Monday, December 22, 2008

Full Day


Di postingan kemaren, Anton sempet komen, kenapa belakangan ini gue kok jadi narsis dengan suka pasang-pasang foto-foto gue sendiri di setiap postingan.

Well, ini semua salah ibu gajah yang memperkenalan photofunia ke gue, sementara gue punya sedikit sifat OCD (apakah itu? Silahkan dikonsultasikan kepada wikipedia, hehehe...). Jadilah setiap gue mau bikin entry, pasti gue pasangin foto dari fotofunia. Sama aja seperti dulu biasa pasang hasil quiz dari blogthings, tapi sekarang yang jadi objek adalah photofunia.

Well, apapun yang terjadi, Anton memprotes, Burung Hantu tetap narsis. Mwahahaha...

Kembali ke judul postingan kali ini, hari ini adalah hari terpenuh yang pernah gue jalani. Dari jam 7 pagi sampe jam 1/2 11 malem baru bisa istirahat. Rasanya udah mau hegh...

Emang sih kerjaan di kantor suka angin-anginan. Kalo lagi sepi, ya kita mah jam 4 juga udah pulang. Tapi kalo pas lagi banyak order, ya seperti hari ini, jam 6 udah bisa pulang aja rasanya udah bersyukur.

Saking sibuknya di kantor, sampe-sampe boss gue sendiri ikut ngetik manual di mesin ketik manual. Kenapa sampe begitu? Karena kita semua di kantor harus mengakui bahwa kalau sudah tentang mengetik pakai mesin ketik, maka boss gue adalah pengetik paling cepat di kantor.

Kita semua sih bisa aja ngetik pakai mesin ketik, tapi nggak ada yang bisa ngalahin boss kalau sudah tentang kecepatan dan ketelitian. Jadilah kegiatan mengetik manual di take over sama boss, sementara kita para kroco-kroco justru ribet sama komputer. Hehehe... Dasar kroco-kroco nggak berbakti.

Tapi secepet-cepet boss ngetik, tetep aja kita selesai semua hal yang harus diselesaikan hari ini pada pukul 17.58 WIB. Gile... 2 menit lagi udah jam 6 sore, dan kita baru beres. Hieh...

Padahal hari ini gue udah janji sama Ibu Gajah kalo gue mau nonton Konser Paduan Suara UnTar jam 7 malem.

Jadilah begitu kerjaan selesai, langsung aja ngacir dari Sentul buat balik ke Jakarta. Gila... Dari gerbang tol Sirkuit Sentul sampe ke gerbang tol Jakarta cuman 15 menit. Pokoknya udah gila-gilaan.

Udah gitu gue harus pulang dulu ke rumah buat setor muka ke nenek gue. Kasian juga dia, dari pagi nggak punya temen (kec pembantu), jadi ya gue bela-belain deh setor muka dulu.

Setelah itu baru ngacir lagi UnTar. Berangkat dari rumah jam 7 malem, padahal jadwalnya tuh konser dimulai jam 7! Haiya...

Untung aja acaranya telat mulai, baru mulai sekitar jam 1/2 8 malem. Jadi pas gue sampe di kampus UnTar jam 8, gue baru ketinggalan sekitar 3 lagu. Hieh... Baru kali ini gue nonton konser seperti di kejar-kejar setan.

Sayang, di konser kali ini nggak banyak temen-temen seangkatan yang bisa dateng. Dari semuanya, cuman ada Ibu Gajah, gue, Sumur, BulBul, J'son, Fannie, PeiPei, dan Wenny. Jadi dari se-geng cuman ada gue dan Ibu Gajah doang. Hieh...

Anjing Langit kecapekan kerja jadi staff redaksi koran bahasa Mandarin, Landak pulang kampung ke Cirebon, Ibu Dokter Paus jaga di rumah sakit, Sotong males dateng karena istri tercinta nggak bisa dateng, Laler dan Cucut sibuk kerja, Nyamuk nggak jelas kemana, Beruang Madu lagi nungguin mama-nya yang kena Typhus di RS, sedangkan Ibu Tai yang janjinya mau dateng (meskipun telat) ternyata justru sama sekali nggak dateng.

Hieh...

Emang udah pada sibuk ya sekarang? Hiks...

Sempet denger kalau Beruang Kutub dateng di konser itu, tapi entah kenapa kok gue nggak ketemu sama dia. Oh well...

Tentang konsernya sendiri... Well... Gue cuman punya dua kata, yaitu: rame dan mewah.

Ramenya emang nggak ngalahin ramenya konser2 penyanyi pro, tapi lumayan rame buat ukuran PaDus kampus. Ada kali sekitar 200 - 300 penonton. Tapi maklum juga sih, karena promotor acara konser ini kan Rektor UnTar, jadi pasti rekanan-rekanan dia pada dateng semua.

Mewah, karena ada sistem lighting dan sound system yang sangat bagus, sehingga bener-bener terasa seperti konser profesional, meskipun penyelenggaranya adalah kampus.

Tentang penyanyinya... yah... gimana ya... emang cirinya Astri (pelatih + conductor) membawakan lagu dengan lemah gemulai dan halus, jadi ya itulah cirinya. Lemah gemulai dan halus. Bahkan lagu-lagu yang banyak aksen seperti "For The Glory Of The Lord" jadi nggak begitu terasa aksennya, sedangkan lagu-lagu yang harusnya riang gembira seperti "Frosty The Snowman" jadi sedikit (cuma sedikit) mellow.

Tapi, begitu membawakan lagu-lagu mellow seperti "I'll Be Home For Christmas", wah... mellownya terasa banget. Hehehe...

Penyanyi-penyanyi cewek sama sekali nggak mengecewakan, meskipun gue harus mengakui kalau belum semua personel bisa berdiri sendiri, alias masih tergantung pada beberapa personel yang memang sudah berpengalaman.

Tapi untuk para cowok... terutama tenor... HIEH! Pada kemana tuh suara? Tenornya benar-benar terdengar sayup-sayup di kejauhan! Ketabrak alto aja sudah menghilang dari peredaran. Sementara bass-nya meskipun sudah cukup terdengar, tapi terkadang goyah. Jadinya gimana ya? Bass itu kan fondasi buat suara-suara lain, kalau dia goyang yang lain juga langsung gempa. Tapi untung saja goyangnya agak jarang, jadi yah bisa dibilang cuman fluke doang kok.

Tetep... para tenor... harus dibantai!!! Hieh... latihan keluarin suara dengan lebih ganas ya, para tenor.

Untuk para cowok, ada lagi kelemahannya. Yaitu nggak ada warna suara bariton. Jadi begitu di bagian yang mayoritas not tinggi, semua cowok suaranya masuk warna tenor (ringan banget), dan begitu masuk bagian yang mayoritas not rendah, langsung warna bass-nya gelap banget. Jadi nggak ada warna tengahnya. Yang ada cuman warna putih dan hitam, tanpa ada gradasi warna abu-abu. Terlalu kontras.

Tapi overall... dari skala 10, gue kasih nilai 7 deh. Dari nilai bulat 10 dikurangin 1 poin karena tenornya lemah, dikurangin 1 poin lagi karena bass-nya terkadang suka goyah, dan berkurang 1 poin lagi karena para perempuan-nya masih ada yang belum bisa independen.

Apart from that... konsernya bagus kok. Hehehe...

Ah iya, ada satu kritik lagi. Jubahnya harus putih ya? Duh... nggak pas aja ngeliatnya. Tapi nggak terlalu ngaruh kok, tenang aja. Hehehe...

Kelar konser, gue langsung pulang. Sampe rumah udah jam 10 malem, langsung makan malem dan sebelum tidur nulis entry ini dulu. Hieh... capek sodara-sodara.

Oh well... gue mau ke pulau kapuk dulu ye. Besok masih harus masuk kerja pagi-pagi lagi nih. Buh bye...

Thursday, December 18, 2008

Fidelis


Hahhhhh... seminggu ini banyak banget kegiatan. Capek banget rasanya. Hiks...

Selain capek juga ada beberapa kegiatan lama gue yang jadi agak terbengkalai. Contohnya, sekarang gue jadi nggak tersedia buat ngobrol-ngobrol di tengah malem karena gue sering tidur cepet demi supaya paginya gue bisa bangun.

Hieh... kangen banget sama kehidupan malam (halah... kesannya sering pergi ke klub2 gitu, padahal sih cuman on-line atau nonton TV doang, wakaka...)

Tapi beneran deh, nggak tahu kenapa tapi udah hampir dua bulan ini kok sibuk melulu ya? Rasanya waktu jadi padat kegiatan, padahal gue kan kepinginnya bisa santai-santai. Hehehe...

Yah, nggak apa-apa juga sih. Malah enak juga kok bisa sibuk, daripada cuman bengong doang di rumah.

Gue cuman bingung aja, kok bisa kegiatan sekalinya muncul lansung seabrek-abrek. Untung aja dari semua itu nggak ada yang tumpang tindih.

Kerjaan di kantor notaris juga rasanya bener-bener seperti main game. Kenapa gue bilang gitu? Karena seperti ada level-levelnya gitu. Waktu baru masuk, kerjaan masih rada sedikit n gampang-gampang. Pritil-pritil gitu lah.

Begitu lewat 2 minggu, mulai deh bletok-bletoknya muncul. Kasus yang ribet-ribet entah gimana mulai berdatangan.

Eh, sekarang... udah naik level lagi. Udah nggak cuman kasusnya yang ribet, tapi cara-cara pemecahan kasusnya juga udah mulai beraneka ragam, cara, dan warna (lho?)

Tapi beneran, nggak ada rasa boring, karena tiap hari kerjaan beda-beda melulu. Beneran serasa nonton film seri, tiap seri ada cerita, problem n pemecahan sendiri-sendiri yang heboh-heboh nggak jelas gitu.

Well, enough about work. Sekarang gue pengen bahas sesuatu yang berhubungan dengan judul posting ini.

Fidelis...

Gue nggak ngomongin tentang nama lho. Emang sih ada beberapa orang yang bernama Fidelis, tapi gue nggak berencana buat ngomongin mereka di dalam posting ini.

Yang pengen gue bahas adalah arti kata itu.

Secara harfiah, arti fidelis hampir sama seperti arti "Felisitas", yaitu the faithful (orang yang percaya). Tapi disamping itu, terkadang fidelis juga bisa diartikan sebagai the trustworthy (orang yang dipercaya--untuk memegang rahasia).

Gue lumayan bersyukur karena sejauh ini gue sudah beberapa kali memegang peranan sebagai fidelis. Yaitu memegang rahasia seseorang untuk tidak akan pernah memberitahukan rahasia itu kepada orang lain lagi--selamanya.

Selain itu seorang fidelis juga diharapkan untuk tidak menghakimi orang yang memiliki rahasia itu, walau apapun juga jenis rahasia itu.

Yah, mungkin supaya gampangnya, bayangkan saja pengakuan dosa kepada pastur, tapi tidak pakai ada peniten-nya. Hehehe...

Gue nggak ngomongin kepercayaan dalam konteks profesionalisme lho ya. Kalo gue harus memegang rahasia karena pekerjaan, itu sih lain ceritanya. Karena memang ada beberapa pekerjaan dimana rahasia tidak boleh diumbar sembarangan, seperti dokter, pengacara, psikolog, n tentu saja notaris.

Kalau kepercayaan dalam konteks profesionalisme itu dilanggar, maka sanksinya jelas tidak mungkin hanya dimarahi orang, melainkan sudah bisa sampai dituntut pidana.

Tapi kepercayaan dalam konteks privat, seperti memegang rahasia teman, tidak punya sanksi yang seberat itu kalau dilanggar. Makanya kepercayaan yang diterima seorang fidelis semestinya adalah kepercayaan yang cukup kuat, karena kepercayaan itu tidak didukung oleh dasar atau sanksi yang kuat.

Yang repot adalah, menjadi seorang fidelis mempunyai efek yang cukup tidak enak...

Kalau yang memberikan kepercayaan atas sebuah rahasia adalah seorang teman dekat, biasanya hal itu tidak membawa efek yang tidak enak. Tapi... kalau orang yang baru kenal sebentar dengan gue dan dia sudah memperlakukan sebagai fidelis, biasanya ada efek samping tidak enak yang akan muncul.

Efek itu adalah, orang itu entah mengapa menjadi menjaga jarak dengan gue. Seolah-olah karena gue udah tahu rahasia milik dia, orang itu jadi takut kalau gue akan menggunakan rahasia itu untuk menyakiti/melawan dia.

Dulu gue lumayan sedih kalo ketemu kasus seperti itu. Karena itu kan artinya gue jadi kehilangan seseorang yang berpotensi menjadi teman gue.

Tapi sekarang gue bilang, "Well, it's their loss."

'lembaga' fidelis memang tidak memiliki basis yang resmi, tidak punya sanksi kalau dilanggar, dan juga tidak membawa keuntungan apapun kepada si fidelis. Tapi buat gue, menjadi seorang fidelis adalah sebuah kehormatan, n gue akan menjaga kepercayaan sebagai seorang fidelis dengan sebaik-baiknya.

Kadang, gue juga nggak enak kalau hanya menampung rahasia orang lain. Apalagi kalau rahasia itu relatif 'besar'. Karena sepercaya-percayanya orang itu ke gue, pasti kekhawatiran kalau rahasia itu akan gue gunakan atau bocorkan pasti akan muncul.

Maka dari itu, kalau baru dapat rahasia yang besar seperti itu, biasanya gue akan menyeimbangkan dengan memberitahukan rahasia tentang diri gue kepada orang itu. Kasarnya, tuh orang gue jadiin fidelis gue. Hehehe...

Apalagi kalau orang itu sudah gue anggep sebagai teman dekat, dan dia menjadikan gue sebagai fidelis rahasia yang sangat besar. Sudah pasti gue nggak mau kalau orang itu lalu merasa terancam sama gue karena gue tahu rahasia dia. Maka dari itu, rahasia mereka gue seimbangkan dengan rahasia gue sendiri. Jadinya gue kan nggak bisa seenaknya membocorkan rahasia dia, karena sekarang ada kemungkinan dia akan membalas dengan rahasia gue sendiri.

Beberapa orang yang baca posting ini pasti tersenyum sendiri, karena "YES, I'M TALKING ABOUT YOU!" wakaka...

Yah, untuk sementara ini gue menikmati saja posisi sebagai fidelis. Toh motto gue sebagai fidelis adalah, "received, filed, and forgotten". Jadi tenang saja dan bersyukurlah memiliki fidelis seperti gue yang pikun ini, karena rahasia lo orang aman untuk selamanya, karena gue pikun! Khikhikhi...

(to that particular fidelis colegue, it's nice meeting you again after all this time)

Friday, December 12, 2008

Never Forget To Learn How To Be Lonely


Kadang kalau ada teman atau keluarga yang ulang tahun dan kita menyanyikan lagu 'Panjang Umurnya', pernah terpikir atau tidak konsekuensi dari lagu itu kalau kiranya doa yang terkandung dalam lagu itu terkabul?

Panjang umur memang harapan banyak orang, tapi apakah berumur panjang selalu menjadi sesuatu yang baik? Sepertinya tidak. Berapa besar kemungkinan bahwa pada saat kita menyentuh usia 70 tahun, tubuh kita masih dalam keadaan cukup baik sehingga kita masih bisa menikmati kehidupan?

Kemungkinan itu agak kecil. Biasanya pada usia 50 tahunan, kita sudah mulai dirongrong oleh penyakit-penyakit metabolik, seperti Hipertensi, Diabetes, dll yang menyebabkan kita tidak bisa menikmati makanan seperti pada waktu kita masih muda. Lalu mulai usia 60-an alat gerak sudah mulai terganggu, entah osteoporosis atau rematik, tapi di usia ini kebanyakan orang sudah tidak bisa bergerak bebas.

Pada usia 70-an, mata, telinga, dan lidah biasanya sudah kehilangan 50% kepekaannya, sehingga kita mulai kesuliatan menikmati pemandangan, lagu, dan rasa makanan kesukaan kita.

Dengan semua faktor itu, biasanya pada usia 70-an manusia sudah kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup.

Masih bisa hidup dengan sehat saja sudah merupakan sasuatu yang harus disyukuri kalau kita berada di usia itu.

Bayangkan saja, dengan keadaan-keadaan yang merupakan sebuah keniscayaan itu, kita masih dibayang-bayangi penyakit yang berpotensi untuk lebih parah dalam mengurangi kualitas kehidupan kita. Contoh paling umum adalah stroke. Kita kehilangan kontrol terhadap 1/2 bagian tubuh kita. Bagaimana kita bisa menikmati hidup kalau tubuh saja sudah tidak bisa bergerak?

Itu masih hal-hal yang berhubungan dengan tubuh. Bagaimana dengan lingkungan?

Bisakah terbayang bagaimana rasanya dikaruniai usia panjang dan tubuh sehat, tetapi kita harus menyaksikan teman-teman kita 'pergi' satu per satu.

Kalau itu belum cukup parah, dengan usia panjang, tubuh yang semakin soak, dan teman-teman yang pergi, maka kita dihadapkan pada kehidupan yang sepi.

Sedih ya?

Makanya, disarankan waktu kita masih muda untuk berlatih hidup dalam kesendirian. Bukan apa-apa, tapi kalau saat itu tiba dan kita terbiasa dengan kehidupan yang dikelilingi oleh keluarga dan teman, otak kita sudah terprogram dengan gambaran hidup bersama orang lain, begitu dihadapkan pada kesendirian pasti rasanya sama sekali tidak enak.

Salah satu cara yang paling baik adalah mencari teman yang abadi.

Yes, I'm talking about HIM. Who else?

Nggak usah gimana-gimana banget, tapi mendekatkan diri dengan yang di atas pasti akan membantu perasaan kita pada saatnya nanti kalau teman-teman manusia kita sudah pergi semua.

Oh iya, memang sih masih ada kemungkinan untuk mencari teman baru. Tapi kalau kita sudah ada di usia setua itu, berapa persen kita akan bertemu sesama dengan usia yang sama? Kalaupun ada, apakah kesehatan mereka akan cukup baik sehingga mereka bisa memulai hubungan pertemanan yang baru dengan kita?

Sedangkan kalau mencari teman di kalangan yang lebih muda meskipun bukan sesuatu yang mustahil, tapi perbedaan usia tentu saja akan menghalangi kita untuk mendapatkan pola persahabatan yang maksimal.

Hieh... memang akhir tahun bikin pikiran mellow. Yang ada, tema yang diangkat juga jadinya mellow nggak jelas. Hahaha...

Tapi bener kan? Berhati-hatilah dengan apa yang kita minta. Sesuatu yang terdengar menyenangkan secara sekilas, belum tentu menyenangkan secara keseluruhan. Oleh karena itu, berlatihlah untuk sekali-sekali hidup dalam kesendirian.

Mungkin kalau sedang berlibur, putuskan semua komunikasi dengan dunia luar. Tinggal di rumah. Bayangkan kita sudah berusia tua, tidak punya teman dekat yang masih hidup, makanan yang dibatasi, kemampuan bergerak yang sangat terbatas, dan indera yang sudah tidak bisa maksimal dipakai untuk mengidera. Perlu mental yang sangat kuat untuk mempertahankan kewarasan pada saat kita terjebak dalam keadaan itu.

Kalau tidak percaya, coba saja lakukan itu selama seminggu. Hehehe... dijamin terasa banget.

Thursday, December 11, 2008

Guru-Guru Abusive


Tadi pagi nonton berita tentang kasus penganiayaan murid oleh gurunya di Gorontalo. Waktu gue denger head line seperti itu, gue langsung kebayang kalau penganiayaan yang dimaksud ya penganiayaan seperti biasa. Maksudnya ya satu lawab satu, seorang guru menganiaya seorang murid. Entah dijotos kek, ditendang kek, digantung kebalik kek, pokoknya intinya gue kebayang korbannya cuman satu orang.

Ternyata kejadian itu terekam di kamera HP (jaman sekarang apaan sih yang nggak direkam di HP? Kayanya segalanya udah direkam) dan pas gue nonton, gue lumayan bengong. Karena ternyata yang di-abuse itu nggak satu murid, tapi banyak murid! Udah gitu kejadiannya di sekolahan pula.

Jadi kayanya sih penganiayaan itu dilakukan dalam rangka menghukum anak-anak cowok sekelas (karena gue nggak liat ada murid cewek yang ikut di-abuse).

Dan yang bikin gue bengong lagi... yang dinyatakan sebagai penganiayaan itu adalah begini. Anak-anak disuruh baris jadi satu saf, trus maju satu-satu buat ditabok mukanya sama gurunya (katanya sih guru matematika, bapak-bapak gitu).

Bisa ya penganiayaan digilir gitu? Nyebutnya apaan tuh? Penganiayaan massal? Kayanya gak cocok deh, karena jadinya kedengeran seperti Pengeroyokan massal. Jadi kesannya satu orang dianiaya rame-rame. Jadi nyebutnya apaan dong? Masa DIANIAYAAN MASSAL? Waduh... Belum pernah denger tuh awalan di- digabung sama akhiran -an.

Oh well... gue sebut aja TERANIAYA BERJAMAAH. Khikhikhi... (lo kira sembahyang, bisa dibilang berjamaah gitu?)

Tapi yang gue pengen tahu lagi, emangnya ditabok/digampar/digeplak begitu udah termasuk penganiayaan ya? Kayanya waktu gue SD dulu hukuman dari guru-guru gue masih lebih parah daripada itu deh. Masa baru ditabok aja udah penganiayaan sih? Apalagi kalo dalam tema pendisiplinan ya. Kalo tanpa alasan sih, tuh guru namanya minta ditabok balik.

Emang sih jaman sekarang masyarakat sudah menganggap bahwa hukuman badaniah sudah tidak dapat diterima seperti jaman dahoeloe kala. Tapi masalahnya, alternatifnya apaan?

Kalau bukan hukuman badan trus mau hukuman apa? Hukuman psikologis gitu? Bukannya itu lebih parah ya? Ntar kalo efeknya tuh anak-anak berubah jadi paranoid/phobic/dll, kan malah tambah repot.

Atau mau hukuman berupa tugas? Disuruh bersihin kamar mandi sekolah gitu? Waduh... emangnya bisa mempan ya? Secara di rumah masing-masing tuh anak-anak pasti pernah ngerjain tugas-tugas kaya begitu.

Masa mau hukuman ekonomis, alias denda? Lo kira jalanan, ngelanggar dikit, disemprit polisi, trus bayar denda gitu? Bisa aja sih, tapi itu sih hukuman lebih kena ke orang tua daripada... ke ... anak...

WAH...!!!

Gue setuju sama denda! Biarin aja orang tua yang kena imbasnya. Kan ntar mereka yang marah-marah ke anaknya, jadi guru nggak usah takut dibilang abusive. Hehehe... Lagipula, kalo anaknya nakal, kan artinya orang tuanya yang nggak bener ngedidik-nya, biar aja mereka kerasa batunya. (kesannya gue kontra banget sama orang tua ya? khikhikhi...)

Haduh... pusing juga ya, padahal cuman mikirin tentang hukuman buat anak sekolah doang. Lha wong guru udah dilarang untuk memukul, tapi nggak dikasih alternatif untuk menghukum, jadinya gimana? Masa cuman dikasih tahu "Kamu jangan begitu, itu namanya nakal" sambil kepala muridnya dielus-elus. MANA MEMPAN?!

Yang ada malah tuh guru dikira melakukan pelecehan seksual dengan mengelus-elus muridnya. Hieh... repot lagi.

Apa mau pake ruang detensi seperti di penjara guantanamo? Murinya dimasukin ruangan kosong yang atap, lantai, dan temboknya berwarna putih. Dikasih lampu penerang yang kuat yang warnanya juga putih dan berbunyi 'ngggggggggggggggggggggggg' (suara lampu neon kalo baru dinyalain) trus-terusan.

Dijamin efektif sih. Ruang detensi seperti itu sudah terbukti bikin psychological breakdown, tapi nggak sampe trauma. Dijamin kapok! Tapi... hmm... sepertinya ada efek samping yang gue lupa apaan dari terapi ini. Tapi apa ya? Oh well, gue lupa. Hehehe...

Satu lagi yang gue pengen tahu. Tuh guru emangnya nggak ngerasa ya kalo dia direkam gitu? Rekamannya lumayan jelas lho. Jadi udah pasti tuh HP diangkat lumayan tinggi waktu dipake buat ngerekam. Tuh guru cuman tinggal ngelirik ke kanan, nggak usah nengok, cuku ngelirik aja, dia pasti udah bisa liat tuh HP. Tapi kok bisa-bisanya dia nggak nyadar ya?

Jangan2 emang dia sengaja minta direkam, trus tuh rekaman rencananya mau dipake buat kenang-kenangan kalo ntar dia uda pensiun. "Ini lho, dulu saya pernah nabokin anak-anak cowok sekelas. Keren ya saya?" wew... psikopat.

Tapi gue setuju dengan adanya penghukuman. Untuk usaha pendisiplinan memang nggak bisa dihindari penggunaan dari sebuah sistem penghukuman. It's just common sense.

Yang jadi pertanyaan, mau pakai sistem penghukuman yang bagaimana? Untuk dunia pendidikan harus dicari sistem penghukuman yang efektif (menimbulkan rasa kapok pada murid), tapi tidak menakibatkan kerusakan fisik/mental.

Nah... ayo, para psikolog, carilah jalan yang terbaik! Kalian dididik untuk itu bukan? Kita2 yang dari dunia hukum mah cuman kenal hukuman denda, kurungan, tutupan, penjara, dan hukuman mati. Yang mana jenis-jenis hukuman itu nggak cocok buat dunia pendidikan.

Ngomongin soal hukuman... gue baru nyelesein baca komik Rurouni Kenshin (Samurai X). Konyolnya, gue udah pernah baca tuh komik sampe kelar, tapi baru sekarang gue nyadar kalo tema tuh komik adalah atonement (penebusan dosa). Khikhikhi... telat banget ya gue? Maklum, tuh komik ceritanya rada meluas kemana-mana, jadinya tema utamanya rada gampang kelupaan. Hehehe...

Oh well, kita liat lah ntar gimana perkembangan tuh kasus guru abusive itu. Apakah akan menghilang atau akan berkembang seperti kasus STPDN/IPDN.

Btw, emang bener ya korban penganiayaan Ananda Mikola itu disodomi pake sendok sama si Ananda? Kok horor banget sih dengernya? Sekarang pake sendok, ntar tambahin garpu, pisau, piring, meja, kursi, dll, tinggal tambah roti, mentega, n nasi goreng udah siap tuh buat sarapan. Wakakaka... :))

Tuesday, December 09, 2008

Sebentar Lagi...


TAHUN BARU!!!

Hehehe... itulah yang gue maksud dengan sebentar lagi.

Nggak terasa kita cuma tinggal mengarungi 1/18 bagian akhir dari tahun 2008 dan kita sudah memasuki tahun 2009. Oh my...

Sejujurnya gue nggak begitu menikmati tahun baru. Karena tahun baru identik dengan awal, awal identik dengan pagi, dan gue nggak suka pagi, jadi gue nggak suka tahun baru (logika ngaco). Meskipun penjelasannya agak ngaco, tapi gue beneran nggak gitu suka sama tahun baru.

Dibanding pagi, gue jauh lebih suka malam. Dan dengan logika ngaco macam di atas itu, karena gue suka dengan malam, itu artinya gue suka dengan akhir, dan memang gue suka dengan nuansa akhir tahun.

Seperti sekarang ini...

Pertengahan bulan Desember...

Hhh... jadi mellow...

Rasanya baru kemaren masih bulan September, tiba-tiba sudah masuk Oktober, November lewat begitu saja, dan sekarang Desember sedang berlari menuju akhir.

Heh... Time flies...

Buat gue, tahun 2008 adalah tahun yang ekstrim, dan pada saat yang sama adalah tahun yang seimbang. Di tahun ini gue mendapat kebahagiaan dan juga kesedihan yang sama-sama kuat. Benar-benar sesuai untuk karakter aquarius yang tidak mudah terkesan. Jadi tahun ini lumayan berkesan lah buat gue. Hahaha...

Tahun 2009... bagaimana jadinya ya? Kalau untuk perancanaan gue sendiri sih, tahun 2009 akan jadi tahun yang sibuk sekaligus hectic. Tapi itu semua ya tergantung yang di atas sana. Bisa saja kan gue ngerancanain buat sibuk tapi ternyata justru jadi banyak waktu kosong. Hehehe...

Gue cuman berharap tahun 2009 tidak membawa perubahan ekstrim. Gue sudah cukup dapet perubahan-perubahan ekstrim di tahun 2008, jadi gue kepengen tahun 2009 menjadi tahun untuk istirahat (meskipun tetep sibuk).

Hmm... sepertinya gue memang sudah mulai tua.

Dulu gue selalu menyambut perubahan dengan senang hati, tapi sekarang gue malah berharap untuk mendapat stabilitas.

Hahaha... dasar aquarius memang susah untuk puas.

Yah, kita lihat saja lah nantinya bagaimana.

Btw, kalian tahun baruan sudah punya rencana apa? Gue sih seperti biasa, paling tahun baruan dengan keluarga. Seperti gue bilang, gue nggak gitu suka tahun baruan, jadi tahun baru dilewati biasa-biasa saja-pun nggak problem buat gue.

Haduh... lagi nuansa mellow terus nih. Dasar akhir, tahun sering membawa perasaan seperti ini.

Udah lah, entry kali ini segini dulu sebelum gue jadi lebih mellow lagi.

Well, I'll see you when I see you.

Saturday, December 06, 2008

Going To A Party, Stag


Hieh... hari ini gue dateng ke pesta perkawinan adik kelas gue di SMA. Gue dateng bukan karena gue kenal sama dia, tapi karena kakak dia dulu sekelas dengan gue dan kakaknya itu dateng ke rumah gue buat nganterin undangan. Jadi nggak enak lah kalo gue sampe nggak dateng.

Lagipula dia juga bilangnya kalo dia ngundang banyak temen-temen seangkatan gue yang dia undang, jadi sekalian reuni lah judulnya.

Tapi apa daya, ternyata yang bisa dateng dari angkatan gue cuman gue doang. Temen se-geng gue pada nggak bisa dateng, karena yang satu baru operasi cesar anak ke-3 jadi dia belum bisa pergi, yang satu kerja sampe jam 4 di grogol padahal acaranya di kemayoran cuman sampe jam 5, yang satunya ada di Amrik, dan yang terakhir ikut ujian penerimaan CPNS Departemen Agama.

Sementara temen seangkatan gue yang lain pada nggak tahu tuh kemana semua. Grr...

Jadilah dari geng gue cuman gue sendiri yang dateng. Hiks...

Tapi nggak apa-apa juga sih. Gue orangnya juga nggak problem, mau dateng rame-rame nggak apa, mau dateng sendiri juga nggak apa-apa. Hehehe...

Yang bikin gue rada mikir adalah, di pesta itu gue nggak kenal siapa-siapa kecuali temen gue yang ngundang itu. Sementara dia, sebagai kakak pengantin, bertugas sebagai among tamu. Jadi nggak mungkin juga dia gue ajakin ngobrol.

Hieh...

Jadilah gue bener-bener Stag. Alias bener-bener sendirian. Dateng sendirian, sendirian selama pesta, dan pulang sendirian.

Satu-satunya kegiatan gue adalah membrutali makanan pesta. Hehehe... Lumayan...

Bahkan waktu foto bersama pun, gue ngedompleng aja sama adek-adek kelas gue (yang mana gue nggak kenal semua), dan langsung menggunakan jurus Ibu Gajah, yaitu Narsis Forever! Wakaka...

Dalam keadaan apapun, kalau di hadapan kamera harus tersenyum semanis-manisnya (meskipun hasilnya amit-amit).

Hmm... ini bener-bener pengalaman pertama buat gue, pergi ke pesta dalam keadaan Stag sepenuhnya. Selama pesta itu berlangsung, gue sama sekali nggak ngomong apapun, karena emang nggak punya pasangan buat ngomong. Gak lucu kan kalo gue ngomong sendiri. Apa kata dunia kalo burung hantu oversize seperti gue ngomong sendiri? Yang ada gue langsung dikirim ke penangkaran hewan langka kan repot jadinya.

Kalo lagi begini nih, baru kepikiran sisi negatif dari keadaan nggak punya pasangan, secara pasangan gue ada di ujung dunia yang berbeda dengan gue. Hiks... Jadi mellow...

Ahh... well... jalanin saja lah ya? Toh, paling nggak gue bisa puas makan makanan pesta (meskipun sempet keget juga menemukan gado-gado di sana). Hehehe...