diambil sumpahnya sebagai Notaris di kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dan, ya, sejak bulan itu gue sudah pasang plang notaris di Gresik. Sayangnya plang itu baru dipasang di depan sebuah gedung pinjaman teman nyokap gue. Hiks... jadi intinya belum bisa dibilang kantor permanen lah. Oh well...

Lalu apa yang gue lakukan antara bulan April sampai sekarang ini, yang mana sudah 5 bulan lamanya? Well... nothing. :-D

Yup, gue tidak melakukan apapun, atau paling tidak gue tidak melakukan sesuatu yang benar-benar konstruktif.

Sejak bulan April itu gue konsentrasi dengan dengan proses penjualan rumah keluarga gue di Jakarta, yang mana prosesnya memakan waktu sampai bulan Agustus baru bisa selesai.

Di antara waktu-waktu itu gue hanya bisa mondar-mandir Jakarta-Gresik demi memenuhi syarat "tidak boleh meninggalkan wilayah tugas selama lebih dari 7 hari berturut-turut". Haeh... Capek men jadi setrikaan mondar-mandir begitu. Tapi, namanya juga bagian dari resiko pekerjaan, mau diapakan lagi?

Lalu setelah proses jual beli rumah selesai di bulan Agustus itu, langkah selanjutnya adalah proses pindahan permanen dari Jakarta ke Surabaya. Ini juga perjuangan panjang yang jujur saja sampai sekarang belum benar-benar selesai (contohnya, KTP gue sekarang masih KTP Jakarta).

Well, proses pindahan itu sendiri makan waktu sekitar 2 bulan dan pada tanggal 7 Oktober 2010 secara resmi gue pindah dari Jakarta ke Surabaya. Yeah! I'm finally back to Surabaya baby!

Jadi, secara de facto gue sekarang adalah warga Surabaya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Hehehe... Secara de jure gue masih warga Jakarta karena KTP gue masih KTP Jakarta dan gue masih belum tahu kapan bisa sempat ke Jakarta untuk mengurus perpindahan KTP itu. (kalau mengingat sifat gue, sepertinya kalau nggak kepepet banget mungkin nggak bakal gue pindah tuh KTP, hahaha...)

Untuk kalian yang tidak familier dengan geografi Provinsi Jawa Timur mungkin bertanya-tanya kenapa kok gue malah tinggal di Surabaya padahal gue adalah notaris Kabupaten Gresik. Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Kabupaten Gresik terletak pas di sebelah Barat Kota Surabaya. Jadi kalau kalian sedang melihat peta Provinsi Jawa Timur, dan kalian menemukan Kota Surabaya di peta itu, silahkan geser mata kalian sedikiiitt ke kiri, dan tadaaa... di situlah letaknya Kabupaten Gresik.

Untuk kalian yang biasa di Jakarta, bayangkan letak Kabupaten Tangerang dari arah Kota Jakarta. Ya, seperti itulah letak Kabupaten Gresik terhadap Kota Surabaya. Terlebih lagi, sejarahnya bilang kalau Kabupaten Gresik itu dulunya disebut sebagai Kabupaten Surabaya. Kemudian antara Kabupaten dan Kota Surabaya itu mengalami pemekaran, dan keduanya memisahkan diri. Supaya tidak membingungkan (mungkin, gue nggak tahu pasti sebabnya apa), Kabupaten Surabaya merubah namanya menjadi Kabupaten Gresik.

Nah untuk waktu sekarang ini gue sedang berkonsentrasi mencari bangunan (gue nggak tahu bakalan ruko, atau kios, atau apaan) yang bisa gue sewa dan gue jadikan kantor permanen gue. Yah, kepengennya sih dapat tempat di pinggir jalan besar. Bangunannya sendiri tidak perlu besar atau luas, yang penting cukup untuk dipakai kerja, tapi yang lebih penting adalah letaknya harus di pinggir jalan besar. Alasannya supaya gue bisa 'nampang' di hadapan khalayak ramai di Gresik.

Alasan utamanya, gue adalah notaris baru. Itu saja sudah merupakan alasan utama kenapa gue harus nampang di pinggir jalan besar. Gue harus meyakinkan bahwa sebanyak mungkin orang harus bisa melihat plang nama gue, dan bisa melihat kantor gue. It's the only way untuk mendapatkan klien karena notaris tidak diperbolehkan mempromosikan diri dengan cara lainnya.

Alasan yang kedua adalah, gue bisa dibilang sebagai orang baru di Gresik dan bahkan di Jawa Timur secara keseluruhan. Di sini banyak notaris-notaris baru lainnya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa Timur asli, atau lulusan Universitas Airlangga, atau sekedar sudah lama tinggal di Gresik, jadi mereka kemungkinan sudah punya kenalan-kenalan di sini yang bisa membantu mereka 'menebar nama'. Sementara gue yang besar dan sekolah di Jakarta adalah seorang newbie di sini dan baru akan memulai membangun jaringan dengan orang-orang di sini.

Yah, dengan kata lain, masih ada BANYAK hal yang harus gue lakukan di sini. Tapi untuk sementara ini, gue harus berkonsentrasi mendapatkan tempat yang bisa gue sewa untuk menjadi kantor gue.

Nah, lalu, ada satu hal lagi yang sebenarnya membuat gue akhirnya memutuskan untuk menulis post kali ini. Hal itu adalah, adik gue punya band. Yeay!

Band dia bernama Flazlite. Jujur aja, gue belum tahu banyak tentang band dia itu, tapi kemarin malam dia ngasih tahu gue tentang account band dia itu di Myspace, dan di account tersebut Flazlite memposting lagu buatan mereka sendiri, jadi buat yang anda-anda sekalian yang pengen iseng-iseng mendengarkan lagunya silahkan langsung klik di bawah ini:

FLAZLITE BAND ON MYSPACE

Judul lagu mereka adalah "Meskipun Waktu", dan sepertinya termasuk jenis lagu ballad. Gue nggak tahu memang mereka aslinya bermaksud membuat lagu itu jadi lagu ballad atau tidak, tapi yang gue tangkep setelah mendengarkan lagu itu adalah, ya, itu adalah sebuah lagu ballad.

Adek gue adalah vokalisnya (namanya Heru) jadi, iya, itu adalah suara dia. Bagus ya? (bertanya begitu sambil tersenyum sadis dan memegang pisau dengan aura mengancam)

Jadi silahkan didengarkan, dan tinggalkan komentar di account mereka. Dengar-dengar mereka masih punya lagu lainnya, dan gue pengen cepetan dengerin lagu mereka yang lain itu. Hehehe...

Terakhir, gue berencana ingin lebih aktif lagi menulis post di blog ini, terutama tentang petualangan-petualangan gue di Surabaya, Gresik, dan bahkan mungkin di wilayah-wilayah lainnya di Jawa Timur ini. Doakan saya! :-D

Saturday, February 06, 2010

Heidelberg, 4 Februari 2010


"Selamat ya, akhirnya SK kamu sudah keluar."

"Thanks."

"Besok kamu ulang tahun kan? Aku ucapin selamat dari sekarang saja ya, aku kuatirnya besok aku tidak sempat telepon."

"Terima kasih Na."

...

"Kamu sepertinya lagi banyak pikiran ya?"

"Kamu tahu?"

"Dari tadi kamu cuma jawab omonganku seadanya. Kamu cuma seperti itu kalau sedang banyak pikiran."

"Hmm..."

"Kamu sudah mulai capek lagi ya?"

"... Iya."

"Mau sampai kapan?"

"Apanya?"

"Kamu seperti ini mau sampai kapan? Dari dulu kamu selalu berusaha melakukan apa yang orang minta dari kamu, padahal kamu sendiri tahu kalau kamu capek melakukan itu semua."

"Sayangnya aku memang seperti ini."

"Aku tahu mein leibe, aku tahu. Tapi kuatir kamu tidak akan kuat kalau seperti ini terus."

"Aku juga tahu itu kok."

"Sayangnya aku juga tidak bisa meminta kamu berhenti bersikap seperti ini."

"Kenapa begitu?"

"Karena hubungan kita bisa bertahan sampai sekarang karena sifatmu yang seperti itu."

"... Iya ya?"

"Iya mein liebe, makanya aku juga berusaha menjalani apa yang kita punya sekarang ini karena kamu yang seperti itu."

"Terima kasih Na."

"Tapi..."

"Kenapa Na?"

"Aku ingin kamu bisa santai kalau kepada aku. Terkadang aku ingin kamu bersikap egois terhadap aku."

...

"Tok? Kamu denger aku kan?"

"Iya aku dengar."

"Kamu ngerti maksud aku kan?"

"Aku ngerti. Tapi sebenarnya aku juga sudah bersikap egois terhadap kamu, baik kamu sadar atau tidak."

"Aku sadar kok Tok."

"Iyakah?"

"Kamu membicarakan tentang penundaan-penundaan selama ini kan?"

"Iya."

"Aku sudah bersama kamu hampir 6 tahun Tok. Meskipun 4 tahun dari 6 tahun itu kita jalani dengan saling berjauhan, tapi aku ngerti garis besar apa yang kamu inginkan. Dan aku rela nunggu sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau sampai puas."

...

"Mein liebe, kamu denger aku kan?"

"Iya, aku denger kok."

"Kenapa kamu kedengaran ragu begitu?"

"Aku takut kalau aku tidak akan bisa puas."

"Nggak apa-apa."

"Bener?"

"Bener. Kamu sudah mau mengikuti keegoisanku selama ini. Aku rasa hanya akan adil kalau aku juga melakukan yang sama untuk kamu."

"Terima kasih Na."

"Nggak apa-apa mein liebe. Lagipula kita masih punya perjanjian kita kan?"

"Selalu. Perjanjian itu tidak akan pernah aku cabut."

" Dengan perjanjian itu, paling tidak kamu bisa fair terhadap aku."

"..."

"Selain itu, mein liebe, kita sudah punya kenangan akan malam itu kan?"

"..."

"Tok, kamu masih disana?"

"Iya, kita akan selalu punya kenangan tentang malam itu."

...

"Ya sudah, kita sudahan dulu ya mein liebe. Besok aku kerja lagi, disini sudah hampir setengah 11."

"Okay."

"Inget, jangan terlalu maksain kalau kamu sudah capek."

"Okay."

"Tschüss. Liebe dich."

*click*

"I love you too."

.........

Sunday, December 27, 2009

Breakfast



Entah sudah berapa minggu yang lalu, gue ketemuan sama si Landak di PI. Nothing special sih, cuman ketemuan buat nongkrong, ngobrol, n makan. Hehehe...

Selama di sana kita memutuskan buat makan di Pancious. Gue sendiri belum pernah makan disana, Landak yang udah pernah, n dia cukup merekomendasikan Pancious, resto yang spesialisasinya adalah pancake. Katanya lumayan enak. Gue, yang pada dasarnya adalah omnivora, jadinya ya setuju-setuju aja. Hehehe...

Gue lupa nama makanan yang gue pesen waktu itu, yang pasti gue pesen sesuatu yang berasal dari makanan breakfast. Setelah datang, gue lihat emang nggak terlalu ajaib lah makanannya. Sayang aja porsinya kurang banyak buat gue. Wakakaka... Emang sih pancake-nya bisa ditambah, tapi kan lauknya nggak bisa. Ya sama aja bohong lah menurut gue.

So, pesanan gue adalah seperti yang ada di foto di atas itu. Biasa aja kan? Pancake 2, sosis goreng, scrambled egg, n sepotong smoked beef. Tapi yang bikin gue bingung adalah sesuatu yang ada di atas smoked beef-nya. Sesuatu berwarna kuning berminyak gitu. Apakah itu?

Ternyata sepotong nanas yang digoreng. Haish... ada-ada aja. Tapi ya sudah lah. Meskipun agak tidak umum, tapi masih acceptable kok. Jadi ya gue makan aja. Lumayan, meskipun aneh makan sesuatu yang seharusnya asam-asam segar kok kali ini jadi asam-asam gurih. Khikhikhi...

Kelar gue makan tuh potongan nanas, tiba-tiba si Landak menaruh potongan nanas yang dia punya ke piring gue. Weks... ternyata dia milih menu yang sama seperti gue tapi dia nggak mau makan nanasnya. Jadilah gue yang disuruh makan tuh potongan nanas goreng. Hieh... Foto dibawah ini adalah foto piringnya si Landak yang menunjukkan menu yang sama seperti punya gue, minus nanas goreng. Wew...
.

Selanjutnya adalah hari Kamis tanggal 24 kemarin. Hehehe... Gue lagi ke Tangerang Selatan. Trus disana gue menemukan McDonald, jadilah gue berhenti buat sarapan dulu karena gue pagi-pagi udah disana. Dari luar sih nggak ada yang menunjukkan kalau McD yang ini berbeda dengan McD yang lain.

Begitu masuk, barulah terasa ada bedanya. Kalau McD lain kan dominan warna merah n kuning. Kursi-kursi tamunya juga biasanya dibuat dari besi yang sandarannya berupa besi melengkun berwarna kuning itu kan. Nah kalau di McD yang ini, temanya tuh minimalis. Kursi-kursinya berwana putih berbentuk seperti kursi berlengan, sementara mejanya berwarna metalik.

Setelah gue ke counter-nya buat pesan makanan, gue sempet bingun karena semua makanannya kok berbeda dengan yang biasa ada di McD. Biasanya di atas counter, di belakang mas2 n mbak2 kasir kan ada display yang menunjukkan menu-menu yang ditawarkan, biasanya berupa PaHe n paket-pake lainnya yang isinya adalah burger, atau ayam goreng, disertai dengan french fries n minuman cola gitu. Nah yang ini beda, karena yang ditawarkan adalah menu McMuffin, dan dari berbagai penjelasan yang ada di display itu, ternyata yang tersedia adalah menu-menu sarapan.

Huiks? Belum pernah tuh nyobain McMuffin. Akhirnya gue pilih Egg McMuffin, n yang gue dapatkan adalah seperti di foto dibawah ini.


Lumayan kok rasanya. Yang bener-bener beda cuman rotinya (muffin) n kehadiran telur ceplok yang ada di dalam McMuffin itu, tapi secara keseluruhan sih nggak jauh beda sama burger yang biasanya ada di McD. Trus itu benda yang terbungkus kertas dengan lambang McD itu adalah kentang yang digoreng. Seperti kroket gitu cuman kentangnya nggak sampai jadi puree (bubur), jadi kentangnya masih agak kasar gitu.

Well, pergi ke Kota TangSel malah menemukan McD yang agak beda dari biasanya. Hehehe... Satu hal yang masih gue pikirin sampai sekarang adalah, itu display yang menunjukkan berbagai menu sarapan apakah akan dipajang sepanjang hari atau kalau sudah siang bakal diganti dengan display yang biasa ya? Hmm...

Lanjut lagi kemarin tanggal 26 Desember. Sayang yang kali ini gue lupa foto-foto. Hiks... Oh well.

Kemaren itu seharusnya gue janjian ketemu sama Ibu Gajah di Plaza Indonesia buat berkolaborasi, tapi sayangnya si Ibu Gajah lagi sakit batuk, n terpaksa membatalkan janjian.

Well, gue pikir daripada garing dirumah mending jalan-jalan dong. Jadilah gue coba untuk menculik Winy The Pooh, dan ternyata dia mau diculik. Gyaaa... senangnya. Kangen juga gue sama Pooh yang satu itu, karena terakhir ketemu sama dia adalah sekitar 2 hari setelah lebaran, yang mana sudah beberapa bulan yang lalu.

Seperti biasa semua dimulai di Starbucks. Hehehe... Dari situ kita makan di Pancious (yup, gue craving pancious), trus lanjut jalan-jalan bentar di Aksara (wew... semuanya mahal-mahal disana), trus lanjut mencoba makan di Pizze e Birra yang letaknya di dekat Pancious.

Gue sih suka di Pizza e Birra itu, karena pizza-nya tipis, n jenis-jenis pizza-nya aneh-aneh. Gue nyobain Wasabi-wasabi, yang sesuai dengan namanya, adalah Pizza dengan wasabi. Wakaka... Serasa makan sushi rasa Pizza.

Sayangnya gue n si Pooh keenakan ngobrol sampe lupa mau foto-foto. Huhuhu...

Kelar makan, kita turun n mampir ke Body Shop karena Pooh mau cari kado natal. Dari sana, ternyata di depan Body Shop itu ada stand yang jualan kaos-kaos batita, n si Pooh mampir sebentar buat beli hadiah untuk anak temannya.

Setelah itu kita kembali ke Starbucks. Wakakaka... Dimulai dari Starbuck, diakhiri dengan Starbucks. Khikhikhi...

Well, begitulah petualangan kuliner gue. Hehehe... Selanjutnya mau kemana ya? Hmm...

Sunday, December 20, 2009

Fidelio


Huah, sudah lama tidak menulis post di blog sepertinya jari-jari gue udah mulai karatan nih. Hahaha... horror banget ya, jari kok sampe karatan?

Oh well, jujur aja gue udah ngebet banget pengen bisa ngetik-ngetik sampe puas dari entah kapan. Tapi kayanya waktu penuh melulu. Ini aja sekarang gue bela-belain supaya bisa ngetik lagi.

Sekarang yang jadi masalah, gue udah bisa menyempatkan waktu untuk mengetik, tapi malah nggak tahu mau ngetik apaan.

Haih... ada-ada aja ya?

Oh well, mungkin buat pemanasan gue mendingan nulis tentang sesuatu yang gue sukai aja kali ya? Seharusnya itu bisa mempermudah proses pemanasan kan? (yah, paling nggak teorinya sih gitu. Tentang nanti hasilnya gimana mah belakangan aja dipikirin. Wakaka...)

Jadi, setelah memilih-milih mau menulis tentang apa, gue memutuskan untuk menulis tentang sesuatu yang sejak lama menjadi kesukaan gue tapi rada jarang gue bahas.

OPERA

Yup. Seni drama panggung yang dipadukan dengan seni vokal dimana para pemerannya bernyanyi seolah-olah paru-parunya mau meloncat keluar lewat mulut mereka. Huahahaha... ya ampun, ada apa sih sama gue malam ini, kok dari tadi ilustrasinya yang horror-horror melulu ya? Yang jari berkarat lah sampe paru-paru loncat dari mulut segala. Wew...

Tapi lalu mau membahas tentang opera yang mana ya? Secara lakon opera kan jumlahnya sebejibun amit-amit banyaknya.

Setelah memilih-milih lagi, akhirnya pilihan gue jatuh pada Fidelio. Opera yang dibuat oleh Ludwig van Beethoven.

Kenapa gue pilih yang satu ini? Alasannya sederhana. Ini adalah satu-satunya opera yang dibuat oleh Beethoven. Just as simple as that.

Beethoven menggubah komposisi musik yang jumlahnya mencapai angka yang membuat mahasiswa musik lari tunggang langgang karena sudah keburu takut disuruh menghapal satu per satu sama dosen mereka. Kalau nggak percaya, coba saja buka daftar komposisi musik gubahan Beethoven di Wikipedia.

Bagaimana? Cukup mengesankan kan jumlahnya?

Tapi dari sekian banyak hasil karya Beethoven, dia hanya membuat satu Opera, yaitu Fidelio. Kenapa dia hanya membuat satu opera? Tanya saja sama Beethoven-nya sendiri. Huahaha...

So, mari kita mulai membahas tentang Fidelio ini. Ringkasan Fidelio ini gue terjemahkan dari Wikipedia tanpa ada maksud untuk mengakui bahwa tulisan ini adalah seluruhnya hasil tulisan gue sendiri. Jadi kalau kepingin baca lebih lengkapnya lagi, silahkan buka artikel Wikipedia yang membahas tentang Fidelio.

Daftar peran dalam Fidelio:
1. Florestan -> Seorang tawanan di sebuah penjara
2. Fidelio -> Asisten penjaga penjara dan tokoh utama opera ini
3. Rocco -> Penjaga penjara
4. Marzelline -> Anak perempuan Rocco
5. Jaquino -> Asisten Rocco
6. Don Pizarro -> Kepala penjara
7. Don Fernando -> Seorang menteri
(masih ditambah lagi dengan peran-peran figuran yang terdiri dari tawanan-tawanan lainnya, para prajurit, dan warga kota tempat penjara itu berada)

Catatan kecil: Gue suka sama Opera, tapi kalau gue harus menuliskan jalan cerita sebuah opera sangat sulit buat gue untuk memasukkan konsep bahwa para pemerannya bernyanyi sepanjang cerita. Jadi ada beberapa bagian yang tidak gue bahas karena bagian-bagian itu membahas tentang para pemeran yang bernyanyi tentang perasaan mereka masing-masing. Bayangin, buat gue yang suka sama opera aja konsep itu agak konyol, gimana buat mereka yang nggak suka sama opera ya? Hehehe...

Act 1
Opera ini dibuka dengan adegan Jaquino yang menanyakan kepada Marzelline kapan Marzelline akan bersedia menikahi dirinya, tetapi gadis itu menjawab bahwa ia tidak akan pernah menikahi Jaquino karena Marzelline telah jatuh cinta kepada Fidelio yang juga berkerja sebagai asisten penjaga penjara, sama seperti Jaquino. Mendapat jawaban seperti itu, Jaquino pergi meninggalkan Marzelline yang sibuk dengan pikirannya sendiri yang penuh dengan harapan untuk menjadi istri Fidelio. Tidak lama Jaquino kembali dengan disertai oleh Rocco, ayah Marzelline, dan ternyata mereka berdua sedang bertanya-tanya dimana Fidelio berada. Fidelio lantas muncul sambil membawa rantai-rantai tahanan yang baru saja diperbaiki. Rocco memuji keterampilan Fidelio yang bisa memperbaiki rantai-rantai itu, namun Fidelio menjawab pujian Rocco dengan merendahkan diri. Rocco mengira bahwa jawaban Fidelio yang rendah hati itu menandakan bahwa Fidelio juga punya hati terhadap puterinya.

Rocco kemudian memberitahu Fidelio bahwa begitu kepala penjara, Don Pizarro, pergi ke Seville maka Fidelio dan Marzelline bisa melangsungkan pernikahan mereka. Tetapi Rocco menasehati Fidelio bahwa agar agar bisa menjalani pernikahan yang bahagia, mereka perlu uang. Fidelio menjawab bahwa untuk saat ini ada satu hal yang lebih dia inginkan daripada uang, yaitu ia ingin tahu mengapa Rocco selalu tidak mengijinkan Fidelio membantu setiap Rocco mengurusi penjara bawah tanah, padahal Rocco selalu tampak lebih lelah setiap ia selesai mengurusi penjara bawah tanah. Rocco menjawab bahwa ada sel yang tidak boleh ditunjukkan kepada seorangpun di penjara bawah tanah itu, dan bahwa di sel itu ada tawanan yang sudah mendekam selama 2 tahun karena tawanan itu memiliki musuh-musuh yang berkuasa. Mendengar itu, Marzelline memohon kepada ayahnya agar jangan pernah membawa Fidelio dari pemandangan mengerikan seperti sel itu. Namun Fidelio terus mendesak Rocco, ia mengatakan bahwa ia cukup berani untuk menghadapi nuansa penjara bawah tanah yang mengerikan sampai akhirnya Rocco menyetujui permintaan Fidelio dan Marzelline juga akhirnya menarik keberatannya tadi.

Sepeninggal Fidelio, Jaquino, dan Marzelline, Rocco didatangi oleh Don Pizarro, si kepala penjara, dan Rocco memberikan pesan yang berisi peringatan kepada Don Pizarro bahwa besok seorang menteri bernama Don Fernando akan melakukan inspeksi mendadak untuk menginvestigasi berita kalau Don Pizarro adalah seorang kepala penjara yang tiran. Don Pizarro kaget karena ia tidk bisa membiarkan Don Fernando tahu tentang tawanan yang ada di penjara bawah tanah. Tawanan itu bernama Florestan, dan ia adalah seorang tawanan politik yang seharusnya sudah mati 2 tahun yang lalu. Akhirnya Don Pizarro memutuskan bahwa Florestan harus mati. Don Pizarro menawarkan untuk membayar Rocco kalau Rocco mau membunuh Florestan, namun Rocco menolak untuk melakukannya. Akhirnya Don Pizarro memutuskan bahwa ia sendiri yang akan membunuh Florestan, namun ia memerintahkan agar Rocco menggali liang kubur di dalam sumur mati yang ada di dalam penjara bawah tanah. Kalau Rocco sudah selesai menggalinya, maka ia harus memberi tanda sehingga Don Pizarro akan masuk ke penjara bawah tanah itu untuk membunuh Florestan. Sementara itu, Fidelio melihat kalau Don Pizarro dan Rocco sedang kasak-kusuk merencanakan sesuatu namun ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka rencanakan itu.

Sementara itu, Jaquino melanjutkan usahanya untuk melamar Marzelline menjadi isterinya, namun Marzelline berkeras menolaknya. Fidelio, yang kelihatannya punya agendanya sendiri dengan berkerja di penjara itu, meminta kepada Rocco untuk memberi kesempatan kepada para tawanan untuk berjalan-jalan di pekarangan penjara. Marzelline juga akhirnya ikut memohon kepada ayahnya untuk membiarkan para tawanan menikmati udara segar. Didesak seperti itu, Rocco menyetujui permintaan Fidelio dan Marzelline, dan bahkan ia akan berusaha mengalihkan perhatian Don Pizarro selama para tawanan menikmati beberapa menit kebebasan mereka mengirup udara segar. Para tawanan yang tidak sering mendapat kesempatan seperti itu bernyanyi untuk mengekspresikan rasa senang mereka, namun nyanyian mereka segera mereka hentikan karena khawatir akan terdengar oleh Don Pizarro.

Saat Rocco kembali, ia membawa beberapa berita baik untuk Fidelio. Berita pertama adalah Don Pizzaro mengijinkan Fidelio untuk menikah dengan Marzelline, sedangkan berita kedua adalah Don Pizarro mengijinkan Fidelio untuk menyertai dan membantu Rocco untuk mengurus penjara bawah tanah. Sebelum mereka berdua masuk ke penjara bawah tanah, Rocco memberitahu kepada Fidelio bahwa tawanan yang ada di dalam penjara bawah tanah itu sudah diputuskan untuk dibunuh dan dikuburkan secepatnya. Fidelio terkejut dengan berita itu, dan Rocco yang melihat betapa terkejutnya Fidelio menyarankan agar Fidelio untuk tidak ikut kali ini, tetapi Fidelio bersikeras untuk tetap menjalankan tugasnya itu dan ikut masuk ke penjara bawah tanah bersama dengan Rocco. Sebelum mereka berangkat untuk menjalankan tugas mereka, Jaquino dan Marzelline datang dan memberitahu Rocco agar melarikan diri karena Don Pizarro ternyata sudah tahu tentang para tawanan yang diberi kesempatan untuk keluar dari sel mereka, dan Don Pizarro sangat marah karenanya.

Sebelum mereka sempat bergerak, Pizarro sudah keburu datang dan menuntut penjelasan. Rocco beralasan bahwa hari itu adalah hari yang bersejarah (King's Naming Day, apapun artinya itu, hieh...) dan ia sekedar memberi kesempatan kepada para tawanan untuk merayakan hari itu. Selain itu Rocco juga membujuk Don Pizarro untuk menyimpan kemarahannya untuk dilampiaskan kepada Florestan, si tawanan di penjara bawah tanah. Pizarro akhirnya hanya menyuruh Rocco untuk secepatnya menjalankan tugasnya, yaitu menggali kubur untuk Florestan, sembari menyatakan bahwa para tawanan harus kembali masuk ke sel mereka. Perintah mana yang dijalankan dengan setengah hati oleh Rocco, Fidelio, Jaquino, dan Marzelline.

Act 2

Fokus berpindah kepada Florestan yang berada di sel penjara bawah tanah. Dia menyanyikan aria yang terkenal sangat sulit untuk dinyanyikan dalam opera ini. Aria ini berjudul Gott! Welch Dunkel Hier! In Des Lebens Fruhlingstagen. Aria ini berisikan tentang kepercayaannya kepada Tuhan dan bayangannya tentang isterinya.





Setelah itu Florestan rubuh dan jatuh tertidur. Rocco dan Fidelio datang dan menemukan Florestan yang sedang tidur, kemudian mereka bergegas melaksanakan tugas mereka menggali kubur untuk Florestan.

Saat mereka berdua sedang menggali, tiba-tiba Florestan terbangun dan akhirnya dia sadar bahwa selama ini dia telah menjadi tawanan Don Pizarro (yaolo, kemana aja nih orang 2 tahun terakhir kok bisa sampai nggak tahu ya?) dan bahwa sebentar lagi ia akan dibunuh. Florestan memohon kepada Rocco agar Rocco bersedia menyampaikan pesannya yang terkahir kepada isterinya yang bernama Leonore, namun Rocco mengatakan bahwa itu tidak bisa ia lakukan. Kecewa, akhirnya Florestan hanya meminta untuk diberi minum, dan Rocco memerintahkan kepada Fidelio untuk memberikan permintaan Florestan itu. Florestan sangat berterima kasih kepada Fidelio karena telah memberinya minum, dan mendoakan bahwa perbuatan baiknya itu akan dibalas di dunia selanjutnya. Fidelio yang tidak tega melihat Florestan seperti itu, akhirnya meminta kepada Rocco agar diijinkan memberi sepotong roti untuk Florestan, permintaan mana yang dikabulkan oleh Rocco.

Sesuai rencana awal, setelah ia selesai menggali liang kubur untuk Florestan, Rocco memberi tanda kepada Don Pizarro untuk datang. Tidak lama Don Pizarro datang bersiap untuk melaksanakan niatnya membunuh Florestan. Rocco memerintahkan Fidelio untuk keluar dari penjara bawah tanah. Fidelio berpura-pura menjalankan perintah itu, namun ia tidak keluar melainkan bersembunyi dan tetap berada di dalam penjara bawah tanah itu. Saat Don Pizaar mengeluarkan pisau yang dibawanya untuk membunuh Florestan, Fidelio muncul dari persembunyiannya untuk menghalangi Don Pizarro, dan akhirnya ia membuka indentitasnya yang sebenarnya.

Fidelio hanyalah nama samaran. Ia sebenarnya bernama Leonore, dan ia adalah isteri Florestan yang menyamar menjadi laki-laki bernama Fidelio agar bisa berkerja di penjara itu demi untuk mencaritahu tentang nasib suaminya. Don Pizarro mengangkat pisaunya untuk membunuh Leonore/Fidelio, namun Leonore/Fidelio mengeluarkan pistol yang diam-diam dibawanya dan mengancam akan menembak Don Pizarro.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara terompet yang menandakan datangnya sang menteri Don Fernando (sepertinya SiDak-nya dimajukan sehari ya? Huahaha...). Jaquino masuk ke penjara bawah tanah itu disertai oleh para prajurit untuk memberitahu Don Pizarro bahwa sang menteri telah menunggu kehadiran Don Pizarro di gerbang penjara. Rocco memerintahkan kepada para prajurit untuk mengawal Don Pizarro keluar dari penjara bawah tanah itu, sementara Don Pizarro pergi sambil tetap bersumpah akan membalas dendam. Sepeninggal Don Pizarro, Leonore/Fidelio dan Florestan mengekspresikan kebahagiaan mereka (tebak dengan apa? Yup, mereka bernyanyi. Hieh...) karena mereka telah selamat. Namun sekarang justru Rocco yang khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Florestan dan Leonore/Fidelio yang sepertinya tidak memperhatikan kekhawatiran Rocco terus melanjutkan bernyanyi (yuk, teuteup lanjut, mari...)

Diluar penjara bawah tanah, para tawanan yang dibebaskan oleh sang menteri Don Fernando bersama-sama dengan rakyat kota bernyanyi bersama tentang indahnya saat itu. Lagunya adalah Heil Sei Dem Tag! (gue suka sama lagu ini, selain itu di konser kemaren paduan suara gue juga nyanyiin lagu ini. Hehehe...)






Sang menteri Don Fernando menyatakan bahwa tirani Don Pizarro telah selesai. Rocco muncul bersama dengan Florestan dan Leonore/Fidelio, dan ia meminta kepada Don Fernando untuk menolong mereka (nolongin apa lagi ya? Don Fernando udah nolongin mereka dengan menyingkirkan Don Pizarro, emangnya kurang ditolongin seperti apa lagi sih?). Rocco menjelaskan bahwa Leonore telah menyamar menjadi Fidelio untuk menolong Florestan (bayangin betapa kagetnya si Marzelline. Kalau sudah begini, Jaquino nggak kelihatan jelek-jeleak amat kan Marzelline? Atau lo tetep mau keukeuh nikah sama Leonore? Wakaka...). Rocco juga menjelaskan tentang rencana Don Pizarro untuk membunuh Florestan, sehingga sekarang gantian Don Pizarro yang dimasukkan ke dalam penjara. Florestan (yang tanpa melalui proses pengadilan dinyatakan tidak bersalah, apapun tuduhan yang dituduhkan kepada dia, hieh... Beethoven perlu ngobrol dikit tentang proses pengadilan kali ya sama para pengacara) akhirnya dibebaskan dari rantainya oleh Leonore, sementara semua orang benyanyi untuk memuji Leonore, seorang isteri setia yang berhasil menyelamatkan suaminya.


The End


Fiuhh... panjang juga ya? Hehehe... Tapi kalau dipikir-pikir, settingnya sederhana lho. Semuanya cuman berputar-putar di dalam satu penjara itu doang, jadi dekor panggungnya nggak perlu ribet-ribet amat. Selain itu tokoh utamanya juga relatif sedikit kalau untuk ukuran opera (kan cuman Fidelio, Rocco, Don Pizarro, Florestan, Jaquino, n Marzelline, total cuman 6 orang), sisanya sih cuman peran pendukung saja kan? Coba bandingin sama Magic Flute, Habanera, atau Turandot, whew... Fidelio jauh lebih sedikit peran kuncinya.

Tapi, meskipun penokohannya cuman sedikit, dan setting latarnya cuman di satu tempat, tapi ceritanya gelap n beraaat. Udah gitu komposisi musiknya dijamin bikin para penyanyi opera latihan sampe nangis-nangis karena saking susahnya.

Itulah Beethoven, komposer musik klasik paling JUTEK sepanjang sejarah. Hieh... Tapi mungkin karena juteknya itu makanya hasil karya dia justru jadi oke. Huahaha... Intinya, kalau pengen bisa bikin lagu yang keren, kita harus latihan jutek dulu (teori ngaco mode - on)

Setelah ngeliat ini, agak bersyukur juga dia cuman bikin satu opera. Kalau dia bikin opera yang lain lagi, mungkin yang ada jadi lebih gelap lagi ceritanya. Segitu gelapnya sampe mungkin yang nonton operanya begitu selesai nonton langsung terdorong untuk bunuh diri. (hmmm... sedikit banyak jadi membayangkan bagaimana Beethoven akan bereaksi kalau dikerubungin fans-fans yang semuanya adalah cewek-cewek goth dan cowok-cowok emo. Huahaha... Ngacir kali dia ya? Tapi gue yakin, meskipun dia ngacir sampe terkencing-kencing pun, mukanya teuteup kudu harus wajib jutek. Muhahahaha...)




Hidup Beethoven!

Sunday, September 06, 2009

Last Night Together


HALOOOO!!! Hahaha... gila, sudah hampir 5 bulan gue nggak nulis blog. Hieh... bener-bener setahun ini sangat tidak memberi kesempatan untuk menulis dengan baik.

Well, tentang foto di atas, sama sekali nggak ada hubungannya sama posting kali ini. Wakaka... Foto itu adalah foto waktu perayaan (very) belated birthday kita ber-4 yang terdiri dari Ibu Tai, Laler Kepo, Lina Welly, n yours truly, hehehe... Kapan ya acara itu? Lupa gue. Wakaka...

Nah sekarang marilah kita masuk ke acara inti. (halah)

Kalau besok semuanya lancar dan tanpa halangan, malam ini adalah malam terakhir gue bersama dengan 2 buah gigi gue karena besok mereka berdua akan dicabut. Hiks...

Yang pertama adalah my 1st upper left molar (geraham kiri atas pertama), dan yang kedua adalah my 3rd lower left molar (geraham kiri bawah ketiga).

Mengenai yang pertama, dia harus dicabut karena dia memang sudah pecah sejak gue SMP dan saat ini yang tertinggal hanyalah akarnya saja. Hieh... Mengapa dia bisa pecah? Well, itu adalah kenangan pertama dan terakhir gue (sampai sejauh ini) berantem sampe tonjok-tonjokan dengan seseorang. Mwahaha... Very-very out of character for me right? Berantem sampe salah satu gigi bisa pecah. Hieh...

Sedangkan yang kedua, yaitu geraham kiri bawah ketiga, yang biasanya dikenal sebagai salah satu dari wisdom teeth, harus dicabut karena sudah bolong dengan sangat parahnya. Hehehe... Tapi emang agak lumrah sih gigi yang satu ini untuk rusak sebelum waktunya karena letaknya yang ada di belakang sekali, sehingga memang sulit untuk dibersihkan dengan baik.

Oh well, mungkin memang sudah waktunya bagi keduanya untuk pergi. Hiks... Sedih juga rasanya bepisah dengan dua buah gigi yang sudah setia menemani gue selama entah berapa belas tahun ini.

Tapi dibandingkan rasa sedih, ada satu rasa lainnya yang lebih terasa sama gue pada saat ini yaitu rasa TAKUUUTT!!! Huweee... Gile men, dicabut satu gigi aja udah bikin keringet dingin, gimana harus dicabut 2? Eeep...

Udah gitu si geraham kiri bawah ketiga itu bukan sekedar dicabut tapi harus di'operasi' kecil.

Aarrrgghhh... mendengar kata operasi aja udah bikin merinding. Membayangkan gusi gue akan disuntik bius, lalu disayat supaya bisa dicabut giginya, dan habis itu dijahit lagi. Weee... Pingsan deh gue. (apa emang mendingan pingsan aja kali ya besok, jadi kan rasanya lagi dibius total, wakaka...)

Well, pokoknya besok gue akan duduk di kursi dokter gigi berwarna hijau itu dan membiarkan seseorang mengobok-obok mulut gue untuk mencabut gigi gue. Hieh... Things I do to avoid further pains...

Entah kenapa, waktu disaranin sama dokter giginya supaya gigi gue dicabut, gue langsung oke aja tanpa mikir. Mungkin sedikit banyak alam bawah sadar gue tahu bahwa ini adalah keputusan yang paling bijaksana dibandingkan kemungkinan menghadapi sakit gigi di masa depan. Hhh...

Yah, gue berharap besok bisa berjalan dengan lancar lah semuanya.

...

......

.........

OMG!!! What have I done!!! But it's too late to back up now. I must go forward! Merdeka!

Monday, May 18, 2009

Fighting Alone


Sometimes the presence of friends in my daily life made me forgets one important thing.

We're born alone, we shall die alone, therefore we have to live life alone.

It's a grim thought. No, it's a grim reality.

We may walk this life hand in hand with our family members, with our friends, with our loved ones, but in reality we live this life alone with only our conscience as our sole friend.

This thing really showed in earnest when we're faced with a battle of our life. Our family and friends might be there with us. But the truth is, the one who fought that battle is only us as individuals.

But... sometimes... even in that darest moment in our life, we might find out one other grim reality. And that is when no one seems to understand our current position.

No matter where you look, you just can't seem to find one single open hand that tried to offer a glimmer of empathy.

At that particular moment, we will finally really truly realize that we are on our own in this battlefield called life.

Well, so be it.

I've had my share of love and warmth. Now, it's time for me to face that cold and harsh realization that I have to fight alone.

I shall plunge in to it alone, and by God's will, someday I will soar alone.

Sometimes it's unbareable, but it's fine. Loneliness can't kill me.

I have to do this, or else this darkness will engulf me. Slowly it will if I don't face this war alone.

I don't want to be angry somebody, let alone hate somebody. And I took the most logical way out. Don't give anybody the chance to make make me angry and feed this darkness with that anger.

In manus tuas, Domine, confide spiritum meum.

Friday, May 08, 2009

In Memoriam... Ibu Gajah a.k.a Queen of Piracy a.k.a MenSekJenKom a.k.a Caroline Zenia Ivana Daud



Hari ini gue n temen-temen pada kumpul di Barcode, tempat IbuTai kerja. It's a nice place. A real nice place. Sayang letaknya di Kemang, pusatnya macet Jakarta kalau pas weekend seperti hari ini.

Okay... mari kita mulai pembahasan dari awal.

Hari Rabu kemarin, tiba-tiba Ibu Gajah ngirim SMS yang isinya mengajak semua temen-temen genk (genk kita nih apa sih namanya? Kok kayanya nggak enak juga nyebutnya sebagai Genk Anak PSUT Lama) untuk kumpul-kumpul dalam rangka menyambut kembalinya si Landak dan Sapi yang baru saja ikut Kompetisi PaDus Musica Mundi di Venesia.

Btw, mereka dapat Gold level 4 untuk kategori Chamber Choire dan Gold level 2 untuk kategori Folk Song. Jadi itu tentu saja menjadi alasan tambahan untuk diadakannya acara kumpul-kumpul kali ini. Maksudnya sekalian merayakan.

So... setelah menimbang, mengingat, dan memperhatikan berbagai situasi dan kondisi, gue memutuskan untuk ikut dalam acara kumpul-kumpul hari ini. Keputusan ini benar-benar keputusan detik terakhir karena gue baru mengambil keputusan final jam setengah 6 sore, padahal acaranya mulai jam setengah 8. Hehehe...

Setelah kelar gawe, gue pulang dulu ke rumah buat sekedar setor muka n mandi, trus berangkat lagi sekitar jam setengah 7. Sampai di tujuan sekitar jam 7 lewat 1/4 (Kemang macetnya LAKNAT!)

Di perjalanan itu, gue mendapat berita mengejutkan, yaitu ternyata Ibu Gajah a.k.a Queen of Piracy a.k.a MenSekJenKom ternyata telah gugur dalam melaksanakan tugas kenegaraannya dikarenakan oleh vertigo. Dia terpaksa pulang ke rumahnya dan batal ikut acara kumpul-kumpul kali ini.

Oh... berita yang sangat menyayat hati bagi kami para sahabat-sahabat Ibu Gajah (halah... kumat deh error-nya) Kami akan selalu mengenangmu wahai sahabat. (hoeeeckh...)

Gue jadi orang pertama yang sampai di tujuan, kecuali IbuTai tentunya, karena dia kan memang kerja di situ jadi dia sudah ada di sana dari entah kapan.

Setelah ngoceh-ngoceh sama si Landak by phone karena dia nggak sampai-sampai sambil muter-muter ngeliat berbagai restoran yang ada di tempat lantai 2, akhirnya gue ketemu sama rombongan Laler, Nyamuk, Anjing Langit, dan Sapi yang baru saja sampai ketika gue sedang balik turun ke lantai 1.

Ternyata mereka mau cari makan dulu sebelum ke Barcode. Jadilah gue bersama dengan rombongan itu kembali ke lantai 2. Setelah bingung memutuskan mau makan apa, kita memutuskan untuk ke Burger King.

Waktu lagi pada pesen makanan, ternyata Landak juga sudah sampai dan dia menyusul ke Burger King. Ternyata si Landak protes makan di Burger King karena dia masih bosen makan makanan Eropa (yang mana burger adalah salah satunya), maka diapun menggeret-geret gue ke Hoka Hoka Bento.

Sebelum gue tergeret ke Hoka Hoka Bento, gue dikasih oleh-oleh sama Sapi. Oleh-olehnya kecil tapi very adorable. Hehehe...

Lihat saja sendiri.




Lucu kan, kaya gue. Huahahaha... So bulet... Khikhikhi...

Selain bulat, dia juga sangat imut (sekali lagi, seperti gue. Hoeeeckh...). Ukurannya kecil banget. Sebagai bukti betapa kecilnya dia, lihatlah foto selanjutnya ini.



Yup, yang dipegang oleh si Cucut itu adalah oleh-oleh dari Sapi. Hihihi... lucu ya? Mungkin dia cocoknya dipasang di dashboard mobil kali ya? Hmm... mendingan dikasih nama apa ya si kecil ini?

Hmm... Gue panggil dia Ben.

Thanks to Sapi, koleksi owl figure gue bertambah satu anggota lagi. Thank you Sapi. Hehehe...

Back to story.

Ternyata sesampainya gue n Landak di Hoka Hoka Bento, sang Cucut-pun juga sampai dan dia segera menyusul ke Hoka-Hoka Bento. Waktu kita lagi makan, IbuTai menelepon si Cucut dan setelah tahu kita ada di Hoka Hoka Bento, diapun menyusul ke sana.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, IbuTai pergi untuk menyapa rombongan Laler yang lagi makan di Burger King.

Nggak lama kemudian, gue, Landan, dan Cucut sudah selesai makan, dan kita berkumpul kembali dengan kelompok Laler yang ternyata juga sudah selesai makan dan sedang akan menjemput kita di Hoka Hoka Bento.

Setelah kumpul semua, kitapun menuju ke Barcode.

I have to say, that place is impressive.

Letaknya di atas atap gedung berlantai 3, dan nuansanya open air (untung malam ini cerah).

Kita sempat ngobrol-ngobrol di open terrace Barcode, tetapi kemudian semuanya memutuskan untuk masuk ke Lounge Barcode karena di sana ada AC-nya.

Di situ kita pesan Heineken 2 pitcher. Dari kita semua yang tidak minum hanya si Nyamuk. Anjing Langit, Sapi, dan IbuTai icip-icip sedikit, Laler dan Cucut masing-masing minum 1 gelas, sementara yang minum paling banyak adalah gue dan si Landak. Gue minum 3 gelas, sementara si Landak nggak tahu deh minum berapa gelas.

Hahaha... Jujur aja, gue jadi kangen sama bokap gue. Dulu waktu dia masih ada, gue dan dia sering minum bir berdua sambil ngobrol-ngobrol. Sebenernya kita berdua nggak begitu suka bir, tapi dia bilang tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru.

It really brings back so many memories...

Nah, pas kita lagi di lounge itulah baru bener-bener terasa betapa MATI GAYA-nya kita tanpa kehadiran Ibu Gajah. IbuTai yang langsung memperhatikan itu, sementara kita semua baru nyadar hal itu waktu dia mengatakannya.

Emang bener sih, tanpa si MenSekJenKom (aduh... tuh gelar kok makin ngaco sih?), kita semua jadi sering kehabisan bahan omongan. Si Anjing Langit yang biasanya rame juga jadi sering kehabisan bahan omongan (BAYANGKAN!!!). Terlalu banya silent moment di antara kita selama acara kumpul-kumpul ini. Hieh...

Makanya... diharapkan kepada Ibu Gajah a.k.a MenSekJenKom untuk menjaga kesehatannya pada saat akan ada acara seperti ini.

Parahnya lagi, karena sudah kebiasaan ada Ibu Gajah yang biasa bawa kamera, kita semua nggak ada yang bawa kamera di pertemuan ini. Jadilah untuk kepentingan penulisan blog ini, yang mana juga berfungsi sebagai laporan kepada MenSekJenKom, gue terpaksa pakai kamera HP. Hasilnya adalah foto yang ada di awal post ini. Jadi, harap maklum kalau fotonya blur dan gelap karena HP gue cuman 1MP dan tidak ada blitz-nya pula. Hehehe...

Tapi ini adalah salah satu malam paling menyenangkan yang pernah gue lalui. I'm thankful to God for it.

Kepada Ibu Gajah a.k.a MenSekJenKom: CEPETAN SEHAT YA MBAK!!! Hehehe...

Friday, April 24, 2009

Pre-Competition Orcelae Vox Sacra


Thank GOD, finally a chance to write something in peace. Hhh...

Well, first things first. Gue sudah lihat trailler film HarPot yang ke-6. DAN, seperti yang gue khawatirkan, karena produksi seri-seri film HarPot, pemeran film-nya sudah kelihatan terlalu dewasa untuk peran yang mereka bawakan. Terutama Emma Watson, yang seharusnya membawakan peran Hermione Granger yang berusia 16 tahun, padahal aslinya dia sudah berumur lebih dari itu (gue nggak yakin dia sekarang umur berapa), jadinya badan dia sudah terlalu 'jadi' untuk badan anak perempuan usia 16 tahun.

Yah, gue cuman bisa berharap supaya paling tidak akting mereka bisa mengimbangi ketidaktepatan usia mereka. Hehehe... Paling nggak gue mengharapkan adegan Dumbledore tewas bisa dibikin setragis mungkin, alias jangan asal lewat trus hai thank you good bye gitu aja. Bisa gue kutuk-kutuk sutradara tuh film.

Secondly, gue sekarang lagi keracunan film-film anime. Damn those Japanese! How can they make such beautiful story line! Cerita-cerita yang mereka buat bener-bener nggak ada yang dangkal. Bahkan buat gue yang tidak begitu suka cerita romantis saja bisa langsung terpesona sama anime yang temanya romantis, sekedar karena mereka kalau bikin cerita pasti nggak garing. Bahkan cerita-cerita yang cliche dan mudah ditebakpun jatuhnya jadi bagus banget kalau dibikin sama orang-orang Jepang itu. Hieh... Oh well, at least I'm enjoying it. Hehehe...

Sekarang yang ketiga (the main event, drum roll please...). Hari ini (24 April 2009), gue dateng di event Pre-Competition Orcelae Vox Sacra. Mereka akan berangkat untuk mengikuti kompetisi di Venesia akhir bulan ini, dan untuk menguji hasil latihan mereka selama ini, mereka mengadakan pre-competition ini yang sifatnya lebih seperti konser singkat yang isinya adalah lagu-lagu yang akan mereka bawakan di kompetisi Venesia nanti.

Well, jujur saja gue nggak bisa memberikan first impression judgement untuk mereka, karena gue sudah beberapa kali menonton mereka latihan. Jadi waktu menonton mereka tadi, gue nggak bisa dibilang surprised dengan penampilan mereka karena gue sudah punya bayangan terlebih dahulu.

So, gue cuman bisa memberikan assesment perkembangan mereka dari pertama kali gue denger mereka latihan.

Kemajuan mereka sudah sangat pesat. Dari pertama kali gue denger mereka latihan dengan power yang masih seadanya, sekarang mereka sudah bisa nyanyi dengan power yang sudah sangat lumayan.

Blending-nya juga bagus, meskipun tidak bisa ditutupi bahwa masing-masing dari keempat suara masih tergantung pada beberapa personil yang berperan sebagai 'blender' bagi rekan-rekan sesama suaranya. Kehadiran sang 'blender' paling terasa di Tenor. Meskipun yang lain sudah bisa kontrol suara, tapi suara para tenor entah mengapa menyatu dengan warna orang yang satu itu. Hmm... nggak apa-apa sih, tapi yang gue takut kalau orang yang satu itu tidak ada, apakah Tenor masih bisa blend seperti tadi.

Warna suara Tenor dan Sopran sudah sangat tepat. Sangat terang dan menembus langit (hiperbola mode - on). Sementara Bass dan Alto kok jadi ikut-ikutan terang ya? Kalau untuk folk song mungkin tidak apa-apa ya, tapi untuk musica sacra, terutama yang ada canon-nya, warna Bass dan Alto yang kurang gelap itu bisa berpengaruh sangat besar, karena masing-masing dari 4 suara punya bagian dimana mereka pegang melodi. Kalau saat mereka pegang melodi, dan hasilnya kurang gelap, bisa-bisa orang-orang mengira kalau bagian bass dinyanyikan oleh tenor. Ya kan?

Selanjutnya adalah solmisasi. Hmm... bagian ini agak memang paling menyusahkan tapi wajib dilaksanakan dengan sesempurna mungkin, karena setengah dari nyawa lagu dipegang oleh solmisasi. Sayangnya gue masih bisa menemukan beberapa bagian dimana ada penyanyi yang salah tembak nada, sehingga hasilnya kunci yang dihasilkan menjadi agak false. Mungkin kalau gangguan ini muncul di folk song, gue bisa bilang kalau gangguan ini muncul dari koreografi yang sedikit banyak akan mengganggu pernafasan dan oleh karenanya integritas nada juga jadi terganggu, tapi gue bisa merasakan gangguan ini di musica sacra, dimana para penyanyi hanya berkonsentrasi dengan menyanyi tanpa koreografi. Jadi saran gue, lebih hati-hati dalam menembak nada supaya tidak muncul kunci-kunci yang ajaib, okay.

Sekarang tentang harmonisasi. Hmm... gue nggak bisa memberi pendapat yang terlalu akurat untuk hal ini, karena gue nggak punya partiturnya jadi gue cuman bisa menebak-nebak tentang harmonisasi. Sayangnya, gue belum bisa merasakan harmonisasi yang berarti. Memang sih di bagian-bagian yang menembak tinggi, mayoritas jadi fortisimo, sebaliknya kalau sedang menembak nada bawah sebagian besar pasti jadi pianissimo. Tapi yang gue pengen tahu adalah, apakah memang seperti itu? Apakah setiap nada tinggi pasti fortisimo, dan setiap nada rendah pasti pianissimo? Misteri Illahi. Huahaha...

Well, untuk sekarang begitu dulu komentar gue. Ntar gue coba inget-inget lagi ada komentar lain atau tidak.

Sekarang nilai rata-ratanya. Drum roll please... hehehe...

8

A big fat eight!

Huahaha...

Selamat ya!

Haeh... Semoga nilai 8 gue sama seperti nilai 8 para juri di Venesia ntar. Wakakaka...

Pesan terakhir gue adalah... PeDe aja okey. Terutama untuk Folk Song. Karena sebagai orang Indonesia, kita selalu curang kalau sudah tentang Folk Song. Hehehe... Gimana mau nggak curang kalau Folk Song Indonesia sangat beraneka ragam dan eksotik dengan cirinya masing-masing. Jadi kalau Folk Song, gue yakin 60% pasti bisa menang selama lagu-lagu itu dibawakan dengan nada yang tepat. Jadi kalau sampai kalah, hieh... kelewatan.

Jadi PeDe-lah kalian semua, karena kalian sudah punya senjata pamungkas yang bernama Folk Song untuk memenangkan kompetisi ini!

Selain itu, berpeganganlah pada kata-kata yang ada pada salah satu musica sacra yang akan kalian bawakan. In Manus Tuas, Domine, Confide Spiritum Meum. Serahkan jiwa kalian pada Tuhan, dan biarkan Dia yang mengatur selanjutnya bagaimana.

God bless you all, and send you to victory!