Sunday, December 27, 2009

Breakfast



Entah sudah berapa minggu yang lalu, gue ketemuan sama si Landak di PI. Nothing special sih, cuman ketemuan buat nongkrong, ngobrol, n makan. Hehehe...

Selama di sana kita memutuskan buat makan di Pancious. Gue sendiri belum pernah makan disana, Landak yang udah pernah, n dia cukup merekomendasikan Pancious, resto yang spesialisasinya adalah pancake. Katanya lumayan enak. Gue, yang pada dasarnya adalah omnivora, jadinya ya setuju-setuju aja. Hehehe...

Gue lupa nama makanan yang gue pesen waktu itu, yang pasti gue pesen sesuatu yang berasal dari makanan breakfast. Setelah datang, gue lihat emang nggak terlalu ajaib lah makanannya. Sayang aja porsinya kurang banyak buat gue. Wakakaka... Emang sih pancake-nya bisa ditambah, tapi kan lauknya nggak bisa. Ya sama aja bohong lah menurut gue.

So, pesanan gue adalah seperti yang ada di foto di atas itu. Biasa aja kan? Pancake 2, sosis goreng, scrambled egg, n sepotong smoked beef. Tapi yang bikin gue bingung adalah sesuatu yang ada di atas smoked beef-nya. Sesuatu berwarna kuning berminyak gitu. Apakah itu?

Ternyata sepotong nanas yang digoreng. Haish... ada-ada aja. Tapi ya sudah lah. Meskipun agak tidak umum, tapi masih acceptable kok. Jadi ya gue makan aja. Lumayan, meskipun aneh makan sesuatu yang seharusnya asam-asam segar kok kali ini jadi asam-asam gurih. Khikhikhi...

Kelar gue makan tuh potongan nanas, tiba-tiba si Landak menaruh potongan nanas yang dia punya ke piring gue. Weks... ternyata dia milih menu yang sama seperti gue tapi dia nggak mau makan nanasnya. Jadilah gue yang disuruh makan tuh potongan nanas goreng. Hieh... Foto dibawah ini adalah foto piringnya si Landak yang menunjukkan menu yang sama seperti punya gue, minus nanas goreng. Wew...
.

Selanjutnya adalah hari Kamis tanggal 24 kemarin. Hehehe... Gue lagi ke Tangerang Selatan. Trus disana gue menemukan McDonald, jadilah gue berhenti buat sarapan dulu karena gue pagi-pagi udah disana. Dari luar sih nggak ada yang menunjukkan kalau McD yang ini berbeda dengan McD yang lain.

Begitu masuk, barulah terasa ada bedanya. Kalau McD lain kan dominan warna merah n kuning. Kursi-kursi tamunya juga biasanya dibuat dari besi yang sandarannya berupa besi melengkun berwarna kuning itu kan. Nah kalau di McD yang ini, temanya tuh minimalis. Kursi-kursinya berwana putih berbentuk seperti kursi berlengan, sementara mejanya berwarna metalik.

Setelah gue ke counter-nya buat pesan makanan, gue sempet bingun karena semua makanannya kok berbeda dengan yang biasa ada di McD. Biasanya di atas counter, di belakang mas2 n mbak2 kasir kan ada display yang menunjukkan menu-menu yang ditawarkan, biasanya berupa PaHe n paket-pake lainnya yang isinya adalah burger, atau ayam goreng, disertai dengan french fries n minuman cola gitu. Nah yang ini beda, karena yang ditawarkan adalah menu McMuffin, dan dari berbagai penjelasan yang ada di display itu, ternyata yang tersedia adalah menu-menu sarapan.

Huiks? Belum pernah tuh nyobain McMuffin. Akhirnya gue pilih Egg McMuffin, n yang gue dapatkan adalah seperti di foto dibawah ini.


Lumayan kok rasanya. Yang bener-bener beda cuman rotinya (muffin) n kehadiran telur ceplok yang ada di dalam McMuffin itu, tapi secara keseluruhan sih nggak jauh beda sama burger yang biasanya ada di McD. Trus itu benda yang terbungkus kertas dengan lambang McD itu adalah kentang yang digoreng. Seperti kroket gitu cuman kentangnya nggak sampai jadi puree (bubur), jadi kentangnya masih agak kasar gitu.

Well, pergi ke Kota TangSel malah menemukan McD yang agak beda dari biasanya. Hehehe... Satu hal yang masih gue pikirin sampai sekarang adalah, itu display yang menunjukkan berbagai menu sarapan apakah akan dipajang sepanjang hari atau kalau sudah siang bakal diganti dengan display yang biasa ya? Hmm...

Lanjut lagi kemarin tanggal 26 Desember. Sayang yang kali ini gue lupa foto-foto. Hiks... Oh well.

Kemaren itu seharusnya gue janjian ketemu sama Ibu Gajah di Plaza Indonesia buat berkolaborasi, tapi sayangnya si Ibu Gajah lagi sakit batuk, n terpaksa membatalkan janjian.

Well, gue pikir daripada garing dirumah mending jalan-jalan dong. Jadilah gue coba untuk menculik Winy The Pooh, dan ternyata dia mau diculik. Gyaaa... senangnya. Kangen juga gue sama Pooh yang satu itu, karena terakhir ketemu sama dia adalah sekitar 2 hari setelah lebaran, yang mana sudah beberapa bulan yang lalu.

Seperti biasa semua dimulai di Starbucks. Hehehe... Dari situ kita makan di Pancious (yup, gue craving pancious), trus lanjut jalan-jalan bentar di Aksara (wew... semuanya mahal-mahal disana), trus lanjut mencoba makan di Pizze e Birra yang letaknya di dekat Pancious.

Gue sih suka di Pizza e Birra itu, karena pizza-nya tipis, n jenis-jenis pizza-nya aneh-aneh. Gue nyobain Wasabi-wasabi, yang sesuai dengan namanya, adalah Pizza dengan wasabi. Wakaka... Serasa makan sushi rasa Pizza.

Sayangnya gue n si Pooh keenakan ngobrol sampe lupa mau foto-foto. Huhuhu...

Kelar makan, kita turun n mampir ke Body Shop karena Pooh mau cari kado natal. Dari sana, ternyata di depan Body Shop itu ada stand yang jualan kaos-kaos batita, n si Pooh mampir sebentar buat beli hadiah untuk anak temannya.

Setelah itu kita kembali ke Starbucks. Wakakaka... Dimulai dari Starbuck, diakhiri dengan Starbucks. Khikhikhi...

Well, begitulah petualangan kuliner gue. Hehehe... Selanjutnya mau kemana ya? Hmm...

Sunday, December 20, 2009

Fidelio


Huah, sudah lama tidak menulis post di blog sepertinya jari-jari gue udah mulai karatan nih. Hahaha... horror banget ya, jari kok sampe karatan?

Oh well, jujur aja gue udah ngebet banget pengen bisa ngetik-ngetik sampe puas dari entah kapan. Tapi kayanya waktu penuh melulu. Ini aja sekarang gue bela-belain supaya bisa ngetik lagi.

Sekarang yang jadi masalah, gue udah bisa menyempatkan waktu untuk mengetik, tapi malah nggak tahu mau ngetik apaan.

Haih... ada-ada aja ya?

Oh well, mungkin buat pemanasan gue mendingan nulis tentang sesuatu yang gue sukai aja kali ya? Seharusnya itu bisa mempermudah proses pemanasan kan? (yah, paling nggak teorinya sih gitu. Tentang nanti hasilnya gimana mah belakangan aja dipikirin. Wakaka...)

Jadi, setelah memilih-milih mau menulis tentang apa, gue memutuskan untuk menulis tentang sesuatu yang sejak lama menjadi kesukaan gue tapi rada jarang gue bahas.

OPERA

Yup. Seni drama panggung yang dipadukan dengan seni vokal dimana para pemerannya bernyanyi seolah-olah paru-parunya mau meloncat keluar lewat mulut mereka. Huahahaha... ya ampun, ada apa sih sama gue malam ini, kok dari tadi ilustrasinya yang horror-horror melulu ya? Yang jari berkarat lah sampe paru-paru loncat dari mulut segala. Wew...

Tapi lalu mau membahas tentang opera yang mana ya? Secara lakon opera kan jumlahnya sebejibun amit-amit banyaknya.

Setelah memilih-milih lagi, akhirnya pilihan gue jatuh pada Fidelio. Opera yang dibuat oleh Ludwig van Beethoven.

Kenapa gue pilih yang satu ini? Alasannya sederhana. Ini adalah satu-satunya opera yang dibuat oleh Beethoven. Just as simple as that.

Beethoven menggubah komposisi musik yang jumlahnya mencapai angka yang membuat mahasiswa musik lari tunggang langgang karena sudah keburu takut disuruh menghapal satu per satu sama dosen mereka. Kalau nggak percaya, coba saja buka daftar komposisi musik gubahan Beethoven di Wikipedia.

Bagaimana? Cukup mengesankan kan jumlahnya?

Tapi dari sekian banyak hasil karya Beethoven, dia hanya membuat satu Opera, yaitu Fidelio. Kenapa dia hanya membuat satu opera? Tanya saja sama Beethoven-nya sendiri. Huahaha...

So, mari kita mulai membahas tentang Fidelio ini. Ringkasan Fidelio ini gue terjemahkan dari Wikipedia tanpa ada maksud untuk mengakui bahwa tulisan ini adalah seluruhnya hasil tulisan gue sendiri. Jadi kalau kepingin baca lebih lengkapnya lagi, silahkan buka artikel Wikipedia yang membahas tentang Fidelio.

Daftar peran dalam Fidelio:
1. Florestan -> Seorang tawanan di sebuah penjara
2. Fidelio -> Asisten penjaga penjara dan tokoh utama opera ini
3. Rocco -> Penjaga penjara
4. Marzelline -> Anak perempuan Rocco
5. Jaquino -> Asisten Rocco
6. Don Pizarro -> Kepala penjara
7. Don Fernando -> Seorang menteri
(masih ditambah lagi dengan peran-peran figuran yang terdiri dari tawanan-tawanan lainnya, para prajurit, dan warga kota tempat penjara itu berada)

Catatan kecil: Gue suka sama Opera, tapi kalau gue harus menuliskan jalan cerita sebuah opera sangat sulit buat gue untuk memasukkan konsep bahwa para pemerannya bernyanyi sepanjang cerita. Jadi ada beberapa bagian yang tidak gue bahas karena bagian-bagian itu membahas tentang para pemeran yang bernyanyi tentang perasaan mereka masing-masing. Bayangin, buat gue yang suka sama opera aja konsep itu agak konyol, gimana buat mereka yang nggak suka sama opera ya? Hehehe...

Act 1
Opera ini dibuka dengan adegan Jaquino yang menanyakan kepada Marzelline kapan Marzelline akan bersedia menikahi dirinya, tetapi gadis itu menjawab bahwa ia tidak akan pernah menikahi Jaquino karena Marzelline telah jatuh cinta kepada Fidelio yang juga berkerja sebagai asisten penjaga penjara, sama seperti Jaquino. Mendapat jawaban seperti itu, Jaquino pergi meninggalkan Marzelline yang sibuk dengan pikirannya sendiri yang penuh dengan harapan untuk menjadi istri Fidelio. Tidak lama Jaquino kembali dengan disertai oleh Rocco, ayah Marzelline, dan ternyata mereka berdua sedang bertanya-tanya dimana Fidelio berada. Fidelio lantas muncul sambil membawa rantai-rantai tahanan yang baru saja diperbaiki. Rocco memuji keterampilan Fidelio yang bisa memperbaiki rantai-rantai itu, namun Fidelio menjawab pujian Rocco dengan merendahkan diri. Rocco mengira bahwa jawaban Fidelio yang rendah hati itu menandakan bahwa Fidelio juga punya hati terhadap puterinya.

Rocco kemudian memberitahu Fidelio bahwa begitu kepala penjara, Don Pizarro, pergi ke Seville maka Fidelio dan Marzelline bisa melangsungkan pernikahan mereka. Tetapi Rocco menasehati Fidelio bahwa agar agar bisa menjalani pernikahan yang bahagia, mereka perlu uang. Fidelio menjawab bahwa untuk saat ini ada satu hal yang lebih dia inginkan daripada uang, yaitu ia ingin tahu mengapa Rocco selalu tidak mengijinkan Fidelio membantu setiap Rocco mengurusi penjara bawah tanah, padahal Rocco selalu tampak lebih lelah setiap ia selesai mengurusi penjara bawah tanah. Rocco menjawab bahwa ada sel yang tidak boleh ditunjukkan kepada seorangpun di penjara bawah tanah itu, dan bahwa di sel itu ada tawanan yang sudah mendekam selama 2 tahun karena tawanan itu memiliki musuh-musuh yang berkuasa. Mendengar itu, Marzelline memohon kepada ayahnya agar jangan pernah membawa Fidelio dari pemandangan mengerikan seperti sel itu. Namun Fidelio terus mendesak Rocco, ia mengatakan bahwa ia cukup berani untuk menghadapi nuansa penjara bawah tanah yang mengerikan sampai akhirnya Rocco menyetujui permintaan Fidelio dan Marzelline juga akhirnya menarik keberatannya tadi.

Sepeninggal Fidelio, Jaquino, dan Marzelline, Rocco didatangi oleh Don Pizarro, si kepala penjara, dan Rocco memberikan pesan yang berisi peringatan kepada Don Pizarro bahwa besok seorang menteri bernama Don Fernando akan melakukan inspeksi mendadak untuk menginvestigasi berita kalau Don Pizarro adalah seorang kepala penjara yang tiran. Don Pizarro kaget karena ia tidk bisa membiarkan Don Fernando tahu tentang tawanan yang ada di penjara bawah tanah. Tawanan itu bernama Florestan, dan ia adalah seorang tawanan politik yang seharusnya sudah mati 2 tahun yang lalu. Akhirnya Don Pizarro memutuskan bahwa Florestan harus mati. Don Pizarro menawarkan untuk membayar Rocco kalau Rocco mau membunuh Florestan, namun Rocco menolak untuk melakukannya. Akhirnya Don Pizarro memutuskan bahwa ia sendiri yang akan membunuh Florestan, namun ia memerintahkan agar Rocco menggali liang kubur di dalam sumur mati yang ada di dalam penjara bawah tanah. Kalau Rocco sudah selesai menggalinya, maka ia harus memberi tanda sehingga Don Pizarro akan masuk ke penjara bawah tanah itu untuk membunuh Florestan. Sementara itu, Fidelio melihat kalau Don Pizarro dan Rocco sedang kasak-kusuk merencanakan sesuatu namun ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka rencanakan itu.

Sementara itu, Jaquino melanjutkan usahanya untuk melamar Marzelline menjadi isterinya, namun Marzelline berkeras menolaknya. Fidelio, yang kelihatannya punya agendanya sendiri dengan berkerja di penjara itu, meminta kepada Rocco untuk memberi kesempatan kepada para tawanan untuk berjalan-jalan di pekarangan penjara. Marzelline juga akhirnya ikut memohon kepada ayahnya untuk membiarkan para tawanan menikmati udara segar. Didesak seperti itu, Rocco menyetujui permintaan Fidelio dan Marzelline, dan bahkan ia akan berusaha mengalihkan perhatian Don Pizarro selama para tawanan menikmati beberapa menit kebebasan mereka mengirup udara segar. Para tawanan yang tidak sering mendapat kesempatan seperti itu bernyanyi untuk mengekspresikan rasa senang mereka, namun nyanyian mereka segera mereka hentikan karena khawatir akan terdengar oleh Don Pizarro.

Saat Rocco kembali, ia membawa beberapa berita baik untuk Fidelio. Berita pertama adalah Don Pizzaro mengijinkan Fidelio untuk menikah dengan Marzelline, sedangkan berita kedua adalah Don Pizarro mengijinkan Fidelio untuk menyertai dan membantu Rocco untuk mengurus penjara bawah tanah. Sebelum mereka berdua masuk ke penjara bawah tanah, Rocco memberitahu kepada Fidelio bahwa tawanan yang ada di dalam penjara bawah tanah itu sudah diputuskan untuk dibunuh dan dikuburkan secepatnya. Fidelio terkejut dengan berita itu, dan Rocco yang melihat betapa terkejutnya Fidelio menyarankan agar Fidelio untuk tidak ikut kali ini, tetapi Fidelio bersikeras untuk tetap menjalankan tugasnya itu dan ikut masuk ke penjara bawah tanah bersama dengan Rocco. Sebelum mereka berangkat untuk menjalankan tugas mereka, Jaquino dan Marzelline datang dan memberitahu Rocco agar melarikan diri karena Don Pizarro ternyata sudah tahu tentang para tawanan yang diberi kesempatan untuk keluar dari sel mereka, dan Don Pizarro sangat marah karenanya.

Sebelum mereka sempat bergerak, Pizarro sudah keburu datang dan menuntut penjelasan. Rocco beralasan bahwa hari itu adalah hari yang bersejarah (King's Naming Day, apapun artinya itu, hieh...) dan ia sekedar memberi kesempatan kepada para tawanan untuk merayakan hari itu. Selain itu Rocco juga membujuk Don Pizarro untuk menyimpan kemarahannya untuk dilampiaskan kepada Florestan, si tawanan di penjara bawah tanah. Pizarro akhirnya hanya menyuruh Rocco untuk secepatnya menjalankan tugasnya, yaitu menggali kubur untuk Florestan, sembari menyatakan bahwa para tawanan harus kembali masuk ke sel mereka. Perintah mana yang dijalankan dengan setengah hati oleh Rocco, Fidelio, Jaquino, dan Marzelline.

Act 2

Fokus berpindah kepada Florestan yang berada di sel penjara bawah tanah. Dia menyanyikan aria yang terkenal sangat sulit untuk dinyanyikan dalam opera ini. Aria ini berjudul Gott! Welch Dunkel Hier! In Des Lebens Fruhlingstagen. Aria ini berisikan tentang kepercayaannya kepada Tuhan dan bayangannya tentang isterinya.





Setelah itu Florestan rubuh dan jatuh tertidur. Rocco dan Fidelio datang dan menemukan Florestan yang sedang tidur, kemudian mereka bergegas melaksanakan tugas mereka menggali kubur untuk Florestan.

Saat mereka berdua sedang menggali, tiba-tiba Florestan terbangun dan akhirnya dia sadar bahwa selama ini dia telah menjadi tawanan Don Pizarro (yaolo, kemana aja nih orang 2 tahun terakhir kok bisa sampai nggak tahu ya?) dan bahwa sebentar lagi ia akan dibunuh. Florestan memohon kepada Rocco agar Rocco bersedia menyampaikan pesannya yang terkahir kepada isterinya yang bernama Leonore, namun Rocco mengatakan bahwa itu tidak bisa ia lakukan. Kecewa, akhirnya Florestan hanya meminta untuk diberi minum, dan Rocco memerintahkan kepada Fidelio untuk memberikan permintaan Florestan itu. Florestan sangat berterima kasih kepada Fidelio karena telah memberinya minum, dan mendoakan bahwa perbuatan baiknya itu akan dibalas di dunia selanjutnya. Fidelio yang tidak tega melihat Florestan seperti itu, akhirnya meminta kepada Rocco agar diijinkan memberi sepotong roti untuk Florestan, permintaan mana yang dikabulkan oleh Rocco.

Sesuai rencana awal, setelah ia selesai menggali liang kubur untuk Florestan, Rocco memberi tanda kepada Don Pizarro untuk datang. Tidak lama Don Pizarro datang bersiap untuk melaksanakan niatnya membunuh Florestan. Rocco memerintahkan Fidelio untuk keluar dari penjara bawah tanah. Fidelio berpura-pura menjalankan perintah itu, namun ia tidak keluar melainkan bersembunyi dan tetap berada di dalam penjara bawah tanah itu. Saat Don Pizaar mengeluarkan pisau yang dibawanya untuk membunuh Florestan, Fidelio muncul dari persembunyiannya untuk menghalangi Don Pizarro, dan akhirnya ia membuka indentitasnya yang sebenarnya.

Fidelio hanyalah nama samaran. Ia sebenarnya bernama Leonore, dan ia adalah isteri Florestan yang menyamar menjadi laki-laki bernama Fidelio agar bisa berkerja di penjara itu demi untuk mencaritahu tentang nasib suaminya. Don Pizarro mengangkat pisaunya untuk membunuh Leonore/Fidelio, namun Leonore/Fidelio mengeluarkan pistol yang diam-diam dibawanya dan mengancam akan menembak Don Pizarro.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara terompet yang menandakan datangnya sang menteri Don Fernando (sepertinya SiDak-nya dimajukan sehari ya? Huahaha...). Jaquino masuk ke penjara bawah tanah itu disertai oleh para prajurit untuk memberitahu Don Pizarro bahwa sang menteri telah menunggu kehadiran Don Pizarro di gerbang penjara. Rocco memerintahkan kepada para prajurit untuk mengawal Don Pizarro keluar dari penjara bawah tanah itu, sementara Don Pizarro pergi sambil tetap bersumpah akan membalas dendam. Sepeninggal Don Pizarro, Leonore/Fidelio dan Florestan mengekspresikan kebahagiaan mereka (tebak dengan apa? Yup, mereka bernyanyi. Hieh...) karena mereka telah selamat. Namun sekarang justru Rocco yang khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Florestan dan Leonore/Fidelio yang sepertinya tidak memperhatikan kekhawatiran Rocco terus melanjutkan bernyanyi (yuk, teuteup lanjut, mari...)

Diluar penjara bawah tanah, para tawanan yang dibebaskan oleh sang menteri Don Fernando bersama-sama dengan rakyat kota bernyanyi bersama tentang indahnya saat itu. Lagunya adalah Heil Sei Dem Tag! (gue suka sama lagu ini, selain itu di konser kemaren paduan suara gue juga nyanyiin lagu ini. Hehehe...)






Sang menteri Don Fernando menyatakan bahwa tirani Don Pizarro telah selesai. Rocco muncul bersama dengan Florestan dan Leonore/Fidelio, dan ia meminta kepada Don Fernando untuk menolong mereka (nolongin apa lagi ya? Don Fernando udah nolongin mereka dengan menyingkirkan Don Pizarro, emangnya kurang ditolongin seperti apa lagi sih?). Rocco menjelaskan bahwa Leonore telah menyamar menjadi Fidelio untuk menolong Florestan (bayangin betapa kagetnya si Marzelline. Kalau sudah begini, Jaquino nggak kelihatan jelek-jeleak amat kan Marzelline? Atau lo tetep mau keukeuh nikah sama Leonore? Wakaka...). Rocco juga menjelaskan tentang rencana Don Pizarro untuk membunuh Florestan, sehingga sekarang gantian Don Pizarro yang dimasukkan ke dalam penjara. Florestan (yang tanpa melalui proses pengadilan dinyatakan tidak bersalah, apapun tuduhan yang dituduhkan kepada dia, hieh... Beethoven perlu ngobrol dikit tentang proses pengadilan kali ya sama para pengacara) akhirnya dibebaskan dari rantainya oleh Leonore, sementara semua orang benyanyi untuk memuji Leonore, seorang isteri setia yang berhasil menyelamatkan suaminya.


The End


Fiuhh... panjang juga ya? Hehehe... Tapi kalau dipikir-pikir, settingnya sederhana lho. Semuanya cuman berputar-putar di dalam satu penjara itu doang, jadi dekor panggungnya nggak perlu ribet-ribet amat. Selain itu tokoh utamanya juga relatif sedikit kalau untuk ukuran opera (kan cuman Fidelio, Rocco, Don Pizarro, Florestan, Jaquino, n Marzelline, total cuman 6 orang), sisanya sih cuman peran pendukung saja kan? Coba bandingin sama Magic Flute, Habanera, atau Turandot, whew... Fidelio jauh lebih sedikit peran kuncinya.

Tapi, meskipun penokohannya cuman sedikit, dan setting latarnya cuman di satu tempat, tapi ceritanya gelap n beraaat. Udah gitu komposisi musiknya dijamin bikin para penyanyi opera latihan sampe nangis-nangis karena saking susahnya.

Itulah Beethoven, komposer musik klasik paling JUTEK sepanjang sejarah. Hieh... Tapi mungkin karena juteknya itu makanya hasil karya dia justru jadi oke. Huahaha... Intinya, kalau pengen bisa bikin lagu yang keren, kita harus latihan jutek dulu (teori ngaco mode - on)

Setelah ngeliat ini, agak bersyukur juga dia cuman bikin satu opera. Kalau dia bikin opera yang lain lagi, mungkin yang ada jadi lebih gelap lagi ceritanya. Segitu gelapnya sampe mungkin yang nonton operanya begitu selesai nonton langsung terdorong untuk bunuh diri. (hmmm... sedikit banyak jadi membayangkan bagaimana Beethoven akan bereaksi kalau dikerubungin fans-fans yang semuanya adalah cewek-cewek goth dan cowok-cowok emo. Huahaha... Ngacir kali dia ya? Tapi gue yakin, meskipun dia ngacir sampe terkencing-kencing pun, mukanya teuteup kudu harus wajib jutek. Muhahahaha...)




Hidup Beethoven!